IDENTITY : The Dark Story

IDENTITY : The Dark Story
Tersangka (Part 2)


__ADS_3

"Ada apa, Dokter?"


Tiba-tiba aku terkejut karena Fu langsung ada di sampingku.


"Tidak ada apa-apa, apa kamu menemukan sesuatu? Tanyaku.


"Aku belum menemukan sesuatu yang janggal di sini, cuma ada barang-barang khusus wanita dan foto serta lukisan," jawab Fu.


"Begitu ya, bagaimana dengan mu, Miranda?" Tanyaku.


Tapi Miranda tidak menjawab pertanyaan ku malah, kulihat dia asik membaca sebuah buku di pojok sana. Aku dan Fu menghampirinya untuk memastikan apa yang dia baca...


"Oh, Dokter~. Maaf, aku tidak mendengar mu, soalnya ada sesuatu yang menarik di sini," ucap Miranda.


"Sebenarnya kamu baca apa?" Tanyaku.


Miranda langsung memberikan buku itu kepadaku dan aku mengambilnya, lalu melihat isi buku itu.


"Inikan Diari! Bukankah tidak sopan membacanya tanpa seizin orangnya," kataku.


"Kamu orangnya sangat menjaga privasi orang ya, Dokter. Aku suka itu, tapi... kita tak kan bisa meminta izin dari pemilik buku itu, karena dia sudah tidak ada di kehidupan ini," terang.


Aku mendengar ucapannya itu, aku langsung membalik halaman buku itu dan melihat nama dari pemiliknya yaitu Ayudisa Wati.


"Lihat Kan, kamu sendiri sudah tahu, tidak ada salahnya mencari petunjuk di situ," sambung Miranda.


Yang dikatannya benar, mau tidak mau aku harus terpaksa membacanya. Sesaat membacanya beberapa saat aku menemukan sesuatu yang janggal bagiku, yaitu tanggal yang ditulis setiap halamannya.


"6.13.4.11, entah kenapa kalau diperhatikan angka-angka ini sangatlah tidak asing bagiku," kataku.


"Memangnya ada apa dengan angka-angka itu?" Tanya Fu.


"Berdasarkan berbagai cerita dan mitos dari orang-orang yang mempercayainya, angka-angka ini adalah biasa disebut angka neraka," jawabku.


Fu terkejut mendengarnya dan Miranda langsung berkata:


"Angka neraka ya, kalau diingat-ingat memang beredar rumor mengenai angka-angka ini."


"Iya, angka 6 dikatakan sebagai pembawa pesan kematian kepada seseorang, angka 13 dikatakan sebagai angka mengantar seseorang di jalan yang sesat, angka 4 dikatakan sebagai berjalan di jalan yang penuh kegelapan, dan angka 11 dikatakan sebagai gerbang neraka," jelas-ku. "Tapi, aku heran apa tujuan seseorang memberikanku secarik kertas, dengan angka-angka neraka ini saat di perpustakaan. Menurutku bukan pelaku atau pun pembunuhnya yang melakukan ini."


Setelah cukup lama memeriksa buku ini, kami langsung menelusuri setiap ruangan rumah ini dan Fu langsung memanggilku, kurasa dia menemukan sesuatu.


Aku dan Miranda bergegas ke salah satu kamar yang diperiksa oleh Fu.

__ADS_1


"Ada apa Fu? Apa kamu menemukan sesuatu?" Tanyaku.


"Iya, aku menemukan sesuatu...," Fu langsung menggeser kasur itu.


Aku terkejut ternyata dibalik kasur itu ada sebuah pintu bawah tanah, aku pun mendekati pintu itu dan memperhatikannya.


"Pintu ini terkunci dengan kode angka biasa," kataku.


Aku terus mengamati dan mencoba memecahkan kodenya, sesaat beberapa waktu tiba-tiba aku teringat dengan angka neraka itu, dan mencoba memasukkannya ke kode itu, dan ternyata...


Krak!


"Sudah kuduga," kataku.


Tanpa pikir panjang aku langsung membukanya, sesaat terbuka seketika hawa dingin menghembus sangat kuat dari bawah sana, dan itu membuat bulu kudukku merinding seketika.


"Kalian berdua tetaplah di sini, aku akan masuk sendirian," kataku.


"Kamu yakin hanya ingin sendirian?" Tanya Fu.


"Iya, lebih baik aku sendiri saja, firasat ku mengatakan kalau aku akan baik-baik saja di dalam sana," ucapku.


Aku langsung turun ke bawah dengan jantung masih berdegup kencang, tapi aku terus berjalan lurus tanpa menoleh ke belakang sedikitpun.


•••


"Kamu berasal dari keturunan 'Garis darah hitam' kan?"


"Oh, jadi ini penyebabnya kamu tidak menyukaiku. Wajar aja sih, sebab kamu ini berasal dari keturunan 'Garis darah putih'."


"Bukan itu, tapi aku tidak suka kamu terlalu dekat dengan sahabatku ini."


"Heh..., jadi kamu cemburu ya."


"Bukan, aku tidak suka kamu terlalu dekatnya dengannya, sebab aku tak ingin Ray terlibat dengan kalian. Apa lagi orang segolongan kalian yang melakukan apa pun demi tujuannya."


Seketika suasana semakin tegang dan dingin.


"Memang aku sungguh tertarik dengan temanmu ini, karena aku merasakan adanya darah segolongan kami dan disisi lain dia memiliki darah dari golonganmu juga. Jadi menurutmu yang mana dia harus memilih?"


"Aku tak ingin dia berada di golongan kami dan aku juga tak ingin dia berada di golonganmu juga. Aku hanya ingin dia menjadi dirinya sendiri, dan tidak terlibat masalah diantara golongan kita."


Miranda tersenyum mendengarnya.

__ADS_1


"Tak ku sangka hubungan kalian se-erat itu. Jangan khawatir, ini tidak hubungannya dengan orang-orang sebangsa ku, ini cuma inisiatif ku sendiri yang sangat penasaran seperti apa sosok temanmu ini."


"Jadi, mengenai dia?"


"Kalau dipandang sebagai pria, maka siapa pun melihat kelebihannya itu dari dekat akan kagum. Awalnya aku hanya mendekatinya untuk penelitian ku mengenai dia, lama kelamaan berada di dekatnya membuat diriku... entah sulit dijelaskan, yang penting dia sosok yang menarik."


Fu hanya diam dan mendengar semua jawaban wanita disampingnya ini.


•••


•••


•••


Setelah cukup lama berjalan di lorong gelap ini, akhirnya aku melihat cahaya yang sangat terang di depan sana.


Saat sampai di sana, aku dibuat terkejut apa yang kulihat ini...


"Ini... apa ini semua melati?"


Aku sungguh terkejut melihat tanaman melati tumbuh subur di sini. Aku berjalan terus ke depan dan melihat seseorang berdiri dengan tenang di sana.


"Aku tak menyangka, ada tamu tak diundang datang ke sini."


Orang itu langsung berbalik dan ternyata dia adalah Adithya Bagaskoro.


"Bukannya aku ini tamu mu yang sudah diundang dari tadi," kataku.


"Kamu tamu dari kediaman villa ku, bukan tamu dari rumah ini."


"Apa kamu yang menanam semua ini?"


"Iya, indah kan..."


"Iya, sungguh indah, tapi... apa itu?" Tunjuk ku pada sebuah peti mati yang berada di tengah-tengah kebun melati ini.


"Itu tempat tidur istriku."


Aku terkejut mendengar jawabannya itu.


"Bukankah lebih kau menguburnya segera, dia tidak akan pernah tenang di alam sana jika tubuhnya masih berkeliaran di luar tanah."


"Dia tidak mati sama sekali, melainkan dia masih ada disekitar sini. Makanya aku membuat taman melati ini yang dia sukai, agar dia tidak meninggalkanku sama sekali dan aku selalu datang ke sini menemaninya."

__ADS_1


Aku sudah merasa semakin tidak nyaman dengan Adithya, pikirku dia sudah mengalami gangguan kejiwaan yang sangat fatal.


"Dia mati lima tahun lalu kan? Hari yang seharusnya menjadi hari penuh kebahagiaan bagi kalian berdua, malah menjadi akhir penuh petaka. Biar ku tebak, kamu lah penyebab dia berakhir seperti ini."


__ADS_2