IDENTITY : The Dark Story

IDENTITY : The Dark Story
EX. Tersangka seorang wanita (Part 2)


__ADS_3

"Tentu saja tidak! Siapa yang mau mengumbar kan aib terburuknya begitu saja," balas Moris.


"Terus bagaimana pencuri itu tahu bahwa benda itu yang seharusnya dia ambil?" Tanya Fu.


Pastor Moris hanya diam saja dan memikirkan pertanyaan itu lalu akhirnya dia tidak bisa menjawabnya, tapi di sisi lain aku mencoba memikirkan pertanyaan Fu.


"Ah! Aku baru ingat," kata Moris. "Aku baru ingat, saat itu aku pernah menyuruh beberapa kali sisters memasuki ruanganku saat aku meminta mereka mengambil berkas yang kubutuhkan."


"Apa anda tahu siapa nama sister yang kamus suruh itu?" Tanyaku.


"Maaf, itu sudah beberapa kali aku sering meminta diantara mereka memasuki ruangan ini sembari aku memberikan kuncinya."


"Berarti Dokter, kata Tuan Ramza, dia bilang bahwa ruangannya tiba-tiba terbuka padahal saat itu pintunya terkunci, bisa disimpulkan bahwa diantara sister itu memang ada yang membantu pencuri itu," jelas Fu.


Aku hanya terdiam sementara saja sembari memikirkan tindakan yang tepat, aku mengambil teh itu lalu meminumnya, setelah meminumnya aku melihat gelas berisi teh itu.


"Jadi, Dokter Wolfa, apa aku harus mengumpulkan para sisters untuk melihat wajah mereka secara langsung?" Tanya Moris.


"Tidak perlu," jawabku. "Itu hanya menambah kecurigaannya saja, kita hanya perlu melihatnya sendiri tanpa menimbulkan rasa curiganya."


Tok... Tok... Tok...


"Iya, masuk!" Teriak Moris.


Crak...


Orang yang membuka pintu itu adalah seorang biarawati.


"Bapak, para jamaah semuanya sudah ada, tinggal anda memimpin mereka."


"Baiklah, aku akan segera ke sana," balas Moris.


Biarwati itu hanya mengangguk dan keluar lalu menutup pintu itu kembali.


Crak...


"Dokter Wolfa, Tuan Chen, maaf, aku tidak bisa menemani kalian lebih lama lagi, aku harus memimpin parah jemaah untuk berdoa."


"Tidak apa-apa," balasku. "Tapi, apa para biarawati itu ada di sana juga?"


"Iya, mereka semua akan berdiri di samping para jemaah, ini dilakukan demi mencegah jika ada jemaah tiba-tiba pingsan atau terlihat tidak sehat."


"Sekarang mereka terlihat suster rumah sakit, ya," ucap Fu.


Pastor Moris hanya tersenyum mendengar itu.


"Kalau begitu, aku akan ikut bagian dari jemaah itu," kataku. "Ini dilakukan demi mengawasi secara langsung tindakan dari para biarawati itu."


"Oh begitu ya, jadi Tuan Chen akan ikut juga?" Tanya Moris.


"Tidak, aku akan berada di belakang saja, untuk mengawasi secara luas di tempat itu," jawab Fu.

__ADS_1


Pastor Moris hanya mengangguk saja, dan memintaku mengikutinya menuju tempa beribadah bersama jemaah.


•••


Sesaat berada bersama jemaah itu, aku duduk dan mendengar Pastor Moris berkhotbah. Di sisi lain, aku tak bisa memutarkan kepalaku sembarangan dari berbagai arah, sebab ini akan menimbulkan kecurigaan lebih pada pelakunya, jadi aku percayakan semuanya pada kawanku di belakang sana.


Seorang pria dengan kacamata yang dikenakan di wajahnya, tampak dia hanya berdiri saja di dekat pintu utama sembari mengamati sekitar.


Sesaat selagi mengamati dia, terbelalak melihat sesorang di depan sana.


"Itu kan..., kenapa tubuh wanita itu dikelilingi aura yang sangat gelap?" Batinnya.


Selagi memerhatikan seorang biarawati yang tampak sangat muda, dengan kacamata yang dikenakan juga di wajahnya. Tampak wanita itu hanya berdiri saja sembari mengamati para jemaah seperti biarawati lainnya.


Salah satu biarawati menghampiri dirinya yang lagi sedang mengamati ruangan ini.


"Tuan, anda tidak ikut berdoa?"


"Maaf, tapi aku tidak menganut aliran ini."


"Oh, maaf, bertanya yang tidak perlu."


"Tidak apa-apa."


"Anda kan, tamu Bapak Moris, lalu teman anda di mana?"


"Dia ada di sana, ikut berdoa juga," sembari mengarahkan terus pandangannya ke salah satu biarawati itu.


Tampak biarawati di sampingnya ini, mengamati pandangannya dan dia melihat arah ke mana pandangan pria ini.


"Tidak, dia mengingatkanku sama mendiang adikku, yang sudah lama tiada."


Seketika terpampang wajah sedih dari biarawati ini.


"Maaf, aku mengatakan sesuatu yang perlu lagi, tapi aku turut berduka juga mendengar."


"Tidak apa-apa, terima kasih."


Terlihat para jemaah ramai-ramai menyatukan tangan mereka, tampak doa bersama sudah dimulai.


"Kalau begitu, aku pergi dulu."


"Iya."


Biarawati itu pergi dan kembali ke posisinya lagi.


•••


Setelah beberapa waktu...


Aku dan Fu kembali lagi di ruangan Pastor Moris.

__ADS_1


"Jadi, Tuan Chen, apa kamu menemukan pelakunya?" Tanya Moris.


"Maaf, aku tidak menemukannya sama sekali," jawab Fu.


Aku memerhatikan wajah Fu, tampak dia menyembunyikan sesuatu dari Pastor ini.


"Begit ya, terima kasih atas kerja kerasnya," kata Moris.


"Kamu jangan khawatir, kami pasti menemukan pelakunya itu," ucapku. "Tapi, apa kamu tidak keberata menunjukkan identitas semua dari biarawati itu?"


"Oh, itu ya, tunggu sebentar," sembari menuju mejanya dan mengambil sesuatu dari lacinya, lalu berjalan menuju ke arah kami. "Ini semua data mengenai nama serta tempat tinggal mereka dan yang lainnya."


Aku mengambilnya dan membacanya semua isinya, tampak ada banyak sekali data biarawati di sini dan terpampang foto mereka juga.


Aku terus membalik setiap lembar dan Fu sangat mengamati setiap profil biarawati ini.


Setelah beberapa menit, akhirnya kami menyerahkan kembali berkas itu.


"Eh? Sudah selesai?" Tanya Moris. "Kalian bisa membawanya untuk diselidiki."


"Tidak apa-apa, kami perlu menghapal nama dan tempak tinggal mereka, itu sudah sangat cukup bagi kami," jawabku.


"Baiklah, tolong ya, aku benar-benar sangat takut dengan ancaman dari pencuri itu."


Kami hanya mengangguk saja, lalu keluar dari ruangan ini.


Sesaat berjalan kami berpapasang seorang biarawati di lorong dan aku hanya tersenyum kepadanya, tapi dia tidak membalas senyumanku malah menampilkan wajah masam.


Aku terkejut melihatnya, tapi terlihat Fu sangat terpaku saat menatap wanita itu.


•••


Seaat di luar gereja...


"Jadi, aku ingin kamu menyampaikan semuanya," pintaku.


"Baiklah, kamu ingat wanita yang berpapasang dengan kita barusan tadi."


"Iya, aku ingat, lalu?"


"Entah kenapa aku merasa aneh dengannya, aku melihat dia dikelilingi banyak aura yang sangat gelap.  Aku tak menyimpulkan ini, tapi kita bisa mencurigai dia ada hubungannya dengan pencuri itu."


"Kalau kamu menyimpulkan begitu, bisa jadi sih, sebab saat kita bertemu dengannya tampak dia sangat tidak menyukai kita, saat melihatnya."


"Jadi, selanjutnya apa yang kamu mau lakukan?"


"Kita harus menyelidiki wanita itu, kalau tidak salah namanya Melina tinggal di jalan Darat dengan nomor rumah 20."


"Jadi kamu ingin menyelidikinya langsung dari rumahnya? Kalau kamu melakukan itu, maka kamu akan disangka sebagai penguntit oleh tetangganya."


"Kamu benar, tapi cuma ini satu-satunya jalan, cuma rumah itu yang bisa menjadi petunjuk valid jika dia punya hubungan dengan pencuri itu. Kamu jangan khawatir, aku punya cara agar bisa menyelinap di rumahnya itu."

__ADS_1


"Terserah kamu saja, kamu sekarang terlihat seperti penguntit dari pada detektif itu sendiri."


Aku hanya tertawa mendengar itu, akhirnya kami bergegas menuju ke lokasi itu untuk menyelidikinya.


__ADS_2