
12-05-2005
Agen Detektif Wolfa
Surabaya, Indonesia.
Pukul 13.58
Terlihat seseorang dengan pakaian seperti seorang petinggi atau penasihat dalam suatu agama. Dia terlihat sangat terburu-buru dan berlari menuju sebuah klinik dengan napas terengah-engah.
Dia mendorong pintu itu...
Kring... Kring...
"Ah, selamat datang, silahkan ambil nomor antrian dan silahkan duduk di sana sambil menunggu giliran anda dipanggil," ucap seorang wanita dengan pakaian suster.
Pria ini tak mengambil nomor antrian, tapi dia menghampiri suster itu secara langsung.
"Maaf, tapi aku tak punya banyak waktu menunggu, apa aku bisa bertemu secara langsung dengan Dokter Wolfa?" Tanya pria itu dengan wajah sedikit panik.
"Maaf tuan, saat ini Dokter sedang melakukan tugasnya dan anda bisa lihat di sini ada banyak pasien sedang menunggu diperiksa oleh Dokter, kalau anda ingin bertemu secara pribadi dengan Dokter, maka anda harus menunggu sampai klinik ini tutup," jelas suster itu.
"Begitu ya, aku akan menunggunya."
"Eh, tapi tuan, itu akan sangat lama, mungkin lebih baik anda pulang dulu dan klinik ini akan tutup sampai malam."
"Tidak apa-apa, aku ini orangnya penyabar, kok."
Pria itu langsung menuju kursi tunggu pasien, tampak wajah dia terlihat cukup panik dengan kaki di hentakkan berapa kali di lantai.
Suster ini kasihan melihatnya dan berpikir:
"Tampaknya ada kasus yang akan dikerjakan oleh Dokter lagi, kali ini Dokter akan bekerja ekstra lagi."
Kring... Kring...
Terlihat seseorang mendorong pintu klinik, dan tampak seseorang dengan pakaian khas Tiongkok dengan celana panjang hitam serta kacamata dikenakan di wajahnya.
"Ah, Tuan Chen, selamat datang."
"Oh, itu kamu ya, Santi. Akhirnya kamu kembali ke sini kamu tahu kan, klinik tidak terurus dengan baik semenjak kamu tidak ada, dan Dokter hanya fokus mengerjakan pekerjaan lainnya selain tugasnya sebagai seorang Dokter."
"Hehe, aku cuti selama seminggu untuk menjenguk orang tuaku di kampung."
__ADS_1
"Jadi, begitu ya," sembari mengarahkan pandangannya ke arah pria yang terlihat panik ini. "Siapa orang ini?"
"Oh, dia ingin bertemu secara langsung dengan Dokter, tapi aku bilang bahwa Dokter sangat sibuk hari ini. Jadi, dia ingin menunggu klinik ini sampai tutup agar bisa bertemu secara langsung dengan Dokter."
Pria kacamata ini mengarahkan pandangannya ke arah setiap pasien yang menunggu gilirannya, untuk konsultasi dengn Dokter.
"Tampaknya di sini benar-benar sibuk ya, sebenarnya aku ingin bertemu dengan Dokter juga, tapi melihat ini tampaknya tidak sekarang."
Setelah berkata begitu, dia langsung menghampiri pria yang terlihat panik itu.
"Tuan, kalau menunggu Dokter selesai bakal akan sangat lama."
"Tidak apa-apa, aku rela menunggu lama agar masalahku ini bisa teratasi dengan baik."
Pria kacamata ini mengamati keadaan pria ini dan memehartikan semuanya.
"Tampaknya dia seorang pastor dari sebuah gereja."
Pria kacamata ini memandang suster itu, dan suster itu tahu apa yang diinginkan pria kacamata ini, dia langsung bergegas menuju ke belakang.
"Tuan, sebaiknya kamu ikut denganku membahas masalahmu ini."
"Tapi tuan, aku hanya ingin masalahku ini hanya didengar oleh Dokter Wolfa saja."
Pria panik ini terkejut dan langsung memandang wajah pria di depannya, yang sebelumnya ia tundukkan wajahnya ke bawah karena panik.
"Ah, jadi kamu ya, Tuan Chen, partner dari Dokter wolfa, syukurlah kalau begitu, aku bisa tenang membicarakan masalah ini selain ke Dokter Wolfa."
Pria kacamata ini sedikit tekejut dan terbelalak mendengar ucapan pria di depannya ini.
"Bagaimana dia bisa tahu namaku?" Pikirnya, sembari membalas ucapan pria itu. "Iya, itu aku."
Pria kacamata itu berbali dan sudah ada suster itu di posisinya, tampak suster itu mengangguk.
"Tuan, sebaiknya kita ke tempat lain untuk membahas masalahmu itu."
"Baik."
Pria kacamata itu berjalan dan di belakangnya pastor itu mengikutinya, mereka berjalan di sebuah ruangan yang sudah disiapkan suster itu.
•••
Sesaat mereka memasuki ruangan itu, tampak ruangan itu hanya berisikan meja, kursi serta beberapa alat dapur dengan kompornya.
__ADS_1
"Apa ini ruang istirahat untuk pegawai?" Tanya pastor itu.
"Iya, bisa dibilang begitu," jawab pria kacamata itu. "Duduklah buat dirimu nyaman, aku akan membuatkan minuman dulu."
Pastor itu duduk di salah satu kursi dan pria kacamata itu menyiapkan minuman di sebuah teko, lalu membawanya di meja di mana pastor itu sudah duduk juga di sana.
Pria kacamata itu menuangkan isi teko itu di sebuah gelas kaca.
"Ini diminumlah, ini bisa membuatmu tenang sesaat, sembari memberikan gelas berisikan minuman itu.
"Terima kasih," sembari mengambil gelas itu dan meminumnya. "Ini kan... teh, rasanya enak dan baunya sangat wangi."
"Baguslah, kalau kamu menyukainya. Jadi, masalah apa yang ingin kamu ceritakan?"
"Soal itu..."
Tampak pastor itu ragu-ragu memberitahukannya, mungkin dia berpikir bahwa masalahnya ini tidak akan diterima oleh mereka.
"Kamu jangan takut, ruangan ini tempat kedap suara. Jadi, kamu tak perlua takut akan didengar orang di luar sana."
"Baiklah."
Dia menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya, itu dilakukan beberapa kali hingga pastor ini cukup tenang.
"Aku akan memperkanalkan diriku terlebih dahulu, namaku adalah Moris Ramza, aku adalah seorang imam taat dan seorang pastor dari sebuah gereja di sini. Aku menjalani kehidupan yang sederhana, tapi kemalangan tetap saja menimpaku, karena aku telah ditarget oleh seorang rendahan! Ini adalah surat yang dia tinggalkan untukku yang berisi sebuah ancaman di dalamnya," sembari mengeluarkan surat itu dari tasnya. "Silahkan kamu membaca isinya."
Pastor itu memberikan suratnya dan pria kacamata itu menerimanya lalu membaca isinya.
Setelah beberapa saat membacanya, pria kacamata ini menutup kembali surat itu.
"Memang benar, isinya semacam sebuah ancaman, hanya saja aku tidak tahu ancaman macam apa yang diberikan kepadamu, apa kamu mengetahui sesuatu?"
Pastor itu diam sejenak dan memikirkan ancaman apa yang paling menakutkan sehingga dia merasa dirinya sangat terancam oleh surat itu.
"Oh tidak! Aku baru ingat..."
Seketika wajah dia semakin panik dan pria kacamata meminta dia untuk tenang memberitahukannya.
"Aku baru ingat, seseorang telah menyusup di ruanganku saat aku keluar sebentar dan saat itu lagi ramai-ramainya para umat datang ke gereja kami."
"Apa kamu tahu melihat orang itu atau mengetahui ciri-cirinya?"
"Maaf, aku tak tahu sama sekali, tapi saat aku masuk kembali ke ruanganku, tiba-tiba laci mejaku terbuka dan saat kucek 'benda' itu sudah menghilang, sontak membuatku khawatir jika dia menyebarkan 'benda' itu ke publik, bisa-bisa jabatanku sebagai Pastor akan dicabut paksa karena telah melanggar moral dalam keagamaan."
__ADS_1