IDENTITY : The Dark Story

IDENTITY : The Dark Story
Diary Adithya Bagaskoro


__ADS_3

Ini memang pemandangan tragis.


Hujan deras turun tiada henti, tapi apinya terus berkobar.


Bangunan yang dulunya disebut "rumah" telah hancur terbakar hingga hanya kerangkanya saja yang dapat dikenali.


Hanya bulan purnama yang sunyi di langit yang masih menatap semua kekejaman yang berkobar ini dengan tenang.


Pria ini berdiri di tengah hujan yang dingin, menatap untuk waktu yang lama.


Di sampingnya ada seorang gadis cantik nan anggun telah terbaring di tanah yang basah dan dingin, tubuh kecilnya seperti boneka yang terlantar, dia benar-benar sudah tiada di dunia ini.


"Sarinande~... putri sarinande..., mengapa tangis~... matamu bengkak..."


Suara hujan lebat menenggelamkan semua suara, seorang wanita berjalan dengan santai di tengah hujan yang gelap ini, dia membawa payung hitam dengan pakaian serba hitam juga, seolah-olah dia sudah berduka kepada seseorang terlebih dulu.


"Aduh mama~..., aduhlah papa..., lah... asap api~masuk dimata...," wanita ini berjalan ke arah pria yang meratapi kematian gadisnya. "Entah kenapa lagu ini terasa sangat indah ketika dia menyanyikannya."


Pria ini menoleh ke arah kiri yang mana posisi wanita itu juga muncul, dan dia bangkit dari kepurukannya.


"Apa kamu bisa membantuku?" Tanya pria itu.


"Tentu, selama kamu memenuhi semua perjanjiannya," jawab wanita itu.


"Sebutkan apa saja syaratnya, aku akan menyetujuinya."


Wanita ini hanya tersenyum mendengar jawaban pria putus asa ini, dan pria ini sekali lagi menatap gadis yang telah kehilangan nyawanya dan dengan lembut memeluknya.


"Aku ingin kamu mempertemukan dan mendekatkan aku dengan seseorang, tapi bukan sekarang, lima tahun akan datang aku akan segera menemuinya."


"Dan siapa orang itu?"


"Dia salah satu junior-mu, dia orangnya sangat manis dan menarik, orang itu selalu pasang wajah memelas saat ingin melakukan sesuatu."


Pria ini berpikir sejenak dan mencoba mengingat orang yang dimaksud oleh wanita ini.


"Oh, dia yah, aku ingat dia siapa, dia orangnya memang aneh tapi.. dia memiliki segudang pengetahuan yang disembunyikan dalam kepalanya, dia hanya mau bertindak jika seseorang memintanya mencari atau memberitahukan sesuatu yang mereka tidak ketahui. Aku tidak tahu kamu punya hubungan apa dengannya, tapi hanya itu yang kamu minta? Bukan buku ini lagi?"


"Aku sudah tidak tertarik mengenai buku itu lagi. Baiklah, aku akan pergi, jangan lupa dengan kesepakatan itu."


Wanita ini berbalik dan meninggalkan dua pasangan ini, dan berjalan menuju arah yang gelap, arah yang tidak di sinari oleh bulan purnama.


Pria ini juga berangkat sembari mengangkat tubuh gadis dicintainya ini dan menuju ke rumah yang dulunya ditinggali oleh gadis ini beserta keluarganya, tapi sekarang rumah itu sudah menjadi abu yang berterbangan di mana-mana.


Kebakaran itu terus melahap setiap rumah yang ada di dekatnya, termasuk taman Bunga Melati yang dirawat oleh gadis yang dicintainya ini.


Dia melihat ke taman yang dulunya hamparan bungan jadi abu dan ranting mati dengan sedikit bara api yang tersisa.


Tapi dia tidak ragu-ragu, dan menempatkan gadis itu di atas hamparan tersebut.

__ADS_1


"Sayang, aku akan menepati janjiku padamu dan aku juga akan berjanji lagi, bahwa kita akan bisa berkumpul lagi bersama Siti dan Iwan lagi."


Seketika pria ini terkejut rasanya seperti mimpi kilas balik, dalam pandanganya dia melihat bunga melati yang seharusnya hangus langsung kembali ke tampilan semulanya.


Kelopak berwarna putih ini berterbangan dan berkumpul pada satu tempat, seluruh kelopak ini berkumpul dan menyelimuti gadis ini dengan lembut bak seperti "Putri Tidur".


Saat bara api mendekat, seperti perahu yang didorong mundur oleh air pasang, bara apinya padam dengan lemah.


Apa ini ilusi? Pria itu tidak peduli apa yang dilihatnya kebohongan atau pun bukan, tapi dia merasa sangat lega, bahwa seluruh kenangan bersama gadis dicintainya ini tidaklah terbakar melainkan tumbuh dengan mekar.


Seketika dia mengeluarkan air mata yang ditahan sebelumnya dan kini telah membasahi kedua pipinya.


"Aku janji..., aku akan membawamu kembali di pelukanku."


•••


•••


"Maafkan aku, sayang."


Dor! Dor! Dor!


Tiga tembakan beruntun dan tepat mengenai dada kirinya dan menembus paru-parunya.


Tapi, wanita ini langsung berlari sekuat tenaga dengan luka semakin parah di tubuhnya.


Dia berlari terus dan darah semakin banyak keluar dari lukanya.


Tak!


Seketika kakinya tersandung oleh sesuatu dan gadis ini mencoba bangkit kembali, tapi sayang, luka yang dialaminya membuat tubuhnya semakin sulit ia topang dan pada akhirnya gadis ini berbaring di tanah basah dan menunggu kematiannya secara perlahan.


"Seharusnya ini hari terbahagia dalam hidupku, tapi kenapa kamu melakukan kepadaku, padahal aku sangat mencintaimu..."


Air mata terus keluar dan wanita ini entah kenapa tak sanggup mengeluarkannya.


"Aku sangat membencimu, kutu buku.."


Setelah beberapa saat memandang bulan dan bernyanyi karena mengingat kenangan-kenangan indah menurutnya.


Seketika kesadarannya menghilang dan gadis ini harus terbaring kesakitan di tanah kotor dan basah ini.


Setelah beberapa saat, tiba-tiba seseorang memegang tangan dinginnya ini dan berteriak kepadanya.


"Aahh... kumohon bangunlah... kumohon bangunlah sayang..."


Seketika gadis ini pun tersadar dan membuka matanya dengan sangat berat, dan seluruh pandangannya sangatlah kabur, tapi dia melihat jelas wajah orang memegang tangannya ini.


"... ka... mu..."

__ADS_1


"Ya... ini aku... ini aku, sayang..." ucap pria itu dengan penuh air mata. "Kumohon... bertahanlah... kumohon... dan maaf... maaf..."


Gadis ini bingung, kenapa pria ini menangis, bukannya dia tidak mencintai dirinya dan hanya dimanfaatkan sebagai alat balas dendam saja.


Gadis itu tahu kenapa dia mengucapkan maaf terus menerus, tapi menurutnya itu hanya sia-sia saja.


"Adikku... mereka..."


Gadis ini teringat dua adiknya, yang mana seluruh keluarganya beserta orang-orang terdekatnya dibunuh secara kejam dan dia tidak melihat sama sekali adik-adiknya di sana.


"Mereka baik-baik saja, dan mereka berada di tempat yang aman." Jelas pria itu. "Kamu juga akan segera membaik... jadi, bertahanlah kumohon."


Bahkan harapan itu membuat gadis sekarat dalam kesendiriannya tersenyum dengan tulus dan merasa sangat lega, sebab mereka baik-baik saja.


Gadis ini tiba-tiba teringat sesuatu, bahwa pria yang ada di sampingnya ini ternyata sangat mencintai dirinya, sebab sesaat sebelum dia ditembak olehnya.


Ada seorang pria besar menatap dirinya dengan nafsu yang sangat besar, seperti singa yang siap menerkam rusa. Pria besar ini menghampiri pria yang sudah menjadi suaminya.


Gadis ini tak menyangka bahwa ini semua sudah direncanakan oleh mereka dan pria yang selalu bersamanya ini ternyata hanya hubungan penuh kebohongan.


Sesaat pria besar semakin mendekati dirinya, seketika dia melihat pria dicintainya mengarahkan arah pistolnya kepadanya dan menembak dirinya.


"Ya... aku baru ingat, ternyata kamu melakukan ini karena terpaksa, ternyata kamu benar-benar mencintaiku.."


Gadis ini melihat prianya sangat bersedih dan masih memegang terus tangannya yang dingin dan dia tersenyum melihatnya.


"Kondisiku... aku tahu sendiri..." ucap gadis ini dengan suara lemah. "Sudah sampai sini... aku... tidak mungkin lagi..."


"...Maaf... seandainya aku... maaf..."


Gadis ini semakin sedih, sebab pria yang dicintainya ini merasa sangat terbebani dan bersalah, dia tak ingin melihatnya harus menjalani hidup penuh rasa bersalah nanti.


"Kamu... tidak perlu meminta maaf... aku... tidak akan memaafkan mu..." ucap gadis itu dengan suara lemah penuh ketajaman. "Terhadap kamu... masa lalu... sebanyak apa kepercayaan ku... sekarang... sebanyak itu pula kebencian ku..."


"Tapi... kalau kamu benar-benar ingin maaf dariku... berjanjilah padaku..." lanjut gadis itu. "Lindungilah adik-adikku... jagalah mereka..."


"Aku janji."


Jawaban tanpa ragu-ragu, jawaban penuh ketulusan dari hatinya.


"...Ingat janji itu... dan... ini adalah kutukan... kutukan bagimu juga..."


"Iya aku berjanji." Jawab pria itu. "Sekalipun harus mengorbankan jiwaku, aku pasti selalu menjaga mereka hingga akhir hayat ku. Aku janji."


Gadis sengaja mengatakan itu semua agar pria yang dia cintai ini, tak lagi menaruh perasaan padanya, agar dia bisa menjalani hidup baru dengan cinta baru juga.


"Dengan ini aku bisa tenang, dan untukmu sayang, kumohon jalani lah hidup tanpaku dan kamu tak perlu merasa bersalah kepadaku. Aku tahu kamu melakukan ini demi diriku juga, seperti yang kamu dulu bilang bahwa kamu sangat takut kehilangan dirku, sangat takut aku diambil orang lain darimu, dan sangat takut aku akan dinodai oleh orang lain. Kamu mengatakan itu semua tanpa keraguan sedikit pun, sebab aku sudah mengetahui saat menatap matamu bahwa kamu sangat tulus kepadaku, maka dari itu..."


"Aku mencintaimu."

__ADS_1


Hujan deras ini membuat suara kecil dari gadis ini tak tersampaikan kepada pria yang putus asa ini dan pada akhirnya dia terlelap di keabadiannya dan tak bersuara lagi.


__ADS_2