
Terlihat dia lagi khotbah di sebuah ruang tertutup dan di sekelilingnya ada banyak obor, setelah dia berkhotbah dia langsung mengajak kameraman-nya merekam ke arah sekumpulan wanita telanjang yang terikat dengan posisi telentang.
Lalu mengarahkannya lagi ke sekumpulan pria dengan topeng dan tubuhnya telanjang, menampakkan ******** mereka yang ereksi.
Tiba-tiba Pastor berteriak "Terimalah sembah kami", seketika para pria telanjang itu datang langsung menyerbu wanita tak berdaya itu dan menjamah tubuh mereka dengan liar, bagai hewan buas yang menikmati menyantap mangsanya.
Setelah kurang dari sepuluh menit aku menontonnya, aku langsung mematikan TV-nya sebab tak kuat melihat pemandangan mengerikan.
"Ya Tuhan."
Aku langsung memegang keningku dan menutup kedua matanya, hanya ingin membuat pikiranku tenang sejenak setelah melihat isi rekaman itu.
"Aku melihat wanita yang ada di potret itu," ucap Fu.
"Iya, aku tahu," sembari berdiri. "Sebaiknya kita membahas menyelesaikan masalah ini sekarang."
Fu hanya mengangguk dan mengikutiku pergi ke kamar Melina.
Tok... Tok... Tok...
"Masuklah, pintunya tidak dikunci."
Terdengar suara dari dalam dan suara itu berasal dari Miranda.
Crak... Ngak...
Aku membuka dan mendorong pintu itu secara perlahan, kulihat Melina duduk di tepi ranjangnya dan menangis lalu di sampingnya ada Miranda yang berusaha menenangkannya.
"Melina...," aku merasa gugup setelah melihat dia begitu sedih atas penderitaan kakaknya itu. "Kamu jangan khawatir, sekarang semua kejahatan mereka akan sudah ada buktinya dan soal menegakkan hukuman pada mereka, serahkan semuanya kepadaku."
"Hiks... huaaa..!!" Sembari memeluk Miranda yang ada di sampingnya.
__ADS_1
Tangisannya semakin keras, aku tahu inilah yang selama ini dia nantikan, keadilan bagi kakaknya yang menderita hingga akhir hayatnya dan derita itu telah berakhir pada hari ini.
"Sekarang, kamu tidak perlu khawatir lagi dengan keadaan adikmu, Merlina," batinku.
Seketika aku melihat semacam kabut putih yang terlihat sangat samar-samar, terlihat kabut putih membentuk seperti tubuh manusia dan tangannya meletakkan di atas kepala gadis yang bersedih ini, terlihat tangan dia mengelus kepala gadis sedih ini.
Aku terkejut dan terbelalak melihatnya, semakin aku perhatikan terutama wajahnya, semakin jelas wajah itu tergambar seperti di potret. Saat mata kami saling bertemu, tiba-tiba dia tersenyum kepadaku.
"Terima kasih."
Entah kenapa aku bisa mendengar suaranya itu, setelah mengatakan itu tiba-tiba dia menghilang begitu saja.
"Dokter, kamu tidak apa-apa?" Tanya Fu sembari menepuk pundakku.
"Tidak, tidak ada yang perlu dikhawatirkan," aku langsung melirik ke Melina. "Melina, sebaiknya kamu ikut denganku ke klinik."
"Hm," Melina hanya mengangguk saja.
Sesaat mendengar itu, aku juga bertanya-tanya bagaimana Melina bisa tahu kejahatan yang disembunyikan gereja itu.
"Soal itu... aku mengetahuinya dari kakakku," jawab Melina.
"Dari kakakmu, apa dia menceritakan semuanya kepadamu?" Tanyaku.
"Tidak, kakak tidak memberitahukannya kepadaku, tapi aku mengetahui semuanya dari Diary yang ia tulis. Di situ tertulis semua kejahatan serta rasa sakit yang diterimanya."
Saat mendengar itu membuatku terpikir, bahwa saat menyelinap ke sini aku melihat sebuah Diary tebal di meja perpustakaannya itu. Aku ingin membacanya tapi kupikir itu sangat melanggar privasi seseorang, tapi tak kusangka bahwa hal sensitif sekali pun bisa menjadi jawaban mutlak dalam hal kebenaran.
"Apa boleh aku melihat isi Diary itu?" Tanyaku.
Melina hanya mengangguk saja dan bangkit dari duduknya lalu keluar dari kamar ini menuju ruang bukunya itu.
__ADS_1
Kami bertiga menunggu ruang tamu, sesaat beberapa menit Melina membawa dua buah buku di tangannya.
"Ini bukumu," sembari memberikan sebuah buku pada Miranda.
"Terima kasih~."
Miranda melirikku sembari tersenyum, yah... aku tahu pikirannya itu bahwa yang kulakukan tindakan yang tidak seharusnya pada rumah seorang wanita yang tinggal seorang diri, mengingat Miranda seorang ahli supranatural sehingga dia bisa menghilang kapan pun dengan kemampuannya itu, mengingat dia juga memberikan surat itu kepadaku dan tak heran kenapa ada novelku yang satu-satunya berisikan tanda tanganku.
Lalu Melina memberikan Diary kakaknya itu kepadaku dan aku menerimanya.
Setelah mendapatkannya, aku langsung membuka isinya dan membaca setiap halamannya.
Semua yang dikatakan Melina benar-benar ada pada semua dari Diary ini, terlihat yang ditulis sini bahwa Merlina yaitu kakaknya, menulis semua pengalaman buruknya yang dialaminya serta rasa sakit tiada henti datang terus menerus, itu semua dilakukannya dengan tujuan melindungi adiknya yaitu Melina.
Derita demi derita semua yang ditulis di sini bahkan waktu dan tanggal serta bulannya tercatat dengan detil di sini. "Ritual pensucian" itulah ritual yang mengharuskan dirinya pasrah di nodai oleh sejumlah pria tak dikenal di sana.
Setiap hari, hari demi hari, waktu demi waktu derita harus dia lewati. Sesaat dia ingin pergi berobat pada Dokter mana pun, semua Dokter yang pernah dia kunjungi merendahkan dirinya dengan tatapan hina.
Dia tahu apa yang dipikirkan oleh mereka, bahwa wanita seperti dirinya adalah wanita rendahan yang suka menyerahkan dirinya kepada orang lain atau disebut "wanita si kupu-kupu malam".
Tapi, dia tidak pernah merasa dirinya wanita seperti itu hanya karena keadaanlah yang memaksakan dirinya harus melakukan itu. Berbagai tempat berobat dia datangi dan berbagai penolakan dia harus dia terima juga, bahwa kata mereka--wanita seperti dirinya tak pantas untuk diberi obat.
Keputusasaan mulai menghampiri dirinya hingga satu klinik terakhir yang ia harus datangi, klinik yang terlihay sederhana. Wanita ini berharap dan memohon pada Tuhan atas belas kasihnya, dia hanya ingin terlihat sehat dan baik-baik saja di depan adiknya agar adiknya tidak khawatir padanya.
Wanita maju ke klinik itu dan memasukinya, sesaat masuk dia melihat seorang pria berjas putih sembari meminum secangkir kopi. Sebuah keajaiban dan rasa syukur datang padanya, sebelum dia mengatakan keluhannya justru Dokter di hadapannya jauh lebih khawatir melihat keadaannya dan langsung melakukan pemeriksaan padanya.
Air matanya hampir membasahi pipinya, dia tidak percaya bahwa masih ada orang yang masih mau menolong dirinya tanpa harus melihat latar belakangnya.
Setelah melakukan pemeriksaan, Dokter itu menanyakan keluhan atas rasa sakitnya ini. Wanita ini ragu-ragu memberitahukannya, sebab dia sudah berapa kali mengatakan keluhan ini dan reaksi setiap Dokter yang pernah kunjungi memberikan dia dengan tatapan hina, sehingga dia diusir secara halus dengan memberikan biaya perawatan tinggi.
Mengingat kejadian sebelumnya, wanita ini gemetar dan takut bahwa Dokter di hadapannya ini akan memberikan reaksi yang sama seperti sebelumnya. Tapi, dia berdoa dalam hatinya berharap bahwa Tuhan benar-benar memberikannya kali ini kesempatan.
__ADS_1