
Sesaat keluar dari stasiun, hari mulai gelap.
"Aneh, katanya akan ada orang yang akan datang menjemput kita tetapi tidak ada orangnya disini," kataku.
"Waktu kedatangan kita seharusnya lebih awal dari yang ditulis di surat tersebut," kata Fu. "Tapi... ini baru jam sore, langitnya sudah gelap begini. Apakah sudah mau hujan ya padahal diperjalanan tadi cerah sekali."
"Katanya hari ini adalah "hari berdoa kepada korban tragedi tersebut", disini para warga diminta tidak boleh keluar rumah kecuali keadaan mendesak, makanya sekarang terlihat seperti kota mati," jelas ku.
"Hehe," tawa Miranda. "Kamu cukup tahu tentang kota ini ya, tentunya pasti sudah mengeceknya kan."
"Ya... tentu saja aku sudah mengeceknya selama di kereta."
Fu Chen memalingkan pemandangannya ke kiri danĀ kanan lalu berkata:
"Berhubung orang yang akan menjemput kita tidak datang. Apakah ada cara menghubungi pihak lain, Dokter."
"Sayangnya tidak ada, ini demi keamanan dan hanya pihak klien saja yang boleh mengirim komunikasi. Tapi surat disini tertulis keberadaan Villa Raja lurus saja di Jalan Dewa, tapi jalan ini menuju kearah hutan?" Ucapku penuh kebingungan.
Seketika aku teringat apa yang dikatakan Miranda saat di kereta, katanya dia datang kesini karena diundang temannya pemilik villa besar tapi hanya satu Villa besar disini mungkinkah...!!!
"Miranda."
"Hehe, hm~~."
Tawanya menandakan bahwa dia tahu apa yang ingin kukatakan padanya.
"Serahkan saja semua masalah ini kepadaku, Dokter. Sebagai gantinya ketika terjadi sesuatu diperjalanan,tolong lindungi aku ya."
"Tenang saja disini kita punya mantan master Dojo, betulkan Fu?"
__ADS_1
"Terserah kamu saja, tapi kamu yakin bahwa dia butuh perlindungan?" Tanya Fu. "Dilihat dari telapak tangannya terlihat lembut kenyataannya tangan itu terlihat sudah terlatih bertahun-tahun dengan menggenggam sebuah benda."
"Ayolah tuan Fu, aku hanyalah seorang gadis lemah, paling aku hanya bisa menggunakan pisau untuk beladiri saja," ucap Miranda.
Fu memasang ekspresi serius seolah-olah dia sangat waspada dengan wanita dihadapannya itu, aku sudah pernah melihat ekspresinya seperti itu dan aku berdehem agas suasana tidak tegang, aku minta Miranda memimpin jalan kami dan dia tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.
Kami pun berjalan dengan Miranda yang memimpin jalannya, kotanya seperti kota mati tidak ada satupun penduduk lalu lalang disekitar sini dan hari juga mulai semakin gelap ditambah awan gelap ini membuatnya hampir gelap gulita dan kami berada di tengah kota yang mana disitu ada air mancur yang besar.
Saat diperjalanan Fu tiba-tiba meminta kami berhenti.
"Berhenti sebentar lihat... Darah. Ada jejak darah disini."
Seperti dikatakannya memang disini ada darah. Sebuah jejak darah dekat dengan air mancur itu tapi darahnya terlihat baru dan segar mungkinkah disini terjadi sesuatu.
"Sebaiknya kita menyelidiki hal ini dulu," kataku.
Mereka berdua mengangguk dan berpencar, aku menyelidiki sekitaran jejak darah itu dan menemukan hancurnya pinggiran air mancur itu seolah-olah dihantam sesuatu yang keras. Aku berjalan menjauh 5 meter dari jejak itu dan menemukan sesuatu hancur lagi, kali ini yang hancur bukan pinggiran air mancurnya melainkan aspal jalanya hancur.
Panggil Fu ke kami yang menemukan sesuatu yang janggal yang dilihatnya.
Aku dan Miranda ke sana melihat banyaknya amunisi bertebaran dan satu buah pistol sudah hancur dengan kata lain ada orang baru saja datang kesini.
Sesaat mendiskusikan ini tiba-tiba sebuah pisau tajam melayang kearah kami dan diiringi teriakan Fu yang secara tiba-tiba sesaat pisau itu hampir mengenai targetnya secara refleks kita bisa menghindari berkat sinyal darurat dari Fu.
Ketika pisau itu tidak berhasil mengenai kami muncullah pelaku pelemparan tersebut dan mereka muncul diantara gedung-gedung itu, mereka ada tujuh orang dan anehnya mereka memakai jubah berkain hitam serta hoodie jubahnya itu menutupi kepala serta wajah mereka.
Orang-orang berjubah hitam itu mengeluarkan sesuatu dibalik jubah mereka ternyata itu pisau yang sama dilempar barusan dan diantara mereka ada yang mengeluarkan palu besar, itu menjelaskan kenapa pinggiran air mancur dan aspalnya hancur lalu anehnya diantara mereka tidak yang mengeluarkan senjata api hanya beberapa senjata tajam serta satu palu raksasa.
Berarti orang yang punya senjata api itu korban mereka juga. Terpaksa aku dan kedua temanku ini harus menghadapi mereka, Fu yang bersiap dengan kuda-kuda beladiri-nya dan Miranda mengeluarkan sebuah pisau dibalik rok miliknya yang ia sembunyikan lalu aku mengeluarkan pistol milikku, sebenarnya aku belum siap Hand to Hand dengan mereka sebab belum pasti apa yang mereka sembunyikan lagi dibalik jubahnya itu.
__ADS_1
Pertarungan begitu sengit kami mulai kewalahan sebab selain jumlah mereka gerakannya juga lincah bak ular selalu nyerang dimana pun kami berdiri. Selang lima menit menghadapinya seketika mereka berhenti dan berbalik meninggalkan kami begitu saja.
"Apa-apaan mereka ini!!" Kataku dengan sedikit kesal.
"Tenanglah Dokter," ucap Fu. "Lebih penting lagi kita tidak ada yang terluka, bagaimana denganmu Nona Jasfi?"
"Tenang aja Tuan aku baik-baik saja," balas Miranda
"Oh iya, apa yang kalian rasakan saat menghadapi mereka?" Tanyaku.
"Apa maksudmu?" Balik tanya Fu.
"Saat kalian mendekati mereka terutama saat kalian memukul atau menendang mereka, apa kalian tidak merasakan sesuatu?"
"Iya ada yang janggal, saat aku memukulnya rasanya seperti memukul kantong berisi udara," jawab Fu.
"Bagaimana denganmu Miranda?" Tanyaku.
"Jawabanku hampir sama dengan Tuan Chen, yaitu saat aku menggenggam erat tangan salah satu dari mereka rasanya seperti menggenggam benda besar yang hanya berisikan udara," balas Miranda.
"Sudah kuduga jawaban kalian akan seperti itu."
"Apa kamu mengetahui sesuatu Dokter?" Tanya Fu.
Saat ingin menjawab dari pertanyaan Fu, seketika suara tembakan terdengar tidak jauh dari kami.
"Nanti saja jawabannya, sebaiknya kita menuju ke sana," kataku.
"Baik."
__ADS_1
Kami bertiga menuju arah suara tersebut yang tidak jauh dari lokasi kami berdiri barusan. Saat berlari ada banyak sekali jejak kerusakan disekitaran jalan kami.
"Disini juga beberapa aspal jalanya hancur," batinku.