IDENTITY : The Dark Story

IDENTITY : The Dark Story
EX. Terungkapnya rahasia besar (Part 2)


__ADS_3

Aku dan Fu terkejut mendengar akhir kalimatnya itu, sebab kami tak percaya mendengarnya.


"Itu semua karena orang-orang gereja yang busuk itu!"


"Tunggu dulu! Aku masih sulit mencernanya, aku pikir dia mengalami sakit seperti katanya dia habis persalinan dan suaminya suka melakukan tindakan agresif saat hubungan intim," ucapku.


"Kakakku belum menikah, dia bekerja sebagai seorang biarawati di gereja tempat itu, gereja tempat aku sekarang bekerja di sana. Kakakku sudah mengalami kehamilan dan dipaksa melakukan aborsi setiap kali di hamil!"


Mendengar itu membuatku semakin geram, tak kusangka bahwa klien kami yang selama ini kami mau bantu ternyata menyembunyikan kejahatan sebesar ini.


"Kalau boleh tahu, kenapa kamu mau bekerja di sana kalau sudah tahu itu sangat berbahaya bagimu, mengingat kakakmu korban di sana juga?" Tanya Fu.


"Aku ke sana untuk mencari bukti mengungkap kejahatan mereka, dengan dalih bahwa aku ingin seperti kakakku, wanita yang sangat baik," jawab Melina.


"Kamu bilang bahwa mereka mengincarmu?" Tanyaku.


"Itu hanya ancaman saja dan kakakku yang mendengar itu sangat takut jadi dia mengorbankan dirinya," sembari menghapus air matanya. "Saat aku tiba di sana dan jadi biarawati, mereka bilang bahwa aku masih sangat muda, aku tahu mereka menatapku dengan siap menyantapku kapan saja terutama Pastor busuk itu! Moris Ramza!"


Aku dan Fu terkejut mendengar itu lalu kami saling menatap, tampak aku sepemikiran dengan Fu bahwa bukti kebenaran sesungguhnya ada pada foto dan rekaman yang dicuri itu.


"Jadi, itu kebenaran yang ingin kamu ucapkan," kataku.


"Iya," jawab Melina. "Tapi, untuk membuat kebenaran ini semakin kuat, maka kalian harus melihat isi dari foto dan rekaman itu, sebentar lagi temanku akan datang membawa benda itu dan aku sudah menghubungi dia dari tadi."


Kami akhirnya menunggu orang yang membawa benda itu sekaligus dia pelaku pencurinya.


•••


Setelah beberapa menit...


Ding... Dong...


Terdengar suara bel pintu dibunyikan dari luar sana.

__ADS_1


"Dia sudah datang, kalian tunggu sebentar di sini, aku akan membukakan pintu untuknya," ucap Melina.


Melina langsung pergi membukakan pintu itu.


"Jadi firasat kita benar, ada yang tidak beres dengan barang curian itu," ucap Fu.


"Ya, jika semua yang dikatakan Melina benar, maka kita hampir menyembunyikan kejahatan besar yang ada di kota ini dan itu akan menjadi penyesalan dalam hidupku, jika tidak menyelidikinya lebih dalam lagi," terangku.


Melina membuka pintu itu dan terlihat seorang wanita cantik dengan gaun putih corak bunga kebiruan, tampak Melina langsung memeluk gadis itu dengan air mata yang suling dibendung lagi.


Melina mengajak wanita itu ke dalam rumahnya.


"Miranda!" Kataku.


"Ah, Dokter~"


Aku cukup terkejut, sebab teman dia yang dimaksud adalah seorang bintang idola dengan bakat tarian dan nyanyi di atas panggung dengan memukau.


Miranda duduk di seberangku bersama Melina.


"Inginnya pulang langsung pada waktu itu, tapi aku melihat teman lamaku ini yang sudah tidak ketemu dari kecil, berdiri di depan klinikmu dengan wajah sedikit khawatir dan gugup," jelas Miranda.


Miranda menyapa Fu, dan Fu hanya meresponnya dengan menganggukkan kepalanya. Aku tahu hubungan mereka sudah merenggang sejak insiden itu, tapi baguslah hubungan buruk itu tidak mempengaruhi mereka sekali.


"Kalau Melina ada di sana, berarti kamu ingin melaporkan perihal kakakmu ini, tapi kenapa kamu tidak langsung saja melaporkannya kepadaku, aku akan senang hati menerimanya dan lagi ini menyangkut pasienku juga yang kurawat selama ini!" Jelasku dengan sedikit kesal.


"Aku mau langsung melaporkan mengenai kakakku ini pada, Dokter. Tapi, aku sangat takut jika yang kukatakan nanti tidak akan diterima, sebab aku tidak punya bukti sama sekali untuk melaporkan kejahatan mereka," jelas Melina.


"Sebenarnya aku sendiri yang meminta dia untuk tidak melaporkan kasus ini kepadamu, setelah mendengar kematian kak Merlina yang disebabkan oleh para si brengsek itu!" Ucap Miranda dengan kesal. "Akhirnya aku punya rencana untuk memojokkan Pastor itu, dengan menyelinap dan mencari informasi serta mencuri barang yang bisa menjadi bukti kuat."


"Jadi, kamu orang yang menyelinap ke ruangan Pastor itu?" Tanyaku.


"Iya, awalnya sangat sulit karena biarawati di sana sudah saling mengenal satu sama lain, tapi Tuhan memihak kita, sebab di hari itu hari Paskah di mana banyak orang akan datang ke gereja itu dan itulah kesempatan besar bagiku. Satu hal lagi, aku menemukan satu ruangan di mana menjadi pemandangan terburuk dalam sejarah," jelas Miranda.

__ADS_1


"Dan tempat itu?" Tanyaku.


"Tempat itu berada di ruang bawah tanah yang disembunyikan oleh pihak gereja, sesaat memasuki ruangan itu aku melihat banyak wanita jadi korban pemuas dari para bajingan bejat itu, mereka selalu mengatasnamakan Tuhan bahwa tindakan yang dilakukan oleh mereka adalah pensucian agar Tuhan bisa menerima mereka, pada kenyataannya mereka hanya ingin memuaskan diri saja."


Mendengar itu membuatku sakit hati dan geram, di sisi lain Melina gemetar mendengar itu.


"Jadi barang curianmu ada di mana sekarang?" Tanyaku.


"Aku membawanya bersamaku," sembari mengecek isi tasnya dan memberikan barang itu kepadaku. "Sebaiknya kamu menonton rekaman ini juga."


Aku mengambil beberapa lembar foto, aku dan Fu sangat terkejut melihatnya sebab di gambar itu sebuah pemandangan menyedihkan yang tak pantas dilihat, sebab martabak seorang wanita sangat direndahkan dari foto.


Lalu aku mengambil sebuah kaset, sesaat mengambilnya Melina langsung berdiri.


"Kalian berdua silahkan selidiki semuanya benda itu, aku akan pergi ke kamarku dulu, permisi."


Dia langsung pergi dengan wajah yang terlihat sangat sedih.


"Dokter, kamu putar saja kaset itu dan aku akan menemani dia, dia sangat trauma saat melihat pemutaran film kaset itu."


"Baiklah, aku mengerti."


Miranda bangkit dan pergi menuju kamar Melina.


"Kamu ingin memutar rekaman itu, tanpa dilihat pun kita sudah tahu bahwa Pastor itu telah melakukan kejahatan yang sangat besar," ucap Fu.


Aku memandang kaset itu sejenak lalu memandang potret Merlina kakak dari Melina.


"Iya, kita harus menontonnya untuk melihat kebenarannya lebih jelas, aku tak bisa mengabaikan kejahatan ini lagi," ucapku.


Fu hanya diam saja dan aku bangkit dari dudukku lalu menuju ke arah TV yang berada di ruang tamu ini, dan di bawah TV ada sebuah perangkat VCD untuk memutar kaset ini.


Aku langsung menekan tombol VCD itu lalu memasukkan kaset yang kupegang dan menekan tombol play.

__ADS_1


Seketika layar TV itu biru dengan gambar tulisan "Loading".


Setelah beberapa saat menunggu seketika muncul gambar bergerak, terlihat ada seorang Pastor dan orang itu adalah klien kami yaitu Moris Ramza.


__ADS_2