IDENTITY : The Dark Story

IDENTITY : The Dark Story
Tersembunyi (Part 3)


__ADS_3

"Ehem, ya sebaiknya kita pergi dari sini,"


"Hmm, apa tidak ada perlu selidiki disini, Dokter?"


"Tidak ada sama sekali, aku hanya ingin mengobati rasa penasaranku saja jadi sebaiknya kita pergi dari sini."


"Baiklah kalau begitu."


Aku dan Miranda berbalik menghampiri kembali Edik yang menunggu di pintu masuk, sekalian aku juga melihat sebentar denah villa ini yang tertempel di dinding.


"Jadi... kalian menemukan sesuatu di sana?" Tanya Edik.


"Tidak ada sama sekali aku hanya penasaran saja. Oh iya, saatnya kamu menjelaskan situasinya."


"Baiklah, sebaiknya aku mulai darimana ya. Korban ini adalah sahabat dekat Pak Bagas dan korban kelima dari insiden tulisan darah ini."


 "Tunggu dulu sudah yang kelima?"


"Iya, apa kita perlu ke tempat para korban lain?"


"Tidak perlu cukup beritahu semuanya saja, aku merasa ini akan sangat banyak memakan waktu."


Edik menceritakan semua kejadian-kejadian yang menimpa para korban, dimulai dari korban kedua yang dimana dia ditemukan tewas dibelakang rumah kecil yang sedang di bangun itu. Namanya EVY dia salah satu pelayan di villa ini yang bertugas mengurus tanaman-tanaman di halaman villa, dan pesan darah yang di tinggalkan di dinding belakang rumah kecil itu bertuliskan "TOMAS".


"Tomas?! Bukannya itu namamu," kataku.


"Banyak orang yang bernamakan Tomas, Ray. Bukan hanya aku tapi tulisan ini mungkin memiliki arti bukan hanya nama saja."


"Yang kamu katakan masuk akal juga, Tuan Edik," ucap Miranda.


"Baiklah aku lanjutkan, korban ketiga berada di laboratorium di villa ini."


"Laboratorium? Aku tidak melihatnya sama sekali saat jalan tadi," kataku.


"Lokasinya berada tepat di bawah kita, di bawah perpustakaan ini. Barusan kita melewatinya pintunya yang kecil itu."


"Aku tidak menyadarinya sama sekali."

__ADS_1


"Soalnya~, Dokter terlalu serius tadi saat ngobrol," terang Miranda.


"Iya juga sih."


"Hehe~."


Edik melanjutkan kembali ceritanya, nama dari korban ini adalah PINA dia adalah asisten dari Pak Bagas yang mengurus soal laboratorium disini. Dia di tewas saat sendirian di sana, dan pesan darah yang tertinggal di dinding laboratorium yang bertuliskan "GILLES".


"Gilles ya, tapi aku penasaran asisten? Laboratorium? Sebenarnya Bagaskoro ini kerjanya apa?" Tanyaku.


"Maaf aku lupa memberitahumu, sebenarnya Pak Bagas adalah seorang Dokter juga. Dia ahli dalam farmasi, terlebih lagi dia seorang profesor yang di hormati di sebuah universitas dan rumah sakit di Ibu kota."


"Aku tidak menyangka dia sehebat itu, tapi aku tidak pernah melihat atau mendengar namanya sama sekali di rumah sakit di Ibu kota, saat aku menyelidiki kasus-kasus di sana."


"Pasti kamu mendengar nama yang tidak asing bagimu tapi sangat terkenal di sana kan?" Tanya Edik.


"Ada, yaitu Dokter Adit."


"Dari situ kamu sudah tahukan siapa Dokter Adit sebenarnya, dia mulai jadi sukarelawan saat Iwan dirawat di rumah sakit, dari situlah orang-orang rumah sakit mulai memanggilnya Dokter Adit."


"Jadi si 'Dokter' ini masih melakukan tugasnya?"


"Ehem, teman-teman kalian keluar dari topik," sela Miranda diantara pembicaraan mereka.


"Oh iya maaf, Edik silahkan lanjutkan korban berikutnya."


Edik menceritakan bahwa korban keempat ini adalah seorang penjaga gerbang villa ini, namanya SAMUEL dia tewas di post-nya saat dia berada di sana dan pesan darah yang berada mejanya bertuliskan "HOLMES".


"Dan korban kelimanya yang sekarang, pasti kamu sudah memperkirakan atau mengetahui urutan kejadiannya kan, Ray," ucap Edik.


"Tentu saja, dan pesan darahnya berada di belakang pintu itu kan."


"Tepat sekali." Edik berbalik lalu menunjukkan pesan itu dan bertuliskan "BATHORY" serta beberapa cakaran di sana.


"Lalu mengenai identitas asli korban kelima ini, Tuan Edik?" Tanya Miranda.


"Korban bernama GINA seorang Dokter ahli penyakit dalam, dia sahabat dekat dari Pak Bagas. Sekitar 22.17 malam, dia keluar dari perpustakaan lalu memanggil Tina untuk membawakan makanan untuknya."

__ADS_1


"Kenapa hanya Tina yang dimintai-nya, di sini kan ada banyak pelayan?" Tanyaku.


"Alasannya sederhana saja, dia sangat gemas dengannya apalagi dia juga seniornya Tina saat magang di rumah sakit. Tina membawa kan makanannya sambil memarahinya, tapi dia hanya tersenyum lembut melihat Tina memarahinya."


"Hubungan antara Senior dan Junior yang cukup akrab ya, Hehe~," sanjung Miranda.


Edik tersenyum tipis dan melanjutkan ceritanya.


"Sekitar 23.04 terdengar kegaduhan yang sangat keras dari perpustakaan, aku, Tina, dan Pak Bagas serta orang-orang di villa ini bergegas menuju ke perpustakaan."


Edik mengatakan bahwa mereka semua kesulitan masuk karena pintunya terkunci sudah beberapa kali mendobraknya tapi belum juga terbuka, semua orang mulai  tampak sangat khawatir karena satu-satunya orang di dalam sana hanya Gina. Tina mengetuk keras beberapa kali sembari marah dan meneriakinya bodoh, tapi tidak ada respon sama sekali.


Satu menit lebih mereka di depan pintu perpustakaan, tiba-tiba pintunya terbuka sendiri mereka bergegas masuk tapi betapa kaget dan histerisnya mereka saat melihat semua kekacauan ini, ditambah lagi seorang wanita tergeletak di bawah sana dengan darah sangat banyak. Tina yang tidak kuat melihat ini langsung pingsan dan Pak Bagas tidak bisa berkata apa-apa hanya mengeluarkan air mata, sembari melakukan terus pertolongan pertama tapi pada akhirnya semua itu hanya sia-sia.


Duka terus menimpa para penghuni villa ini, Adithya Bagaskoro selaku pemilik Villa Raja tidak bisa berbuat apa-apa. Dia sudah meminta bantuan ke pemerintah setempat untuk memanggil kepolisian pusat tapi itu di tolak, alasannya jika mendatangkan polisi pusat itu hanya membuat image kota ini jadi jelek di mata publik sehingga perekonomian tidak akan ada masuk sama sekali bagi mereka, dan katanya juga itu bisa membuat kota ini tertutup untuk publik selamanya tidak pantas di huni lagi jadilah kota mati.


"Benar-benar keadaan rumit, kalau aku berada posisinya mungkin aku kesulitan mencari solusinya juga," terang-ku.


"Mungkin ini alasannya kenapa Adithya memanggilmu ke sini, Dokter," ucap Miranda.


"Bisa jadi, tapi ini terlalu janggal untuk peristiwa yang terjadi secara kebetulan. Setelah itu apa yang terjadi, Edik?"


"Sebenarnya..."


Pukul 20.04


Seketika terjadi pemadaman listrik semuanya terlihat sangat gelap gulita, satu-satunya penerangan hanya kedua lilin yang di meja pojok sana.


"Mati lampu ya... apa ini karena hujan," lontar Miranda.


"Tunggu sebentar disini, aku akan mengambil senter di laci meja perpustakaan ini."


Edik meninggalkan kami sebentar, dia bergegas mencari alat penerangan dan menggerogoh setiap laci meja, dan berhasil menemukannya. Dia menyalakannya dan mengarahkannya ke kami berdua lalu berkata:


"Tampaknya aku harus ke belakang untuk menyalakan generator-nya, bagaimana dengan kalian?"


"Aku ikut sekalian aku hanya ingin lihat-lihat keadaan, bagaimana denganmu Miranda?"

__ADS_1


"Aku ikut juga~, mana mungkin kalian meninggalkan seorang gadis di tengah kegelapan seperti ini kan."


__ADS_2