
Pukul 20.04
Seorang pelayan datang ke kamarnya untuk bersih-bersih setelah sibuk membersihkan kamar tamu untuk tamu khusus majikannya.
Di saat ganti pakaian seketika menjadi gelap gulita seorang pelayan sendirian di kamar pelayan. Ini adalah akhir baginya, karena kegelapan ini kuburan yang disiapkan khusus untuknya.
Bunyi benturan baja yang sangat dingin telah menembus sehelai kain yang ia kenakan, serta dia merasakan dinginnya baja itu yang telah masuk ke tubuhnya sebentar saja. Darah mengalir keluar, beberapa detik kemudian, pelayan itu merasakan sakit yang luar biasa.
Dia pun terjatuh, genangan darah mengelilinginya seperti membentuk bagai karpet darah di bawahnya.
"Egh... si... siapa kamu?" Tanya pelayan itu dengan darah yang banyak keluar dari perutnya.
Siapa dia? Sekalipun dia orang di villa ini tapi pelayan ini merasa tidak pernah membuat masalah dengannya, pelayan ini hanya bekerja atas dasar keuntungan. Pelayan yang sudah tiga tahun lamanya berada di sini sekarang tinggal cerita.
Di saat nyawa sudah berada di tenggorokannya, pelayan itu berpikir keras kenapa dia melakukan ini. Pikiran jernihnya hanya sampai di sini saja, karena kehilangan banyak darah, kesadarannya perlahan memudar. Dia berusaha mempertahankan kesadarannya dengan sisa kekuatannya. Kemudian dia melihat sosok itu, sosok yang tidak asing baginya.
"Ka... kamu! Tapi... kenapa... uhuk, uhuk...."
Dengan mata melotot yang tajam, pelayan itu tidak percaya orang yang selama ini dia rawat dan layani. Sekarang telah menikamnya dari depan disaat gelap gulita. Darah mengalir ke tenggorokannya, memotong kata-katanya. Suara lemahnya tidak akan sampai orang dihadapannya.
Sang pembunuh dalam kegelapan tersenyum kejam penuh kepuasaan. Suara langkah kakinya mendekat dan duduk di hadapan korbannya yang lagi sekarat.
"Kamu... kenapa melakukan ini... Tuan... I...."
Pelayan itu belum selesai mengucapkan sebuah nama di akhir kalimatnya. Akan tetapi darah mengalir terus dari tubuhnya bagaikan air terjun, sehingga itu membuat kehilangan kesadarannya untuk selamanya.
Sang pembunuh menyeret mayat korbannya keluar dari kamar, dan mengikatkan sebuah tali ke leher korban lalu membuatnya bergelantungan seperti buah di ranting pohon. Sekarang pembunuh itu menargetkan seorang gadis kecil yang berada di bawah sana.
Di saat keadaaan gelap gulita ini sang pembunuh turun langsung ke lantai bawah dengan lompat dari lantai dua. Tiada yang tahu bahwa pembunuh ini manusia atau bukan, satu hal yang pasti dia sangat lincah di keadaan gelap gulita ini.
__ADS_1
Setelah sampai di lantai bawah tanpa pikir panjang dia langsung dengan cepat menghampiri gadis kecil itu, sesaat mulai meraihnya seorang pria tiba-tiba menendang dari samping dengan keras, sehingga membuatnya menjauh dari targetnya.
"Eh? Ayah?"
"Kamu tidak apa-apa nak?"
"Hmm, tidak apa-apa," ucapnya sambil menggelengkan kepalanya. "Tapi aku mendengar sesuatu yang sangat keras tadi, suara apa itu Ayah?"
"Ayah tidak sengaja menjatuhkan sesuatu tadi karena gelap."
Gadis kecil tidak tahu bahwa ada bahaya yang menyertainya dalam kegelapan, akan tetapi sang Ayah tahu putrinya dalam bahaya jadi dia berusaha melindunginya. Dalam keadaan gelap dia tidak tahu kemana pembunuh itu akan datang.
Sang pembunuh bangkit akan tetapi dia menghadap dinding dibelakangnya dan menulis sesuatu di sana. Selesai dengan urusan kecilnya itu dia kembali menatap targetnya yang di kira sangat mudah digapainya, tapi ternyata tidak semudah itu ada seorang pria yang terlihat tangguh yang berdiri disampingnya.
Ini akan sulit baginya dia tidak ingin membuang waktu dia berjalan perlahan di belakang mereka, dengan cepat langsung menghampiri target lagi-lagi dihalangi oleh pria. Terjadi pertarungan sengit di antara mereka sang pembunuh yang sangat lincah terus menerus mengarahkan pisau tajamnya ke pria itu, akan tetapi Ayah dari gadis kecil dia sangat terampil dalam bertarung sehingga membuat pembunuh itu kewalahan.
"Ayah, Ayah kamu di mana aku takut."
Karena suara keras dari benda besar yang jatuh, itu menarik perhatian penghuni lain di villa ini.
"Suara apa itu!"
Terdengar suara seseorang dari lantai atas sehingga orang itu menyalakan sebuah senter yang dipegangnya lalu mengarahkan asal suara itu. Sesaat mengarahkan ke arah suara, betapa terkejutnya mereka melihat seseorang di sana dengan berpakaian serba hitam dan wajahnya tertutup.
"Kenapa ada BWG di sini!"
"Itu bukan BWG, itu pelakunya. Miranda bantu aku menangkapnya."
"Dengan senang hati Dokter~."
__ADS_1
Gadis anggun itu langsung lompat dari lantai atas dua orang berada disampingnya barusan terkejut tapi mereka tidak ingin ambil pusing mereka mulai fokus terhadap pelakunya.
"Edik tolong arahkan terus cahayanya ke dia agar aku bisa melumpuhkannya," ucapnya sembari mengeluarkan pistol dan fokus ke targetnya.
Terjadi pertarungan sengit di dalam kegelapan dua orang saling menarikan pisau tajam mereka, terlihat sangat lihai tidak satu pun dari mereka berhasil mengenai.
"Nona Miranda aku ikut membantu."
Ikutnya Ayah dari gadis kecil itu membuat pertarungan mulai tidak seimbang, sang pembunuh tidak ingin pergi dengan tangan kosong dia pun melempar pisaunya ke arah atas.
"Awas di atas kalian!"
Teriak seseorang di lantai atas mereka berhasil menghindar sesuatu yang jatuh dari atas sana tapi ada sebuah cairan keluar dari yang jatuh barusan, sehingga itu membasahi alas kaki mereka.
"Kyaaa!!! Ayah!!!"
Perhatian mereka berhasil teralihkan sehingga pembunuh itu berhasil mendapatkan mangsanya. Dengan cepat dia lari menuju pintu utama.
"Tidak!!! Sarah!!!"
"Ayah!!! Tolong!!!"
Sesaat mulai sampai, pintu itu langsung terbuka terlihat beberapa orang berdiri di sana.
"Fu! Hentikan orang itu!"
Saat mulai sampai, pria yang berdiri di pintu dia menghindari orang berjubah hitam itu dan membiarkannya pergi begitu saja.
Pembunuh itu tersenyum dan berkata dibatin-nya:
__ADS_1
"Pria yang menarik."
Sang pembunuh berhasil keluar dari Villa Raja dan menghilang ke dalam kegelapan diiringi suara petir dan guntur, bagaikan Dewa kematian datang untuk mencabut nyawa seseorang.