IDENTITY : The Dark Story

IDENTITY : The Dark Story
Tersembunyi (Part 1)


__ADS_3

Pukul 19.28.


Di gudang bawah tanah yang sangat luas, di mana semua bahan makanan tersimpan dengan baik dan terawat. Suhu yang sangat pas dinding yang terlapisi dengan tebal mencegah tikus untuk masuk, satu pintu di pojok sana.


Saat memasukinya sudah tercium bau yang enak, semuanya tampak bersih dan teratur. Terkecuali, ada bekas darah di mana-mana yang sudah mengotori lantainya.


"Ada sesuatu yang bertuliskan di sini," kataku.


Miranda dan Edik menghampiriku yang ingin melihat tulisan dengan darah di dinding tersebut.


"Edik terjadinya pembunuhan di sini bukan cuma satu kali kan?" Tanyaku.


"Iya," jawab Edik. "Pembunuhan yang pertama tidak meninggalkan apa pun, tapi yang kedua ini meninggalkan sebuah pesan di dinding. Aku pun juga tidak tahu apa maksud si pembunuh ini."


"Di sini tertulis VLAD, aku juga bingung apa maksudnya tapi aku tidak asing dengan kata ini," ucap Miranda.


"Aku pun juga merasa begitu kata VLAD memiliki banyak arti di setiap negara, arti yang paling terkenal dari kata ini adalah ATURAN dari Rusia, sedangkan di kebanyakan negara mereka mengartikannya PENGUASA," jelas-ku.


"Tak ku sangka kamu berpengetahuan luas juga ya Dokter~."


"Ayolah siapa pun juga tahu dengan hal ini."


Aku melanjutkan penyelidikan ku selain pesan darah di dinding itu, aku menjelajahi sebentar gudang ini beberapa menit menyelidiki setiap dinding, lantai, bahkan bahan makanan di sini aku selidiki tidak ada satu pun masalah dengan itu. Tapi tinggal satu belum aku periksa yaitu pintu di pojok sana, saat membukanya hanya berisikan berbagai peralatan membersihkan villa ini.


Aku memeriksa ruangan ini yang luasnya hanya tiga meter, saat memasukinya aku tidak menemukan apapun hanya berisikan berbagai alat kebersihan rumah. Saat hendak ingin keluar tatapan ku langsung tertuju ke sebuah lemari kayu yang tampak sudah sangat tua kayu-kayunya kebanyakan sudah dimakan rayap. Aku membukanya hanya berisikan beberapa cairan pembersih zat kimia, tapi perasaanku mengatakan ada hal lain dari lemari ini.


"Hey Edik tolong aku sebentar," panggilku ke Edik yang berada diluar bersama Miranda.

__ADS_1


"Ada apa Ray?" Edik datang bersama Miranda.


"Bantu aku pindahkan lemari ini sebentar."


Edik hanya mengangguk tidak ingin bertanya apa pun kepadaku, saat kami berdua memindahkan lemari kayu tua ini kami terkejut dengan sesuatu di belakang lemari ini.


"Hm, Dokter disini ada lubang," lontar Miranda.


"Ya aku tahu, ini sudah memperjelas semuanya kenapa pembunuhnya leluasa masuk ke Villa ini. Apa kamu tahu mengenai soal lubang ini Edik?"


"Maaf Ray, ini pertama kalinya baru melihatnya bahkan aku datang ke gudang bawah tanah ini hanya tiga kali termasuk sekarang, dan ini juga pertama kalinya aku baru masuk ke ruangan kecil ini."


Mendengar dari pernyataan Edik tampaknya dia benar-benar tidak tahu mengenai lubang ini. Aku mendekat ke lubang itu dan kira-kira lebarnya hanya setengah meter saja, ditambah lagi lubang ini terlihat bukan baru lagi kayaknya ini sudah lama dibuatnya tapi kapan? Saat Villa ini baru dibangun? Semuanya masih terlihat rumit kami memutuskan menutupnya kembali.


"Tampaknya lubang ini menuju arah luar, tapi aku belum yakin dengan ini. Edik apa ada denah seluruh villa ini?"


"Baiklah mari segera kesana."


Pukul 19.37.


Kami bertiga menuju ke perpustakaan yang letaknya berada di lantai atas (dua). Sambil jalan aku bertanya ke Edik mengenai identitas korban di gudang itu, kata Edik korban gudang itu bernama TONY dia yang bertanggung jawab atas bahan-bahan makanan di gudang. Katanya dia pria besar berbadan gemuk yang kerap sekali selalu meminta porsi besar saat makan, itu yang selalu membuat repot para pelayan yang bekerja di dapur.


Kematiannya penyebab Pak Bagas meminta para pelayan untuk berhenti bekerja lagi, tapi diantara ada hanya sedikit yang keluar. Pak Bagas kembali mengatakannya sembari mengingatkan insiden hilangnya para pelayan di villa ini, sampai sekarang belum ditemukan dan hal itu berhasil menakuti mereka lalu setengah dari mereka keluar.


"Seharusnya mereka kan keluar saat insiden hilangnya teman-teman mereka (pelayan)," ucapku.


"Ya aku tahu, tapi hilangnya orang-orang di kota ini sudah menjadi hal biasa dibandingkan insiden pembunuhan."

__ADS_1


Tapikan tetap aneh hilangnya orang-orang ini sudah sangat serius di mata publik tapi ini sudah keterlaluan tidak ada berita sama sekali.


"Yah~ Dokter aku tahu yang kamu rasakan tapi hal ini sangat sulit diatasi bahkan pihak berwajib pun tidak bisa berbuat apa-apa," ucap Miranda.


"Ha! Serius... Bahkan polisi tidak bisa mengatasinya?!"


"Tentu saja, siapa juga yang mau berurusan dengan hal-hal supranatural."


"Yang dikatakan Miranda benar, Ray. Hal-hal seperti ini diluar kemampuan mereka jadi mereka membiarkannya terjadi begitu saja, apalagi saat menyelidiki kasus ini 2 tahun terakhir semakin banyak korban terutama di pihak polisinya itu sendiri."


Jadi ini alasan kenapa pemerintah setempat menjadikannya Hari Berdoa, berhadapan dengan hal-hal diluar akal kemanusiaan jauh lebih menyebalkan dibandingkan menghadapi pembunuh itu sendiri. Aku dan Fu pernah menangani kasus semacam ini di sebuah desa dekat dengan gunung, kami benar-benar kewalahan menanganinya tapi kami berhasil menyelesaikannya.


"Awal insiden ini bagaimana bisa terjadi?" Tanyaku.


"Cerita yang kudengar warga setempat hilangnya 7 orang remaja yang dimana saat ditemukan mereka semua mati terbakar, dan tak menyisakan sedikit pun jasadnya hanya beberapa pakaian dan barang-barang mereka saja ada di sana," jelas Edik.


"Jadi setelah kejadian itu, orang-orang mulai sering menghilang?"


"Iya. Saat insiden itu pihak berwajib langsung bergegas menyelidikinya tapi sayangnya mereka juga yang jadi korban orang menghilang, jadi pihak berwajib terpaksa menutup kasus ini karena mereka tak ingin ada korban dari pihaknya."


"Apa yang dilakukan Bagaskoro saat kejadian itu?"


"Oh saat itu Pak Bagas belum tinggal di kota ini, saat tahun ketiga Pak Bagas memutuskan tinggal di kota ini karena pembangunan Villa mewahnya selesai. Semenjak Pak Bagas mulai tinggal disini, bermunculan makhluk hitam yang kita kenal sekarang Black Wind Ghost mereka selalu muncul di hari yang sama itu membuat para warga ketakutan keluar rumah di hari itu. Pak Bagas orang pertama yang berhasil menghalau para BWG dengan air melati buatannya sendiri para warga mulai bergantung dengannya."


"Aku tidak menyangka kalau dia sehebat itu, tapi aku penasaran kenapa dia bisa tahu bahwa BWG sangat takut dengan melati?"


Edik mengatakan dia tidak tahu sama sekali mengenai itu karena Bagaskoro belum pernah cerita sama sekali ke dia, tapi saat aku memandang Miranda dia hanya tersenyum terus kearah ku situ aku menganggap dia tahu jawabannya jadi aku mengangkat satu tanganku menandakan meminta jawabannya dari dia.

__ADS_1


__ADS_2