IDENTITY : The Dark Story

IDENTITY : The Dark Story
Menyelidiki


__ADS_3

Pukul 20.41


Aku, Tina dan Miranda saat ini berada di belakang halaman villa, kami ada di sini untuk menyelidiki jejak dari pembunuh itu.


"Melati-nya banyak keguguran ya," kataku.


"Ini terjadi semenjak terjadi pembunuhan itu, jadi Melati-nya kurang terawat," ucap Tina.


"Mungkin juga penyebabnya hujan berkepanjangan," kata Miranda.


Aku memutuskan datang ke sini, selain penasaran sekaligus mengamati setiap sudut villa ini. Saat mendatangi halaman belakang ini semuanya terlihat cukup berantakan, tanaman tidak terurus, lumpur ada di mana-mana, dan beberapa alat kebun tergeletak berantakan di dekat rumah kecil itu.


Posisi dapur tepat berada di belakang villa dengan kata lain dekat dengan halaman belakang, dari sini sudah terlihat jelas pintu belakangnya.


Tapi... apa pembunuhnya lewat pintu belakang? Aku rasa itu alasan klasik dan bisa saja terjadi.


"Tina, saat kamu pergi nyalakan generator bersama Edik, apa benar listriknya diputus secara paksa atau dirusak?" Tanyaku.


"Saat aku pergi dengannya, kami tidak menyalakan generator melainkan yang kamu bilang tadi listriknya diputus. Ada beberapa kabel yang diputus dan dicabut secara paksa, tapi tidak ada kerusakan sama sekali, butuh waktu lama memasang kembali kabelnya dan menyalakannya kembali," jawab Tina.


Pembunuhnya melakukan tindakannya secara lembut dan ceroboh, kenapa aku bilang begitu sebab biasanya untuk mengincar seseorang dalam kegelapan harus ada dulu perhatian dari luar semacam kerusakan atau keributan, agar orang-orang berada dekat target lengah dan menjauh.


Tapi, justru yang dilakukannya sangatlah jauh dari perkiraan ku, karena yang dilakukannya sangatlah membahayakan dirinya. Kenapa tidak harus menunggu sedikit lebih lama lagi sampai Rama mengantarnya ke kamar Iwan, dan itulah kesempatan terbaik selagi Rama keluar mengecek keadaan, malahan justru harus menghadapinya dalam kegelapan yang mana memancing keributan hingga orang lain muncul.


Aku berjalan ke arah pintu belakang villa jaraknya berdekatan dengan dengan ruang pembangkit listrik hanya 2 meter bersampingan saja, sesaat sampai di sana aku mengamati setiap sudutnya. Pintu yang terbuat dari kayu khusus yang tahan rayap, aku pun memegang kenop nya dan...


"Tina, apa pintu ini sudah rusak dari dulu?" Tanya ku yang sudah menaik turunkan kenop nya dan itu tidak bisa sama sekali, seolah-olah ada yang mengganjal di dalamnya.


"Eh, iya, rencananya mau diperbaiki, tapi semenjak pembunuhan pintu itu tidak diperhatikan dan sesaat aku mencobanya dengan kunci malahan ikut macet," Jawab Tina.


Kalau diperhatikan handle gagang pintu terlihat sangat antik, dan itu baru aku sadari setiap pintu-pintu villa di sini tidak ada se-antik ini dan pasti kuncinya pun sama dengan pintu ini. Aku memerhatikan lubang kuncinya dan tidak ada sama sekali yang menghalangi kunci untuk masuk dan memutarnya, tapi Tina bilang ia tidak bisa memutarnya sama sekali.


"Apa kamu yakin kuncinya sudah benar?" Tanyaku lagi.


"Tentu saja, kunci pintu ini cuma satu dan kami semua yang ada di sini selalu menggunakan kunci ini," jawab Tina. "Apa ada yang salah pintu ini?"


"Tidak, aku pikir pintu ini sudah di sabotase oleh pembunuhnya, tapi kulihat keadaan pintunya tidak ada sama sekali kerusakan paksaan dari seseorang," jelas ku.


"Jadi Dokter, pintu ini tidak dilewati oleh pembunuh itu?" Tanya Miranda.


"Iya, pembunuh itu tidak lewat sini atau bisa dibilang tidak pernah datang ke sini (halaman belakang)," jawabku.


"Hah! Bagaimana kamu yakin pembunuhnya tidak pernah datang ke sini," ucap Tina.


"Itu sederhana, Tina sayang~. Kalaupun pembunuh itu berhasil membuka pintu belakang maka dia akan cepat ketahuan," ucap Miranda.

__ADS_1


"Bisa kamu memperjelas nya, aku tidak mengerti sama sekali," kata Tina yang kebingungan.


"Hehe~, baiklah aku jelaskan. Kalau pembunuh itu berhasil masuk maka orang yang pertama melihat dia adalah Jasmi, ya... kalaupun Jasmin melihatnya maka dia langsung membunuhnya sekaligus Jasmin masuk dalam targetnya. Kalau saat itu dia berhasil membunuh Jasmin maka itu membuat dirinya dalam bahaya, sebab aku, Dokter dan Tuan Edik berada di bawah dapur (gudang bawah tanah), dan asal kamu tau, sayang~, penciumanku ini sangat tajam loh... terhadap bau darah. Apa lagi Dokter, yang memiliki sense (kepekaan) yang kuat dia akan langsung bertindak dengan cepat kalau ada yang tidak beres di dapur. Walau pun itu terjadi dalam kegelapan, kami bertiga akan langsung bergegas ke atas dan melihat pembunuh itu, dan kami bisa melumpuhkannya dengan cepat sebab Dokter sangat dekat dengan jangkauan tembakannya dengan pembunuh itu," jelas Miranda.


Argumen menarik, yang dikatakannya sangat masuk akal. Mungkin kalau pembunuh itu, masuk lewat pintu belakang maka aku bisa langsung menembaknya dengan tepat.


"Jadi, pembunuh itu masuk lewat mana? 'Tidak ada pencuri masuk lewat pintu' kan, jadi maksudmu dia masuk lewat jendela?" Tanya Tina.


"Tidak, dia tidak lewat jendela manapun," jawabku.


"Eh?! Tapi... jendela di perpustakaan..."


"Itu hanya pengalihan," kataku.


"Kalau dia tidak lewat jendela, berarti dia lewat lubang yang kau maksud di gudang bawah tanah," ucap Tina.


"Tidak, dia juga tidak masuk dari situ."


"Terus! Dia masuk darimana, apa dia hantu yang main tembus-tembus tembok aja!"


Aku terbelalak melihat Tina tiba-tiba begitu kesal, ya... aku tahu sih, kenapa dia begitu stres. Menghadapi sesuatu yang tidak diketahui menjadi sumber ketakutan terbesar manusia, dan inilah yang dialami olehnya sekarang.


"Tina~, sebaiknya kamu tenang, kita dengarkan dulu penjelasan, Dokter," ucap Miranda yang berusaha menenangkan Tina.


"Maaf Murung, belakangan ini aku sangat kelelahan dan itu membuatku tidak bisa berpikir jernih."


Tina dan Miranda terkejut mendengar ini, ya memang sulit mempercayainya karena belum ada bukti fisik, tapi inilah yang kupikirkan sejak lama.


"Oh, benar-benar mengejutkan, tapi kan Dokter, hanya para kita yang ada villa ini dan kamu tau itu kan," ucap Miranda.


"Iya, bagaimana kamu yakin kalau diantara kita ada seorang pembunuh," kata Tina.


"Sebenarnya diantara kita tidak ada pelaku pembunuhnya, melainkan... ada orang yang membantu pembunuh itu," terang ku.


DURR...


Raungan guntur menggetar telinga, tapi itu tidak mengejutkan kita bertiga sebab sulit dipercaya orang yang dekat dengan kami diam-diam membantu sang pembunuh menjalankan rencananya.


"A... apa!"


Tina yang syok mendengarnya, ia bersandar ditembok sembari memegang kepalanya.


"I-itu... tidak mungkin..., jadi selama ini ada seseorang benar-benar mau membunuh kami semua!"


Ini memang mengejutkan, tapi apa alasan orang yang membantunya ini melakukannya? Apa lagi orang-orang yang sudah akrab dengan wilayah villa ini sudah menghilang satu persatu dan tinggal Adithya yang tahu semua tentang villa ini.

__ADS_1


Tinggal orang berasal dari luar yang ada di villa ini yaitu aku, Fu dan Miranda. Sedangkan Tina dan Edik termasuk orang luar, tapi mereka sudah satu tahun lebih berada di sini.


Tunggu dulu! Mungkinkah...


"Dokter, kenapa wajahmu terlihat marah gitu?" Tanya Miranda yang memperhatikan aku.


"Eh! Tidak, aku hanya kesal aja, karena belum menemukan bukti yang valid."


Sial! Tak ku sangka ternyata dia, aku benar-benar tenggelam dalam triknya.


DRIINGG... DRIINGG...


Suara dering ponsel terdengar dari Tina dan lalu diangkat:


"Ha-halo..."


"Halo... sayang, kenapa suaramu gemetar gitu?" Tanya seseorang yang menelpon Tina.


"Tidak, aku tidak apa-apa, jadi kamu sudah menemukan Sarah?"


Ternyata yang menelpon Tina adalah Edik, aku penasaran apa mereka berhasil menemukan Rama dan Sarah.


"Iya, aku dan Tuan Chen berhasil menemukan Sarah."


Seketika wajah Tina kembali hidup dan ia langsung bangkit dengan semangat.


"Jadi kalian berhasil menemukannya! Syukurlah ya Tuhan..., jadi kalian ada di mana?"


"Aku sekarang ada di jalan serigala. Maaf, kali merepotkan mu lagi, aku butuh kamu membuat Sarah merasa nyaman karena dia sangat ketakutan. Dan tolong bawa dua mobil ke sini."


"Dua mobil untuk apa?"


"Itu... pokoknya kamu bawa saja, nanti kamu melihatnya sendiri kalau sudah di sini."


"Baiklah, tunggu kami di sana," kata Tina sembari menutup panggilannya.


"Kayaknya mereka berhasil menemukannya," kataku.


"Iya, tapi mereka memintaku membawa dua mobil," kata Tina.


Jadi begitu ya, kurasa aku tahu kenapa mereka meminta membawa dua mobil, berarti sudah terjadi ya...


"Kalau begitu, aku yang bawa mobil satunya dan kamu naiklah bersama Miranda, biarkan Miranda menyetir mobilnya karena kamu terlihat sangat kelelahan," ucapku.


Tina hanya mengangguk saja dan itu membuatku sedikit aneh dengannya, biasanya ia keras kepala kali ini ia jadi penurut.

__ADS_1


Kami berangkat menuju ke garasi, letak lokasi garasi ini dekat dengan post penjaga villa ini untuk mengambil mobil dan bergegas menuju ke tempat Fu dan Edik berada.


__ADS_2