
Lalu aku melihat bercak dan genangan darah di sana serta sebuah tulisan darah ditembok itu bertuliskan "JACK", aku sudah menduga nama itu akan jadi selanjutnya, tapi lebih baik meminta keterangan langsung dari Fu untuk memahami situasinya. Kebetulan dia sedang mengurusi dua mayat di depan rumah kecil itu dan aku langsung menghampirinya.
"Dokter, kamu sudah datang."
"Iya. Siapa mereka?" Tanyaku.
"Kenapa kamu tidak lihat sendiri," jawab Fu.
Aku pun merendahkan tubuhku dan membuka kain yang menutupi kedua mayat ini. Sesaat membuka aku dibuat terkejut, sesuai dugaan ku bahwa Rama akan menjadi targetnya. Lalu membuka yang satunya lagi aku melihat wajah asing bagiku, apa dia pembunuhnya?
"Astaga! Desi...," kaget Miranda sembari menutup mulutnya.
Jadi gadis ini orangnya, tak ku sangka dia benar-benar seperti gadis muda yang baru puber. Aku memerhatikan luka yang dialami oleh Rama, terlihat beberapa luka sayatan serta luka tusukan yang sangat dalam bagian kanan bawah perutnya.
"Fu, apa kamu menemukan benda yang menusuknya ini?" Tanyaku.
"Iya, aku menemukannya, ini," sembari memberikan benda yang terbungkus kain hitam.
Aku membuka bungkusnya dan melihat sebuah belati dingin yang sangat tajam, terlihat belati sangat terawat sehingga ketajamannya masih utuh.
Selagi masih memegangnya aku memerhatikan setiap sudut belati ini dan aku menemukan sesuatu yang membuatku cukup terkejut.
"Ada apa Dokter~, tampaknya kamu terkejut memerhatikan belati itu," ucap Miranda.
"Belati ini... diproduksi oleh salah satu perusahaan pabrik besi dan logam terbaik di negara ini."
Sembari aku menunjukkan nama label perusahaannya kepada Fu dan Miranda.
"Disitu tertulis A.G, apa kamu tau mengenai perusahaan ini, Dokter?" Tanya Fu.
"Aku sangat tau, sebab aku pernah bertemu secara langsung sang pemiliknya yaitu Ariangga. Aku meminta dia membuatkan peralatan operasi dengan logam khusus, dan dia berhasil memenuhi permintaanku. Sampai sekarang aku masih menggunakan alat yang diberikan olehnya."
"Jadi, perusahaan itu apa masih ada?" Tanya Fu.
__ADS_1
"Sebenarnya Tuan Chen, perusahaannya sudah hancur sebab itu terjadi lima tahun lalu, di mana sang pemilik jadi korban dari tragedi itu," jelas Miranda. "Tapi, aku akan memberitahukan kalian sesuatu, bahwa Ariangga adalah ayah dari Iwan dan Siti dengan kata lain mertua dari Adithya."
Aku dan Fu terkejut mendengarnya, kami tak menyangka ada sebuah hubungan yang tidak kami ketahui.
"Tak ku sangka akan mendapatkan fakta mengejutkan ini, tak heran Rama bisa mati dari benda ini," ucapku.
"Dokter, sebaiknya kamu periksa juga mayat bernama Desi ini, terutama di belakangnya," ucap Fu.
Aku melakukan sesuai yang dikatakannya, aku membalik tubuhnya dan sekali lagi aku dikejutkan. Melihat luka cakar yang sangat besar, cakar menembus hingga organ dalamnya.
"Fu... apa BWG yang melakukan ini?" Tanyaku.
"Ya, lebih tepatnya makhluk yang hampir mirip dengan BWG," jawab Fu.
"Apa maksudmu?"
"Hal ini baru aku ketahui, saat aku dan Tina pergi menjemput Tuan Bagaskoro dan Siti. Di sana kami dihadang para BWG dan ada satu dari mereka wujudnya sangat berbeda. Makhluk itu wujudnya seperti Iblis kecil dengan tanduk dan kedua sayapnya serta seluruh tubuhnya warna hitam, dan lebih mengejutkannya lagi makhluk itu memiliki tubuh hidup dengan daging dan darah tidak seperti BWG yang hanya seperti kantong udara," jelas Fu.
Aku tak menyangka hal mengerikan menyusahkan menimpa mereka, tak heran kenapa dia begitu sangat kesal setelah kembali dari stasiun itu.
"Tuan Bagaskoro, berhasil menembaknya dengan peluru khususnya," jawab Fu.
"Peluru khusus?"
"Iya, peluru itu sudah ditanamkan mantra spiritual olehnya. Oh iya, ini aku punya satu biji pelurunya," sembari memberikannya kepadaku. "Aku sudah mengeceknya, aku benar-benar merasakan ada energi spiritual di dalamnya."
Aku mencoba membandingkan kedua benda ini peluru dan belati, mencoba merasakannya dengan jari-jariku.
"Kenapa Dokter~, tampaknya kamu tidak asing dengan kedua benda itu," ucap Miranda.
"Sebenarnya... peluru ini diproduksi dari logam yang sama dengan belati ini, hal ini aku tau karena sensasi pisau bedah yang aku miliki saat memegangnya sama persis dengan kedua benda ini. Apa lagi pisau bedah ku juga berasal dari logam khusus yang sama dengan peluru dan belati ini."
"Begitu ya, jadi, apa masih ada yang kamu perlu selidiki dari kedua korban ini?" Tanya Fu.
__ADS_1
"Sebenarnya sudah tidak yang perlu aku selidiki dari mereka, sebab kamu sudah punya jawaban yang aku perlukan."
Fu hanya merespon dengan wajah datar dengan satu alis terangkat ke atas. Ya aku tahu, ekspresinya itu menyebalkan tapi setidaknya cara itulah menunjukkan keseriusannya, dia hanya menghela nafas dan berkata:
"Terserah kamu, kalau begitu apa kamu mau menyelidiki rumah ini juga, di sini Sarah disekap dan harus kena mental hingga tak sadarkan diri dari pembunuh itu."
"Aku rasa memang harus menyelidikinya, apa kamu mau ikut denganku?"
"Tidak, aku harus menjaga kedua mayat ini."
"Kalau begitu, serahkan saja padaku Tuan Chen, aku bisa menjaga mereka dengan baik. Dokter~, membutuhkanmu sebagai partnernya."
Fu tidak menanggapi perkataan Miranda dan langsung pergi memasuki rumah kecil itu begitu saja menungguku, aku tahu dia sangat tidak suka berada terlalu dekat dengan Miranda sebab dia sangat waspada terhadapnya.
Aku hanya menggaruk kepalaku karena tingkahnya yang membingungkan itu.
"Kalau begitu, tolong ya, Miranda."
"Serahkan saja padaku, Dokter," sembari melempari ku senyumannya.
Aku berbalik dan meninggalkannya menyusul Fu yang sudah masuk duluan.
"Hehe~," sembari menatap kedua mayat ini. "Kalian benar-benar pasangan yang serasi, bertemu di tempat yang kotor terus terjalin asmara, berpisah secara menyakitkan dengan alasan tak menentu, kembali bertemu secara menyakitkan pula dengan melihat dia sudah bersama dengan yang lain, dan pada akhirnya kalian dipersatukan kembali dengan cara yang tragis. Sungguh Takdir cinta yang berliku-liku."
•••
Saat ini aku sudah berada di dalam di lantai dua dari rumah ini, Fu menjelaskan semuanya di sini. Mulai dari Sarah disekap hingga urutan kejadian pertarungan Rama dengan seseorang dan Desi mati tepat di depan mata Sarah.
Aku benar-benar marah mengetahuinya, bisa-bisa dia menggunakan dua ekor anjing sebagai penyiksaan traumatik bagi gadis yang masih lugu.
Aku berjalan ke balkon dan benar yang dikatakan Fu, dari sini kita bisa melihat leluasa. Ada tiga jalan menuju kemari, serta bangunan-bangunan yang tinggi menutupi pandangan. Lokasi yang sangat tepat melancarkan rencananya.
"Menurutmu apa benar Desi yang membunuh Rama?" Tanyaku.
__ADS_1
"Secara garis besar, iya," jawab Fu. "Tapi... berdasarkan sikap yang dimilikinya yang tidak jauh dari Tina dan sesuai yang diceritakan oleh mereka juga, aku rasa dia gak akan tega menyakiti Sarah yang sudah sangat akrab dengannya."