IDENTITY : The Dark Story

IDENTITY : The Dark Story
Berhasil Kabur (Part 2)


__ADS_3

TUT... TUT...


"Akhirnya diangkat juga, kalian belum menjauhkan?"


"Syukurlah! Kamu baik-baik saja," balas seseorang yang mengangkat panggilan tiada lain ternyata Tina. "Kamu ada dimana sekarang?"


"Sekarang aku berada ditempat mobil kita parkir sebelumnya," jawabku. "Saat aku bergegas kesini kalian langsung meninggalkanku begitu saja, untung Handphone milik Tuan Bagaskoro tergeletak disini."


"Baiklah, tunggu kami di sana," balas Tina.


Beberapa menit berkendara mereka akhirnya sampai di stasiun lagi, tampak siluet seseorang tidak asing dia lagi bersandar di sebuah tiang dengan nafas terengah-engah.


"Kamu baik-baik saja kan? Apa ada yang terluka? Tanya Tina dengan panik.


"Jangan khawatir, aku baik-baik saja," jawabku. "Aku hanya sangat lelah."


"Maaf Tuan, ini salahku," kata Adithya. "Aku langsung meminta Tina menjauh dari sini tanpa menunggu anda."


"Tidak apa-apa, aku mengerti kok," balas dariku. "Sebaiknya kita bergegas pergi dari sini, dan ini aku kembalikan."


Aku mengembalikan Handphone pemiliknya yaitu Adithya.


"Terima kasih," balas Adithya. "Mari biar aku bantu berdiri."


"Terima kasih."


Mereka berempat berhasil keluar dengan selamat dari stasiun yang terasa seperti neraka ini. Tina mengemudikan mobil dan langsung tancap gas menjauh sekali lagi dari stasiun ini.


•••


•••


•••


Pukul 20.05


Kami sudah sampai ditempat tujuan yaitu villa raja kediaman dari Adithya Bagaskoro, orang yang aku jemput sekarang ini.

__ADS_1


"Apa yang terjadi disini, Tina," tanya Adithya.


"Itu... sudah terjadi semenjak kamu tidak ada disini," jawab Tina.


Yah... wajar sih kenapa sang pemilik bertanya seperti itu, dimana kediaman miliknya sudah berantakan. Lampu-lampu yang menghiasi tamannya sudah hancur semua serta beberapa tanaman termasuk melati juga layu dan mati.


Kondisi ini sudah terjadi semenjak aku dan Dokter datang kesini. Tapi, terlihat Adithya tidak marah sama sekali, dia sudah menduga bahwa hal ini akan terjadi semenjak dirinya pergi.


Adithya menghela nafas dan berkata:


"Kalau begitu, kamu simpan mobilnya di garasi."


Tina tidak menjawab hanya mengangguk saja dan setelah ia pergi membawa mobilnya.


"Mari masuk, Tuan Chen," ajak Adithya.


Kami berdua sudah saling memperkenalkan diri saat diperjalanan tadi. Aku mengikutinya dari belakang dan Siti berjalan disampingnya, saat mau memasuki villa itu tiba-tiba...


"Apa yang... terjadi disini?!" Ucap Adithya dengan wajah kaget.


Aku pun juga begitu, kami semua terkejut cahaya yang menerangi villa ini tiba-tiba meredup dan mati begitu saja. Kami pun bergegas menuju ke sana karena kekhawatiran sudah menghantui kami, terutama aku yang sangat takut terjadi apa-apa dengan Dokter.


"Jangan khawatir, didalam sana  masih ada Jasmin dan yang lainnya, pasti mereka bergegas menjaga Iwan," ucap Adithya yang berusaha menenangkannya.


Dengan penuh kewaspadaan ku-amati sekeliling, seluruhnya gelap gulita dan aku merasakan aura yang sangat gelap menyelimuti kegelapan ini.


Sebelum kami mau masuk, terdengar suara kegaduhan yang sangat keras, terutama suara tembakan.


"Kak, suara apa itu?!" Tanya Siti dengan sedikit ketakutan.


"Aku juga tidak tahu, sebaiknya aku cek ke dalam," ucap Adithya.


"Tunggu! Di dalam gelap gulita, situasinya tidak jelas saat ini, terlalu berbahaya untuk bergegas masuk. Sebaiknya kalian menjauh sementara dari sini dan tunggu di sana jangan kemana-mana," ucapku.


Adithya dan Siti bergegas menjauh dari pintu villa, aku bersiap membukanya dan terlihat gelap sekali didalam sana dan terlihat sesuatu sedang menuju kemari dengan sangat cepat...


"Fu! Hentikan orang itu!!!"

__ADS_1


"Dokter!"


Seketika tubuhku tidak bergerak sama sekali seolah-olah membeku, dan terlihat jelas seseorang dengan topeng putih serta memakai jubah hitam berlari dengan sangat cepat."


"Sial! Apa yang terjadi... kenapa tubuhku..."


Orang itu hanya melewati ku begitu saja dan wajah kami berpasang, aku melihat matanya warna matanya sangatlah berbeda dengan orang pada umumnya yaitu warna amber. Warna ini terjadi karena adanya pigmen kuning yang dikenal sebagai lipochrome, dan mata ini aku pernah lihat dari seseorang beberapa waktu lalu saat aku datang kesini.


Lalu terlihat dia menggendong seseorang yang kepalanya ditutupi selebaran kain tebal yang membuatku sulit mengidentifikasi siapa yang dia bawa. Dengan pertemuan sekejap itu aku merasa bahwa ia tersenyum dibalik topeng putih mengerikannya itu, berhasil membawa targetnya dan menghilang ditengah hujan yang diiringi kilat dan guntur.


Seketika seseorang langsung mencengkram kedua bahuku dengan erat dan dia langsung meneriakinya dengan emosi yang sulit di kontrol lagi, tiada lain kalau bukan sang kepala pelayan yaitu Rama.


"Kenapa kau tidak menghalanginya!!! Kenapa!!!"


Aku hanya diam saja tidak menjawab atau membalas perlakuannya kepadaku, disisi lain aku tidak punya cukup tenaga melawan pria ini. Apalagi dilihat dari fisiknya dan kekuatan cengkraman-nya, dia bukan pelayan biasa.


Jujur saja aku merasa kesakitan dari cengkraman-nya itu, sebelum parah aku melirik Tuan Bagaskoro dengan sekejap dan dia melihat diriku memandanginya barusan. Setelah itu ia merespon dengan cepat dan berusaha memisahkan aku dengan kepala pelayan ini.


"Rama tenanglah, ada alasan kenapa Tuan Chen melakukan itu," ucap Adithya.


Sesaat berusaha menenangkannya terjadi keributan kecil diantara mereka dan ini berakhir setelah kepala pelayan itu dingin. Setelah keributan itu Tuan Bagaskoro langsung menatap Dokter yaitu rekanku, dan memperkenalkan dirinya serta adiknya ke dia dengan wibawa yang harusnya ditunjukkan untuk tamu yang diundangnya.


"Eh?! Kenapa jadi gelap begini?"


Ucap seorang wanita yang baru datang ternyata dia adalah Tina.


"Kenapa bisa gelap begini, saat aku memasukan mobil di garasi semuanya tampak gelap dari kejauhan jadi aku bergegas menuju kemari," ucap Tina.


Kami semua saling memandang satu sama lain dan tidak ada yang berani buka suara duluan, mereka semua tahu bahwa Tina sangat menyayangi anak-anak kalau dia mendengar kabar buruk ini maka kami tidak tahu ekspresi apa yang ditunjukkan, tapi satu hal jelas bisa-bisa dia syok dan pingsan. Salah satu dari kami akhirnya buka suara orang itu adalah Edik Thomas suami dari Tina.


"Ini ulah si pembunuh itu, dia telah berhasil menangkap Sarah dan entah di bawah kemana," terang Edik.


Seperti kami duga Tina benar-benar syok mendengar itu dia hampir pingsan mendengarnya, akan tetapi dia berhasil menahan dirinya dan sangat panik meminta Tuan Bagaskoro menyelamatkan gadis kecil bernama Sarah itu.


"Jangan khawatir Tina, dia akan baik-baik saja," kata Adithya.


"Kenapa anda bisa seyakin itu?!" Tanya Tina.

__ADS_1


"Jangan khawatir pembunuh itu tidak pernah mengincar anak kecil," jawab Adithya.


Kami semua terkejut mendengar pernyataan Tuan Bagaskoro kenapa dia bisa seyakin itu.


__ADS_2