
Pukul 20.59
Kami bergegas berlari menuju diujung gang yang gelap ini, sesampai di sana kami dikejutkan dengan pemandangan mengerikan. Kami melihat kepala pelayan yaitu Rama, yang bersandar ditembok dengan mata yang tidak hidup lagi.
Darahnya keluar sangat banyak sehingga membentuk genangan kecil disekitarnya. Disampingnya ada sebuah tulisan dengan tintanya yaitu darah, dengan bertuliskan "JACK."
Aku perhatikan luka yang ada pada tubuhnya, rata-rata luka yang didapatnya luka sayatan benda tajam semacam pisau. Lalu aku melihat dia menutup erat bagian kanan bawah perutnya, terlihat dia mengalami tusukan yang sangat dalam sehingga dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya, dan mati lemas akibat kehabisan darah.
"Sial! Kita terlambat," Tuan Thomas yang mendesis kesal sembari memukul tembok disampingnya. "Yang dikatakan Ray benar, Rama incarannya..., oh iya, Sarah!"
Kami pun bergegas menuju rumah kecil itu dan masuk ke dalam, betapa terkejutnya kami. Melihat seseorang tergeletak dengan bersimbah darah, serta seorang gadis kecil berjongkok sambil melipat tangannya dan seluruh tubuhnya gemetar, sebab dia melihat sesuatu yang sangat mengerikan tepat di depannya.
"Sarah!"
Tuan Thomas langsung berlari ke sana dan memeluknya agar gadis kecil ini tidak merasa ketakutan lagi.
Aku pun berjalan kearah mayat itu, terlihat dia tertutupi jubah hitam serta ada bekas luka yang sangat besar di belakangnya. Luka itu semacam cakar hewan buas yang menembus hingga bagian terdalam tubuh korban. Aku mengangkat tudung yang menutupi identitasnya terlihat wajah yang sangat asing bagiku.
"Hah! Tidak mungkin..."
"Apa kamu mengenal dia?"
"Dia... dia adalah orang yang kita bicarakan selama ini, dia adalah Desi."
Aku terkejut mendengarnya bahwa gadis ini lah kita duga pelakunya, tapi kalau dia pelakunya, kenapa dia harus mati dengan mengenaskan? Apa lagi luka cakar besar dipungunggnya nya membuat dia terlihat bukan pelakunya juga, cakar besar ini mengingatkanku dengan makhluk hitam kecil yang aku hadapi di stasiun. Apa sejenis seperti makhluk ini ada banyak?
"Tuan Thomas, sebaiknya kamu keluar duluan saja, biar aku saja mengurus jasad ini."
"Baiklah, aku akan keluar dari gang ini, sekalian menunggu mereka datang."
__ADS_1
Tuan Thomas pun pergi sembari menggendong Sarah yang diam seperti membeku.
Aku melakukan penyelidikan sementara disekitar sini, aku hanya melihat ruangan kosong tanpa sedikit pun perabotan. Serta ada sebuah kantong besar di sana dan aku pun pergi mengecek lalu membukanya.
"Astaga!!"
Aku dikejutkan dengan pemandangan yang bikin siapapun melihatnya akan mual dan syok. Aku melihat bangkai hewan, kalau diperhatikan seekor anjing, bukan... dua ekor anjing.
Aku melihat tubuh hewan ini termutilasi atau memang dimakan oleh makhluk yang menyerupai monster seperti cakar itu? Saat aku perhatikan bangkai ini... tidak ada satupun daging yang koyak akibat gigitan, melainkan dagingnya terpotong secara rapi seolah-olah ada benda tajam digunakan untuk memotongnya.
Kembali lagi menyusuri ruangan ini, aku melihat ada bekas cakar sepanjang lima centimeter di lantai dekat balkon rumah. Aku pun maju ke balkon dan aku melihat dengan leluasa di sini, ada tiga jalan menuju kemari (Rumah kecil) dan setiap jalan itu ada persimpangan. Lalu aku bisa melihat jelas jasad kepala pelayan itu dan ada bekas tanah injak di besinya ini.
Bisa diasumsikan bahwa pelakunya sudah menunggu kepala pelayan itu dari sini, setelah targetnya sudah ada dia pun langsung melompat dan menghadapinya. Bisa terlihat dari jejak kaki mereka walau sebagian sudah tersapu hujan, tapi aku bisa melihatnya dengan jelas dari sini walau samar-samar.
Kalau disimulasikan kepala pelayan ini hanya beranjak setengah meter dari pijakannya setelah itu kembali mundur lagi, sedangkan musuhnya langkahnya sangat acakan. Awalnya dia hanya berdiri tepat di depan rumah ini dan tiba-tiba jejaknya ada di dekat kepala pelayan itu.
Bisa terlihat bekas pijakan yang sangat dalam yang dilakukan pelakunya ini, bahwa dia mengambil ancang-ancang dan mengumpulkan seluruh kekuatan ototnya di kaki sehingga dia bisa melompat dengan pesat kearah targetnya, dan melakukan serangan dadakan.
Mungkin itu yang dilakukan olehnya sekarang, tapi sayang lawannya bukanlah manusia biasa atau memang bukan manusia? Tapi, arah tusukannya sangat tepat, biasanya untuk orang yang terbiasa dengan pertempuran akan selalu mengawasi daerah vitalnya.
Hal ini bisa saja terjadi kalau musuhnya sangat pendek darinya sehingga kepala pelayan ini sulit mendeteksi arah serangannya.
"Tunggu dulu! Kecil?!"
Aku langsung mengarah ke belakang dan melihat jasad Desi, aku pergi memeriksanya dengan detil.
"Tinggi badannya dan ukuran kakinya sama persis dengan yang aku deskripsikan pelaku pembunuhan di villa itu, apa jangan-jangan dia memang pelakunya? Tapi..."
Aku masih ragu dengan ini, sebab kematiannya terlalu janggal. Kalau dia dibunuh oleh makhluk itu, maka seharusnya Sarah juga akan ikut terbunuh juga. Tapi, dia terlihat baik-baik saja tanpa ada luka sedikitpun.
__ADS_1
Aku melihat sebuah pisau di pojok sana, aku membungkus pisau itu dengan kain yang aku robek dari jubah hitam itu dan mungkin pisau ini milik si pelaku.
"Sebaiknya aku membawa jasad ini ke bawah agar Dokter bisa mengidentifikasi kejadiannya."
•••
•••
Disisi lain...
Saat aku mengendarai sebuah mobil sendirian dan di depanku ada mobil juga yang dikendalikan oleh Miranda serta ada Tina di sana juga.
Selang beberapa menit menempuh perjalanan akhirnya kami berhenti. Aku turun dari mobil dan melihat Edik berteduh disebuah toko roti yang sudah tutup sembari menggendong seseorang.
"Akhirnya kamu di sini, sayang," kata Edik yang merasa lega.
"Apa itu Sarah?!" Tanya Tina yang sangat khawatir.
"Iya," sembari memberikannya ke Tina.
"Syukurlah ya Tuhan," sembari mencium kening Sarah.
Ya... sekarang mereka benar-benar terlihat seperti keluarga kecil, tapi... aku bertanya-tanya ke mana bayi mereka saat dua tahun lalu? Mungkin aku tanya ke mereka kalau kasus ini selesai.
"Oh iya Ray, kamu dan Nona Miranda bisa ke belakang, kamu hanya tinggal lurus saja dari gang ini dan kamu akan melihat rumah kecil di sana, ada Tuan Chen menunggu juga di sana," ucap Edik. "Dan aku akan tetap di sini, untuk menjaga mereka berdua."
"Baiklah, jaga diri kalian, ayo Miranda."
"Baik, Dokter~."
__ADS_1
Aku dan menyusuri gang panjang ini, setelah sampai di ujungnya aku benar-benar melihat sebuah rumah kecil ditengah-tengah bangunan tinggi ini.