
Miranda langsung memotong tentakel-tentakel itu dan makhluk besar itu semakin mengamuk.
"Haarrhh...!!!"
Makhluk besar itu langsung melancarkan serangannya secara membabi buta, Fu dan Miranda berhasil menjauh dari amukan makhluk itu.
"Apa kamu bisa mengatasi semua tangannya itu?" Tanya Fu.
"Tentu bisa, kenapa tidak."
Set!
Miranda langsung maju dan melemparkan semua jarum-jarumnya hingga membakar semua tentakel serta tangan makhluk besar itu.
Fu yang bersiap-siap dengan kuda-kudanya dan menguatkan seluruh otot-ototnya.
Set!
Dengan kecepatan tingginya ia maju dan memukul tepat bagian titik kelemahan menurut penglihatannya.
Punc! Bur...
"Haarrhh...!!!"
Seketika makhluk besar itu terpukul hingga mundur dan jatuh hingga tak bisa bergerak lagi.
Semuanya sudah berakhir atas kemenangan Fu dan Miranda.
Di sisi lain, aku dan Tina mulai semakin kesakitan.
"Hok... hok..."
Aku batuk hingga mengeluarkan darah.
Edik, Siti dan Sarah mulai semakin panik melihat kami yang semakin kesakitan, tanpa sadar aku memasukkan tanganku ke kantong jasku.
"Eh? Apa ini?"
Aku merasakan ada sesuatu di dalam sana dan mengeluarkannya.
"Ini kan..."
Aku melihat ada sebuah bunga melati yang sangat putih bersih sedang sembunyi di saku jasku.
"Begitu ya..."
Seketika melati itu terbang dan menuju arah Adithya.
"Tuan Bagaskoro, inilah akhirmu, sebaiknya kamu jangan macam-macam lagi," peringatan Fu.
Seketika ekspresi Adithya memerah dengan urat muncul diantara kepalanya.
__ADS_1
"KALIAN SEMUA BRENGSEK!!! Kalian tidak tahu apa yang aku alami, aku melakukan ini untuk menebus semua kesalahanku dan aku ingin memulainya lagi dari awal!"
"Mengharapkan masa lalu kembali padamu, itu tidak akan bisa terwujud lagi," ucap Fu.
Ucapan Fu membuat Adithya semakin geram, tapi tiba-tiba ada sesuatu yang putih melayang ke arahnya.
"Itukan..."
Adithya mengangkat tangannya dan menangkap dengan lembut melati itu.
Dia membenamkan kepalanya ke melati putih itu di tangannya, terlihat melati itu sangat putih bak salju dan masih segar.
"Kenapa... kenapa kamu datang di saat begini...," ucap Adithya dengan tatapan sedih sembari menatap melati itu. "Aku sedang berusaha mewujudkan mimpi kita, tapi... kenapa kamu datang sekarang..."
Hujan terus turun dengan derasnya, pria itu mengangkat kepalanya dengan lemah dan tiba-tiba matanya membelalak.
Dalam pandangan muncul sosok yang sangat ingin dia temui lagi, sosok yang sangat dirindukan olehnya, sosok yang selalu menunjukkan senyum hangat kepadanya yaitu istrinya sendiri.
Selama bertahun-tahun, sosok ini tak pernah muncul dihadapannya, dia sangat mengharapkan bisa melihat senyum indahnya lagi, sehingga dia mengambil tindakan nekat untuk bisa melihatnya lagi.
Sosok ini hanya berdiam diri dihadapannya, karena hantu tidak akan tertawa, berbicara dan menghangatkan dirinya, tapi sosok ini hanya bisa menampakkan senyumannya kepada pria ini.
"Ternyata selama ini kamu selalu ada di sisiku, tapi aku dibutakan oleh rasa bersalahku dan selalu memilih untuk mengabaikanmu."
Ya, tidak diragukan lagi bahwa sosok ini adalah istrinya, sebab... hanya dialah yang akan meneteskan air mata kesedihan untuknya.
"Sa.. yang?"
Sosok putih ini hanya bisa membalasnya dengan senyuman saja.
"Eh? Aku tidak merasakan sakit lagi," kataku.
"Sama aku juga," sambung Tina.
"Dokter, kamu tidak apa-apa?" Tanya Fu.
"Jangan khawatir, aku baik-baik saja," jawabku.
"Sosok putih apa itu, apa itu hantu?" Tanya Tina yang kebingungan.
Secara tiba-tiba Siti meneteskan air matanya dan Tina melihat Siti bersedih lalu berkata:
"Sayang, kamu kenapa?"
"Aku tidak tahu, tapi aku merasakan kehangatan saat melihat sosok putih itu, dan kenapa Kak Adit menangis melihat sosok itu," terang Siti.
Sebenarnya aku tak ingin ikut campur dalam urusan keluarga mereka, tapi cuma ini satu-satunya untuk menyatukan mereka kembali serta menyadarkan Adithya atas perbuatannya.
"Sosok putih adalah orang yang selama ini Adithya ingin temui lagi, sosok yang selama ini kamu rindukan juga."
"Berarti dia...," Siti langsung bangkit dan bergegas menghampiri sosok putih itu. "Kakak!!"
__ADS_1
Sosok putih itu langsung berbalik dan menunjukkan senyum manisnya, kepada orang yang selama ini disayanginya yaitu adiknya sendiri.
Seketika air mata mengalir di pipinya dengan deras, gadis kecil tak bisa menahan kerinduannya dan ia mencoba menyentuhnya, tapi apa daya sosok dihadapannya hanyalah jiwa tak bertubuh.
Saat terhanyut dalam kerinduan, sosok putih mulai kehilangan seluruh wujudnya, tampak samar-samar terlihat di mata.
Seakan menyadari dirinya mulai menghilang, sosok putih ini menghampiri gadis kecil ini dan memeluknya lalu mencium keningnya.
"Hiks... huaah...!"
Seketika gadis ini tak bisa menahan kesedihannya lagi, dia mengeluarkan semua beban hatinya yang selama ini ditahannya dan merasakan kehangatan sekali lagi dari seorang kakak.
Kami yang ada di belakangnya hanya menatap mereka dengan haru, Sarah mengeluarkan air matanya juga begitu pun Tina yang langsung memeluk Sarah.
Sosok putih menghampiri pria yang sangat dicintainya, tapi pria ini menundukkan pandanganya, dia tak ingin menunjukkan wajah menyedihkannya lagi kepada wanita yang sangat baik kepadanya, dia telah mengecewakannya hingga akhir hayatnya.
Sosok putih terus berdiri dihadapannya dan sangat berharap bahwa suaminya ini, mau menatapnya sekali lagi. Karena kesedihan mendalam, pria ini dengan berat hati mengangkat kepalanya dan menunjukkan ekspresi kesedihan, di mana air mata terus membanjiri pipinya.
Sosok putih tersenyum lembut dan langsung memeluk prianya ini.
"Maaf... hiks... maaf..."
Pria terus melontarkan kata-kata penyesalannya, sosok putih ini memegang kedua pipi suaminya ini. Walau tak bisa merasakan sentuhannya, tapi dia masih bisa merasakan kehangatannya.
Wajah mereka saling bertemu dan bertatap cukup lama hingga, akhirnya wajah mereka berdekatan dan terjadilah ciuman perpisahan diantara mereka.
Keberadaan sosok putih itu mulai menghilang, sosok ini melambaikan tangannya dengan lembut sembari menunjukkan senyum manisnya.
"Sampai jumpa."
Sosoknya pun menghilang menjadi partikel-partikel kecil.
Seketika bunga melati di tangan pria ini telah layu dan menghilang bersama angin.
Air matanya terus membanjiri wajahnya...
"Uhh... aahhh!"
Setelah meratapinya beberapa saat, tangisannya meledak keras.
"Semuanya sudah berakhir, Dokter," ucap Fu.
"Ya aku tahu, selanjutnya adalah masalah bagaimana menangani Adithya," kataku. "Tapi ini belum berakhir sepenuhnya dan... Edik Thomas, sudah sampai titik ini, kamu masih memainkan peranmu?"
"Hehe~, kukira kasus ini sudah berakhir, tak kusangka masih ada kejutan lainnya," ucap Miranda.
"Aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan, Ray," balas Edik.
"Sama," sambung Tina.
"Kalau ingin tahu, maka sebaiknya minta penjelasan dari sumber masalah ini," kataku.
__ADS_1
Kami semua berjalan ke arah Adithya dan Siti, yang tenggelam dalam kesedihan. Sarah dan Tina menghampiri Siti dan berusaha menenangkannya, sisanya mengahmpiri Adithya yang sangat terpuruk.