IDENTITY : The Dark Story

IDENTITY : The Dark Story
Villa (Part 2)


__ADS_3

"Aku tahu kamu pasti bingung kenapa mereka memilih wadah kosong dibandingkan wadah yang hidup. Aku lanjutkan ceritaku sebelumnya. Saat kami berusaha kabur dari makhluk hitam itu Pak Bagas datang membawa sebuah botol berisikan air, saat ditumpahkan ke lantai makhluk hitam itu menjauh dan keluar melalui celah-celah ventilasi dan keluar bau melati dari air ditumpahkan barusan. Lalu Pak Bagas berkata ke kami bahwa makhluk itu tidak menyukai melati dan katanya juga makhluk hitam itu memiliki kecerdasan mereka akan datang dengan wujud baru, lalu dia bilang makhluk itu tidak bisa mengambil tubuh makhluk hidup karena mereka sudah merasakan kehidupan dan mereka juga tidak akan bertahan lama dengan wujud hitamnya itu, jadi mereka mencari cara agar bisa hidup lebih lama lagi. Cuma sampai sini saja yang ku ketahui," jelas Edik.


"Dari situlah kami menamai mereka Black Wind Ghost (BWG)," ucap Tina


Cerita yang sangat mengejutkan buatku ditambah lagi kejadian-kejadian diluar nalar membuat tugas ini semakin rumit untuk diterima.


"Jadi Dokter, apa kamu akan menerima permintaan ini pelakunya sudah jelaskan makhluk hitam itu yang menculik mereka," ucap Fu.


Yang dikatakannya masuk akal juga tapi firasat ku mengatakan bahwa masih ada yang janggal disini jadi coba tanya lagi ke Edik dan Tina.


"Selama orang-orang itu menghilang apa ada yang sudah ditemukan?"


Edik dan Tina saling memandang sesaat lalu Edik membuka mulutnya memberitahu kami.


"Iya kebanyakan mereka yang menghilang sudah ditemukan tapi... mereka semua sudah mati saat ditemukan."


Aku dan Fu terkejut mendengar pernyataan barusan semuanya menghilang lalu mati tapi pikirku tidak semudah itukan BWG menculik mereka apa lagi seluruh halaman serta isi rumahnya sudah ada banyak melati di mana-mana, jadi benar-benar ada yang janggal.


"Aku tahu yang kalian pikirkan, maka dari itulah Pak Bagas memintaku mengundang kalian dan menyelidiki kasus kematian orang-orang hilang, karena kematian mereka rata-rata bagian tubuh mereka menghilang dan cara membunuh BWG hanya membakar tubuh korbannya hingga menjadi abu hanya untuk menambah jumlah mereka," jelas Tina.


Jadi dugaan ku benar selain BWG pembunuhnya ada orang lain yang melakukan tindakan pembunuhan, tapi apa alasannya melakukan ini dan hanya mengambil beberapa bagian tubuh korbannya, aku akan mengetahui seiring menyelidiki kasus ini.


Aku mengeluarkan surat yang ku terima dari mereka dan memandang sesaat surat tersebut.


"Jadi kamu sudah memutuskannya?" Tanya Fu.


"Aku sudah putuskan, kita menerima kasus ini."


Fu yang langsung menghela nafasnya lalu berkata:


"Sudah kuduga kamu akan berkata begitu."


"Terima kasih Ray. Kalau begitu mari masuk," ucap Edik.


Edik membawa kami aula, sambil berjalan aku bertanya sebentar ke Tina.


"Kamu yang menulis surat ini kan Tina?"

__ADS_1


"Oh, ketahuan ya?"


"Tentu saja ketahuan, ini terlalu rapi untuk dikatakan tulisan cakar ayam. Asal kamu tahu kita berada di jurusan yang sama jadi aku tahu betul tulisan seperti ini."


"Jadi kamu ingin menanyakan isi surat tersebut?"


"Iya," jawabku. "Ini mengenai puisi di surat tersebut kamu pasti tidak asal menulis surat ini kan."


"Untuk puisinya itu permintaan Pak Bagas katanya kamu akan mengetahui sesuatu nanti saat menyelidiki kasus ini."


"Apa kamu sudah tanya alasannya?"


"Sudah, dia bilang 'jawabannya ada padanya'."


Jadi maksudnya dari kejadian dan masalah ini semuanya dipercayakan padaku. Aku tidak tahu apa maksud Bagaskoro ini, yang penting petunjuknya sudah ada sedikit itu mempermudah penyelidikannya nanti.


Saat kami sampai di aula berbagai macam orang berkumpul di sana. Mereka semua menatap kami dengan berbagai tatapan rasa ingin tahu saat kami masuk.


"Hm... kenapa mereka semua ada disini, sedang apa mereka berkumpul disini?" Tanya Tina yang sedang kebingungan.


Itu membuatku terkejut karena kami baru datang ke Villa ini tapi sudah ada korbannya lagi aku sudah tidak sabar menyelidikinya sekarang, tapi pundak ku ditepuk Fu yang mengisyaratkan untuk menahan diri kali ini biarkan masalahnya tampak jelas dulu baru kita bertindak.


"Maaf Rai. Aku rasa kamu akan kesulitan istirahat kali ini, karena kami sedang was-was terhadap pelakunya," ucap Edik.


"Tidak apa-apa, aku juga tidak bisa bersantai di keadaan seperti ini."


Tina maju ke depan dan berbicara kepada mereka untuk memperkenalkannya kepada kami.


"Semuanya kita kedatangan tamu khusus dari Pak Bagas. Mereka berdua adalah seorang detektif Tuan Fu Chen dan Ray Wolfa lalu kalian sudah mengenal Nona Miranda Jasfi kan yang sering mampir kesini, mereka akan membantu kita menemukan pelakunya jadi kalian harus memberitahu semua yang ditanyainya nanti."


Semuanya tampak jelas dua orang memakai pakaian pelayan serta satu gadis kecil memeluk salah satu dari mereka dan satu pria kecil yang sangat pendiam.


"Mari aku perkenalkan kalian ke mereka. Wanita yang memakai tudung putih ialah koki disini namanya Jasmin dan disampingnya ia adalah kepala pelayan disini namanya Rama mereka ini suami istri, lalu gadis kecil ini putri mereka namanya Sarah," ucap Edik yang memperkenalkannya ke kami.


"Salam Tuan Wolfa dan Tuan Chen," sapa pasangan suami istri ini.


"Salam juga Nona Jasmin dan Tuan Rama," balas Fu dan saya.

__ADS_1


"Tuan gak perlu terlalu formal ke kami, kami hanyalah pelayan disini dan anda tamu dari majikan kami. Oh iya lupa, nak ayo sapa mereka," ucap Jasmin.


Seorang gadis kecil yang malu sembunyi dibelakang Ibunya.


"Ha-halo."


"Halo juga," balasku sambil tersenyum ke dia.


"Maaf Tuan dia ini orangnya pemalu apalagi dia lihat orang baru," ucap Rama.


"Tidak apa-apa aku mengerti kok," balasku.


Aku berbalik dan melihat Tina sedang berbicara dengan pria kecil di sana. Terlihat anak itu hanya mengangguk saja dan hanya mengeluarkan beberapa kata saja.


"Apa kamu sudah meminum obatnya?" Tanya Tina ke pria kecil pendiam itu.


"Sudah."


"Bagus," balas Tina sambil mengusap kepala anal kecil itu.


Aku mendengar pembicaraan mereka tapi apa anak ini sedang sakit ya, sampai-sampai Tina harus memperhatikan dia.


"Namanya Iwan dia adik kedua dari mendiang Istri Pak Bagas," ucap Edik tiba-tiba kepadaku yang sedari tadi aku memerhatikan mereka berdua.


"Namanya Iwan ya... apa anak itu sakit?" Tanyaku.


"Iya dia sedang sakit," jawab Edik.


"Sakit apa?"


"PPOK."


"Bronkitis kronis atau emfisema?"


"Dua-duanya."


"Kasian juga ya padahal dia masih muda, tapi dilihat dari kondisinya pasti sudah lama penyakit ini ada padanya."

__ADS_1


__ADS_2