IDENTITY : The Dark Story

IDENTITY : The Dark Story
EX. Tindakan seharusnya (Part 1)


__ADS_3

13-06-2005


Pukul 15.05


Setelah mengalami kontak langsung dengan klien dan mengungkapkan berbagai informasi yang dibutuhkan.


Saat ini aku dan Fu menuju alamat rumah dari Biarawati bernama Melina. Kami memasuki sebuah gang yang panjang, di mana di situ ada beberapa rumah kecil dibangun di sana.


"Tampaknya ini alamatnya," kataku.


"Kamu yakin ini alamatnya?" Tanya Fu sembari mengarahkan pandangannya ke kiri dan kanan. "Tapi, di sini sangat sepi, apa masih ada orang tinggal di sini?"


"Sebenarnya tidak ada yang mau tinggal di rumah yang harus melewati gang sempit, apalagi tempat-tempat ini sangat rawan kejahatan terutama pencuri di mana-mana, setiap rumah ini dijual atau disewa dengan harga yang sangat murah," jawabku.


"Begitu ya, pantasan sangat sepi, jadi orang-orang tak ingin tinggal di sini walau ditawari harga yang sangat murah," ucap Fu. "Tapi, kenapa wanita muda sepertinya harus meresikokan dirinya tinggal di sini, apa karena rumah ini murah?"


"Kadang seseorang harus mengambil tindakan nekat untuk membuatnya tetap hidup untuk lebih lama lagi."


Aku langsung membuka pagar rumah ini dan memasukinya. Sesaat berjalan di halamannya, aku melihat ada banyak tanaman hias dan halaman ini sangat terawat sekali.


"Tampaknya dia tipe wanita pandai menjaga dirinya ya," kataku.


Fu melihat juga seluruh tanaman hias ini tersusun rapi.


"Ya, bisa dibilang begitu."


Sesaat sampai di depan pintu rumahnya.


"Apa kamu ingin masuk lewat pintu depan?" Tanya Fu. "Penyusup tidak ada yang lewat pintu depan."


"Kamu benar."


Akhirnya kami memutar dan menuju ke belakang rumah ini, tampak halaman belakangnya sangat terawat sekali.


Aku melihat pintu belakang rumah itu dan menghampirinya. Sesaat memegang kenop pintunya dan memutar tiba-tiba terdengar suara dari pintu itu.

__ADS_1


Crack...


"Eh? Terbuka?"


"Kalau begitu, kamu saja yang masuk. Aku akan mengawasi di luar," ucap Fu.


Aku hanya mengangguk saja dan memasuki rumah itu.


•••


Sesaat di dalam rumah...


Seorang Detektif menyelinap di sebuah rumah yang diduga seseorang yang membantu tersangka pencuri dan mencari beberapa bukti dari rumah ini.


"Selagi dia masih sibuk di gereja, sebaiknya aku bergegas mencari beberapa petunjuk."


Aku berjalan di sebuah ruangan santai atau ruangan keluarga sekaligus tamu juga.


Aku berjalan dan mengamati setiap detik tempat ini.


Aku melihat ke arah bawah yaitu sebuah karpet besar dan lebar, dilihat dari karpet ini sangatlah lembut saat diinjak dengan telanjang kaki. Tampak terlihat seperti baru dan betapa telaten perawatannya.


Kombinasi warna merah dan hitamnya yang menggelisahkan, aku membungkuk dan mengangkat sedikit karpet itu, tapi saat mengangkatnya membuatku kecewa adalah ketidakhadiran pintu rahasia di balik karpet ini. Aku terlalu banyak berhayal  sebab misteri di novel sangat berbeda dengan dunia nyata.


Aku bangkit dan melihat sebuah potret besar, terlihat dari potret itu adalah seorang gadis cantik yang duduk dengan tenang di sana. Aku maju ke potret itu dan mengangkat sedikit potret itu untuk melihat sesuatu di baliknya.


"Tampaknya di sini juga tidak ada brangkas rahasia."


Aku langsung meletakkan potret itu lagi secara perlahan.


Aku mengarahkan pandangan ke kiri dan tampak aku melihat ada sebuah alat musik piringan hitam di meja sana. Aku menghampirinya dan melihat semua koleksi album musiknya itu.


"Dia benar-benar wanita penyuka ketenangan, semua musiknya saja sangat klasik."


Aku meletakkan kembali piringan hitam itu dan aku memeriksa laci mejanya itu dan tidak menemukan apa pun selain koleksi musik klasik miliknya.

__ADS_1


Setelah cukup lama memeriksa ruangan ini, akhirnya aku menuju sebuah ruangan di sebelah kiriku dan memasukinya.


Sesaat memasukinya membuatku sedikit terkejut, sebab ruangan ini penuh dengan buku dan bagai sebuab perpustakaan pribadi saja.


Aku maju dan memeriksa setiap barang di ruangan ini. Aku mendekati sebuah lemari kecil dan memeriksa setiap isinya, tampak isinya ada beberapa lembar berkas dari gereja dan sebuah catatan cerpen buatan sendiri.


Aku menutup kembali setiap laci lemarinya karena tidak menemukan sesuatu mencurikan di sana.


Aku memeriksa meja di sampingnya, tampak ini meja kerjanya sebab ada banyak buku berkas dan berbagai catatan lainnya, aku memeriksa setiap catatannya dan tampak hanya ada beberapa catatan donasi untuk panti asuhan.


"Ini kan..!"


Aku terkejut melihatnya, sebab aku melihat sebuah buku sangat tidak asing bagiku, aku mengambil buku itu dan melihatnya lebih dekat.


"Ini kan novel-ku 'Gugurnya kelopak bunga kenanganku' dan lagi...," membalik halaman pertama buku itu. "Ada juga tanda tanganku, aku tak pernah melakukan tanda tangan terbuka untuk setiap novel-ku, apalagi tanda tangan yang kuberikan secara langsung ada pada Miranda, apa wanita ini menemukan buku ini secara tak sengaja saat Miranda melupakan bukunya di suatu tempat?"


Aku langsung meletakkan buku itu lagi dan tidak menemukan apa pun juga di sini.


Aku langsung menuju ke arah lemari kaca dan di dalamnya ada beberapa buku secara rapi di dalamnya.


"Hm, terkunci."


Saat mencoba membukanya, ternyat lemari itu terkunci. Tapi, aku ingin sekali memeriksanya dan bahkan terbayang ingin memecahkan lemari ini, aku pikir itu tindakan bodoh untuk melihat isi lemari transparan ini.


"Kalau diperhatikan setiap sampul buku ini, ternyata semuanya bahasa asing ada Italia, Belanda, Jerman dan berbagai lainnya. Tampaknya, dia benar-benar pekerja keras untuk bisa belajar memahmi setiap buku ini, maka tak heran dia mengunci lemari ini. Yah..., aku rasa tidak yang mencurigakan dari ruangan ini."


Aku berjalan menuju pintu keluar ruangan ini.


Sesaat sudah berada di luar ruangan kerjanya itu, aku langsung berjalan menuju sebuah pintu ruangan tepat berada di sebelahnya dan memasukinya.


Sesaat memasukinya, ternyat ini sebuah kamar tidur dari wanita itu, tampak setiap warna dindingnya biru mudah kayaknya dia tipe wanita pendiam.


Aku menuju ke arah jendela kamarnya itu, sebuah jendela biasa dan sinar matahari menembus jendela itu dengan lembut.


Dilihat dari pemandangan arah jendela ini mengarah halaman belakang rumahnya, dan tampak halaman itu terlihat sangat indah dipandang dari sini, aku melihat Fu berdiri di bawah sana melalui jendela ini. Apakah wanita selalu duduk dekat jendela ini untuk selalu menikmati pemandangan ini? Dan tidak ada barang yang bisa disembunyikan dekat jendela ini.

__ADS_1


Aku langsung berbalik dan melihat meja kecil di atasnya ada lampu kamar. Meja biasa di samping tempat tidur dan aku membuka setiap lacinya, dan tidak ada yang spesial sama sekalinya isinya hanya beberapa kosmetik dan obat tidur.


__ADS_2