
Sekarang semuanya menjadi rumit, Desi yang diduga menjadi tersangka utama sekarang sudah tiada.
"Oh iya, sebelum kita datang, kata Edik korban pembunuhan dulunya mengambil organ dalam korbannya. Sedangkan ketujuh orang ini mati begitu saja tanpa organnya diambil, jadi orang-orang yang mati lalu kehilangan organnya mungkin... itu ulah makhluk yang kau maksud," ucapku.
"Bisa jadi, tapi berdasarkan lagi cerita Tuan Bagaskoro, bahwa anak-anak yang diculik dijadikan umpan untuk memancing orang dewasa dan dibunuh lalu organnya diambil," ucap Fu. "Makhluk ini memiliki akal dan dia sudah beberapa kali mengelabui ku dan Tina, jadi itu mungkin saja anak-anak yang diculiknya tidak dibunuh, tapi... alasannya kenapa hanya mengincar orang dewasa?"
Kami dilanda kebingungan, aku mengarahkan pandanganku ke atas dan aku hanya melihat langit gelap dengan awan yang menutupinya.
"Entah kenapa, aku teringat dengan Chimera dan Frankenstein," kataku.
"Maksudmu, makhluk fiksi itu," kata Fu.
"Iya, berdasarkan deskripsi gambaran makhluk kecil itu darimu, bertubuh kecil yang menyerupai manusia serta beberapa bagian hewan ditambahkan darinya, bukankah ini terlihat seperti hasil eksperimen jahat dari seseorang," jelas-ku.
Fu mengarahkan matanya ke bawah sembari memegang dagunya, tiba-tiba matanya melebar dan langsung menatapku.
"Mungkinkah makhluk itu..."
"Akhirnya kamu mengerti juga, makhluk kecil campuran itu mereka adalah anak-anak yang diculik itu," jelas-ku.
"Sial!!" Fu yang langsung memukul tembok disampingnya hingga retak.
Ya aku tahu kenapa dia begitu marah dan aku pun juga marah mengetahuinya, membunuh keluarganya dan menyisakan anak kecil hidup-hidup untuk jadi eksperimen seorang psikopat.
"Aku tahu pemerintah tidak bisa berurusan dengan hal-hal supranatural seperti ini, tapi terlibatnya orang gila yang haus darah... bukankah sudah sangat serius situasinya," ucapku.
"Kata Tina, semua orang yang ada di kota ini, diungsikan di pangakalan militer dekat perbatasan kota," jelas Fu.
Tidak heran kenapa kabar mengenai pembunuhan ini tidak sampai ke pemerintahan, sebab tidak ada yang bisa atau lebih tepatnya tidak ada yang berani menyampaikannya ke sana, karena nyawa taruhan menghadapi makhluk-makhluk ghaib ini.
"Kalau begitu, apa sebaiknya kita selesai di sini?" Tanya Fu.
"Sudah tidak ada perlu diselidiki lagi, karena... petunjuknya sudah ada semua di villa itu."
Fu mengerutkan dahinya dan bingung apa yang kukatakan, tapi dia tidak ambil pusing soal itu karena dia pikir hanya perlu mengikuti ku dari belakang saja.
•••
__ADS_1
"Hm, Dokter~, kamu sudah selesai?"
Aku melihat Miranda berdiri di sana sembari menjaga kedua maya itu, dia benar-benar menunggu kami.
"Iya sudah selesai, tapi hanya sedikit bukti aku dapat dari sini," jawabku.
"Kalau begitu, kita harus segera membawa mereka berdua," kata Fu.
"Sebelum itu, aku ingin menyampaikan sesuatu, Dokter~," kata Miranda.
"Apa itu?" Tanyaku.
"Ini mengenai kematian Desi, sangat aneh loh~, aku memeriksanya selagi kalian sibuk."
Dia memeriksanya selagi menunggu kami turun, itu wajar karena dia punya waktu dan ini juga sangat membantuku. Mengingat Miranda memiliki pengamatan yang sangat bagus.
"Dan kamu menemukan keanehan itu," kataku.
"Iya aku menemukannya, rahang dan lengannya serta jari-jarinya sangat kaku seolah-olah sudah mati dalam waktu yang lama, ditambah lagi tubuhnya sangatlah dingin untuk orang yang baru mati," jelas Miranda.
Aku terkejut dan langsung memeriksanya kembali, dan yang dikatakannya benar. Suhu tubuhnya menurun drastis serta sangat kaku sehingga sulit digerakkan, dibandingkan Rama yang suhu tubuhnya menurun secara perlahan ditambah dinginnya hujan membuatnya semakin menurun, tapi tubuhnya tidak mengalami kaku sedikitpun.
"Iya, dia sudah mati saat itu," jawab Fu.
Saat Fu dan Edik mengejar Rama selisih jarak mereka hanya lima menit, dengan waktu sedekat itu mereka berdua bisa menemukan Rama dengan cepat. Tapi, karena gang yang tampak seperti labirin ini, membuat Fu dan Edik membuang waktu banyak untuk mencari keberadaannya.
Berarti mereka menghabiskan waktu tiga belas menit lebih untuk menemukan tempat ini, dan Rama mungkin sudah mati sembilan menit yang lalu.
Karena pusing aku mulai menggaruk kepalaku.
"Dokter~, sebaiknya kita kembali dan tampaknya kamu sulit berpikir jernih," ucap Miranda.
"Iya, aku butuh istirahat sejenak, Fu tolong bantu aku membawa mayat ini."
Fu hanya mengangguk saja dan segera mengangkat satu mayat itu dan aku yang membawa satunya lagi.
Diujung gang aku melihat Edik sudah menunggu kami sendirian, dia meminta kami meletakkan kedua mayat itu di mobil yang aku bawa dan dia akan menaiki mobil Tina. Mobil yang aku bawa hanya mengangkut dua orang saja, maka Fu ikut denganku sedangkan Miranda bersama Tina dan Edik.
__ADS_1
Kami tancap gas kembali ke villa
•••
Sesaat sampai di Villa, Adithya sudah menunggu kami sendirian tepat di depan pintu villa.
"Bagaimana, apa kalian menemukan mereka?" Tanya Adithya yang tampak khawatir.
Kami hanya diam saja tanpa memandang sedikitpun Adithya.
"Begitu ya... jadi Rama sudah...," Adithya mundur sejenak dan memegang keningnya yang kering. "Jadi, kalian sudah menemukan pembunuhnya?"
Kami hanya saling memandang satu sama lain dan akhirnya Edik buka suara duluan:
"Sebenarnya, Pak Bagas, pembunuhnya samar-samar."
"Apa maksudmu?"
"Sebenarnya saat kami di TKP, kami menemukan dua orang mati di sana yaitu Rama dan Desi," terang-ku.
"Apa! Desi! Jadi benar dia pembunuhnya!"
"Seperti yang dikatakan Edik semuanya masih samar-samar, bisa jadi dia pembunuh dan bisa jadi tidak. Sebab kami masih ragu dia pembunuhnya karena kata Tuan Bagaskoro, bahwa Desi sanga akrab dan menyukai anak-anak. Jadi, menurut kami dia tidak akan tega mau menyakiti Sarah secara mental sehingga tak sadarkan diri, kalau dia mau membunuh Rama maka dia dengan mudah bisa membunuhnya sejak mati lampu itu," jelas-ku.
"Masud akal juga Dokter~," kata Miranda. "Desi bisa saja langsung membunuhnya sejak mati lampu, selain tubuhnya kecil dan lincah dia juga bisa menyembunyikan hawa keberadaannya tanpa disadari oleh seseorang bahkan Rama sekalipun, dan dengan itu dia bisa langsung melayangkan serangan bagian vital target dengan sekejap."
"Begitu ya, jadi sekarang merek berdua di mana?" Tanya Adithya.
"Sekarang ada di mobil," jawab Edik.
"Baiklah, kita mengangkat mereka lewat belakang saja," kata Adithya.
"Aku bantu," tawar Fu.
"Tidak perlu Tuan Chen, pasti kalian sangat lelah dan sebaiknya kalian istirahat saja biar aku dan Edik mengurus mayatnya. Edik pergilah ke belakang dan buka pintunya." Sembari memberikan sebuah kunci dengan bentuk yang tidak biasa dengan kunci yang lainnya.
"Ada apa, Tuan Wolfa?" Tanya Adithya.
__ADS_1
"Kuncinya... benar-benar unik," terang-ku. "Oh iya, Tina bilang gagang pintu di belakang rusak sehingga kuncinya pun tidak sanggup diputar."