IDENTITY : The Dark Story

IDENTITY : The Dark Story
Kejutan (Part 1)


__ADS_3

Pukul 23.03


Tok... tok... tok...


"Masuk!" Suara dari dalam.


"Edik, apa Sarah sadar?" Tanyaku.


"Iya," jawab Edik.


Aku langsung bergegas ke kamar ini karena mendengar kabarnya dari Fu bahwa Sarah sadar. Saat mau ke kamar Sarah Miranda ikut juga kebelakang tanpa kusadari kehadirannya, karena hanya fokus dengan puzzle terakhir dari kasus ini.


Aku pun berjalan kearah Sarah, tampak dia sangat lesu dan tak bersemangat. Tina yang berada di sampingnya menyuapi sup hangat untuknya.


"Tina, apa kamu bisa minggir sebentar, aku punya beberapa hal untuk ditanyakan olehnya," ucapku.


Tiba-tiba Tina berhenti menyuapi Sarah dan langsung menatapku dengan tajam lalu berkata:


"Bukankah tidak baik menanyakan sesuatu yang baru menimpa seseorang, apa lagi orangnya baru sadar dan orang itu juga seorang anak kecil yang tidak tau apa-apa!"


"Ya aku tau, tapi... ini demi menyempurnakan penyelidikan ku, dan aku sangat membutuhkannya sekarang!"


"Bukankah bisa dilakukan besok, hingga orangnya pulih sepenuhnya. Dan lagian tindakan yang kamu lakukan sekarang, bisa menganggu kejiwaannya hingga down!"


"Aku tidak peduli, asalkan aku bisa mendapatkan semua yang kuinginkan!"


Tina menatapku dengan tajam dengan ekspresi yang sangat marah sehingga dia menampakkan giginya yang rapat, dan aku hanya menatapnya dengan tatapan kosong.


Tina yang tidak tahan denganku, tiba-tiba dia ingin bangkit dan siap melemparkan mangkok berisikan sup panas. Tapi, tangan dia tahan oleh gadis kecil ia suapi yaitu Sarah.


"Bu, tenanglah, aku tidak apa-apa kok."


"Kamu yakin baik-baik saja, sayang?" Tanya Tina sembari memegang pipi Sarah.


"Hmm," sembari menganggukkan kepalanya.


"Dokter, apa kamu baik-baik saja?" Tanya Fu sembari menepuk pundak ku.


"Jangan khawatir, aku baik-baik saja," jawabku.

__ADS_1


Tok... Tok... Tok...


"Bu Tina, apa Sarah baik-baik saja?"


Seseorang yang mengetok pintu dan terlihat Siti dan Iwan memasuki kamar ini.


"Kalian, kenapa belum tidur," ucap Tina.


"Begini Bu, kata Iwan, dia melihat Ibu Tina membawa Sarah secara tergesa-gesa ke kamar. Setelah itu, dia langsung berlari ke kamarku dan memintaku ikut dia, karena sangat khawatir melihat Ibu panik begitu," jelas Siti.


Kami semua hanya mengamati saja, sebab kami tahu bahwa simpatik seorang anak kecil sangatlah besar terhadap orang-orang terdekatnya.


"Sarah, apa kamu baik-baik saja?" Tanya Iwan. "Ini, aku bawakan kue untukmu."


Iwan memberikan stoples kue coklat yang dibawanya dari tadi untuk Sarah.


"Aku baik-baik saja kok dan terima kasih kuenya, nanti kita makan bersama ya," jawab Sarah.


Aku tak menyangka gadis polos dan pemalu yang pertama kali aku lihat, kini telah menjelma menjadi gadis tenang dan pengertian dengan situasinya. Apa ini karena siksaan mental dialaminya, sehingga membuat kepribadiannya berubah secara drastis.


Tina langsung berdiri dan membawa Siti dan Iwan ke kamar mereka, tapi sebelum itu dia memperingati ku sebentar:


"Aku rasa hal itu tidak bisa terhindarkan lagi, sebab pertanyaan itulah yang akan aku terus lontarkan kepadanya!"


"Kamu...!"


Tiba-tiba Edik menghentikannya dan menggelengkan kepalanya untuk tidak membuat keributan di sini.


"Cih!"


Tina langsung pergi tanpa menoleh kebelakang sedikitpun.


Setelah situasi terkendali, aku pun mendekat ke Saran.


"Apakah kamu keberatan jika aku mengajukan beberapa pertanyaan?" Tanya ku ke dia untuk mengetahui apa benar dia baik-baik saja.


Matanya terlihat lelah, suaranya agak gemetaran sedikit, dan matanya bengkak akibat menangis. Tampaknya dia sudah mengetahui kematian orangtuanya.


Dia hanya menganggukkan kepalanya saja sebagai jawaban dari pertanyaan ku sebelumnya, dan aku menarik kursi di belakangku dan duduk disebelahnya.

__ADS_1


"Baiklah, aku mulai. Bisakah kamu menceritakan apa yang terjadi terhadapmu?" Tanyaku. "Mulai dari padamnya listrik hingga sekarang."


"Ba-baik... a-aku tidak begitu ingat, tiba-tiba semuanya begitu gelap saja dan aku ti-tidak ingat apa pun, maaf...," jawab Sarah yang tampak sangat gugup.


Apa aku ini penuh intimidasi kah? Ya... saat ini aku tidak bisa menahan diriku lagi, sebab keadaanku sekarang jauh lebih buruk daripada gadis ini.


"Ray, yang dikatakan Tina benar, sebaiknya..."


Aku langsung mengangkat tanganku untuk meminta Edik diam. Aku mendengar dia mendesis kesal, biar ku tebak dia pasti sedang mengepal tangannya sekuat mungkin untuk memukulku kapan pun dia mau. Tidak peduli kalau dia memukulku, asalkan aku bisa mendapatkan informasi yang kuinginkan.


"Tidak apa-apa, ceritakan saja yang kamu tau," kataku.


Sarah hanya mengangguk dan mencoba mengingat semuanya secara perlahan.


"Saat itu... tiba-tiba semuanya menjadi gelap dan ayah tiba-tiba menjauh dariku, setelah itu ayah kembali padaku dan tiba-tiba ada cahaya dari atas..."


Dia menceritakan semua keadaannya saat pemadaman listrik itu, saat itu aku juga ada di sana.


"Setelah itu?"


"Setelah itu, aku merasa ada seseorang yang menangkap ku dari belakang. Aku berteriak keras karena ingin melepaskan diri, tapi tiba-tiba belakang kepalaku sakit dan aku pun kehilangan kesadaran."


"Lalu?"


"Aku tidak tahu berapa lama aku pingsan, saat bangun aku sudah di tempat yang tidak ku ketahui. Aku tidak tahu di mana itu, tapi aku merasa berada di sebuah rumah yang kosong. Aku panik saat melihat aku terikat dan aku ingin teriak, tapi ada sesuatu menutup mulutku. Aku berusaha keras untuk bisa lepas, kemudian... orang itu ada. Dia memakai pakaian serba hitam, dengan topeng yang sangat menakutkan, dan dia hanya berdiri di sana dengan memandang langit. Aku sangat takut... aku sangat takut... saat orang itu..."


Terlihat Sarah gemetaran saat mulai mengingat orang yang menculiknya itu, tapi dia tetap mau menceritakan semuanya, kayaknya dia terpaksa melakukannya sebab aku terlihat memaksa dirinya.


"Tenanglah, tidak perlu dipaksakan," kataku.


Walaupun informasinya penting, tapi aku tak ingin dia mengalami gangguan kejiwaan diusianya yang sangat muda.


"Lalu... aku mendengar suara seperti pisau yang digores terus menerus seperti saat ayah melakukannya. Karena sangat ketakutan melihatnya aku langsung bersuara keras walau mulutku ditutup, tapi orang itu berbalik dan langsung menuju ke arahku sembari memegang pisaunya. Dia hanya berdiam diri dihadapan ku, aku sangat ketakutan ditatap olehnya dan orang itu langsung menunduk, dan menempelkan pisaunya di pipiku, aku sangat ketakutan saat dia melakukan itu..."


Entah kenapa rasanya aku ingin masuk dalam ingatan Sarah, sebab aku tak sabar ingin mengetahuinya sekaligus. Karena hal itu mustahil, aku hanya diam dan mengamati setiap katanya.


"Setelah itu... orang itu langsung pergi meninggalkanku begitu saja."


"Oh, apa yang dilakukan orang itu?" Tanya Miranda.

__ADS_1


__ADS_2