IDENTITY : The Dark Story

IDENTITY : The Dark Story
Diary 2


__ADS_3

13 Oktober 1995


Jujur ini hari dan waktu paling membahagiakan dalam hidupku. Karena hari ini adalah hari...


•••


•••


"Hei, bisa turun sebentar."


Tanpa menjawab apapun aku langsung turun begitu saja, aku tidak tahu kenapa memintaku turun tapi dia juga turun dari sepedanya.


"Mataharinya terlihat indah ya..."


Aku tidak tahu kenapa ia tiba-tiba berkata seperti itu, tapi memang mataharinya terlihat indah. Warna merah di langit pada waktu Matahari terbenam di ladang sawah padi, ditambah lagi angin yang bertiup dengan lembut sampai-sampai membuat rambutku terangkat dengan tenang.


"Iya, benar-benar indah..." kataku.


Setelah beberapa saat memandang matahari terbenam, Adithya tiba-tiba mengarahkan pandangannya kearah ku dan menatap dengan serius.


"Kenapa kamu menatapku seperti itu..." kataku yang tidak berani menatap balik karena malu.


"Apa kamu... ada orang yang kamu sukai?"


Seketika aku terkejut karena tiba-tiba bertanya seperti itu...


"Itu... ada..."


"Apa... dia tahu bahwa kamu menyukainya?"


Aku tidak menjawab hanya menggelengkan kepala saja.


"Begitu ya... jadi aku masih punya kesempatan dong."


Mataku terbelalak dan secara tidak sengaja aku langsung menatap matanya...


"A-apa... maksudmu..." kataku lalu memalingkan pandanganku dari wajahnya lagi.


Seketika Adithya memegang kedua tanganku dan berkata:

__ADS_1


"Aku menyukaimu..."


DEG


Jantung berdetak dengan kencang rasanya ingin berlari dari sini secepat mungkin, tapi itu tidak mungkin karena kedua tanganku digenggam erat olehnya.


"Anu... kamu pasti bercanda kan," kataku yang masih memalingkan wajahku darinya akan tetapi dia menarik daguku dan berkata:


"Coba tatap mataku...," katanya sembari berusaha mengarahkan wajahku dihadapannya. "Apa aku benar-benar bercanda?"


Mata kami benar-benar bertemu, aku melihat matanya yang sangat terlihat tajam bak elang. Aku benar-benar melihat keseriusan darinya disisi lain aku merasa ragu, apa ia benar-benar menyukaiku? Aku yang sangat pendek dan terlihat lemah, apa ia benar-benar menyukaiku? Hatiku rasanya berat sekali.


"Sebaiknya kamu hentikan sandiwara ini!" Kataku sembari melepaskan genggamannya dan berbalik meninggalkannya.


Akan tetapi...


"A-apa yang... kamu lakukan! Cepat lepaskan aku! Nanti ada orang yang melihat!" Sesaat mau meninggalkannya tiba-tiba ia meraih salah satu tanganku dan menarik diriku di pelukannya.


"Bau melati... benar-benar cocok untukmu."


"Apa!" Aku terkejut mendengar dan aku pun semakin meronta lepas dari pelukannya, dan akhirnya bisa lepas darinya. "Tak ku sangka kamu orangnya ternyata begitu."


"Maaf!" Sekali lagi dia meraih tanganku. "Aku tak bermaksud seperti itu, maksudku tadi... melati sangat cocok padamu."


"Apa maksudmu?!" Tanyaku yang masih kesal.


"Kamu benar-benar seperti melati, kamu akan mengetahuinya nanti kenapa aku bilang begitu."


Aku semakin bingung dibuatnya, tanpa pikir panjang aku berbalik menjauhi dirinya dan segera pulang ke rumah...


"Kamu pergi begitu saja tanpa menjawab ku sama sekali?"


Seketika langkahku terhenti dan berkata:


"Bukannya sudah jelas barusan."


"Itu bukan jawaban, melainkan sikap yang berusaha menghindari sesuatu."


"Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan, tapi setidaknya itu mewakili semua jawabannya kan."

__ADS_1


Setelah aku berkata seperti itu, Adithya mendekat kepadaku dan entah kenapa kali ini aku tidak bisa menjauh darinya.


"Tentu saja itu beda, cantik. Mulut yang kamu ucapkan belum tentu sejalan dengan pikiranmu, sikap yang kamu tunjukkan belum tentu kemauan hatimu, seperti kata pepatah 'jangan lihat buku dari sampulnya' kalau pernyataan yang ku ucapkan barusan belum jelas bagimu, maka aku benar-benar akan membuka diriku padamu..."


Kenapa dia senekat itu padahal aku sama sekali tak mengharapkan menunjukkan semua yang ia sembunyikan...


"Asal kamu tahu aku marah saat teman-temanmu berusaha mendekatkan mu dengan pria pilihan mereka, aku cemburu saat kamu dekat dengan pria lain yang akrab denganmu, aku bela-belain menunda bahkan menolak semua ajakan teman-temanku hanya untuk bisa mengantarmu pulang dan bisa berduaan denganmu, aku bahkan jarang mengikuti kuliah hanya untuk bisa menghabiskan waktu denganmu di perpustakaan, aku mengambil banyak buku di perpustakaan hanya untuk menarik perhatianmu, aku sangat percaya akan diriku bahwa bisa mendapatkan dirimu tapi melihat ini sekarang aku merasa semuanya jadi sia-sia. Aku sangat menginginkan dirimu, aku benar-benar mencintaimu."


DEG


Sesak yang kurasakan di dadaku ini dan bagaikan disetrum listrik yang membuatku terkejut tidak bisa mengeluarkan suara sedikitpun, yang bisa kulakukan hanyalah menutup mulut dengan kedua tanganku. Aku tak menyangka mendengar semua pernyataan darinya, aku tak bisa membendung air mata yang ingin keluar dan tanpa sadar sudah membasahi kedua pipiku.


"Bodoh! Bodoh, aku... tidak bermaksud...," kataku yang tiba-tiba langsung memeluknya dari depan.


"Tidak apa-apa, aku tahu kamu bukan wanita seperti itu," balasnya sembari membalas pelukanku dan mengusap dengan lembut rambutku.


"Sebenarnya aku... tidak yakin akan diriku, ini terlalu mendadak dan belum siap sama sekali."


"Tidak apa-apa, walau kamu langsung menjawab 'tidak' aku akan menerimanya dengan senang hati."


"Eh!" Seketika aku langsung melepas pelukanku. "Bukan begitu maksudku..."


CUP...


Secara tiba-tiba... Adithya mencium keningku dan berkata:


"Kalau begitu aku sudah diterima dong?"


Sesaat dia berkata seperti itu, aku hanya menundukkan pandanganku dan mengangguk dengan pelan karena malu.


"Hehe, jadi kita sudah resmi jadian kan," katanya sembari menunjukkan senyuman tulusnya. "Sebaiknya kita pulang segera mungkin orang tuamu mencari mu."


Adithya menaiki sepedanya dan aku duduk dibelakangnya, tanpa sepatah katapun aku lontarkan mungkin karena aku malu atau senang? Pipiku rasanya panas dan perasaanku rasanya lepas dari beban yang ada.


"Jadi setiap pagi aku akan mengantarmu pergi kampus, kamu tidak keberatan kan?"


"Terserah kamu... kutu buku," jawabku yang sembari tersenyum.


"Hehe."

__ADS_1


__ADS_2