
Rintihan hujan dingin di kota kecil ini, dinginnya bak seperti salju menyelimuti kota ini. Cahaya bulan yang seharusnya menerangi malam, sekarang digantikan oleh kilatan petir menerangi gelap malam seperti lampu mercusuar bersinar diantara kabut-kabut. Tidak hanya muncul secara sekilas dan mendadak saja, membuat telinga yang mendengarnya rasanya gendang telinga ingin pecah dan cepat-cepat menutupinya dengan berbagai penyumbat yang ada.
Sebuah rumah kecil berdiri kokoh diantara gang sempit, rumah itu sangatlah tersembunyi karena tertutupi bangunan-bangunan yang tinggi disekelilingnya. Di teras rumah itu terlihat sesosok bayangan berdiri tenang sembari menatap langit yang gelap disertai petir yang menghiasinya, seolah-olah menatap lukisan artistik penuh arti.
Merenda sebuah tali kasih
Ku simpul menjadi satu hati
Gambaran jiwa yang terluka
Bagai langit meratap sendu
Kala bias cinta menghilang
Sakit itupun datang tanpa permisi
Rembulan tak menyisakan senyum
Bersama malam, ku dekap lirih arti kerinduan
Kesendirian.
__ADS_1
Sebuah puisi dilantunkan dengan segenap hati di tengah badai petir ini, sosok ini tidak terganggu sama sekali melainkan menganggap hal ini sebuah panggung baginya. Suara rintihan hujan bagaikan sorakan dan tepuk tangan penonton, raungan guntur yang menggetarkan telinga bagaikan musik yang melengkapi panggung, dan yang terakhir terangnya kilatan petir datang tanpa henti bagaikan lampu sorotan baginya di atas panggung.
Dia berpakaian serba hitam, wajahnya tersembunyi dibalik topeng putih anehnya itu, dan seluruh tubuhnya diliputi aura yang sangat dingin--sepertinya suasana ini sangatlah pas baginya.
Tiba-tiba terlintas kilatan yang sangat dingin dalam kegelapan, bukan kilat petir tapi ayunan senjata yang sangat berbahaya. Dia menyeka belatinya itu dengan lembut dan tenang seperti menyeka tangan kekasihnya. Tetesan merah mudah menetes dari ujung belatinya yang memantulkan cahaya kilat seperti cermin.
"Hu... hu..."
Gerakan yang tidak biasa terdengar di belakang, ia pun membalik badannya. Sebuah wajah mungil dan polos terlihat sangat pucat dengan mulut tersumbat kain, terdengar suara aneh darinya antara rengekan dan teriakan.
Sosok bayangan ini mendekat, dan melihat dengan tatapan yang sangat kosong sembari mengangkat belati di tangan kanannya. Ada suara di matanya, suara akan darah yang mendesak dirinya, mengambil semua yang ada pada diri gadis mungil ini.
Dia menggumamkan sesuatu di balik topeng putihnya itu, tidak tahu kenapa dia bergumam. Satu hal yang pasti sosok menyerupai bayangan ini mengincar sesuatu di belakang gadis mungil ini.
"Hu! Hukk!!!"
Suara itu semanis madu yang menggoda, sia-sia anak itu berontak, tangan dan kakinya terikat kuat. Baja dingin menempel ke pipi gadis mungil ini, sehingga membuat kedua pupilnya membesar dan ditambah tubuh yang gemetar, apa karena dinginnya benda menempel di pipinya? Kurasa bukan.
"Pfft... hihi...," tawanya berusaha ia tahan tapi pada akhirnya... "Hahaha! Hahaha!" Tawa lepasnya membuat kesan suasana semakin mencekam.
Gadis mungil ini semakin ketakutan dan gemetaran, berjatuhan air mata yang membasahi kedua pipinya. Sosok ini memandanginya semakin tajam dan pergi meninggalkannya dalam kesunyian yang gelap.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian...
Dia kembali, kali ini dia tidak sendirian, ia membawa dua ekor anjing yang sudah terikat kuat mulai dari mulutnya hingga kaki-kakinya. Gadis mungil ini terkejut melihatnya, pikirnya kenapa ia harus menangkap hewan? Tapi sayang... ini awal permulaan bagi gadis mungil ini...
"Cantik, silahkan nikmati pertunjukkan ku."
Sebuah belati diangkat tinggi-tinggi, dengan cahaya dingin yang memantul dan...
JLEB!
"Aing... aing... aing..."
Rengekan kesakitan dan meronta-ronta bak ikan yang terdampar di daratan yang luas. Gadis mungil melihat kekejaman di depan matanya, ia tidak sanggup melihatnya dan memalingkan pandangannya, tapi sayang teriakan makhluk tak bersalah ini membuat sang gadis mungil semakin ketakutan.
Hal ini berlanjut ke seekor lagi hingga membuat gadis mungil ini tak sadarkan diri akibat menyaksikan kekejaman di depan matanya.
"Hihi... hahaha! Hahaha!"
Seolah-olah sudah puas melahap makanannya sosok berpakaian hitam ini pergi meninggalkan gadis cantik dengan wajah polosnya itu.
Suara hujan meredam semua yang ada, inilah keindahan sang malam.
__ADS_1