IDENTITY : The Dark Story

IDENTITY : The Dark Story
Akhir dari sebuah kisah (Part 6)


__ADS_3

"Terima kasih, aku ada di sini menjaganya, jadi tolong datanglah cepat."


Setelah itu komunikasi langsung terputus dan aku melirik ke arah jendela.


"Tampaknya hari ini seperti biasa tenang, gelap di siang hari akibat awan mendung yang tebal dan tampak mau hujan keras, ini mengingatkanku salah satu kasus misterius di Inggris mengenai pembunuhan keji yang dijuluki sebagai 'Jack The Ripper', konon rumornya dia membunuh semua wanita itu pelacur itu karena marah, maka tak heran Adithya memasukkan dia salah satu '7 dosa besar' dalam kasus itu."


Sembari santai menghabiskan kopi ini, aku masih teringat kasus itu dan tanpa sengaja aku melirik jasku yang tergantung di sana.


Aku melihat sesuatu dari sakunya...


"Ini kan melati, kenapa bisa ada di sini?"


Aku langsung melirik ke arah kertas novel-ku yang baru aku tulis sembari membawa melati ini dan meletakkannya di meja.


...Rasa bersalah yang telah *m**enyelimuti dirinya, sehingga hati* *t**erkontaminasi oleh sebuah* keinginan besar, dan keinginan itu adalah... menebus semuanya *d**engan cara apa pun*....


"Begitu ya, sekarang aku tahu harus di ke mana kan cerita ini, lalu judulnya..."


Aku langsung melirik melati itu dan mengambil untuk melihatnya lebih dekat.


"Melati Yang Terjatuh."


•••


•••


Waktu telah menuju tengah malam...


Tampak seorang wanita cantik dengan gaun ungu kehitamannya itu telah berdiri dengan tenang di depan sebuah makam.


"Dengan ini aku telah menepati janjiku, Adithya."


Wanita itu mengeluarkan sesuatu yaitu sebuah botol kecil dengan isi berwarna merah, dia membuka tutup botol itu dan menuangkan isinya di atas kuburan tersebut.


Vos cea lusuke ani mea


Vos cea dhuan ani mea


O vi prea kang sampyn


O qod Hel


(Engkau yang menyesatkan jiwa)


(Engkau yang menuntun jiwa)


(Kuserahkan kepadamu)


(Wahai sang kematian)


Seketika kuburan itu gemetar dan memunculkan cahaya berwarna ungu kehitaman.


Seketika muncul tangan dari kuburan itu, wanita cantik itu menunduk dan meraih tangan mungil itu lalu menariknya keluar dari tanah.


Tampak seorang pria kecil dengan wajah polos dan bertelanjang dengan tubuh kotor.


"Di mana aku?" Di mana kak Adit dan kak Siti?"


Tampak pria kecil itu kebingungan dan hanya seorang wanita cantik berdiri di hadapannya dengan tersenyum kepadanya.


"Jangan khawatir pria kecil, aku akan membawamu pulang dan pakailah dulu pakaian ini."


Pria kecil itu masih bingung dengan wajah polosnya, tapi dia menuruti keinginan wanita itu dan segera memakai pakaian yang diberikan oleh wanita itu.


"Serius? Apa kamu mau membawaku pulang?"


"Iya, ayo mobilku sudah menunggu di sana."


Pria kecil ini mengikuti wanita itu dari belakang tanpa sedikit pun kecurigaan.


•••


Sesaat sampai di depan Villa Raja...


"Kita sampai, jangan lupa berikan surat ini kepada mereka di dalam," sembari memberikan sebuah surat.

__ADS_1


"Hm," dia hanya mengangguk dan turun dari mobil. "Terima kasih sudah mengantarku pulang."


Wanita itu tersenyum lalu berkata:


"Sama-sama manis, cepatlah masuk mereka sudah menunggumu dari tadi."


Pria kecil ini langsung berlari menuju pintu utama villa ini dan wanita itu tancap gas mobilnya menjauh dari sini.


Sesaat sampai di depan pintu villa.


"Kalau diketuk mereka tidak akan dengar, maka satu-satunya hanya memencet bel itu, tapi... aku tidak bisa menggapainya karena aku masih kecil."


Dia memutar kepalanya dan mencari ide untuk bisa masuk.


"Oh iya! Biasanya di sini tongkat yang dibuat khusus untuk diriku agar bisa memencet bel pintu itu, tapi di mana ya..."


Dia mencari di sekelilingnya dan menemukan benda.


"Akhirnya ketemu," sembari mengarahkan tongkat itu ke bel pintu.


Ding... Dong...


•••


Ding... Dong...


Tampak dua orang wanita dewasa serta dua orang gadis mudah, mereka lagi sedang menyantap makan malam mereka.


"Kayaknya ada tamu, biar aku bukakan dulu pintunya," ucap Tina.


"Biar aku saja, Bu. Ibu tidak perlu repot-repot capek berjalan," ucap Siti sembari bangkit dari kursinya dan berjalan menuju ke sana.


"Anak yang sangat berbakti," ucap Susan.


Tina hanya tersenyum mendengar itu.


Seketika...


"Kyaaa!!!"


"Tidak! Siti!!"


Mereka bertiga langsung bergegas menuju arah suara itu.


Sesaat sampai di sana...


Tampak gadis muda itu diam mematung di sana.


"Nak! Kamu tidak apa-apa, kan?!" Tanya Tina yang panik.


"Aku tidak apa-apa, bu. Tapi... apa itu benar-benar... Iwan," sembari menunju ke arah pintu yang tampak sesosok berdiri di sana.


"Apa!"


Tina langsung mengarahkan pandangannya ke sana dan betapa terkejutnya dia melihat sesosok yang selama ini ia rawat sebelumnya.


"Semuanya menjauh! Mungkin dia BWG yang masih tersisa!" Ucap Tina.


Sesosok kecil itu maju dengan wajah sedih.


"Kenapa... kenapa kalian menjauh dariku... hiks... apa kalian membenciku..."


Tampak sesosok menangis dan membuat mereka berempat bingung.


"Bu, tolong lepaskan aku..."


"Jangan! Mungkin dia menipumu!"


"Tidak, aku merasa dia benar-benar Iwan, kumohon percayalah padaku."


Tina dengan berat melepaskannya dan Siti maju secara perlahan ke arah sosok itu, sesosok itu menangis air matanya keluar.


Siti melihat itu seketika tubuhnya gemetar dan air matanya ikut keluar juga.


"Kamu... apa kamu benar-benar Iwan, adik aku?"

__ADS_1


"Tentu saja... ini aku... hiks... kenapa kakak takut begitu kepadaku... apa kakak sudah membenciku... hiks..."


Seketika Siti langsung memeluknya dan air matanya semakin deras berjatuhan.


"Syukurlah... kamu akhirnya kembali..."


"Hiks... huaaaa..."


Terlihat pemandangan mengharukan sekaligus membingungkan, sebab orang yang sudah lama mati kini telah kembali dalam keadaan sehat-sehat saja.


"Bu, ini benar-benar Iwan, dia masih hidup..."


"Tapi... bagaimana mungkin..."


Tina langsung menghampiri mereka berdua dan langsung memeluknya, Tina tak percaya bahwa anak yang dirawatnya selama ini benar-benar telah kembali.


"Kamu tak ingin ke sana," ucap Susan ke Sarah.


"Tidak," sembari menghapus air matanya. "Aku biarkan mereka saja dulu."


"Kamu benar-benar sangat berbeda dengan anak-anak yang aku temui selama ini."


"Benarkah, hehe."


Setelah reuni mengharukan itu, mereka berempat langsung mengajak Iwan masuk ke villa.


"Oh iya, ada kakak cantik yang mengantarku sampai sini dan katanya dia memintaku memberikan ini," sembari mengeluarkan sebuah surat dari bajunya.


"Apa isinya?"


Tina mengambil surat itu dan membaca isinya:


Untuk kepada kalian semua:


...Dengan ini segala hormat untuk kalian...


...Bahwa aku telah menepati janjiku dan...


...Telah memenuhi tugasku, pria manis...


...Itulah hasil keberhasilannya memenuhi...


...Janjiku dan jangan khawatir, sekarang dia...


...Sepenuhnya manusia normal yang hidup....


^^^Salam dari:^^^


^^^M.J^^^


"Bu, siapa orang itu?" Tanya Siti.


"Aku tidak tahu, mungkin dia keluarga jauh dari Pak Bagas yang pernah dia ceritakan," jawab Tina. "Tapi yang penting sekarang Iwan, sudah kembali kepada kita. Ayo sayang, mari mandi dulu."


"Hm, aku lapar, aku ingin makan kue coklat," ucap Iwan dengan wajah polosnya."


"Aku masih banyak kue coklat yang kusimpang, nanti kita makan bersama-sama setelah kamu mandi," ucap Sarah.


"Horee...!"


Tampak semua orang tersenyum melihat tingkah polos dari Iwan.


•••


•••


Di luar villa...


Tampak seorang gadis berdiri dengan tenang dan anggun di bawah sinarnya bulan purnama.


"Kayaknya cerita ini berakhir dengan mengenaskan sekaligus membahagiakan. Kadang manusia memang makhluk menyulitkan diri mereka sendiri, mereka menginginkan semuanya yang ada digenggaman kecilnya itu. Manusia akan selalu mengambil berbagai macam jalan hanya untuk mereka coba saja, apakah jalan keburukan atau kebaikan? Seperti yang dikatakan Dokter, bahwa manusia akan selalu berdiri di jalur tengah (netral), di jalur awal di mana mereka akan memulai pilihan mereka lagi."


Woosh...


Seketika angin malam berhembus dengan tenang dibarengi terang rembulan membuat malam terasa penuh romansa bagi wanita ini.

__ADS_1


...THE END...


__ADS_2