
Awal mulanya Tuan Bagaskoro menemukan sebuah goa ditengah hutan yang jaraknya tidak jauh dari kampung halamannya, dia memasuki goa itu dengan alat penerangan seadanya sesaat memasukinya ia merasa tidak menemukan ujungnya ia memutuskan untuk balik akan tetapi rasa penasarannya yang kuat membuat melanjutkan perjalannya yang penuh kegelapan ini.
Sepuluh menit berjalan menulusuri panjangnya goa ini akhirnya ia berhasil sampai diujung goa ini. Tuan Bagaskoro melihat banyak benda-benda asing dan kuno untuk jaman sekarang ia mengarahkan penerangan di segala arah, semua terlihat jelas ada obor panjang menancap di tanah serta ada patung-patung yang bentuknya sangatlah memuakkan kalau orang awam melihat.
Untuk seorang Dokter seperti Tuan Bagaskoro yang terbiasa sudah melihat darah dan tubuh manusia dibelah saat operasi, tapi... patung yang ada dihadapannya sesuatu yang sangat tidak manusiawi patung yang terbuat dari tanah liat yang dikeraskan serta adanya daging-daging makhluk, disitu terlihat ada tangan manusia, kepalanya menyerupai manusia hanya saja bentuknya tidak seperti manusia lagi.
Bibir moncong yang panjang seperti buaya, sepasang telinga kelinci tepat berada diantara giginya, telinga dengan ekor kalajengking, di atas kepalanya ada sepasang tangan kecil seperi tangan bayi yang baru lahir, dan untuknya matanya kosong tidak ada mata sama sekali.
Tubuhnya menyerupai manusia hanya saja sudah diacak-acak dengan mengerikan, kedua dadanya terutama area sensitifnya dipasangkan tanduk menjulang ke depan tidak tahu tanduk hewan apa itu, dan area perut tidak sama sekali hanya terlihat tulang ekor yang masih menyatu utuh dengan tulang bagian bawah.
Dan yang terakhir untuk bagian tubuh bawahnya bagian depan terlihat normal hanya saja bagian belakangnya tidak demikian, dari atas hingga bawah semuanya dipenuhi capit-capit hewan beracun dan berjenis kelamin perempuan.
"Chimera, benar-benar mengerikan tapi..."
Dia melihat semua patung-patung yang memiliki bentuk yang sama mengerikannya yang pertama dilihat barusan.
"Satu, dua..." Adithya berjalan sembari menghitung semua patung Chimera ini. "Jumlah ada tujuh akan tetapi bagaimana caranya menyatukan mereka dengan sempurna?"
Rasa penasaran semakin kuat darinya ia memberanikan diri untuk mendekati patung-patung itu dan menyentuhnya.
"Benar-benar karya yang sempurna."
Tidak tahu kenapa dia berkata seperti itu satu hal yang pasti ia sangat kagum dengan orang yang melakukan ini, kagum dengan orangnya bukan pada karyanya. Dalam pandangan orang lain pasti ini sesuatu yang sangat mengerikan yang membawa pada mimpi buruk akan tetapi..., beda dengan dirinya terpampang wajah kegirangan bak anak kecil yang sangat bahagia saat diberi es krim kesukaannya.
"Ini benar-benar sempurna! Ini benar-benar sempurna!"
Kegembiraannya hampir diluar kendali akan tetapi ia sadar akan dirinya semua yang dihadapannya sesuatu sangat langkah baginya, sesuatu yang sangat ingin ia pelajari. Karena semangat membakar dirinya Adithya bergegas menelusuri sekitarnya, ia menemukan sebuah buku dengan tulisan yang sulit dimengerti.
Buku yang sampulnya terbuat dari kulit yang noda darahnya sudah berbekas dan hitam, lalu setiap halaman ada buku ini adalah kertas yang sudah mengeras dengan adanya sedikit noda darah yang sudah menghitam, mungkin kertas ini dicelupkan dalam wadah berisikan darah terus di panaskan hingga mengeras lalu tulisan dari setiap halaman ini adalah menggunakan arang hitam sebagai alat tulisnya.
"CARIUNGURIP."
Entah bagaimana pria ini bisa membaca tulisan pertama pada halaman pertama dibuku ini.
__ADS_1
"Cariungurip ya..., jadi ini nama bukunya ya..."
Dia membalik satu demi satu halaman buku itu entah apa dia bisa membaca tulisan buku itu, tapi yang pasti wajah penuh kegembiraan tertampan jelas di sana.
"Cariungurip yang berarti Kitab Penyambung Hidup."
Keheningan semakin terasa suara yang didengar hanya detak jantungnya ia sangat serius membaca buku yang dipegangnya.
"Sudah berapa lama aku berada disini?"
Karena tenggelam dalam kesenangan seolah-olah waktu terhenti untuknya.
"Baiklah, sebaiknya aku bergegas keluar dari sini," katanya lalu membawa buku yang ditemukannya itu dan memandang patung-patung Chimera.
"Tanpa sedikit pun goresan, tanpa adanya luka, tanpa adanya bekas sobekan benar-benar penyatuan sempurna. Tapi... kalau diperhatikan patung ini terasa familiar..."
Beberapa menit memandangi akhirnya menarik kesimpulannya sendiri.
Patung kedua berkepala kera dengan di atas kepalanya tumbuh tanaman yang memiliki bau yang menyengat, lalu ekspresi wajahnya dengan mulut menganga dan lidah menjulur panjang 1 meter ke bawah.
Dengan tubuh kurus kering membungkuk tinggal terlihat tulangnya saja berbungkus kan kulitnya yang mengendor, belakang tubuhnya ada beberapa cangkang kura-kura menempel.
Bagian bawah tubuhnya ada buntut ekor yang sanga panjang, saat diperhatikan ternyata itu ular dengan panjang 3 meter lebih dengan jenis kelamin pria.
Patung ketiga patung inilah paling buruk diantara patung lainnya, karena seluruh tubuhnya di penuh gumpalan daging berlemak dari kepala hingga kaki semuanya bergumpalan daging yang di penuhi lemak. Sampai-sampai kaki dan tangannya tak terlihat sama sekali, tapi satu hal dipastikan darinya bahwa dia memiliki kumis dan jenggot yang sangat panjang bisa di mungkinkan bahwa dia seorang pria.
Patung keempat patung dengan tangan sangat panjang kira-kira satu setengah meter serta kuku yang sangat panjang dengan ukuran tiga puluh sentimeter.
Lalu bagian kepala tak ada satu pun sehelai rambut tumbuh, mata semuanya berwarna hitam pupilnya tak terlihat sama sekali, dengan gigi-gigi bertaring berwarna keemasan dan telinga meruncing.
Bagian bawah tubuhnya terutama bagian lutut hingga kebawah terlihat kaki seperti kaki kangguru dengan jenis kelamin wanita.
Patung kelima memiliki wajah cemberut dengan mata sipit akan tetapi ada sepasang taring muncul di kedua mulutnya, lalu sepasang tanduk panjang di atas kepalanya.
__ADS_1
Tubuhnya di penuhi sisik berbagai macam reptil serta tangan dengan cakar panjang dan anehnya setiap sisiknya itu mengeluarkan sebuah cairan yang mampu melelehkan apapun, karena dia sudah jadi patung maka cairan itu juga ikut mengeras bersama.
Bagian bawah tubuhnya tidak jauh berbeda selain dipenuhi sisik yang berbahaya, dibelakang tubuhnya ada sebuah ekor menyerupai ekor iblis yang digambarkan oleh orang pada umumnya dengan jenis kelamin wanita.
Patung keenam bisa dibilang patung ini paling simpel bersama dengan patung ketujuh. Kenapa dibilang begitu karena patung keenam adalah seekor Gorilla besar dengan ukuran 2,5 meter, dengan gigi-giginya yang tajam serta mata merah darah menyala saat terkena cahaya. Ekspresi yang ditunjukkan oleh patung keenam ini adalah ekspresi sedang mengamuk dengan jenis kelamin jantan.
Lalu yang terakhir patung ketujuh selain simpel akan tetapi dialah paling sempurna diantara yang lainnya, walau orang awam sekalipun melihatnya akan terpesona dengan.
Wujud dari patung ketujuh ini adalah hanya manusia tidak campuran dari berbagai hal seperti patung sebelumnya selain hanya dirinya hanya manusia, wajahnya bisa dibilang sangatlah menawan/tampan bahkan aku sekalipun hampir jatuh dalam pesonanya.
Selain wajah tampannya, tubuhnya memiliki tubuh yang sangat kuat kalau dipandang sudut dari atletis, dengan warna mata biru langit serta warna rambut hitam pekat dan berjenis kelamin pria.
"Benar-benar ciptaan yang sempurna, aku rasa sudah cukup lama disini. Sebaiknya aku bergegas keluar dari sini hari terasa mulai gelap walau di dalam sini sudah sangat gelap."
Pria ini berjalan menuju keluar dari goa dan membawa buku, satu-satunya barang berharga di goa ini.
E culm kang sampyn
E dedonem kang sampyn
O vi prea kang sampyn
O qod Tartarus
(Aku menyembah kepadamu)
(Aku pasrah kepadamu)
(Kuserahkan kepadamu)
(Wahai sang kegelapan)
Dia berjalan sambil menyandungkan sebuah kalimat dari buku itu, tidak ada yang tahu apa arti dari kalimat ini satu hal yang pasti buku inilah yang akan menuntunnya.
__ADS_1