
"Gambar yang sudah biasa untuknya;
Tungku api, kursi goyang, asap cerutu.. keadaan yang dingin walau dilapis jas dan mantel
Pai yang tersaji cukup mencairkan suasana, tanpa itu kepanikan bukan apa-apa
Sepatu lars Boot yang ditaruh di atas meja
Santai melahap berita koran
Pada saat hujan badai merongrong rumah bahkan ia keluar bila memang, momen itu takkan terjadi lagi,
Dia merasa kebenaran hanya ia yang butuhkan, padahal semua juga mencari...
Pohon-pohon yang diam mencari juga...
Ia harus benar-benar meninggalkan rumah hangat demi posisi kebenarannya
Suatu niat yang sungguh tidak tulus, lebih baik ia tidur/ menulis surat kepada kolega daripada menemui yang hanya membutuhkannya saat perlu ....
Tanpa masalah, ia bukan apa-apa...terlebih dengan masalah, ia makin menjadi hina...
Kerlap-kerlip lilin mengundang pemandu kereta memecah suasana yang harusnya tenang,
Mereka tak ingin semua padam sebelum ia memberi keputusan..ketakutan menggelikan
Karena salju waktu itu seharusnya mengajak untuk istirahat dan menikmati pemandangan dari kaca jendela
Tapi mereka saling membodohi sesama,
Kehangatan keluarga dibiarkannya, seperti tak mengenal dan tak tinggal ditempat itu ...
Bulu kecil tak ber-kertas itu dibiarkannya kering tak berperasaan, tak memikirkan hidup yang utuh,
Kursi malas lebih baik di singgahi saja
__ADS_1
Keadaan yang damai dari dalam rumah, tak pernah di reka..
Tiang-tiang rumah antik yang kokoh tak berbayang, cahaya bulan yang memanggil untuk merepih memori hanya di acuhkan nya...."
(Ini Bukan puisi buatan sendiri pinjam dari google saja, kalian bisa mencarinya judulnya "Malam Sherlock Holmes")
"Sekarang hentikan ocehan mu itu, Dokter."
Pria yang di hadapanku ini adalah teman sekaligus partner setiap menghadapi berbagai kasus, kami lagi sedang menaiki kereta menuju ke lokasi yang di tuju oleh klein kami.
Dan nama dia adalah Fu Chen. Ya dia orang Asia timur berdarah Tiong Hoa walaupun sikapnya agak dingin begitu tapi dia rekan sangat diandalkan olehku.
"Ehem, ayolah Fu Chen, ini salah satu puisi terkenal yang aku baca baru-baru dan ini ada hubungannya dengan pekerjaan kita saat ini."
"Biar ku tebak pasti puisi 'Malam Sherlock Holmes', puisi ini hanya untuk novel legendaris itu dan apa hubungannya dengan pekerjaan kita saat ini?"
"Tentu saja ini ada hubungan, coba kamu bayangkan kita hampir di situasi yang sama oleh Dr. Watson dan Sherlock Holmes."
"Sherlock dan Watson. Ini kan hanya karakter dari sebuah novel biografi. Kenapa harus menyandingkan-nyandingkan dengan situasi saat ini?"
Sesaat aku membacakannya dia menatapku dan mengangkat satu alisnya lalu menggelengkan kepalanya seolah-olah tak ingin mendengarkan apa yang ku ucap barusan.
"Hmm, pekerjaan ini mulai terasa penuh omong kosong."
"Urusan pekerjaan masa disebut omong kosong? Aku rasa sudut pandang mu perlu di koreksi."
"Meski katamu ini begitu berlebihan, tapi menurutku begitulah yang kurasakan."
"Ayolah pekerjaan ini sangat penting bagiku sekaligus menghargai persahabatan kita."
"Jawabanmu selalu saja bisa mengejutkanku, Dokter." Terang Fu sembari menyilang kan tangannya. "Berhubung kamu menghargai persahabatan kita, coba kamu jelaskan. Kenapa Tuan Sherlock dalam novel ini terlihat mirip denganku dari sudut pandang mu?"
"Ini... hanya penyesuaian teknis saja." Jawab ku yang penuh kebingungan juga. "Aku ini orangnya bebas dan tidak disiplin, jadi karakter semacam ini tidak banyak orang pahami."
"Sepertinya kamu orang cukup tahu diri." Ucapnya sembari mengangkat satu jari di depanku. "Pertanyaan Ku yang terakhir, karakter orang Inggris ini kenapa harus sama persis dengan orang timur sepertiku?"
__ADS_1
"Jangan salah paham dulu. Aku menghormatimu dan latar belakang Asia mu. Hanya saja ketahuilah, orang-orang Asia tidak akan pernah muncul dalam novel misteri." Jawabku penuh ketakutan karena dia orangnya nasionalis. "Bukannya diskriminasi atau prasangka, hanya saja orang barat menganggap bahwa orang timur selalu percaya takhayul."
"Menurut pandanganku, yang begini sudah menjadi kebiasaan budaya."
"Tapi harus diakui, setidaknya kamu sudah menghancurkan semua argumen buruk mereka."
"Baiklah, yang kamu katakan masuk akal juga."
Namaku Ray Wolfa seorang penulis. Yah, untuk saat aku ber-identitas sebagai penulis karena aku dengan sahabatku ini membahas tentang novel tersebut. Sudah banyak cerita-cerita aku tulis kebanyakan dari kisah nyata yang aku tulis berdasarkan berbagai kasus aku selesaikan, tak ku sangka banyak orang menyukainya apa aku jadi penulis aja ya.
Tapi cita-cita ku adalah sebagai dokter hanya karena aku mendapatkan banyak penghasilan dari dua identitas ku ini bukan berarti aku harus meninggalkan pekerjaanku sebagai seorang dokter, aku tak ingin menghianati cita-cita ku walaupun penghasilannya tak seberapa tapi aku bangga sudah bisa meraihnya melalui banyak masalah.
Klinik swasta di Kota Pahlawan No. 21 B sepi seperti biasa. Setidaknya penghasilan bulanannya cukup menopang kebutuhan hidupku. Tapi ini bukan masalah besar rekanku ini detektif terkenal di tanah kelahirannya, dan melalui koneksi ini aku selalu mendapatkan penghasilan tambahan untuk kepentingan diri sendiri.
Dua orang konsultan detektif yang memberikan layanan sebagai detektif resmi. Aku yang memutar otak, Fu yang beraksi, dan kami dibayar mahal. Sudah banyak yang kami lalui dan banyak kasus sudah terselesaikan oleh kami.
Kami hanya membantu memecahkan berbagai kasus dari kasus detektif resmi maupun klien. Permintaan dari para klien meningkat, sebaliknya bisnis klinik ku semakin memburuk.
"Klinik selalu sepi kenapa bisa ya?" Tanyaku pada rekanku.
Dia adalah pria yang penuh pendiam dan sedikit aneh, tapi dia tidak pernah mengabaikan orang yang bertanya padanya.
"Apakah kamu membangun klinik hanya untuk detektif polisi yang datang setiap saat kepadamu!?" Balasnya.
Iya juga ya. Saat tidak ada kasus, aku akan mengatur catatan apa yang kulihat dan kudengar yang jadi berita dalam kasus berikutnya.
"Tak ku sangka kotanya menarik juga ya."
Seketika Fu membuyarkan lamunanku. Aku mengarahkan pandangan dari jendela kereta, terlihat kota dengan gedung pencakar langit dan berbagai bangunan besar lainnya.
Villa Raja, Kota Lautan Api. Kalau bukan karena "tragedi" di 5 tahun lalu, kota ini mungkin merupakan tempat yang bagus untuk bersantai.
Kota yang berjulukan "kota berkembang" ini sekarang tak seperti dulu lagi, aku harus menempuh 9 jam perjalanan dari kota Pahlawan menuju kota ini.
Bangunan pemerintahan bergaya kolonial dan adapun Museum sejarah yang menyimpan benda-benda peninggalan bekas jajahan.
__ADS_1
"Tragedi" di lima tahun lalu telah mengubah kota ini penuh dengan peristiwa kelam, tapi itu hanya masa lalu siapapun takkan sanggup mengahadapi dari kelamnya peristiwa itu.