
"Sebenarnya, bukan gagang pintunya yang rusak, tapi kunci yang digunakan Tina sudah sangat lama jadi ada sedikit kemacetan saat digunakan, dan kunci sekarang hanya duplikat yang aku minta seseorang membuatnya," jelas Adithya.
Saat mendengar itu kami masuk ke villa, Tina segera membawa Sarah ke kamar dan Edik sudah pergi ke belakang sedangkan Miranda dan Fu meninggalkan di sini. Karena Adithya menahan ku, katanya ingin berbicara empat mata denganku.
"Ada apa?"
"Sebenarnya, tugasmu sudah selesai sampai di sini," jawab Adithya.
"Apa maksudmu?".
"Sebenarnya memang Desi lah pelakunya,"
Aku terkejut mendengarnya kenapa dia bisa yakin bahwa Desi pelakunya.
"Aku ingin menceritakan sebuah masa lalu, tapi orangnya sudah tiada maka itu sangat tidak baik baginya untuk memberitahukan mengenai dirinya tanpa sepengetahuannya. Jadi, intinya... aku ingin memberitahukan bahwa Sarah adalah anak dari Rama dan Desi."
Aku sangat terkejut mengetahui fakta ini dan aku tidak tahu harus berkata apa, tapi ini benar-benar sebuah petunjuk besar mengenai pembunuhan ini.
"Hehe... aku tidak tau harus berkata apa lagi. Tapi, bukankah tindakan yang dilakukannya sangat bertentangan dengan kamu yang ceritakan."
Seketika Adithya menatapku dengan tatapan kosong dan dengan wajah datar tanpa ekspresi lalu dia berkata:
"Kadang seorang Ibu sekalipun bisa menjadi monster dan menyakiti yang paling disayanginya," setelah dia berkata begitu, dia langsung meninggalkanku begitu saja. "Oh iya, sebaiknya kamu pergi istirahat, aku tak ingin tamuku sakit."
Entah kenapa dugaan ku terhadap dia mulai semakin terasa dan entah kenapa juga aku ingin mengorek informasi mengenai dirinya, sebelum itu sebaiknya aku pergi ke kamar dan istirahat.
•••
•••
"La~la... la... la~la..."
Namaku Miranda Jasfi, aku orang blasteran Belanda-Indonesia dan sekarang aku juga tinggal di sana (Belanda). Aku datang ke Indonesia untuk sebagai pertunjukan terakhirku terhadap dunia tari tradisional, sebab aku belajar tarian tradisional di sini karena nenek ku seorang penari tradisional juga, dan aku mulai belajar darinya.
"Sarinande~... putri sarinande..."
Sebelum kembali ke Belanda, aku akan berpamitan dengan orang yang memberikan sponsor besar terhadap pertunjukan terakhirku di sini yaitu Adithya Bagaskoro.
__ADS_1
Aku sering datang ke villanya selain membicarakan sponsor, aku juga mengajak dalam bisnis obat-obat perawatan kecantikan. Aku berniat membangun usaha itu setelah pensiun dari karir sebagai penari, mengingat dia sangat hebat dalam meramu berbagai bahan obat.
Dia setuju atas tawaran yang kuberikan dan memintaku datang ke sini lagi dalam tiga hari. Tapi... saat ingin ke datang ke sana lagi, aku tak menyangka bisa bertemu seorang Dokter dengan identitas sampingannya sebagai konsultan detektif dan penulis novel yaitu Ray Wolfa.
Sesuai rumornya yang selain hebat dalam dunia medis, dia juga yang selama ini yang menyelesaikan kasus-kasus yang bahkan polisi terhebat pun tidak sanggup memecahkannya.
Pertemuanku dengannya sangatlah mulus, hanya saja rekannya ini yaitu Fu Chen sangatlah menjaga jarak dariku. Ya... aku tau kenapa dia begitu dan aku pun sulit beradaptasi dengannya, tapi sehingga nya itu membuatku semakin tertantang untuk semakin dekat dengan Dokter, hehe~.
Malam sudah larut dipenuhi kegelisahan dan tubuh basah kuyup. Aku masuk ke kamar yang sudah disiapkan dan melepaskan semua pakaian basah yang ku kenakan, dan mengambil handuk sebagai gantinya untuk menutupi diriku.
Sesaat ingin berjalan ke kamar mandi tiba-tiba mataku tertuju pada sebuah benda kecil persegi.
"Ponsel," sembari menatapnya sejenak. "Begitu ya, hehe~."
Aku langsung mengambilnya dan membawanya ikut bersamaku.
...
Setelah mengisi air untuk beberapa saat, menyesuaikan suhunya, ku lepas handuk yang menutupi tubuhku dan merendamkan diri. Aku membasahi tubuhku dengan air panas, merasakan kabut menumpuk di tubuhku menghilang secara perlahan.
Setelah menikmati surga kecil yang menghangatkan ini, aku bersantai di dalam bak mandi, tiba-tiba...
Ponselku langsung berbunyi dan aku langsung mengangkatnya.
"Halo, Dokter~..."
"Heh, kamu tau ini aku?"
"Tentu saja, jangan remehkan insting wanita loh..., hehe~."
"Baiklah, kamu menang. Sebenarnya aku ingin..., tunggu dulu!"
"Ada apa, Dokter~?"
"Apa kamu sedang mandi?"
Aku hanya tertawa menanggapi pertanyaannya ini.
__ADS_1
"Iya, aku sedang mandi. Kenapa, apa kamu ingin bergabung? Dengan senang hati juga aku akan menggosok punggungmu," godaku sembari tersenyum.
"Tidak, tidak, sebenarnya aku ingin menanyakan sesuatu, tapi tampaknya aku mengganggu waktu santai mu, maaf kalau begitu..."
"Tidak apa-apa, Dokter, santai saja, sebenarnya aku bosan di sini juga butuh teman ngobrol. Jadi, apa yang ingin tanyakan?"
"Baiklah, aku ingin pendapatmu mengenai kasus ini?"
"Sebelum aku memberikan pendapatku, bagaimana kalau aku dengar beberapa petunjuk yang kamu kumpulkan. Kamu tau kan 'lebih mudah memilah dengan dua orang daripada sendirian kan?'"
Dokter berhenti sejenak. Pasti sedang ragu memberikan beberapa petunjuknya. Pikirku sambil menyeringai.
"Tenang saja, Tuan Detektif. Aku tidak bermaksud menggali petunjuk mu, berikan saja petunjuk yang paling dasar---yang semua orang sudah tau."
"Baiklah, kalau memang begitu..."
Dokter bertanya perihal mengenai Desi, katanya keberadaannya sebuah kejanggalan itu sendiri entah dia mati atau hidup, pikirnya dia salah satu benang merah yang menghubungkan ke penggulungannya.
"Kamu yakin ingin bertanya tentang itu? Tidak baik loh~, mencari masa lalu orang yang sudah mati dan apa lagi orangnya sendiri tidak mau menceritakan masa lalunya ke orang lain, terkecuali..."
"Terkecuali kamu."
"Hehe, tepat sekali, Dokter~."
"Aku sudah tau mengenai hal ini, mengajari sebuah teknik pisau yang mematikan yang seharusnya sudah menjadi harta karun tersendiri bagi orang itu, dan Desi berpikir seperti itu. Jadi, dia dengan senang hati menceritakan semuanya masa lalu kepadamu atas bayaran apa yang kau ajarkan padanya."
Aku menceritakan masa lalu Desi kepadanya, bahwa Desi dan Rama tinggal di daerah yang mengharuskan menumpahkan darah agar bisa hidup. Tapi, beda bagi Desi, walau hidup di tempat kejam dan kotor dia tetap mencari makanan dengan cara yang bersih dengan menjadi pelayan sebuah bar.
Selang menjalani hidup sehari-harinya itu, tak sengaja dia bertemu seorang pria kekar dengan tingginya kurang setengah meter darinya tidak lain yaitu Rama. Pria itu penuh luka ditubuhnya dan mengancam Desi dengan pisau yang digenggam untuk memberikan semua uang dan makanan yang dibawanya.
"Dan lebih mengejutkannya lagi, Dokter. Yang dikatakan Desi pada situasi itu, ' "Kamu pikir benda sekecil itu bisa menakuti ku!'"
Bagi Desi untuk benda semacam belati sudah menjadi mainan baginya sejak kecil, apa lagi di tempat kerjanya penuh dengan orang-orang yang membawa senjata api dan senjata tajam masing-masing.
Setelah berkata begitu dia langsung mengajak Rama ke rumahnya untuk makan dan bahkan dia membiarkannya menginap juga. Selang beberapa waktu, Rama terus datang mengunjungi Desi hanya minta makan dan numpang secara gratis, tapi Desi tidak mempermasalahkan hal itu.
Selang beberapa waktu, akhirnya Rama mengerti kebaikan Desi kepadanya dan ingin membalas kebaikannya dengan sejumlah emas yang ia sembunyikan selama ini. Tapi, Desi menolak semua itu katanya dia tak ingin menerima balas budi yang berasal dari mengotori tangannya (berbuat jahat), malahan Desi meminta Rama mendonasikan emas itu di panti asuhan.
__ADS_1
"Dari sinilah hubungan mereka terbentuk."
"Yap."