IDENTITY : The Dark Story

IDENTITY : The Dark Story
Diary 3


__ADS_3

4 Juli 1999


Hari yang sangat mengejutkan bagiku karena Adithya...


•••


•••


•••


Aku dan Adithya berjalan-jalan di sebuah taman dekat kampus kami. Suasananya bisa dibilang benar-benar romantis, sebab seolah-olah alam telah mendukung hubungan kami.


Cuaca cerah tak berawan, angin bertiup dengan tenang, dan kicauan burung yang bertengger di setiap pohon-pohon benar-benar waktu yang tepat menghabiskannya dengan pasangan.


Setelah berjalan-jalan, kami duduk di kursi kayu panjang didekat pohon sana, setelah duduk Adithya buka suara duluan dan berkata:


"Hei, sudah lama kita menjalin hubungan ini dan sudah sangat lama aku ingin melakukannya."


"Hah, melakukan apa?"


Adithya bangkit dari duduknya terus dia menghadap kearah ku, dan membungkuk tepat di depanku juga. Lalu dia mengeluarkan sesuatu dari sakunya.


DEG...


Jangan-jangan ini...


"Apakah kau mau jadi istriku?" Sembari menunjukkan  benda yang ia keluarkan dari sakunya yaitu sebuah kotak berisikan cincin yang indah.


"KYAAA!!"


Seketika terdengar teriakan dari belakang ternyata itu adalah teman-temanku, tapi... dari mana mereka muncul?


"Ayo, terima! Terima!"


Tiba-tiba bertambah banyak dan aku baru sadar saat datang ke taman ini, hanya sedikit orang-orang datang  ke sini dan aku tidak menyadarinya sama sekali. Jadi, ini semua sudah direncanakan ya...


"Terima! Terima!"


Sorakan dan tepukan tangan masih terdengar dan aku menatap Adithya yang sangat tampak serius, lalu aku menutup mulutku dengan kedua tanganku dan tanpa sadar air mataku keluar.


"Ya... aku terima."


Adithya langsung tersenyum dan wajahnya semakin cerah terlihat, dia langsung menarik tangan kananku dan memasukkan cincin yang dibawahnya ke jari manis ku.


POK... POK... POK...


Tepuk tangan semakin meriah dan aku bangkit demikian juga Adithya, dan tanpa sadar aku langsung memeluknya itu membuatku bahagia sekaligus malu.


"Cie... cie... tinggal tunggu duduk bersama di pelaminan nih..."


Mendengar itu membuatku semakin malu dan tidak berani menatap tema-temanku, lalu Adithya membalas pelukanku dan mencium keningku.


•••


Seperti biasa setelah pulang kuliah aku selalu dibonceng oleh Adithya dengan sepeda antiknya itu.

__ADS_1


Tapi, setelah mengantar aku sampai depan rumah biasanya ia langsung pulang ke rumahnya juga, tapi kali ini ia memutuskan untuk berkunjung ke rumahku.


"Eh, tidak pulang?"


"Tidak, kali ini aku ingin bertemu orangtuamu."


"Tapikan... bisa besok," kataku yang masih malu-malu.


Dia hanya membalas ku dengan senyuman dan kami pun berjalan bersama memasuki rumah, sesaat kami tiba di depan pintu...


TOK... TOK...


Pintu langsung terbuka setelah beberapa ketukan dan seseorang membukanya...


"Kakak! Bu, kakak sudah pulang."


Seorang anak kecil menyambut kami dengan hangat dan dia adalah adikku yaitu Siti.


"Heh, kak Adit, juga ada di sini. Hore... apa kak Adit membawa es krim lagi?"


Aku kaget mendengarnya, memang Adithya yang selama ini jadi guru les bagi adikku ini, tapi... aku tak menyangka mereka bisa seakrab ini.


"Jangan khawatir, aku sudah beli dari tadi, nih... pelan-pelan makannya jangan sampai bajumu kotor."


"Oke, hore... aku dapat es krim lagi," sembari lari masuk ke rumah.


"Kau biasanya membelikan dia, es krim?" Tanyaku padanya.


"Iya, itu untuk membuatnya semangat saat belajar."


"Heh, Nak, kamu sudah pulang dan kamu kali ini bersama Adit. Ayo masuk, kenapa malah hanya berdiri di sana."


Seorang wanita paruh baya datang dan dia adalah Ibuku namanya Ayu Safitri.


Kami berdua masuk, sesaat sudah berada di ruang tamu aku melihat Siti duduk di sofa sedang lahap memakan es krimnya dan disampingnya seorang pria paruh baya duduk juga dia adalah Papaku namanya Ariangga.


"Papa, aku pulang," kataku sembari mencium tangan Ayah dan Adithya juga ikut mencium tangannya.


"Kamu sudah pulang, tapi kenapa Adithya ada di sini?"


"Begini Pa, aku..." aku yang masih malu-malu memberitahukannya.


Adithya tiba-tiba buka suara dan berkata:


"Alasan aku ada di sini untuk berbicara dengan Om dan Tante."


"Oh, gitu ya..." Papaku melihat Adithya yang serius menatapnya. "Kalau begitu duduk dulu."


"Kalau begitu aku kebelakang dulu ya," kataku yang pamit sebentar, menuju dapur menyiapkan minuman untuk mereka.


Sesaat di dapur aku melihat Ibu juga di sana yang telah menyiapkan minuman.


"Bu, apa yang Ibu lakukan?"


"Sudah jelaskan, menyiapkan minuman untuk tamu," jawab Ibu.

__ADS_1


"Tapi, biar aku saja."


"Tidak apa-apa, sudah terlanjur kok. Tapi... kayaknya ada sesuatu hal bagus nih menimpa putriku, nih."


"Ibu bilang apa, sih."


"Tuh, apaan yang bersinar," matanya langsung tertuju ke cincin yang aku pakai ini.


"Oh ini..."


Aku kaget karena Ibu sadar dan maksud kedatangan Adithya  ke sini.


"Kayaknya sudah waktunya... baiklah, kalau begitu bawa cepat minuman itu, jangan buat dia menunggu."


Aku hanya mengangguk dan membawa minumannya ke ruang tamu.


"Oh iya, Bu, Iwan mana?"


"Dia lagi sedang tidur di kamarnya."


Sesaat aku dan Ibu sudah berada di sana, aku melihat Papa dan Adithya tidak bersuara satu sama lain (berbicara), terlihat sangat canggung.


"Hah, kalian sudah ada di sini, jadi cepatlah duduk," kata Papaku yang meminta aku dan Ibu segera duduk, aku duduk disampingnya Siti sembari meletakkan minumannya dimeja, sedangkan Ibu duduk disampingnya Papa. "Nah, Adit silahkan bicara."


Eh, jadi selama aku pergi mereka berdua belum bicara sama sekali, padahal selama ini mereka sangat akrab kalau mengobrol.


"Begini, Om--tante, aku... ingin meminang Wati," ucap Adithya yang terlihat gugup.


Seketika Papa sedikit terkejut dan terbelalak lalu langsung melihat Ibu yang ada disampingnya, Ibu hanya merespon dengan mengangguk saja dan Papa berkata:


"Baiklah, aku terima. Sudah lama aku mengharapkan ini, aku dan Ibunya berharap kalian bisa bersatu, dan doa kami benar-benar terkabulkan."


Seketika wajah Adithya terlihat senang dan langsung menatapku, aku langsung berpaling darinya karena masih malu menatapnya.


"Jadi, kapan kalian akan menikah, Ibu sudah gak sabar loh punya Cucu," ucap Ibu yang membuatku semakin malu.


"Kalau bisa setelah kami lulus," jawab Adithya.


"Oh, jadi sebentar lagi kalian lulus, tinggal setahun lagi ya," ucap Papa.


Siti yang berusaha mencerna situasinya dan bertanya:


"Menikah? Siapa mau menikah, Bu?"


"Tentu saja Kakak kamu, sayang," jawab Ibu.


Siti langsung menatapku:


"Eh... jadi Kakak, tapi dengan siapa?" Tanyanya sembari menatap Adithya. "Jadi, sama Kak Adit ya."


Aku hanya mengangguk saja.


"Hore... sebentar lagi Kak Adit jadi kakak aku juga, jadi setiap hari aku bisa makan es krim."


Semuanya tertawa melihat kepolosan Adikku ini.

__ADS_1


__ADS_2