
Renald menyimpan kertas itu dikantong celananya dan berkata:
"Kamu hanya memintaku menggerebek lokasi-lokasi pengedaran narkoba, seharusnya ini menjadi tugas kami dan kamu dengan entengnya menyelidikinya."
"Aku melakukan itu karena bosan saja."
Renald menghela napas dan berkata:
"Baiklah, aku berterima kasih atas usahamu ini, ini sangat membantu sama sekali."
Aku hanya mengangguk saja dan Renald membawa Pastor Moris ikut ke kantor polisi untuk penahanan sebagai tersangka utama.
"Lega rasanya jika kasus ini sudah berakhir, jadi aku akan kembali ke rumahku sekarang, sebab ada barang penting yang harus dijaga di rumahku."
"Iya, terima kasih atas bantuannya," kataku.
Fu hanya mengangguk saja dan keluar dari ruangan ini melalui pintu itu.
"Hiks... kak... semuanya sudah berakhir sekarang, sekarang kamu boleh tenang di sana..."
Tampak Melina menangis terharu melihat masalahnya telah berakhir sekarang.
"Dokter, terima kasih atas bantuannya."
"Tidak, seharusnya kamu berterima kasih pada dirimu sendiri, jika bukan perjuanganmu menegakkan kebenaran atas kasus ini, mungkin aku tidak akan pernah berhasil menyelesaikan kasus ini."
Melina bangkit dari duduknya dan berkata:
"Kalau begitu aku pamit dulu, aku ingin berkunjung ke makam kakakku dan mendoakannya."
"Aku juga ikut denganmu, sayang. Tapi, tolong aku di luar sebentar ya, ada yang ingin kubicarakan dengan Dokter."
__ADS_1
Melina hanya mengangguk saja dan keluar meninggalkan aku dan Miranda berdua di ruangan ini.
Karena kelelahan aku langsung duduk di kursi kerjaku.
"Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan denganku?"
Miranda tersenyum lalu berjalan ke arahku, setelah itu dia langsung duduk di atas meja kerjaku ini.
"Tidak ada, aku hanya ingin mengobrol santai denganmu secara empat mata saja."
"Lah, kalau begitu, jangan buat Melina menunggu di luar sana."
"Kamu benar, mengingat besok aku juga harus kembali ke Belanda, untuk mengurus usaha produk kecantikan milikku. Tapi, aku berencana membangun cabangnya di sini, mengingat aku tak pernah bosan jika selalu berada di sini, selalu ada hal menarik yang selalu menimpa dirimu."
Mendengar itu membuatku sedikit tersanjung, hanya saja apakah itu disebut pujian? Sebab selalu ada saja masalah yang selalu menimpaku.
"Kalau kamu selalu bersikap seperti itu, maka usahamu itu tidak akan jalan-jalan jika bosnya saja suka bersenang-senang."
"Hehe, kamu jangan khawatir, usahaku berjalan lancar, kok," sembari turun dari meja. "Baiklah, sudah saat aku pamit, tapi sebelum itu... aku ingin memberikanmu oleh-oleh."
"Aku ingin memberikanmu ini, semoga kamu menyukainya~," sembari memberikan benda itu.
"Terima kasih," sembari menerima pemberiannya.
Terlihat ada beberapa kaset rekaman untuk lagu dan kaset rekaman videonya untuk menari, dan lagi satu buah foto dirinya yang sudah ditanda tangani di belakang fotonya beserta dengan kecupan lipstik bibir juga.
"Haruskah memberikan tanda tangan seperti ini, tapi aku sangat berterima kasih atas oleh-olehnya dan aku sangat senang menerimanya."
Miranda tersenyum mendengar itu dan lalu berjalan ke arahku, dan berdiri tepat di sampingku.
"Masih ada satu lagi hadiah terakhir yang ingin kuberikan."
__ADS_1
"Dan apa itu?"
Miranda tersenyum dan menundukkan tubuhnya hingga wajah kami berdekatan, aku bisa mencium bau parfumnya serta belahan dadanya terlihat jelas sekali dari dekat sini.
"Hadiahnya adalah ini..."
Cup...
Tiba-tiba mencium pipiku, rasa lembut dan sedikit basah aku rasakan dari bibirnya itu. Sontak itu membuatku cukup terkejut dan tidak sulit mengeluarkan kata-kata dari mulutku.
"Hehe, semoga kamu menyukainya. Kalau begitu, aku pamit dulu, semoga pertemuan kita selanjutnya jauh lebih mendebarkan lagi."
Miranda langsung berjalan ke arah pintu dan keluar dari ruangan ini.
Crak...
Aku masih diam membeku, sebab sebuah kecupan manis tiba-tiba mendarat di pipiku yang membuatku cukup terkejut.
Lalu aku melihat foto dirinya yang diberikan oleh secara langsung, tampak dia berpose seperti seorang bangsawan duduk di atas kursi sembari menikmati secangkir teh.
"Kalau diperhatikan, dia memang sangat cantik...," sembari menyandarkan diri di kursi dan menghela napas sembari menatap langit-langit. "Sudah saatnya aku mengakhiri status jomblo ini."
Aku memandang ke arah jendela dan tampak cuaca sangat cerah.
"Memang hidup ini penuh dengan warna."
Manusia adalah makhluk hidup yang terbentuk dari banyak sifat yang membentuknya, secara umum sifat manusia terbagi dalam 2 kelompok besar yaitu sifat kebaikan dan sifat keburukan. Kedua sifat ini selalu menyertai manusia dalam kehidupan manusia yang akan membawa manusia kedalam kebenaran ataupun kesesatan, kebahagiaan atau kesedihan.
Karena bermacam-macam manusia inilah membuat dunia semakin berwarna, aku tidak tahu termasuk manusia seperti apa aku ini. Tapi, aku sendiri yang akan memahami diriku sendiri dan aku juga berusaha keras memahami diriku sendiri.
Dalam sudut pandang pribadi kadang membuat seseorang lupa akan dirinya dan dalam sudut pandang orang lain kadang bisa menjadi pedoman dan pengingat akan jati diri kita sendiri.
__ADS_1
Inilah tugasku memiliki tiga identitas sekaligus, bertujuan untuk memahami apa arti diriku sendiri melalui orang-orang di sekitarku.
...THE END...