
6 Mei 1995
Hari ini adalah hari yang membahagiakan dalam hidupku aku bertemu pria yang sangat ku sukai, tapi aku tak menyangka dia bilang juga sangat menyukai ku ingin menjadi kan aku istrinya.
Oh iya nama ku adalah Ayudisa Wati aku anak dari seorang pengusaha pabrik tekstil, selain di anugrahi hidup mewah banyak orang bilang aku wanita yang sempurna selain cantik aku juga sangat pintar, selalu mendapatkan nilai sempurna dari bidang akademik.
Aku berhasil masuk di universitas kedokteran terbaik di kota ini semua nilai-nilai ujian test masuk semuanya nilainya hampir sempurna, hanya saja aku berada di peringkat ke dua.
Orang yang berada di peringkat bernama Adithya Bagaskoro. Aku penasaran dengan orang bernama Adithya ini, aku bertanya ke teman-teman mengenai tentang orang ini. Kata teman-teman Adithya ini orangnya sangat jenius, banyak dekan yang merekomendasikan dia untuk masuk rumah sakit terbaik setelah lulus nanti.
Bahkan dokter terbaik di rumah sakit ternama datang menawarkannya secara pribadi untuk bekerja di rumah sakit mereka. Perasaanku terhadapnya antara iri dan kagum dengannya, hanya saja aku belum pernah bertemu dengannya karena aku orangnya langsung pulang setelah kuliah. Kali ini aku menyempatkan waktu tetap berada di kampus saja.
Sudah jam lima sore aku belum ketemu dia, kata teman-teman dia orangnya menghabiskan waktu di kampus saja sampai jam enam sore. Aku memutuskan pulang saja, akan tetapi saat berjalan di lorong aku tak sengaja menabrak seseorang karena aku melamun sambil jalan.
Aku pun terjatuh karena bertabrakan dengannya orang itu juga jatuh saat bertabrakan denganku, semua buku-bukunya berjatuhan dimana-mana justru dia yang lakukan membantuku dulu berdiri.
"Kamu tidak apa-apa?"
"Hm, tidak apa-apa, terima kasih."
Setelah membantuku berdiri dia mengambil kacamatanya yang jatuh tadi, sesaat kami saling bertatapan aku langsung terpesona dengan wajahnya saat tidak memakai kacamatanya, disitu aku berpikir kenapa tidak ada gosip mengenai pria tampan ini.
"Hei... Kamu tidak apa-apa? Apa ada yang sakit?" Kata pria itu.
"Eh?!" Aku kaget karena terpesona olehnya. "Maaf, kamu bilang apa barusan?"
"Aku bilang apa ada yang sakit, kalau ada aku akan bantu kamu."
"Tidak ada yang sakit, kamu tidak perlu khawatir."
"Syukurlah kalau begitu."
Pria itu langsung menunduk untuk memungut kembali buku-bukunya yang jatuh.
"Sini biar aku bantu."
"Terima kasih.
Setelah mengambil semua buku itu aku bertanya kepadanya:
"Ini semua buku mau di bawah kemana?"
__ADS_1
"Ke perpustakaan."
"Apa kamu setiap hari membaca buku sebanyak ini?" Tanyaku lagi yang tidak henti-hentinya memandang terus wajahnya dari samping, walau pakai kacamata aku tetap terpesona dengannya.
"Tidak semua, ada buku kemarin juga lupa aku kembalikan, jadi aku mengembalikannya sekarang serta buku baru yang selesai aku baca."
Kami berdua sudah berada di depan pintu perpustakaan tapi pintunya terkunci mungkin sudah hampir jam tutup kampus, pria itu mengeluarkan sebuah kunci dan membuka pintu itu. Apa dia pengurus perpustakaan ini? Kalau iya, aku dengan senang hati akan datang setiap hari kesini.
"Terima kasih ya sudah membantu," ucap pria itu.
"Iya sama-sama," ucapku sedikit malu-malu.
Pria di hadapanku ini menatap dengan serius itu membuatku memalingkan wajah darinya.
"Sepertinya kamu ingin menanyakan sesuatu, ayo tanyakan saja tidak perlu malu," katanya.
"Itu... apa kamu bekerja disini?"
"Tidak, aku tidak bekerja disini tapi aku ini mahasiswa disini."
"Eh?! Aku kaget saat mendengarnya. "Kamu mahasiswa juga tapi aku tidak pernah melihatmu di sekitar sini."
"Yah... soalnya aku jarang keluar ruangan, aku hanya selalu berada di perpustakaan ini. Tapi kamu pasti sudah mendengar tentang diriku kan?"
"Serius? Kamu tidak tahu sama sekali?"
"Tidak."
"Ini akan sedikit memalukan tapi aku akan mengatakannya, aku yang berada di peringkat pertama pasti kamu mengetahui hal itu kan?"
Sekali lagi aku terkejut mendengarnya, orang yang selama ini kucari ternyata pria tampan ini. Aku hampir gak bisa menahan ekspresi gembiraku.
"Yah... aku akan memperkenalkan diriku lagi, namaku Adithya Bagaskoro, senang bertemu denganmu," ucapnya sembari mengulurkan tangannya ke depan.
Aku sudah berada di puncak malu ku, aku langsung pergi darinya tanpa membalas uluran tangannya. Akan tetapi dia langsung meraih tanganku dan berkata sesuatu:
"Tidak memberitahukan namamu tidak apa-apa, tapi ini hari sudah mau gelap tidak baik perempuan pulang sendirian, aku akan antar kamu pulang."
"Tapi..."
"Tidak apa-apa, ayo ikut aku, sepedaku ada disebelah sana."
__ADS_1
Aku tidak menyangka padahal aku sudah berkelakuan buruk padanya tapi dia masih tetap ingin membantuku, aku benar-benar merasa bersalah padanya.
Kami berjalan menuju sepedanya yang di parkir tidak jauh dari perpustakaan ini, akan tetapi aku sedikit terkejut melihat sepedanya.
"Maaf ya, sepeda ku ini sepeda lama soalnya ini milik kakek ku, aku tidak punya cukup uang buat beli yang baru."
"Tidak apa-apa, malahan aku lebih suka barang antik karena jauh lebih berharga di bandingkan barang-barang keluaran baru sekarang."
"Terima kasih."
Dia menaiki sepedanya dan menyuruhku duduk di belakang lalu dia juga memintaku memeluknya dari belakang katanya agar tidak jatuh. Jujur saja aku sedikit malu dan sangat senang, selama perjalan angin sepoi-sepoi berhembus dengan lembut di tambah lagi terlihat warna merah di langit pada waktu Matahari terbenam di ladang sawah padi, aku merasa ini suasana yang sangat romantis tanpa sadar aku menyandarkan kepalaku di punggungnya.
"Kita sudah sampai, kamu bisa turun sekarang."
Aku tidak mendengar semua yang di ucapnya karena aku tenggelam dalam lamunan asmara.
"Hei, Apa kamu tidak apa-apa?"
"Eh?! Yah! Maaf-maaf aku akan turun sekarang."
Saat turun aku sangat terkejut karena aku berada tepat di depan rumahku, padahal aku belum cerita sama sekali mengenai tempat tinggal ku.
"Aku tahu pasti kamu sangat terkejut kan kenapa akuĀ bisa tahu kamu tinggal disini, soalnya aku sering melihatmu keluar masuk di rumah ini."
"Begitu ya... tapi kamu tinggal di sekitar sini juga?"
"Rumahku tidak jauh dari sini kamu hanya perlu jalan lurus di sana dan melewati lima rumah lalu ada rumah kecil di sana, aku tinggal di rumah kecil itu."
"Oh... kamu tinggal disitu ya," ucapku yang masih malu-malu. "Ngomong-ngomong aku minta maaf yang barusan tadi."
"Tidak apa-apa, tidak perlu di pikirkan."
"Oh iya, soal namaku..."
"Ayudisa Wati kan."
"Eh! Bagaimana kau bisa tahu?"
"Aku tahu dari ayahmu dan kami sudah lama saling kenal bahkan dia yang membantuku selama ini, baiklah aku duluan ya... sampai jumpa."
"Iya sampai jumpa, hati-hati jalan."
__ADS_1
Aku tak menyangka pertemuan kami kebetulan atau ini yang dinamakan takdir, memikirkannya saja membuatku deg-degan, kurasa malam ini tidurku akan nyenyak dan bermimpi indah.