
"Jawabannya sederhana Dokter~, Adithya bilang saat mengunjungi makam istrinya dia tidak sengaja bertemu makhluk itu dan dia diserang secara tiba-tiba, karena dia sangat tidak jauh dengan makam istrinya yang dimana banyak melati di taburi di sana dan makhluk itu langsung menjauh karena melihat melati itu. Sejak saat itu Adithya mencari dan menyelidiki makhluk itu, lalu mengusirnya dari kampung halamannya agar dia merasa istrinya bisa istirahat dengan tenang. Kata Adithya lagi makhluk hitam itu sudah ada sejak lama dalam cerita legenda kampung halamannya itu menggunakan melati salah satu faktor penangkalnya." jawab Miranda.
Aku dan Edik terkejut mendengarnya bahwa kami tak menyangka makhluk itu sudah ada sejak lama, jadi perginya makhluk hitam itu dari desa sana penyebab kota ini jadi seperti ini sampai sekarang.
"Apa tidak ada cara menyingkirkan atau melenyapkan makhluk itu selamanya?" Tanyaku.
"Ada caranya."
"APA?!!" Tanyaku dengan semangat.
"Yaitu~ ada pada Adithya sendiri, maaf Dokter aku pun juga tidak tahu."
Aku langsung menghela nafasku karena berharap tinggi dengan jawabannya lalu aku berkata:
"Kau membuatku patah semangat Miranda."
"Hehe~."
Pukul *19.4**0*.
Kami bertiga sudah sampai di depan pintu perpustakaan dan pintunya benar-benar besar ini mungkin pintu kedua terbesar di villa ini termasuk pintu utamanya saat kami pertama kali masuk kesini.
"Inilah perpustakaannya Ray, apakah kamu mau aku menjelaskan situasinya sebelum masuk?" Tanya Edik.
__ADS_1
"Sementara ini tidak perlu dulu, biarkan aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Saat selesai nanti baru aku meminta keterangan mu."
Edik mengangguk dan segera membukakan pintu untuk kami. Edik tetap menunggu kami di dekat Pintu masuk.
"Bolehkah aku mengamati proses investigasi mu, saat berada di samping mu, Dokter?" Tanya Miranda.
"Tentu saja bisa, selama tidak menggangguku."
"Terima kasih~," sembari melemparkan senyumnya kepadaku.
Saat kami masuk aku sudah melihat bercak darah di mana-mana dan masih ada genangan darah di sana, yang tampaknya dibiarkan dengan sengaja demi kelancaran penyelidikan. Aku menoleh ke kiri dan kanan sedang mengamati perpustakaan ini yang sudah sangat berantakan dimana-mana.
Aku berjalan menuju ke arah genangan darah itu yang letaknya dekat dengan sebuah meja, ditambah lagi meja beserta kursinya terciprat banyak darah dan arah meja ini dengan jendela sebelah sana kira-kira 2 meter jaraknya. Apakah pembunuhnya langsung masuk dari jendela itu sehingga si korban sulit kabur darinya karena jaraknya sangat dekat?
Kalau para detektif umum biasanya akan mengidentifikasi bahwa Pembunuhnya masuk dari jendela ini dan menyerang si korban, lalu berbalik dan kabur lewat jendela ini juga.
Sayangnya, ini terlalu gampangan untuk detektif sepertiku dan ini sungguh sangatlah jelas sebagai pengecoh saja.
Aku berjalan menuju ke rak-rak buku yang sangat tidak beraturan sesuai abjad, buku-bukunya tersimpan begitu saja tanpa menyusunnya sesuai abjad, tapi beberapa lembar dari buku-buku ini ada yang hilang atau sengaja di robek serta beberapa buku juga kulihat kayanya tidak ada tapi seharusnya ada disini. Aku mengambil beberapa untuk di baca sejenak termasuk yang sudah di robek, tapi satu hal yang membuatku tertarik yaitu salah satu buku yang paling banyak halamannya yang hilang yaitu berjudul "The Seven Deadly Sins". Sebuah buku yang menjelaskan tentang 7 Dosa Besar yang ada pada diri manusia, tanpa membaca buku ini pun aku sudah mengenal penjelasannya tapi kenapa tiba-tiba pandanganku langsung terpaku ke buku itu, mungkin ini sebuah petunjuk sesuai intuisi ku sebaiknya aku mengingat tentang buku ini baik-baik.
Aku kembali menuju arah meja korban untuk memeriksa mejanya, saat memeriksanya aku menemukan sebuah kertas kecil dengan bertulisan sebuah angka saja yaitu "6.13.4.11" serta penanya yang terlihat baru dibuka. Aku benar-benar bingung maksud tulisan ini aku mengambil buku kecil di meja ini, saat membukanya hanya berisikan catatan tentang penyakit serta cara penanganannya yang baru atau belum sempurna. Di atas meja itu juga ada tujuh buku sejarah tokoh-tokoh terkenal, tapi buku ini tentang para tokoh yang terkenal akan kekejamannya di masa itu.
Aku menjauh sejenak dari meja itu dan mensimulasikan kejadiannya di pikiranku. Aku cukup lama menatap meja itu dan jendelanya tapi arah pandanganku langsung berubah kearah pintu kami masuk di sana ada Edik yang berdiri mengamati kami dari jauh, aku kembali mengarahkan pandanganku ke meja ini dan hanya sebentar saja lalu mengarahkan pandanganku ke meja pojok sana yang disitu ada foto-foto yang di pajang serta dua buah lilin menyala. Penyelidikan Ku berakhir disini saja tapi masih ada yang janggal di ruangan ini aku pun menghampiri Edik, yang membuatku terkejut juga Miranda benar-benar mengamati ku sedari tadi itu membuatku lupa kalau dia benar-benar ada di samping ku, dia benar-benar diam tanpa sedikit suara pun.
__ADS_1
"Penyelidikannya sudah selesai?" Tanya Edik.
"Bisa dibilang hampir selesai, hanya saja masih ada yang perlu aku periksa dan itu sangat menggangguku," ucapku sembari menghadap pandanganku ke arah meja pojok perpustakaan ini.
"Kalau begitu pergilah periksa sana."
"Firasat Ku mengatakan jangan pernah bermacam-macam atau menyentuh barang-barang di meja sana."
"Yang kamu katakan itu benar, Pak Bagas melarang keras siapapun menyentuh atau membersihkan debunya di meja itu, biar Pak Bagas sendiri yang mengurus meja itu. Tapi kalau sekedar melihat-lihat tidak masalah kan, cepat pergi sana."
"Tapi...."
"Jangan khawatir Pak Bagas akan mengerti dengan hal ini."
Aku dan Miranda menuju ke meja pojok itu, sesampai di sana aku sudah melihat dua buah foto, dua lilin yang hidup, serta beberapa aksesoris wanita seperti gelang, cincin, kalung, dan sisir. Satu foto seorang wanita cantik dan satunya lagi foto tiga orang, dimana pria yang di tengah tersenyum lembut meletakkan tangan kirinya di bahu seorang anak laki-laki serta di tangan kanannya di bahu seorang anak perempuan.
"Wanita ini adalah istri Adithya, dia benar-benar cantik kan." Ucap Miranda secara tiba-tiba.
"Iya dia benar-benar cantik, tapi sayangnya dia terlalu cepat pergi meninggalkan pria yang sangat baik baginya."
"Iya, pria yang sangat baik."
Entah kenapa nada bicara Miranda tiba-tiba berubah, itu benar-benar membuatku semakin tidak nyaman berada di tempat ini.
__ADS_1