IDENTITY : The Dark Story

IDENTITY : The Dark Story
Mata Elang (Part 1)


__ADS_3

Namaku Fu Chen aku berasal dari Tiongkok, aku datang ke Indonesia karena diminta teman lama untuk membantunya menyelidiki sebuah kasus. Aku mengambil pekerjaan ini karena sangat cocok dengan keahlian ku dalam beladiri.


Sejak aku datang ke Indonesia hanya sekedar liburan aku dihadang beberapa perampok di sebuah toko oleh-oleh khas daerah, tidak butuh waktu lama untuk melumpuhkan lima perampok itu karena dibantu seseorang yang ahli dalam menggunakan pistolnya. Selain ahli dalam menembak dia juga hebat dalam mengobati orang terutama korban orang-orang dalam toko itu yang kena tembakan babi buta dari para perampok.


Pria ini melakukan tindakan medis dengan cepat dengan melakukan operasi kecil secara darurat dengan alat medis seadanya, untuk mengeluarkan peluru-peluru yang hinggap di tubuh para korban dan secara ajaib korban itu berhasil selamat. Tidak butuh waktu lama polisi datang serta beberapa ambulans untuk membawa korban-korban yang terluka ke rumah sakit.


"Tak ku sangka kamu sangat hebat tadi," tepuk pria itu yang membantuku barusan.


"Aku rasa anda yang harus dipuji seperti itu," balasku.


"Hehe ayolah, sudah kewajiban ku menolong mereka."


"Kamu seorang Dokter? Tapi..." ucapku sembari menatap pistolnya yang dia pegang.


"Oh ini, ada alasan kenapa aku selalu membawanya walau aku aslinya seorang Dokter."


Aku semakin memerhatikan dirinya yang sangat tidak biasa dengan Dokter pada umumnya, aku perhatikan dari pergelangan tangannya terutama jari-jarinnya yang tampak tidak biasa seperti seorang Dokter.


Terutama di tangan kanannya di jari jempol, telunjuk dan tengah, dimana ketiga jari itu terlihat bekas kepalan yang sangat berbekas yang berarti dia melakukan sesuatu aktifitas setiap hari menggunakan ketiga jari itu. Sedangkan seorang Dokter jarinya tidak akan terlihat seperti itu walau mereka sangat sibuk dengan tugas kedokterannya.


"Apa karena kerjaan sampingmu?" Tanyaku.


"Matamu tajam juga ya," balas darinya.


"Ini hanya perspektif kecil saja."


"Oh begitu ya, jadi kamu pasti tahu kerjaan sampingku kan?" Tanya pria itu.


"Samar-samar, kalau begitu aku akan langsung memberitahukannya, kamu pasti... seorang penulis."


Seketika tampak raut wajah terkejut dari pria itu dan berkata:


"Tak ku sangka kamu hebat juga ya, itu benar aku seorang penulis. Tapi... atas dasar apa kamu tahu aku seorang penulis?"


"Jawabannya sederhana kamu bisa lihat sendiri ditangan kananmu itu."


Pria itu langsung mengangkat tangan kanannya dan memperhatikannya, dia langsung tersenyum dan tertawa kecil situ aku tidak mengerti kenapa dia senang begitu.

__ADS_1


"Kalo dilihat-lihat kamu bukan orang asli sini kan?" Tanya pria itu.


"Iya, aku hanya datang berlibur disini saja."


"Berapa lama kamu ada disini?"


Seketika aku tampak bingung kenapa dia bertanya tentang hal itu dan itu membuatnya terlihat seperti orang mencurigakan.


"Maaf-maaf, kamu pasti tidak nyaman dengan pertanyaan ku barusan. Aku akan memperkenalkan diriku namaku Ray Wolfa aku seorang Dokter, Penulis dan... Detektif."


Tampak wajah terkejut dariku yang tidak menyangka identitas dia selanjutnya selain Dokter dan Penulis, tapi pikirku memiliki tiga pekerjaan yang mana waktunya tidak saling bertepatan itu sangat sulit dilakukan kebanyakan orang.


"Aku tahu kamu pasti bingung kenapa seorang Dokter memiliki banyak kerja sampingan seperti itu."


"Kamu berhasil membuatku terkejut, kalau begitu aku menjawab pertanyaan mu tadi, aku akan berada disini sekitar 5 bulan."


"Lima bulan ya... kalau begitu kamu tidak keberatan membantuku?"


"Bantu?"


"Tidak apa-apa, katakan saja apa perlu ku bantu?"


"Saat ini aku menerima sebuah kasus, di mana seseorang mati disebuah rumah kosong yang tidak jauh dari sini. Karena aku sudah lihat kemampuan analisis mu mungkin ini akan mempermudah penyelidikannya nanti, dan soal bayaran nanti kita bagi dua, bagaimana mau?"


Tawaran dia berikan tidak buruk juga karena aku berlibur cukup lama disini, lama-lama nanti aku bosan juga tidak ada salahnya juga ikut penyelidikan ini. Aku mengulurkan tanganku dia dengan senang langsung membalas uluran tanganku dengan kata lain kami sudah sepakat bekerja sama dalam kasus ini.


"Terima kasih sudah mau menerimanya, ngomong-ngomong aku belum tahu namamu?"


"Namaku Fu Chen, panggil saja aku Fu."


"Kalau begitu mari kita ke sana para polisi sudah ada di sana."


"Jadi, kamu datang ke tokoh ini untuk mencari petunjuk?"


"Yah begitulah, saat datang kesini tau-tau semuanya jadi kacau."


Aku dan Ray Wolfa menuju ke TKP dan ini kasus pertamaku dalam hidupku menyelidiki orang yang terbunuh.

__ADS_1


•••


•••


•••


Pukul 19.19


Edik Thomas mengajak kami masuk ke aula villa dan sesaat sampai di sana tampak wajah-wajah asing bagiku dua orang pelayan dan dua anak kecil berdiri di sana. Tina Lahita maju ke depan dan memperkenalkan kami ke mereka, dua orang pelayan maju serta gadis kecil yang berada disampingnya mereka.


Tuan Thomas memperkenalkan dua pelayan ini ke kami, katanya nama mereka adalah Rama dan Jasmin serta gadis kecil yang menempel itu bernama Sarah. Katanya mereka pasangan suami istri dan gadis kecil ini putrinya.


"Salam Tuan Wolfa dan Tuan Chen," sapa pasangan suami istri ini.


"Salam juga Nona Jasmin dan Tuan Rama," balas Raya


"Tuan gak perlu terlalu formal ke kami, kami hanyalah pelayan disini dan anda tamu dari majikan kami. Oh iya lupa, nak ayo sapa mereka," ucap Jasmin.


Seorang gadis kecil yang malu sembunyi dibelakang Ibunya.


"Ha-halo."


"Halo juga," balas Ray sambil tersenyum ke dia.


"Maaf Tuan dia ini orangnya pemalu apalagi dia lihat orang baru," ucap Rama.


"Tidak apa-apa aku mengerti kok," kata Ray.


Saat aku perhatikan mereka ini terutama orang bernama Rama ini, terlihat dari postur tegak tubuhnya yang seperti orang yang sudah berlatih cukup lama. Untuk bernama Jasmin aku tidak bisa mengatakan banyak hal mengenai dia, karena seluruh yang ada dalam tubuhnya sangatlah gelap dibalik senyum lembutnya itu.


"Kalau begitu kami duluan untuk mempersiapkan kamar Tuan Wolfa dan Tuan Chen, kami permisi," pamit dari Rama dan Jasmin lalu mereka menuju lantai atas bersama putrinya.


Dokter dan gadis itu mengobrol dengan Tina, sedangkan Tuan Thomas pergi membawa anak muda yang terlihat sakit itu menuju keatas dan aku berada dekat tangga agar bisa mengamati sekitar aula ini.


"Hm? Tuan Chen, kenapa kamu tidak berkumpul dengan mereka?" Tanya Edik yang hendak menuju lantai atas tapi langkah terhenti karena melihatku berdiri disini.


"Itu karena aku tidak pandai dengan hal seperti itu, Tuan," jawabku. "Kata Dokter aku tidak perlu memaksakan diri, aku hanya perlu mengamatinya saja dan soal mencari informasi ke orang-orang serahkan saja padanya."

__ADS_1


__ADS_2