IDENTITY : The Dark Story

IDENTITY : The Dark Story
Pemimpin (Part 2)


__ADS_3

Disisi lain...


Adithya, Tina dan Siti bergegas berlari menuju mobil yang sudah di parkir diluar stasiun.


"Ibu Tina... kenapa kita harus meninggalkan Paman kacamata itu?" Tanya Siti.


"Iya, kenapa kamu sangat percaya dengannya?" Lanjut Tanya dari Adithya.


"Aku bisa kesini bisa berkat dia," jawab Tina. "Jadi intinya dia sangatlah kuat."


Tersirat wajah kebingungan dari Adithya dan Siti, terlihat gerbang utama dari stasiun ini...


"Cepat! Mobilnya ada diluar sana," seru Tina.


Beberapa meter lagi mencapai gerbangnya akan tetapi...


"Tidak mungkin..." kata Tina dengan wajah syok.


"Kak Adit..." kata Siti langsung memeluk Adithya karena ketakutan.


"Tak ku sangka mereka sudah menyambut kita, hehe..." ucap Adithya dengan suara gemetaran.


Disaat jalan menuju kebebasan sudah didepan mata, tapi sayang disitu juga malaikat kematian sudah menunggunya. Keputusasaan sudah menguasai mereka bertiga dan itu tampak jelas dari wajahnya.


"Hanya sampai disini saja kah," kata Adithya.


"Kak..." Kata Siti yang semakin erat memeluk Adithya.


"Sial! Padahal tinggal sedikit lagi dan peluru tersisa lima biji," ucap Tina yang sangat kesal.


"Kikiki... hoarrhhh..."


Teriak makhluk hitam kecil itu tapi teriakannya kali ini tidak membuat pusing seperti biasanya, akan tetapi ada sesuatu yang hitam muncul dari udara disekitarnya serta mereka yang berdiri dari tadi melempar beberapa jubah di langit, dan hitam-hitam yang berterbangan itu langsung masuk ke jubah.


"Cih, jumlah mereka semakin bertambah," ucap Tina.


WOOSSHH...


Seketika angin bertiup semakin kencan di sekitar stasiun ini.


"Kenapa anginnya tiba-tiba kencan begini?" Ucap Siti yang kebingungan.


"Siti, jangan menjauh dariku," ucap Adithya.


"Apa jangan-jangan..." gumam Tina.


PIUH... PIUH...


Tanpa peringatan dan tanpa adanya suara seketika sebuah benda kecil melaju dengan kecepatan suara, dan berhasil mengenai dua BWG di sana.


"Kak Adit lihat..." kata Siti sembari mengarahkan jarinya ke depan.


Mendengar perkataan gadis muda ini Adithya dan Tina, langsung mengarahkan pandangan mereka ke depan.


"A-apa yang...!" Kata Tina penuh keterkejutan.


"Tak ku sangka... benda macam apa yang dilempar barusan, sehingga bisa memusnahkan sepenuhnya BWG itu. Bahkan peluru buatan ku sendiri tidak seefektif ini, hehe..." terang Adithya dengan wajah penuh keterkejutan.

__ADS_1


Dengan semua pemandangan penuh kejutan itu, seketika datang lagi angin kencan kali. Disisi lain firasat atau instingnya yang tajam Adithya berteriak:


"Semuanya! Tiarap!"


Tanpa bertanya apapun Tina dan Siti ikut tiarap langsung. Karena teriakan itu...


PIUH... PIUH... PIUH...


Benda kecil dengan kecepatan suara datang secara bertubi-tubi yang memusnahkan semua BWG di sana, terkecuali makhluk hitam kecil itu.


"Kak!!" Teriak Siti yang sangat ketakutan.


"Tetaplah menunduk! Tina berikan pistol mu!" Teriak Adithya.


Tina langsung melempar pistolnya ke Adityhya. "Ini! Ambillah!"


Adithya berhasil mendapat pistol milik Tina dan ia langsung mengarahkannya ke makhluk hitam kecil itu.


"Siti, tutup rapa-rapat telingamu!" Ucap Adithya.


"Hem," Siti menuruti apa yang dikatakan Adithya dan ia pun menutup kedua telinganya.


DOR DOR DOR


Dua tembakan meleset dan satu tembakannya berhasil mengenai tangan makhluk itu, dan makhluk hitam kecil itu mengerang kesakitan lalu...


"Hoarrrhh...." teriakannya semakin mengeras membuat kepala sangat pusing mendengarnya.


"Kak! Kepalaku sakit!" Kata Siti yang kepalanya kesakitan mendengar teriakan itu.


DOR


DOR


Tembakan terakhir berhasil mengenai kepalanya seketika makhluk hitam kecil itu jatuh dari atas.


"Apa kalian baik-baik saja?" Tanya Adithya.


"Aku baik saja," jawab Tina. "Bagaimana denganmu, Siti?"


"Kepalaku sedikit pusing saja, Bu," jawab Siti.


Setelah makhluk hitam kecil itu tidak berteriak lagi, seketika angin kencannya berhenti dan benda kecil yang dilempar bertubi-tubi berhenti juga.


"Sebaiknya kita harus cepat pergi dari sini," kata Tina.


Mereka bertiga bergegas menuju mobil yang diparkir, setelah sampai di sana mereka bertiga langsung menaiki mobilnya dan langsung tancap gas menjauh dari stasiun.


"Fiuh... akhirnya bisa keluar dari neraka," kata Tina sembari menghela nafasnya.


"Tapi..." kata Siti yang tampak khawatir.


"Kenapa sayang?" Tanya Tina.


"Kita meninggalkan Paman berkacamata itu," jawab Siti.


"Sial! Aku lupa soal itu, Karena panik aku pergi begitu saja," ucap Tina dengan kesal.

__ADS_1


"Sebaiknya aku putar balik mobilnya."


"Tidak usah," kata Adithya secara tiba-tiba. "Sebaiknya kita pulang saja."


"Tapi kan... kak Adit..." kata Siti yang terkejut mendengarnya.


"Bukannya aku tidak punya hati hanya saja..., sekuat apapun dia mana mungkin bisa melawan semua makhluk itu," terang Adithya. "Mungkin dia sudah..."


Susana dalam mobil seketika terasa hening, kesedihan melingkupi suasana itu akan tetapi...


DRIINNGG... DRIINNGG...


"Siapa yang menghubungiku?" Tanya Tina dan langsung mengambil Handphone miliknya.


"Ada apa, Tina?" Tanya Adithya yang melihat Tina syok.


"Ini... yang tertulis disini namamu," jawab Tina.


"Tapikan, Handphone milikku diambil makhluk kecil itu," ucap Adithya. "Coba angkat."


Tina mulai mengangkat panggilan itu dan...


"Akhirnya diangkat juga, kalian belum menjauhkan?" Suara seseorang dari yang menghubungi.


Suasana seketika hangat orang yang dikira sudah tidak ada ternyata tiba-tiba menghubungi mereka.


"Syukurlah! Kamu baik-baik saja," balas Tina. "Kamu ada dimana sekarang?"


"Sekarang aku berada ditempat mobil kita parkir sebelumnya," jawab Fu. "Saat aku bergegas kesini kalian langsung meninggalkanku begitu saja, untung Handphone milik Tuan Bagaskoro tergeletak disini."


"Baiklah, tunggu kami di sana," balasan Tina.


"Apa itu dari Paman berkacamata?" Tanya Siti.


"Iya, itu darinya," jawab Tina.


"Syukurlah, dia selamat, terima kasih Tuhan," ucap Siti yang sangat senang.


"Sebaiknya kita bergegas ke sana," kata Adithya. "Sebelum para BWG itu kembali berkumpul di sana."


Tina berbalik arah dan langsung tancap gas menuju Stasiun Hall lagi.


•••


Beberapa menit berkendara mereka akhirnya sampai di stasiun lagi, tampak siluet seseorang tidak asing dia lagi bersandar di sebuah tiang dengan nafas terengah-engah.


"Kamu baik-baik saja kan? Apa ada yang terluka? Tanya Tina dengan panik.


"Jangan khawatir, aku baik-baik saja," jawab Fu. "Aku hanya sangat lelah."


"Maaf Tuan, ini salahku," kata Adithya. "Aku langsung meminta Tina menjauh dari sini tanpa menunggu anda."


"Tidak apa-apa, aku mengerti kok," balas Fu. "Sebaiknya kita bergegas pergi dari sini, dan ini aku kembalikan."


Fu mengembalikan Handphone pemiliknya yaitu Adithya.


"Terima kasih," balas Adithya. "Mari biar aku bantu berdiri."

__ADS_1


"Terima kasih."


Mereka berempat berhasil keluar dengan selamat dari stasiun yang terasa seperti neraka ini. Tina mengemudikan mobil dan langsung tancap gas menjauh sekali lagi dari stasiun ini.


__ADS_2