IDENTITY : The Dark Story

IDENTITY : The Dark Story
Obrolan 1


__ADS_3

04-08-2005


Beijing, Tiongkok.


Pukul 07-12


Tampak dua orang pria berjalan di sebuah gang, tampak gang itu padat akan rumah-rumah penduduk yang mengelilinginya.


Dua orang pria ini berjalan dengan santai tanpa harus menghiraukan di sekitarnya. Terlihat ciri-ciri kedua pria itu sangatlah jelas dengan kacamata dan pakaian khas timur tengah, dan seorang pria dengan jas biasa dan wajah bukan warga sekitar sini.


"Tak kusangka kamu seterkenal itu di daerah ini," ucapnya sembari mengecek isi catatannya.


"Itu hal wajar, karena keluargaku terutama pamanku orang yang berpengaruh di daerah ini, jadi ayahku memintaku membantu dia menangani kasus yang ada."


Pria yang ada di sampingnya mendengar setiap kata sahabatnya walau dia sibuk memeriksa setiap kata catatannya, tapi hal itu tidak akan menghalanginya mendengar semua kata-kata yang dilontarkan oleh pria berdarah timur ini.


Malam belum tiba, tapi kegelapan sudah memenuhi daerah ini. Awan mendung telah menyelimuti kota ini, ditambah susunan-susunan bongkahan batu yang ditata dengan rapi sehingga membentuk sebuah bangunan yang layak ditinggali. Sehingga membuat gang ini gelap seketika dan hanya ada langit abu-abu keputihan di atas kepalanya.


Setiap bangunan yang tersusun rapi sepanjang jalan sehingga membentuk sebuah gang yang sering dilalui banyak orang. Setiap jalannya ada banyak pintu kayu serta ventilasi yang menghiasinya, setiap teras rumah itu ada banyak benda berkain yang basah mau pun kering tersusun sedemikian di atas tali hitam yang kokoh.


Sesekali penghuni setiap bangunan itu melirik keluar ke arah jendela mereka dan melihat orang-orang lewat di gang ini.


Setiap saat sepeti ini, Dokter Ray Wolfa sesekali melirik partnernya ini dan mengamati dia berjalan dengan tenang dan tidak mencolok, sehingga itu membuat keberadaan dia menipis sesaat.


"Apa ini kebiasaan yang terbentuk dari latihan atau melewati banyak pertempuran selama ini?" Tanya Dokter Ray.


"Maksudmu?"


"Langkah kakimu," ucap Ray sembari menutup lembaran buku catatan kecilnya itu. "Jarak langkah selalu sama panjangnya, jarak kaki yang melangkah ke depan serta kaki yang di belakang kurang dari 5 centimeter, sangat teratur dan stabil, seolah-olah kamu ini mantan prajurit yang telah melewati banyak pelatihan ketat. Tumitmu selalu mendarat lebih dulu, dengan hati-hati dan tanpa suara. Biar kutebak, mungkin kebiasaan ini sudah melekat selama kamu menjalankan banyak misi rahasia."


Fu Chen diam sejenak menanggapi itu lalu membuka suara:


"Tebakanmu salah, Dokter."


Ray hanya tersenyum mendengar itu lalu berkata:

__ADS_1


"Tentu saja salah karena ini hanya tebakan dari seorang teman, terkadang tebakan bisa membawa kebenaran dan terkadang juga bisa membawa lelucon. Tapi, aku serius, di mana letak kesalahanku?"


"Kamu pandai dalam mengobservasi apa pun," kata Fu. "Tapi kamu payah dalam melihat kebohongan."


"Memang itu benar," Ray menanggapinya dengan muram. "Deduksi didasarkan pada kebenaran, kebohongan adalah musuh paling jahat. Karena itulah kamu dan aku adalah sepasang rekan terbaik... Fu."


Fu menatap matanya sejenak dan menghela napas secara acuh tak acuh dan berkata terus terang.


"Aku tidak melakukan apa pun, Dokter. Sebagai partnermu, aku hanya mengikutimu, mendengarkan penjelasanmu, membantu menangkap penjahat yang melarikan diri atau melawan."


Mendengar itu membuat Dokter ini tertawa lalu menyimpan catatan kecilnya itu di balik jas miliknya.


"Padahal aku datang ke sini hanya untuk liburan, tapi saat datang malah aku disuguhkan sebuah kasus pembunuhan lebih dulu."


"Lah, tidak ada yang memintamu menangani kasus ini."


"Yah... itu benar sih, tapi melihatmu menangani kasus ini seorang diri membuatku tak bisa tinggal diam saja. Tapi..." seketika langkahnya terhenti dan itu membuat sahabatnya ini ikut berhenti juga. "Ada yang harus kuakui, kamu ingin mendengarnya?"


Fu menatap dirinya dengan serius dan mengangguk sebagai jawaban akan setuju mendengarnya.


"Bermain-main?"


"Maksudku tentang kasus ini," sembari memasukkan kedua tangannya di saku celananya. "Akhir-akhir ini aku hanya menganggap setiap kasus yang ada hanya sebuah permainan. Sebagai seorang detektif, aku sangat benci ini. Tapi aku tak punya pilihan lain. Seperti yang kamu katakan aku adalah pengamat yang tajam dan otakku bekerja dengan baik, sulit mengabaikan yang sudah terlihat jelas."


"Bisakah kamu lebih spesifik? Aku masih bingung," ucap Fu.


Ray berhenti menatap sahabat dari timurnya ini dan menghadapkan pandangannya ke arah depan, dengan mata penuh ketulusan dan kelicikan.


"Saat menangani kasus itu, dari awal aku sudah tahu siapa pembunuhnya."


"Kamu selalu dapat menyimpulkan pembunuh yang sebenarnya."


"Tidak, aku sudah tahu sebelum menyimpulkannya, bahkan sebelum punya petunjuk, aku sudah tahu siapa pembunuhnya. Ini sama sekali tidak menyenangkan. Bahkan rasanya membuat frustasi. Kalau sudah tahu jawabannya, memecahkan teka-teki menjadi tidak menarik lagi, bahkan sedikit menyiksa orang."


Fu hanya diam saja mendengarnya dan tidak bersuara sedikit pun.

__ADS_1


"Tapi yang paling menyiksaku," kata Ray. "Adalah misteri yang belum terpecahkan. Katakan padaku, Fu... kenapa kamu selalu tahu pembunuh yang sebenarnya? Hal ini aku sudah perhatikan sejak kasus pertama kita."


Muncul keheningan sesaat dan dua orang pria ini tidak ada yang bersuara lagi. Sampai akhirnya pria timur tengah ini buka suara duluan.


"Bukannya kamu sudah mengetahuinya."


"Ya, setelah menyelesaikan kasus kedua kita," Ray mengakuinya. "Awalnya kupikir hany kebetulan saja. Saat kamu melihat pembunuh yang sebenarnya, napasmu bertambah cepat dan sorot matamu berubah. Kuperhatikan hal ini terjadi setiap kasus, sehingga aku pun jadi curiga. Kemudian aku mencoba melihatnya sebagai permainan. Untuk menguji apakah deduksiku konsisten dengan intuisiku. Hasilnya menarik sekaligus membuat frustasi juga. Harus kuakui, kamu sangat hebat. Kamu bisa tahu seseorang atau tidak hanya dengan sekali lihat."


Mendengar itu membuat Fu menghela napas dan menggelengkan kepalanya.


"Aku minta maaf kalau begitu, karena mengganggu kesenanganmu, Dokter," kata Fu. "Kamu tahu sendiri kan seperti apa diriku ini... aku selalu khawatir kalau kita membuat kesalahan, kita tak bisa membiarkan pembunuhnya sebenarnya lolos begitu saja. Apalagi menyangkut sebuah nyawa yang tak bersalah menuntut keadilan di balik alam lain, aku tahu kamu menganggap semua kasus yang ada sebagai kesenanganmu, mengingat kamu orang yang haus akan inspirasi dengan cerita-cerita barumu. Aku tak ada niatan mengambil kesenanganmu itu, makanya aku lebih memilih tidak memberitahukanmu sampai kasus itu dapat kesimpulan tepat darimu."


Ray menghela napas dan menganggap jawaban yang didengarnya itu hanya sebuah kebetulan, tapi itu semuanya benar. Tak ada orang yang bersenang-senang di atas nyawa yang menuntut keadilan di balik dunia lain, hanya karena mereka sudah tak ada di dunia ini. Bukan berarti mereka sepenuhnya lenyap dari dunia ini, mereka tetap ada sampai keadilan itu sampai padanya.


"Kadang observasiku juga sering salah," kata Ray. "Kebenaran selamanya lebih penting dari sebuah kegembiraan pribadi, kalau tidak, tidak ada bedanya aku dengan kriminal. Tapi, kamu selalu menyimpan intuisimu itu terlebih dahulu dan itu tindakan yang sangat tepat, kalau-kalau deduksiku salah, kamu bisa meluruskannya..."


Fu langsung menyela di antara kalimat teman Dokternya ini.


"Deduksimu tidak pernah salah."


"Belum tentu," Ray mengangkat bahunya. "Manusia pasti membuat kesalahan."


"Itu benar. Tapi, orang sepertimu jika salah hanya akan merusak reputasimu."


"Fu, temanku!" Ray menggaruk kepalanya bagian belakang dan meninggikan nada bicaranya. "Tidak perlu pentingkan reputasiku! Aku sama sekali tidak peduli sedikit pun, sungguh."


"Oh... baiklah," tampak wajahnya tidak mengekspresikan apa pun ketika temannya ini berbicara dengan nada seperti itu, dan hanya memasang ekspresi biasa saja.


"Aku tahu kalau aku bisa mengandalkanmu," sang Dokter berkata dengan gembira. "Kamu dan aku akan menjadi mimpi buruk para kriminal yang ada, kita pasti bisa menyelesaikan semua teka-teki apa pun! Baiklah, ayo kita segera kembali ke kediaman keluargamu karena cuaca semakin gelap, sekalian aku ingin memberikan laporan ini segera."


Mendengar itu hanya membuat Fu tersenyum tipis dan kedua pria hebat ini melangkahkan kaki mereka secepat mungkin.


Kejahatan adalah perbuatan atau tingkah laku yang selalu merugikan siapa pun, juga sangat merugikan masyarakat yaitu berupa hilangnya ketentraman dan ketertiban.


Tapi, kejahatan ada untuk mengisi sebuah peran yang ada di hidup ini demi adanya keseimbangan. Kehidupan penuh dengan timbangan yang selalu terisi di kedua sisinya, jika salah satu sisi tersebut kehilangan satu isinya maka kerusakan terjadi pada di sisi lengkap tersebut.

__ADS_1


Menghilangkan satu sama lain, itulah cara kerja roda kehidupan ini dan selalu akan seperti itu sampai kata "Berakhir" muncul di dunia ini.


__ADS_2