
Katanya terjadi 3 tahun lalu dimana maraknya anak-anak hilang, saat ditemukan mereka mengalami guncangan psikologis yang berat. Hal itu terjadi karena seluruh orang-orang dewasa termasuk keluarganya disiksa dan dibunuh tepat didepan matanya. Dengan kata lain anak-anak hanyalah umpan untuk memancing targetnya.
Sesaat mendengar cerita itu semuanya tampak tenang walau kekhawatiran masih menyelimuti, terutama sang kepala pelayan-ayah dari gadis kecil yang dicuri itu. Tuan Bagaskoro memegang kedua pundak pelayannya itu dan berusaha menyakinkan-nya bahwa "semuanya akan baik-baik saja."
Dua kata yang kupikirkan "luar biasa" untuk orang yang bernama Rama itu. Walau putrinya diculik tepat didepan matanya, ia berusaha tenang dan menuruti semua perintah tuannya dengan hati yang masih meronta ingin rasanya keluar dari tubuh.
Adithya menyuruh kami segera masuk karena hujan mulai semakin deras, sedangkan Tina dan Tuan Thomas pergi kebelakang untuk menyalakan generator villa ini. Sesaat mereka bertiga masuk duluan Dokter menghampiriku dan bertanya perihal barusan...
"Kamu pasti tahukan, Dokter. Kenapa aku lebih memilih menghindarinya?"
"Iya, aku baru menyadarinya kalau kamu benar-benar menghalangi dia langsung, mungkin kamu tidak akan terselamatkan."
"Baguslah kalau kamu mengerti, tapi saat menatap matanya seolah-olah dia tersenyum kepadaku."
"Soal itu aku tidak tahu lagi, mungkin hanya hayalan-mu saja."
Listrik kembali menyala akan tetapi...
"KYAAA!!!"
Suara teriakan terdengar dari dalam sana aku dan Dokter bergegas menuju ke sana, sesaat sampai di sana betapa terkejutnya kami. Seseorang tergeletak dibawah sana dengan bersimbahan darah dimana-mana. Lingkungan mulai semakin histeris terutama untuk kepala pelayan itu, 'sudah jatuh ditimpa tangga pula' yang membuatnya ingin mengakhiri hidupnya sendiri dengan membenturkan kepalanya sekeras mungkin ke tembok, tapi tindakan cerobohnya itu dihentikan oleh tuannya sendiri yaitu Tuan Bagaskoro.
__ADS_1
Disisi lain aku dan Dokter pergi mengecek korban wanita bernama Jasmin ini, Dokter mengecek setiap tanda-tanda vitalnya untuk mengetahui kapan dan berapa lama ia sudah mati. Setelah selesai mengecek tanda vitalnya, Dokter membalik tubuhnya dan terlihat bekas tikaman yang sangat dalam bagian area perut.
Sembari Dokter memeriksa si korban aku mengarahkan pandanganku keatas karena menemukan kejanggalan pada mayat ini. Sebab ada sebuah bekas lilitan tali dilehernya berarti korbannya sudah dibunuh sebelum digantung di atas sana, hanya saja bagaimana cara si pelaku menjatuhkannya? Aku ingin bertanya ke Dokter tapi, tampaknya ia sudah mengetahuinya lebih dulu jadi aku memutuskan untuk diam dan mendengarkan penjelasannya nanti.
Aku melanjutkan kembali pengamatan ku kali ini, aku benar-benar fokus keatas. Tampak terlihat seutas tali terikat di atas sana dan sudah terpotong, serta beberapa ventilasi di langit-langit yang meneranginya.
DURR...
Suara guntur muncul bersamaan terangnya kilat hingga menerangi langit-langit villa ini sesaat melalui ventilasi kaca di sana. Aku sangat terkejut dan terbelalak bukan karena guntur-nya tapi, aku terkejut saat melihat sebuah benda yang memantulkan cahaya kilat---benda itu tertancap di atas sana.
Aku pun menyipitkan mataku untuk melihat jelas benda itu dan ternyata...
Jadi, aku mengerti kenapa si korban bisa jatuh hanya saja lemparannya terlalu pas untuk dalam keadaan gelap, aku menurunkan pandanganku secara vertikal mulai dari pisau itu hingga lantai tepat dibawahnya. Terlihat sebuah bekas jejak tanah kering di sana, semuanya tidak menyadarinya karena mereka tenggelam dalam kepanikan atau memang tidak mau memerhatikan.
Aku menepuk pundak Dokter dan ia meresponnya dengan mengangguk saja, seperti biasa ia orangnya tahu apa yang harus aku lakukan. Aku berjalan kearah jejak itu, hanya saja aku mengalami sedikit kesulitan karena sudah ada berbagai jejak sepatu kering dan basah di aula ini dari kami semua termasuk aku.
Jejak tanah kering orang-orang yang tidak keluar saat hujan dan orang itu Dokter, Tuan Thomas, kepala pelayan dan istrinya (korban) serta putrinya, Nona Jasfi, dan Iwan adik dari Tuan Bagaskoro. Dari ketujuh orang ini cuma mereka saja yang ada saat insiden gelap gulita itu.
Ukuran dari tapak jejak ini 21 cm dan jejaknya tersebar dimana-mana, tapi... bukannya terlalu kecil ya untuk ukuran orang dewasa? Aku sudah perhatikan ukuran kaki semua orang sini, hanya 2 orang yang berukuran sesuai jejak ini yaitu Sarah dan Iwan.
"Apa yang sedang terjadi disini?!" Ucap Edik kembali bersama Tina, mereka berdua bergegas kemari karena mendengar teriakan dari dalam.
__ADS_1
"Tidak mungkin! Itu... itu Jasmin kan!" Saat mengatakannya Tina tiba-tiba merasa lemas dan hampir pingsan, Edik yang melihat keadaan Tina lemas ia langsung membawanya duduk di sofa.
Setelah duduk Tina meminta Dokter menjelaskan semua urutan kejadiannya, kebetulan aku juga penasaran bagaimana bisa sampai terjadi hal ini.
"Tuan Chen, bisa bantu aku sebentar."
Tuan Bagaskoro memanggilku membantunya mengurus mayat pelayannya itu, aku hanya mengangguk saja dan pergi membantunya.
Sesaat membungkus mayatnya aku merasakan adanya kejanggalan pada kematiannya. Tikaman-Nya berada tepat di Hypogasteium, bagian yang tepat berada dibawah pusar. Hanya saja umumnya terjadi penusukan di bagian perut rata-rata selalu di bagian Umbilikus dan Lumbal kiri atau kanan, ketiga titik itulah yang selalu ditargetkan saat penusukan secara sengaja atau tidak sengaja.
Tapi tikaman yang dilakukan oleh pembunuh ini berada di bagian yang sulit atau mustahil, sebab bagian itu selalu terawasi oleh kebanyakan orang karena berdekatan dengan area sensitif mereka. Walau penusukan-nya terjadi di keadaan gelap sekalipun hal itu masih mustahil dilakukan, terkecuali... orangnya kecil kira-kira tingginya 113 cm sebab tinggi ini sangat cocok melakukan penusukan di bagian bawah pusar apalagi dilakukan dalam keadaan gelap memungkinkan melancarkan aksinya.
Disisi lain Dokter menceritakan semuanya ke Tina bahwa Dia, Edik, dan Miranda pergi menyelidiki korban-korban pesan darah ini mulai dari gudang bawah tanah hingga ke perpustakaan, dan serta insiden mati lampu dimana anak kepala pelayan ini jadi target pembunuh itu lalu sesuatu yang dijatuhkan pembunuh itu dari atas. Tapi... pesan darah? Aku rasa melewatkan sesuatu disini.
"Aku tak menyangka dia senekat itu. Mungkin pembunuhnya masih ada disekitar wilayah villa ini, seperti yang dikatakan Pak Bagas bahwa pembunuhnya menjadikan anak kecil sebagai sandra saja," jelas Edik.
"Kalau dia memang ada di sekitar sini, menurutku dia mungkin adalah salah satu orang yang sudah lama berada disini," terang-ku.
"Tunggu dulu," sela Nona Jasfi. "Kalau memang pelakunya orang-orang yang ada di villa ini... tapikan cuma kita semua saja yang ada disini, sedangkan semua pelayan disini sudah di pecat semua oleh Adithya terkecuali Rama dan Jasmin masih tetap disini."
Semuanya tampak rumit sekarang, semua yang kami katakan barusan ada benarnya juga, saat aku dan Dokter datang orang-orang yang di kumpulkan Tuan Thomas sudah semuanya ditambah datangnya Tuan Bagaskoro dan Siti.
__ADS_1