
13-07-2005
Amsterdam, Belanda.
Pukul 00-37
Langit yang polos nan gelap dan hanya dihiasi kelap-kelip cahaya bintang di atas sana. Suasana yang tenang dan dibarengi dengan hembusnya angin malam yang dingin, siapa pun ada yang merindukan suasana ini.
Suasana membuat pikiran tenang dan hanya diri sendiri yang biasa diajak mengobrol dikala waktu tenang ini.
Di langit yang dingin ini, tampak sebuah bangunan apartemen mewah dan besar. Tapi, di bangunan itu ada satu jendela yang masih menampakkan cahaya kehidupan.
Di balik jendela menyala itu, tampak seorang gadis muda dengan gaun mini yang berwarna indigo yang dikenakannya. Terlihat dia sedang duduk di sebuah sofa dekat dengan jendela tersebut, wanita cantik ini hanya diam dan duduk sembari menatap terangnya langit oleh bulan purnama dan banyaknya cahaya kecil bintang sebagai penghiasnya.
"Huff*..."
Dia memandang langit malam yang berbintang lewat jendelanya dan menghela napas. Dia sudah melihat terlalu banyak pemandangan seperti ini. Pemandangan yang sama, malam yang berbeda.
Tok... Tok... Tok...
Terdengar suara ketukan di balik pintu kayu dengan dihiasi warna cat berwarna putih dengan corak bergaris berwarna emas.
"Masuklah, pintunya tidak dikunci."
Klak... Ngek....
Terdengar suara pintu tersebut terdorong dengan lembut dan tampak seorang wanita Asia memasuki ruangan ini dengan senyum lembutnya.
"Ada apa berkunjung di tengah malam begini, tidak seperti biasanya," kata wanita cantik yang duduk itu.
"Aku datang ke sini hanya karena bosan saja, dan lagi... tidak seperti dirimu yang menghela napas di malam larut ini, Miranda."
Mendengar itu membuat Miranda Jasfi sang gadis berbakat dalam sebuah tarian dan bernyanyi di atas panggung.
"Ah... tidak seperti dirimu juga nona Chichi yang mampir ke kamarku malam-malam begini."
"Hmph, jangan salah paham... malam yang cerah seperti ini sangat cocok untuk mengamati bintang. Dan pemandangan dari kamarmu lebih baik dibanding kamar lain, jadi aku datang ke sini. Apa kamu keberatan?"
__ADS_1
Chichi duduk di depan Miranda. Sofa kulit yang lembut membuatnya hampir tenggelam dalam kenyamanan, yang membuatnya hampir lupa akan tujuannya datang ke sini. Chichi mencoba meluruskan punggungnya sebisa mungkin tanpa Miranda sadari, agar dia tidak tenggelam dalam lembutnya sofa ini sehingga bisa membawanya menuju dalam mimpi yang penuh dengan langit cerah dan pelangi.
"Tapi aku tak menyangka kamu belum tidur juga," lanjut Chichi.
"Aku sudah terbiasa tidur larut malam. Mungkin di malam yang sunyi seperti inilah otak manusia baru akan terbangun... di malam yang sepi seperti ini, orang-orang melepaskan topeng dan mengungkapkan jati dirinya."
Chichi tertawa kecil mendengar itu dan berkata:
"Perkataanmu cukup menarik. Berarti... menurutmu apa yang kamu katakan, Miranda berdiri di hadapanku sekarang adalah Miranda yang sebenarnya?"
"Bukankah nona Chichi yang sekarang juga berbeda dari biasanya?"
Kedua gadis ini saling melemparkan pertanyaan kecil masing-masing, tapi hal itu tidak mengganggu ketenangan malam yang cerah ini.
"Heh... sepertinya keberadaan kita sama-sama redup di malam yang dingin penuh bintang ini."
"Hehe. Nona Chichi begitu tertarik pada bintang, apakah bersedia menjelaskan sedikit padaku?"
"Lah? Tidak masalah, tapi aku mengira kamu tidak akan tertarik."
"Bagaimanapun, rasa keingintahuan akan hal yang tidak diketahui adalah sifat manusia, bukan?"
"Baiklah. Tapi astrologi adalah ilmu yang rumit, jadi hari ini aku hanya akan menyampaikan dasar-dasarnya padamu."
Chichi langsung memandang bintang-bintang di balik jendela kaca ini, dan Miranda mengikuti arah pandangnya menuju ke arah jendela juga dan melihat bintang-bintang.
"Apa kamu lihat bintang yang paling terang itu?" lanjut Chichi sembari menatap bintang-bintang. "Itu namanya 'Beichen', atau disebut juga 'Bintang Utara'. Koordinatnya tidak berubah sepanjang tahun, jadi para pengembara biasanya menggunakannya sebagai petunjuk arah."
"Ya, aku bisa melihatnya... terang sekali," sembari menatap bintang terang itu dengan tatapan sayu.
"Tidak jauh dari sana, ada satu pola bintang yang dibentuk oleh tujuh bintang, yaitu disebut 'Bintang Biduk'. Seperti yang tertulis di dalam buku kuno keluargaku: 'Mengarah ke timur berarti musim semi, mengarah ke selatan berarti musim panas, mengarah ke barat berarti musim gugur, dan mengarah ke Utara berarti musim dingin," jelas Chichi. "Sebelum kalender ditemukan, orang-orang membedakan musim dengan cara mengamati bintang-bintang. Meski hari semakin dingin, tapi bintang-bintang ini... mengisyaratkan bahwa musim semi akan segera datang."
Miranda hanya diam saja mendengar penjelasan itu, tampak terlihat dia tidak peduli tapi dia adalah seseorang yang serius mendengar sesuatu walau hal sepele sekalipun.
Keduanya memandangi bintang-bintang yang jauh di langit, dan sepertinya melihat sesuatu yang lebih jauh dibanding bintang-bintang itu.
"Miranda, apa kamu pernah melihat bintang jatuh?"
__ADS_1
Perhatian Miranda langsung tertuju kembali ke arah gadis Asia berkacamata ini.
"Bintang jatuh...? Apa maksud nona adalah batu angkasa yang menembus atmosfer bumi?"
Mendengar itu hanya membuat Chichi terdiam, sebuah pernyataan yang logis dan tidak ada sedikit pun campuran dari imajinasi yang dilontarkan barusan.
"Konon, jika melihat bintang jatuh maka keinginanmu akan terkabulkan," lanjut Miranda. "Tapi, tentu itu hanya khayalan belaka."
"Tidak, itu belum tentu."
Mendengar jawaban itu membuat Miranda sedikit bingung.
"Apa kamu pernah mengucapkan keinginanmu pada bintang jatuh?" Lanjut Chichi.
Mendengar itu membuat Miranda tersenyum dan menganggap hal itu hanya sebuah candaan belaka.
"Apa aku terlihat seperti orang yang akan melakukan hal itu?"
Chichi tertawa dan pikirnya itu hal mustahil bagi orang yang memiliki pemikiran penuh kelogisan.
"Benar juga. Kita bisa mencobanya jika ada kesempatan malam ini," ucap Chichi. "Bintang memang tidak bisa membantu kita... tapi saat mengucapkan keinginan, kita sebenarnya mengingatkan diri sendiri. Sama seperti Beichen yang menuntun kita untuk membentuk masa depan yang kita ingin. Mungkin... ini juga cara lain untuk 'mewujudkan keinginan' kita."
Chichi berdiri dari sofa lembut itu dan meregangkan tubuhnya. Dia memandangi bintang-bintang lagi melalui jendela kaca, terlihat bintang-bintang mulai samar dari kejauhan karena awan mulai menutupi langit dingin ini.
"Baiklah, sudah sangat larut. Masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan sebelum kembali ke Beijing. Aku pergi dulu."
"Nona Chichi masih saja sibuk seperti biasa."
"Hmm... besok aku akan mengirimkan sebuah paket kepadamu."
"Paket? Hal apa yang ingin kamu berikan kepadaku?"
"Hanya sebuah oleh-oleh berasal dari kampung halaman."
Mendengar itu membuat Miranda tersenyum dan berkata:
"Bagaimana kalau pagi ini, kamu datang ke salon kecantikan milikku. Aku sendiri yang akan melayanimu secara langsung."
__ADS_1
Chichi menanggapinya dengan senyuman dan berjalan ke arah pintu keluar.