
Akhirnya dia tidak memberitahukan semua kebenarannya, dia mengatakan bahwa rahimnya mengalami sakit parah setelah dia persalinan dan suaminya suka sangat agresif jika mereka berhubungan intim.
Dokter itu mendengar cukup terkejut dan bersungguh-sungguh menolong dirinya, Dokter itu memberikan obat pereda nyeri sementara serta menyuruh wanita ini datang setiap minggunya untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Setelah konsultasi dengan Dokter itu, wanita ini ingin memberikan uangnya yang tidak seberapa pada Dokter itu. Tapi, Dokter itu menolak dengan halus uangnya, dia mengatakan bahwa uangnya akan dia ambil jika keadaannya sudah membaik, jika keadaannya semakin parah Dokter itu sendiri akan membawa dirinya ke rumah sakit dan membantu pengobatannya secara langsung.
Merlina nama gadis ini semakin terharu mendengar itu, dia merasa hidupnya tidak sia-sia lagi menerima kebaikan ini. Dia berharap Dokter sebaik itu selalu diberi umur panjang dan dijauhkan dari segala masalah rumit, nama Dokter itu adalah Ray Wolfa.
Aku sudah membaca semuanya dan itu membuatku cukup terharu mengetahuinya, semuanya ditulis secara detil di sini dan bahkan tempat-tempat mereka yang lain selain di gereja ini, tertulis di buku ini.
"Melina, apa kamu tidak keberatan aku pinjam buku ini sementara?" Tanyaku.
"Aku tidak keberatan, aku pikir juga kakak sangat senang jika Dokter membantu menyelesaikan masalahnya," jawab Melina.
"Baiklah, dengan ini masalahnya 97% selesai. Aku akan memanggil Pastor itu datang ke klinikku dan kamu ikut juga untuk melihat semuanya," ucapku.
Melina hanya mengangguk saja dan kami berempat bergegas menuju ke klinik untuk sebagai ujung penyelesaian kasus ini.
•••
Sesaat sudah di dalam klinik...
Tok... Tok... Tok...
"Ya, masuk."
Crak... Ngak...
Terlihat seorang suster membuka pintu itu.
"Dokter, Tuan Ramza sudah datang," ucap Santi.
"Baguslah, suruh cepat masuk di sini," balasku.
Santi hanya mengangguk saja dan mempersilahkan Pastor Moris masuk. Sesaat masuk Pastor itu cukup terkejut sebab, ruangan ini tiba-tiba ramai dan salah satu biarawatinya ada di sini.
Tampak wajahnya sedikit panik dan melihat sebuah kotak di meja kerjaku.
"Dokter Wolfa, apa anda sudah menemukannya?" Tanya Moris.
__ADS_1
Pastor itu jauh lebih khawatir dengan benda yang dicuri itu tanpa harus menyapa biarawatinya terlebih dahulu.
"Aku sudah mendapatkannya dan ada di dalam kotak ini," jawabku.
"Syukurlah, kalau begitu aku akan...," sembari maju ke arah kotak itu.
"Langsung ke intinya saja," kataku sembari meletakkan satu tanganku di atas kotak ini. "Kau benar-benar bajingan! Kau hampir membuatku melakukan kesalahan besar yang akan selalu kusesali seumur hidupku nanti."
"Do-Dokter..., apa maksudmu, aku tidak mengerti?" Tanya Moris yang terlihat panik.
"Aku marah karena kau telah melakukan kejahatan yang tak bisa dimaafkan," sembari berdiri dan membawa kotak itu ke arahnya. "Tapi, aku akan tetap memenuhi permintaanmu, silahkan ambil barangmu ini."
Pastor itu sangat terkejut dan terlihat sangat panik lalu menerima kotak yang kuberikan itu.
"Bukankah... aku sudah minta anda untuk tak melihat isi foto dan rekaman?!"
"Kapan aku bilang 'Tidak akan melihat isi benda itu'," sembari melirik wanita yang terlihat sedih itu. "Kamu pasti tahu kan kakak dia yaitu Merlina, Merlina adalah pasienku yang selalu kupantau perawatannya tapi lima bulan dia tidak kabar dan itu cukup membuatku khawatir. Setelah mendengar keadaan dia langsung dari adiknya ternyata dia sudah tiada, dan penyebab dia mati adalah ada pada benda dalam kotak ini."
Seketika Pastor itu tampak panik dan memundurkan langkahnya sejenak.
"Tu-tunggu dulu... kurasa di sini ada kesalahpaha..."
Tiba-tiba sebuah tinju mengarah tepat di wajahnya sehingga dia tersungkur di bawah, dan barang-barang di dalam kotak itu berserakan di lantai.
"Tanganku sudah sangat gatal ingin memukulmu," sembari melirik ke arah Fu. "Apa kamu sudah menghubunginya?"
"Jangan khawatir, aku sudah menghubunginya dan sebentar lagi mereka akan datang," jawab Fu.
Setelah beberapa menit...
Tok... Tok... Tok...
Crak... Ngak...
"Dokter! Aku dengar kamu menangani penjahat besar, di mana orang itu sekarang?"
Seorang pria dengan pakaian polisi datang secara langsung setelah dihubungi oleh Fu, dia adalah Andi Renald Yudisthira teman SMA aku dulu, dia juga yang membantuku atau aku yang membantu dia mengurus kalau ada kasus yang ingin ditangani.
"Penjahat sudah berhasil dilumpuhkan, sekarang kamu boleh menangkapnya," ucapku.
__ADS_1
Renald melirik ke arah pria yang tersungkur di lantai dengan wajahnya keluar darah dari hidungnya.
"Bapak Moris! Ray, kenapa dia bisa sampai terluka begini, apa dia penjahatnya?" Tanya Renald masih tak percaya.
"Iya, kamu bisa melihat semua buktinya ada di dalam kotak itu," jawabku sembari menunjuk kotak yang sudah aku masukkan kembali foto dan kaset itu di atas mejaku.
Renald maju dan membuka kotak itu, dia mengambil beberapa foto di dalamnya dan betapa terkejutnya dia melihat gambar foto-foto, lalu mengambil sebuah kaset dari dalam kotak itu.
"Sebaiknya kamu melihat video dari kaset itu," kataku.
"Aku ingin melihatnya sekarang," ucap Renald.
"Boleh saja...," sembari melirik Melina dan dia hanya mengangguk saja. "Kamu boleh memutarnya."
Aku mengambil kaset itu dan pergi menuju ke arah TV-ku yang ada di ruangan ini, lalu sudah perangkat VCD sebagai pemutarnya.
Aku memasukkan kaset itu dan memulai menekan tombol play, seketika TV-nya menyala dengan tulisan loading sebagai persiapan, setelah beberapa saat gambar videonya muncul.
Aku mundur sejenak dan tampak Melina memeluk Miranda di sampingnya sembari menutup erat telinganya, kayaknya dia tak ingin mendengar suara-suara dari video itu.
Lalu Pastor itu semakin terkejut dan panik melihatnya, sedang Renald tampak sangat geram dan terlihat dia mengepalkan kedua tangannya.
"Cukup, matikan!"
Aku langsung mematikan TV itu dan tampak Renald menatap tajam Pastor itu.
"Pak, anda ditahan dengan bukti kejahatan yang sudah jelas ini," ucap Renald sembari mengeluarkan borgolnya.
Moris Ramza hanya pasrah saja tangannya di borgol dan tampak dia tidak menunjukkan sedikit pun perlawanan.
"Sebelum kamu pergi, ada yang ingin kuberikan padamu."
Aku memberikan dia selembar kertas padanya.
"Apa ini?" Tanya Renald.
"Itu hanya tempa-tempat kamu harus datangi, tapi kamu jangan sendirian bawalah timmu untuk mengunjungi tempat-tempat itu, sebab tempat-tempat itu aku selidiki," jawabku.
Renald membuka kertas itu dan membaca tulisannya.
__ADS_1
"Begitu ya, aku mengerti," sembari berpikir. "Jadi, tempa-tempat inilah praktek sesat yang dilakukan selain di gereja itu, aku mengerti maksud Ray, bahwa hanya aku yang bisa dia percaya. Kita tidak tahu bahwa diantara polisi di sana ada yang ikut aliran sesat ini, mereka bisa saja membelokkan semua kebenaran jika tempa-tempat aliran sesat mereka terbongkar. Sehingga Pastor ini di sangka sebagai korban pencemaran nama baik karena sudah ada pengikutnya di dalam kepolisian membantunya."