IDENTITY : The Dark Story

IDENTITY : The Dark Story
Kebenaran (Part 2)


__ADS_3

"Aku rasa ada kesalahan pahaman di sini."


"Apa maksudmu?" Tanya Tina.


"Aku tidak pernah melakukan eksperimen terhadap Iwan dan Desi, selama mereka hidup," jawab Adithya.


"Selama mereka hidup...," aku mencoba mencerna apa yang dikatakannya. "Jadi maksudmu... Iwan dan Desi sudah mati sejak dulu."


"Tepat sekali tuan detektif, Iwan sudah mati setahun yang lalu saat aku membawa dia ke rumah sakit kota seberang, saat penyakit dia semakin parah dan pada akhirnya dia tidak selamat. Sedangkan Desi sudah mati sejak Rama meninggalkannya dengan membawa putrinya, dengan kata lain Rama membunuh wanita yang dicintainya dengan tangannya sendiri, ini dilakukannya agar jejak mengenai dirinya tidak diketahui oleh musuh-musuhnya. Ekspresi dia sangatlah lucu, saat mengetahui bahwa wanita yang selama ini menemaninya dulu ternyata datang dihadapannya bagaikan hantu yang bergentayangan, saat aku membawanya ke villa itu," terang Adithya.


Kami semua terkejut mendengar kenyataan itu darinya, bahwa semua yang dikeluarkan dari mulutnya seperti kebohongan belaka, tapi siapa yang mau percaya lagi jika itu cerita bualan semata, jika semua bukti dan perbuatannya sudah terlihat di depan mata.


"Jadi... selama ini yang ku rawat...," ucap Tina yang masih sulit percaya.


"Ya, yang kamu rawat hanya seonggok daging yang tak bernyawa," kata Adithya yang terlihat tak berperasaan dari nada bicaranya.


Kami semua terkejut terutama Tina dan Siti yang sangat syok mendengar ini, mereka tak percaya bahwa Iwan yang selama ini mereka dekati sudah tiada, dan hanya meninggalkan raganya yang dikendalikan seperti boneka.


"Jadi, bagaimana caramu mengendalikan Iwan dan Desi?" Tanyaku. "Mereka berdua tampak terlihat utuh, tidak seperti makhluk eksperimen mu yang lain yang terlihat berantakan."


"Tentu saja mereka berdua terlihat utuh, sebab aku masukkan tubuh mereka abu orang-orang yang sudah jadi kegagalan eksperimenku, serta aku memasukkan darahku padanya sehingga sangat mudah mengendalikan tubuhnya," jelas Adithya.


Dia buat membuatku semakin geram dan Fu memintaku untuk tenang, aku menghela napas dan berkata:


"Jadi, sekarang kamu sudah tidak memiliki pasukan lagi, sebaiknya kamu menyerah sekarang," ucapku.


Adithya hanya diam saja dan tiba-tiba dia menunjukkan ekspresi senang sembari menunjukkan seringainya.


"HAHAHA, menyerah! Kamu pikir aku akan mundur semudah itu! Asal kamu tahu, semua persiapanku sudah ada di sini!" Ucap Adithya dengan nada keras. "Oh iya, Tuan Wolfa, apa kamu sudah membaca isi surat yang kuberikan?"


"Iya, aku sudah membacanya termasuk puisi itu juga," jawabku.


"Oh, jadi kamu sudah memahami makna dari puisi itu?" Tanya Adithya.


"Samar-samar, kalau diartikan secara biasa puisi itu hanya perasaan penuh kerinduan terhadap seseorang, tapi di sisi lain aku pikir ada semacam arti lain dari puisi ini," jawabku.


"Aku pikir kamu sudah mengetahuinya, aku memberikanmu puisi agar aku mendapatkan hal menarik dari sandiwara ini, tapi ternyata tidak dan setidaknya kamu sudah menunjukkan hal menarik lainnya," ucap Adithya sembari mengangkat satu tangannya. "Kuharap kalian tidak membenciku melakukan hal ini."


Tlak!


"Aaagh...!!"


"A-aahh.... kenapa perutku... sakit sekali!!"


Tiba-tiba dadaku sangat sakit dan Tina mengalami hal sama juga di bagian perutnya, kami merasakan sakit ini sesaat Adithya menjentikkan jarinya.


"Sayang! Kamu kenapa?!!" Edik yang panik.

__ADS_1


"Aku tidak tahu, tiba-tiba aku merasa sakit.."


"Dokter! Kamu kenapa?!" Tanya Fu.


"Tiba-tiba dadaku sangat sakit!"


Seketika semuanya menatap pria ini dengan tatapan tajam.


"Wah, wah, apa-apaan tatapan tajam itu, ya... aku tak heran sih kalian menatapku seperti itu, tapi kenapa 'kamu' juga menatapku juga seperti itu!"


"Kamu" siapa yang dia maksud, karena rasa sakit ini semakin membesar aku tak bisa berpikir tenang, rasanya jantungku mau dicopot secara paksa.


"Aku pernah bilang bahwa persiapanku sudah siap semua kan, sebab dua orang tumbal yang tepat sudah ada di depan mataku," ucap Adithya.


"Maksudmu... aku dan Tina... argh!!"


"Tepat sekali, kalian berdua bahan terakhir dari resepku untuk membangkitkan istriku!"


Rasa sakit ini semakin menjadi, aku melihat Tina yang hampir pingsan serta Edik, Sarah dan Siti berusaha membantunya, tapi tidak tahu apa yang harus dilakukan terhadap rasa sakit ini.


"Puisi yang kalian baca itu, sebenarnya mantra pengikat jiwa yang aku modifikasi agar tak terdeteksi oleh orang-orang seperti Tuan Chen," terang Adithya.


Kami terkejut mendengar itu dan terlihat wajah Fu yang sangat marah dan berkata:


"Sia! Jadi itu mantra terlarang, kamu benar-benar biadab!"


"Kyaaa!! Ibu Tina!!"


Teriakan dari belakang menghentikan langkahnya, sebab Tina berhasil ditangkap oleh Desi yang sudah menjadi mayat hidup.


"Kamu yakin ingin membunuhku?" Sembari mengangkat satu tangannya dan ditangan satunya lagi ada sebuah pisau, lalu menggores tangannya sehingga mengeluarkan darah yang sangat banyak.


"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Fu.


"Kamu lihat saja," jawab Adithya.


Seketika semua makhluk eksperimen yang kami kalahkan tiba-tiba berkumpul ke darah Adithya yang menetes.


"Apa itu?"


Seketika makhluk-makhluk itu menjadi satu dan membesar hingga membentuk makhluk Hybrid yang sangat menjijikan.


"Sial! Aku kesulitan bergerak..." tiba-tiba seseorang membopongku untuk berdiri dan orang itu adalah Edik.


"Ray, sini mari aku bantu."


"Kalau kamu di sini, bagaimana dengan Tina?" Tanyaku.

__ADS_1


"Jangan khawatir, Nona Miranda sudah membantu kami."


Edik langsung membawaku ke Tina dan yang lainnya, terlihat Tina baik-baik saja dan Desi berhasil dilumpuhkan oleh Miranda.


"Kamu terlihat sangat kesakitan, Dokter~. Kamu di sini saja biar aku membantu, Tuan Chen," ucap Miranda.


"Terima kasih, tolong ya."


Miranda hanya tersenyum dan langsung bergegas ke sana untuk membantu Fu melawan makhluk besar itu.


"Jika kalian ingin menghentikan ku, maka hadapi dulu makhluk ini," ucap Adithya.


Tiba-tiba makhluk besar itu melayangkan tangan besarnya.


Bur...


Seketika tanah hancur, Fu dan Miranda berhasil menghindarinya sembari Miranda melempar jarum-jarumnya.


"In flacane diob."


(Terbakar.)


Tiba-tiba muncul api biru biru mengelilingi makhluk besar itu, tapi terlihat makhluk besar itu semakin agresif.


"Dia menjadi lebih agresif," kata Miranda.


"Hati-hati, aku merasakan energi yang sangat negatif dari makhluk ini," kata Fu.


Fu merapal kan mantra-nya:


Ficar ael sig itrat u awau ete anim mes


Ficar flane vnti ene corl mu qud ripu


O qod Eurus, ngem hid eo


Set!


Dengan cepat Fu maju dan meninju keras makhluk besar itu.


"Haarrhh...!!!"


Makhluk itu mengeram kesakitan dan Fu terus melancarkan serangannya tanpa henti, makhluk besar itu langsung mengeluarkan tentakel yang sangat panjang dari belakangnya, dan menyerang Fu.


"Tidak semudah itu, anak nakal~."


Slash! Slash! Crak!

__ADS_1


__ADS_2