IDENTITY : The Dark Story

IDENTITY : The Dark Story
Kejutan (Part 3)


__ADS_3

"Alah~, tidak baik loh, pria menawan dirimu harus memasang wajah seperti itu, kalau ada wanita melihat wajahmu seperti itu bisa-bisa merasa kasihan padamu."


"Dan kamu lah wanita yang merasa kasihan itu,"balas Adithya. "Bukankah wanita menawan dirimu berjalan di taman sendirian di malam hari begini, apa kamu tidak takut ada seseorang mencelakai mu?"


"Hehe~, aku tidak perlu khawatir soal itu, bolehkah...?"


"Silahkan," sembari menggeser sedikit ke samping untuk memberikan wanita itu tempat duduk.


"Siapa wanita itu? Dan kenapa wajahnya tidak terlihat sama sekali, semuanya tertutup warna hitam."


Aku berusaha memfokuskan penglihatan ku ke wanita itu dan sama saja semuanya tampak hitam. Ini aneh, padahal aku bisa melihat semua orangnya di sini dengan jelas, dan entah kenapa suaranya terasa familiar.


"Bagaimana ya... aku harus menanggapi keadaanmu ini, apa aku harus prihatin atau ikut bersedih juga?"


"Bagaimana kalau kamu, membantuku meluruskan beban pikiranku ini."


"Oke, entah kenapa aku teringat sebuah kalimat yang cukup menarik bagiku, kalo gak salah kalimatnya seperti ini:


Kita harus hidup dengan pengetahuan dan usaha kita akan penuh ke sia-sia an, hidup segera terlupakan dan spesies kita tidak dapat menebus semua kegelapan yang ada pada diri kita sendiri, namun kita harus tetap bertahan.”


"Itu kata-kata dari Albert Camus kan. Penulis dan filsuf yang terkenal di dunia, dia dianggap sebagai salah satu pelopor filsafat absurdis yang paling penting."


"Tepat sekali, semua kata-katanya sangat mencerahkan banyak orang, loh."


"Tidak bedanya dengan motivator-motivator pada umumnya."


Mereka berdua terus melanjutkan obrolan santai mereka, hanya saja... ini sudah sepuluh menit dan tidak ada apa pun kutemukan dari obrolannya.


Wanita itu bangkit dari kursinya...


"Baiklah Tuan, terima kasih waktu obrolannya..."


"Adithya bagaskoro, kamu bisa memanggilku Adithya."


"Baiklah Adithya, namaku *******."


"Huh! Siapa namanya?!"


Kenapa suara wanita itu tiba-tiba menghilang saat menyebutkan namanya, entah apa yang terjadi di sini dan aku pun bingung dibuatnya.


"Oh iya, kamu ini keturunan berdarah hitam ya..."


Seketika aku melihat Adithya terkejut mendengar pernyataan wanita itu.


"Apa kamu juga..."


Wanita itu langsung tersenyum...


"Hehe~, walaupun terlahir dari unsur yang sama, tapi jalan yang ditempuh keturunannya berbeda-beda."


"Begitu ya...," sembari menghela napas beratnya. "Jadi, apa kamu punya solusi untukku?"

__ADS_1


Wanita itu tersenyum dan berkata:


"Bukankah sudah jelas untuk orang seperti kita. Kita hanya perlu menggunakan 'Garis darah', itulah yang biasa sudah dilakukan leluhur kita."


"Dulu kakekku sering menggunakannya dan aku pikir itu sesuatu yang sangat manusiawi, jadi aku menghindarinya dan tak ingin berurusan dengan hal itu lagi."


"Hehe~, bukankah sebentar lagi kamu akan melakukan tindakan yang sangat manusiawi."


Seketika raut wajah Adithya membeku karena mendengar pernyataan wanita ini.


"Sepertinya kamu mengerti. Baiklah, aku akan pergi, senang mengobrol denganmu."


Wanita itu langsung pergi dan menghilang dalam gelap malam.


Aku mencoba mencari tahu apa yang mereka obrolkan dan apa maksud menggunakan" garis darah."


Seketika semuanya jadi gelap dan kali ini benar-benar dan terasa dingin, muncul sebuah cahaya besar menghampiriku lagi dan...


"Di mana ini? Hutan, dan... goa?"


Aku terkejut tiba-tiba berada dalam sebuah hutan yang cukup lebat dan aku melihat seseorang berjalan kemari.


"Bukankah itu Adithya... sedang apa dia hutan begini?"


Tanpa pikir panjang aku mengikuti jejaknya dan dia berjalan kearah goa itu dan memasukinya. Aku pun ikut memasukinya, tapi...


"Eh! Apa ini?"


Tiba-tiba aku tidak bisa memasuki goa itu, seolah-olah terhalang sesuatu. Dari luar tampak goa ini sangat gelap dan sedang apa Adithya di sana.


"Buku?"


Entah buku apa itu yang terlihat cukup aneh dengan warna yang gosong, tiba-tiba kepalaku sakit saat memandang buku itu dan...


"Cariungurip!"


Entah kenapa mulutku mengucapkan sesuatu yang bahkan aku sendiri tidak tahu, apa yang ku ucapkan barusan saat memandang buku itu.


Kepalaku semakin sakit dan...


Gedebuk!


•••


•••


•••


Pukul 01.09


Aku terbangun dari mimpiku yang aneh, saat ingin bangun tiba-tiba kepalaku sakit sekali dan aku melihat Fu meditasi.

__ADS_1


"Oh, akhirnya kamu bangun juga, Dokter," kata Fu. "Apa kamu menemukan sesuatu?"


"Aku menemukan banyak hal," jawabku. "Sekarang jam berapa?"


"Sekarang sudah jam satu lewat."


"Begitu ya...," aku langsung bangkit dari tempat tidur. "Fu, ikut denganku menemui Edik."


"Oke."


Seperti biasa Fu tidak menanyakan apa pun saat ku minta tolong. Kami langsung menuju kamar Sarah di mana ada Edik dan Tina di sana menjaga keadaan Sarah.


Tok... Tok... Tok...


"Ya... tunggu sebentar," tampak seorang wanita dengan rambut merah tuanya yaitu Tina. "Kamu lagi! Sudah kubilang kan, besok saja baru kamu kembali ke sini!"


"Tenanglah Tina," kataku. "Urusanku dengan Sarah sudah selesai, kali ini aku butuh bantuan suamimu, apa dia ada di dalam?"


"Ada apa, Ray? Kamu terlihat terburu-buru gitu."


Terlihat Edik tiba-tiba muncul dari belakang Tina, tampaknya teriakan Tina tak sengaja memanggil dirinya.


"Baguslah, apa kamu masih memegang kunci belakang yang diberikan oleh dia?" Tanyaku.


"Iya, masih ada," sembari menunjukkan kuncinya.


"Sini kemari Kan."


Tanpa bertanya, Edik langsung menyerahkan kuncinya.


"Aku kalian berdua bawa Siti dan Iwan ke kamar ini juga dan jaga mereka sebaik mungkin."


"Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa kamu begitu panik?!" Tanya Tina yang kebingungan.


"Dengarkan saja apa yang kukatakan, aku tidak punya waktu menjelaskannya. Lakukan semua yang ku minta barusan, kalau kamu tak ingin kehilangan anak-anak ini!"


"Apa!"


Aku dan Fu langsung bergegas menuju halaman belakang, tapi...


"Dokter~."


Seseorang memanggilku dengan suara lembutnya yaitu Miranda.


"Tampaknya kalian terlihat terburu-buru, sebenarnya apa yang terjadi?"


Kebetulan sekali...


"Miranda, apa kamu mau membantuku?"


Tanpa basa-basi dia langsung menjawabnya:

__ADS_1


"Oh, tentu saja."


Kami bertiga bergegas menuju halaman belakang, sebab di sana lah sumber semua kejadian ini dan puzzle terakhir dari kasus ini.


__ADS_2