IDENTITY : The Dark Story

IDENTITY : The Dark Story
Diary 4


__ADS_3

11-11-2000


Terlihat orang-orang sangat ramai di rumahku, para tetangga serta teman-teman Ibu dan para kerabat datang membantu menyiapkan pesta pernikahanku dengan Adithya.


Tampak semua sangat ramai kursi-kursi dan meja tamu disiapkan pelaminan di mana aku dan Adithya duduk di sana sembari melihat tamu datang ke pesta kami.


"Nak, apa yang kamu lakukan?"


Seorang wanita paruh baya datang menghampiriku tidak lain kalau bukan Ibuku sendiri.


"Oh, aku hanya membantu orang-orang saja, Bu," jawabku.


"Kamu tidak perlu melakukannya."


"Kenapa Bu?" Tanyaku. "Kan mereka terlihat sangat kelelahan."


Ibu hanya menggeleng saja dan berkata:


"Sayang, kamu adalah Ratu-nya di sini untuk satu malam. Jadi, semua orang melakukan ini karena mereka senang melakukannya," sembari mengusap kepalaku.


"Tapikan Bu, aku bosan," kataku.


"Kalau bosan, kamu pergi saja temani adik-adikmu bermain dengan anak-anak yang lainnya."


Setelah Ibu berkata begitu, ia mau pergi meninggalkanku dan aku langsung menahannya karena ingin menanyakan sesuatu:


"Bu, Papa, di mana ya, aku tak melihatnya dari tadi?"


"Papamu, pergi bersama Adit untuk mempersiapkan hal lain untuk pernikahan kalian berdua," jawab Ibu.


"Kalau begitu aku dengan Papa saja," kataku.


Tiba-tiba Ibu mencubit hidungku dan berkata:


"Kan sudah kubilang, kamu ini Ratunya di sini dan seorang Ratu tidak boleh keluar dari istananya sebelum, sang Raja datang menjemputnya."


Setelah berkata begitu Ibu langsung pergi dan meninggalkanku sendirian.


"Heh... aku benar-benar bosan sendirian di kamar mulu," kataku sembari membuka jendela untuk melihat pemandangan.


Saat melihat-lihat, aku melihat Siti dan Iwan serta anak-anak tetangga bermain dengan riang.


"Waktu tidak terasa ya, padahal dulu aku juga sering bermain di bawah sana seperti mereka. Sekarang tiba-tiba dilamar dan bersiap hidup mandiri dengan suamiku nanti."

__ADS_1


Sesaat memandangi mereka bermain, aku tersenyum melihatnya. Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamar ku.


Tok... Tok... Tok...


"Ya masuk," kataku.


Seseorang yang sangat tidak asing bagiku masuk ke kamar ku.


"Wati, sudah lama ya."


"Santi!"


Aku terkejut dan langsung berlari memeluknya karena sudah lama tidak bertemu dengannya.


"Hehe... akhirnya aku bisa bertemu denganmu lagi," ucapku dengan air mata berlinang.


"Loh... kok nangis, seharusnya kamu senang dong," kata Santi.


"Hmm," sembari menggelengkan kepala. "Tidak, aku senang kok, tapi... bagaimana kamu bisa tau bahwa aku akan menikah?"


"Aku dapat kabar dari Paman Ari (Papaku), bahwa kamu akan menikah," jawab Santi. "Lagian aku libur jadi masih banyak waktu untuk di sini."


"Jadi, apa Paman dan Bibi ada di sini juga?" Tanyaku.


Santi adalah satu-satunya sepupuku, ayahnya saudara kandung dari Papa dan Ibu saudara tunggal jadi tidak kerabat darinya di sini. Aku jarang melihat dia lagi, sebab dia ikut dengan Paman dan Bibi di luar negeri sekaligus dia sekolah dan kuliah di sana.


"Jadi, itu Siti dan Iwan, mereka sudah besar ya."


Kami dulu sering menghabiskan waktu bersama dan aku sudah menganggapnya seperti saudara kandungku sendiri.


"Jadi gimana pria mu itu, apa dia tampang?" Tanya Santi dengan sedikit menggodaku.


Aku hanya mengangguk saja, karena malu menjawabnya.


"Hehe~, kamu benar-benar tidak berubah ya," katanya sembari mengusap kepalaku.


"Kalau kamu gimana, apa ada pria yang kamu sukai?"  Tanyaku.


"Hmm, sebenarnya belum ada sih," jawab Santi.


"Heh, kan kamu sangat cantik, pasti banyak pria mau sama kamu,"


"Iya, memang banyak yang mau sama aku. Tapi, mereka mendekatiku hanya untuk memuaskan diri mereka, tanpa peduli perasaanku. Sulit ya, mencari pria yang mau serius denganmu," katanya sembari menunjukkan senyum pahitnya.

__ADS_1


Aku sedih mendengarnya sembari memasang wajah sedih juga.


"Ayolah, jangan pasang wajah itu."


"Tapikan... kamu, hiks...," kataku sembari mengeluarkan air mata.


"Ush... ush... sudah...," sembari mengusap kepalaku. "Ada masanya aku juga akan sepertimu, bisa bertemu pria baik dan menikah."


Kami mengobrol sepanjang waktu.


•••


Malam pun tiba...


Aku dimandikan dengan kembang dan melati, Ibulah yang memandikanku.


"Nak, sekarang kamu seperti melati sekarang," kata Ibu.


Aku bingung apa maksud dia bilang begitu.


"Perempuan itu harus seperti melati kecil, wangi, bersih dan putih yang menandakan kesucian," sambung darinya.


Sekarang aku mengerti kenapa Adithya bilang bahwa melati sangat cocok bagiku, aku langsung malu saat mengingat kejadian itu.


Setelah pemandian aku langsung dibawa ke kamar dan bersiap mengenakan gaun pengantin. Setelah berias dan bersiap cukup lama, akhirnya aku bisa keluar dari kamar.


Aku melihat Adithya sudah memakai pakaian pengantinnya dan duduk di sampingnya, jujur aku sangat malu saat ada di sampingnya.


Kami menjalankan beberapa tradisi adat daerah di daerah kami, setelah menjalankannya. Aku dan Adithya dipersilahkan keluar untuk menyapa para tamu, kami duduk pelaminan.


Aku dan Adithya benar-benar terlihat seperi Raja dan Ratu duduk di singgasananya, sembari menatap para rakyatnya.


"Hei, setelah ini semua, aku ingin kita punya anak lima," bisik Adithya.


Saat mendengarnya aku sangat malu dan rasanya pipiku panas, Adithya hanya tertawa melihatku begini.


Aku harap kebahagiaan ini berlangsung lama, sebab ini awal bahagia bagiku.


•••


•••


•••

__ADS_1


Gadis polos ini tidak tahu bahwa ini adalah awal bahagia baginya sekaligus pria yang duduk di sampingnya adalah akhir yang sangat menyedihkan untuknya.


__ADS_2