
"Aku tersanjung mendengarnya, jadi... yang ketiga apa?"
Dia hanya tersenyum dan lalu berkata:
"Dan yang ketiga..., aku ingin melakukan pemerikasaan."
"Pemeriksaan?"
"Iya, aku datang ke sini sebagai pasien dan kamu adalah Dokternya di sini, kan."
Aku memerhatikan dia secara seksama dan tampak dia hanya tersenyum saja melihatku memperhatikannya.
"Tampaknya kamu baik-baik saja, tidak ada masalah dengan kesehatanmu. Apa lagi kamu seorang penari, yang mana bagian olahraga juga, kan."
"Memang aku terlihat sehat-sehat saja, tapi tidak ada salahnya kan melakukan pemeriksaan secara rutin."
"Baiklah."
Aku langsung bangkit dari dudukku dan Miranda turun dari meja.
Aku langsung menuju meja kerjaku dan di seberang ku Miranda sedang mengambil kursi lalu duduk.
"Jadi, apa ada hal yang aneh pada dirimu, maksudku apa sesuatu yang membuatmu tidak merasa nyaman dengan tubuhmu belakangan ini?"
Miranda hanya tersenyum tipis saat aku bertanya seperti itu kepadanya.
"Sekarang dia benar-benar terlihat seperti Dokter...," sembari mengambil posisi duduk yang nyaman. "Bagaimana menjelaskannya ya..., belakangan ini rasanya sangat sesak di dadaku dan entah kenapa jantung berdetak sangat kencang sedemikian rupa."
"Sesak napas dan jantung berdebar sangat kencang ya...," sembari melihat catatan rekap medis ku. "Biasanya ini disebabkan panik yang berlebihan, rasa khawatir, takut, stres. Latihan fisik yang terlalu berat. Konsumsi kafein (kopi), nikotin (rokok), alkohol, obat flu. Penyakit tiroid, kadar gula darah yang rendah, kurang darah (anemia), tekanan darah rendah, demam atau dehidrasi (kekurangan cairan). Tapi, melihat dirimu kayaknya... hanya mengalami stres cukup berlebihan ditambah lagi kamu harus latihan cukup ekstra, mengingat kamu ini seorang penari sekaligus penyanyi yang terkenal, pasti kamu ingin menampilkan semuanya secara sempurna kan."
Setelah menjelaskannya, Miranda hanya tersenyum dan berkata:
"Oh, jadi begitu ya, tapi aku merasa tidak seperti itu pada tubuhku."
"Memang kadang orang tidak menyadarinya, karena ini pandangan medis secara umum, dan kadang terjadinya secara psikologis juga pada orang tersebut."
"Kalau begitu, aku ingin kamu memeriksaku lebih dalam lagi, untuk mengetahui masalahku~."
"Memeriksa mu lebih dalam lagi ya, berarti besok kamu harus datang lagi, agar aku punya waktu untuk mencari solusi masalah kesehatanmu itu, sebelum kembali ku sarankan jangan melakukan terlalu banyak aktifitas dulu."
"Aku rasa tidak perlu menunggu sampai besok, kamu bisa menggunakan benda itu kepadaku...," sembari menunjuk sesuatu ke meja.
__ADS_1
"Stetoskop! Ini hanya alat untuk mendengar suara detak jantung dan mendeteksi kelainannya."
"Tepat sekali. Aku ingin kamu menggunakannya secara langsung untuk mendengar detak 'Hati'-ku ini~."
"Hati? Maksudmu jantung."
"Hehe~."
Aku semakin bingung dibuatnya, aku mengambil stetoskop itu, karena dia bersih keras ingin aku memeriksanya secara langsung. Akhirnya aku bangkit dari kursi ku dan menghampirinya.
"Heh, apa begitu caranya ya?"
"Memangnya ada yang salah?"
"Bukannya alat itu lebih baik langsung disentuh kan ke kulit langsung, agar suaranya terdengar sangat jelas."
"Soal itu...," sebenarnya aku gugup, sebab dia perempuan yang mana aku jarang menggunakan alat ini pada perempuan juga. "Sebenarnya aku jarang menggunakan alat ini kepada wanita dewasa."
"Heh..., jadi kamu gugup ya. Kamu jadi tidak terlihat profesional loh~, sebagai seorang Dokter."
Aku malu mendengarnya, sebab aku masih terbawa arus perasaan pribadi sebagai seorang Dokter. Untuk menjadi Dokter sungguhan, kamu harus memandang pasien sebagai orang yang terluka, sebagai orang yang butuh pertolongan tidak peduli mereka wanita atau bukan, dan aku belum lulus sepenuhnya dari hal itu.
"Eh! Apa yang kamu lakukan?!"
Aku sangat terkejut, tiba-tiba Miranda membuka bajunya dan hanya memperlihatkan BH yang dikenakannya, serta tampak kulit putih yang sangat mulus serta tampak belahan dadanya yang sangat menonjol.
"Besar sekali...," aku langsung memalingkan pandanganku darinya.
"Kenapa Dokter~, kenapa kamu berpaling dariku, aku ingin kamu memeriksaku lebih detil lagi~."
"Baiklah...," sembari mengarahkan stetoskop ini kepadanya.
"Kalau kepalamu menghadap ke samping seperti itu terus, maka kamu tidak menghargai pasien mu, loh~."
Karena terpaksa aku harus menghadapkan ke wajahku tepat ke dadanya ini dan hanya fokus melihat stetoskop ini yang ku tempelkan padanya.
"Ah~~, maaf, soalnya itu sangat dingin."
"Tidak apa-apa, ini sudah hal biasa...," sembari berpikir. "Kenapa dia bikin suara seperti itu, bikin khawatir saja."
Aku terus menggerakkan stetoskop itu dari kiri dan kanan, aku mendengar suara detak jantungnya sangat kencang.
__ADS_1
Deg! Deg! Deg!
Aku langsung melihat wajahnya yang tampak pipinya memerah dan terlihat dia terengah-engah.
"Kurasa dia benar-benar sakit."
Aku langsung menarik stetoskop itu dan kembali ke kursi ku lagi, sedangkan Miranda memakai kembali pakaiannya.
"Aku pikir kamu mengalami kondisi cukup serius."
"Dan apa itu?"
"Kalau diperhatikan kamu tidak memiliki penyakit turunan kan dari keluargamu."
"Tidak ada sama sekali."
"Karena ini aku bisa anggap kondisi kelelahan dan stres berlebihan, tidak ada obat yang bisa aku resep kan padamu, tapi setidaknya aku bisa memberikanmu saran dan tips saja yaitu atur pola makan mu secara teratur serta olahraga ringan secukupnya seperti jalan kaki berapa meter misalnya, dan jangan melakukan aktifitas yang berlebihan untuk kali ini serta carilah aktivitas ringan atau hobi yang bisa membuatmu tenang dan rileks. Cuma itu saja yang bisa aku bantu, apa ada yang lain ingin kamu beritahukan lagi?"
Miranda hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Terima kasih atas pemeriksaannya, Dokter...," sembari bangkit dari kursinya. "Kamu bilang aku harus mencari sesuatu yang membuatku tenang kan."
"Iya."
"Kalau begitu, aku ingin buku-buku mu itu."
Aku langsung berbalik dan melihat semua novelku terjajar secara rapi di lemari.
"Tentu bisa, tapi aku hanya bisa memberikanmu dua buku saja."
"Tidak masalah, itu sudah sangat cukup bagiku."
"Jadi, yang mana kamu mau?"
"Hmm...," sembari melihat-lihat. "Aku ingin yang ini 'Pecahan putri kecilku' dan 'Gugurnya kelopak bunga kenangan ku'."
Aku terkejut dia mengambil novel yang mana banyak orang yang komplain mengenai novelku ini, sebab ada banyak hal yang sulit dipahami di dalamnya menurut orang-orang yang sudah membacanya.
"Aku tak menyangka kamu menginginkan buku yang tidak laris itu," sembari membuka lemari dan mengambil dua buku itu lalu memberikan kepadanya.
"Soalnya aku sudah membaca separuhnya karena sepupuku menghilangkan buku itu, aku kesulitan mencari buku-buku ini lagi dan hanya sedikit mungkin menjualnya di toko buku."
__ADS_1