IDENTITY : The Dark Story

IDENTITY : The Dark Story
Misteri (Part 1)


__ADS_3

Penelusuran benang merah itulah kalimat yang tepat untuk kasus ini, sebab pelaku atau pembunuhnya bagai benang merah terjalin satu dengan yang lainnya. Hal yang terlalu mencolok mau pun tidak merupakan sebuah petunjuk bagiku, dan inilah tugasku mengupas setiap fakta dan mengungkapkannya secara menyeluruh.


Aku meminta Edik mengumpulkan semua orang lagi di aula terkecuali Iwan, Siti dan Rama berada di kamar mereka masing-masing. Semua wajah tertuju padaku, aku tahu mereka penasaran kenapa mereka diminta berkumpul.


"Baru siuman tau-tau sudah minta kita berkumpul, apa kamu mengetahui sesuatu, Murung?" Tanya Tina sembari menyilang kan tangannya.


"Wajahmu terlihat pucat loh, Dokter~. Kamu yakin baik-baik saja?" Lanjut tanya dari Miranda.


"Jangan khawatir aku baik-baik saja," jawabku. "Ehem, aku meminta kalian berkumpul perihal pembunuhan ini, sebab aku menyimpulkan beberapa kejanggalan di sini."


Semuanya hanya diam memerhatikan apa yang aku ucap...


"Tuan Bagaskoro, aku ingin menanyakan beberapa hal pada anda."


"Silahkan tanyakan saja," jawab Adithya.


"Ini mengenai gudang bawah tanah, anda. Kami menemukan sebuah lubang kecil di ruangan peralatan bersih-bersih tampaknya lubang itu mengarah ke suatu tempat, apa anda tahu mengenai lubang itu?"


"Ah! Lubang..."


Tampak raut terkejut dari Adithya terlihat matanya mengarah ke bawah sembari memegang dagunya. Tampaknya ia tidak tahu mengenai lubang itu, setelah beberapa detik saat berpikir akhirnya angkat suara...


"Mengenai lubang itu... sebenarnya aku baru tahu hanya saja, dulu tanah ini pernah dibangun sebuah mansion besar oleh bangsawan belanda. Dan konon katanya ia membangun gudang bawah tanah untuk mengurung anak-anak yatim setelah itu kalian pasti tahu apa yang terjadi setelahnya. Untuk ruangan kecil itu katanya anak-anak dihukum dan disiksa setelah itu mereka dibiarkan berhari-hari tanpa makan dan minum," jelas Adithya.

__ADS_1


Kisah yang tragis untuk didengar hanya saja aku takkan memasukkan kisah itu dalam kasus ini, tapi setidaknya aku menemukan petunjuk dari kisah itu. Berdasarkan yang diceritakan kalau anak-anak dikurung dalam ruangan sesempit itu mereka akan kehabisan oksigen lebih cepat, jadi mereka memutuskan menggali lubang di sana, tapi pakai apa mereka untuk menggali tembok setebal itu?


Mungkin ini hanya teori liar ku mereka menggali menggunakan sendok, kenapa harus sendok? Satu-satunya benda dipegang tahanan sekalipun yaitu sendok, sebab makanan seorang tahanan atau budak yang teristimewa bagi mereka yaitu sup yang tidak memiliki lauk apa pun di dalamnya cuman berisikan air, garam dan gandum atau nasi sisa.


Mungkin ini terdengar gila agar rencana pelarian mereka berhasil seseorang harus masuk ke ruangan kecil itu dengan kata lain harus memasuki neraka itu kembali, setelah disiksa maka punya beberapa hari dikurung dan sendiri di sana. Itulah kesempatannya melepas satu persatu batu tebal itu dengan sendok miliknya agar tidak dicurigai, setelah terlepas terlihat gumpalan tanah tebal yang harus di gali dan hal ini terus berlanjut secara bergantian dari mereka. Setelah di gali lubang itu akan ditutupi kembali dengan batu sebelumnya agar tidak diketahui.


Butuh waktu lama untuk mencapai kebebasan mereka dan mungkin dari mereka harus merenggut nyawa agar teman-temannya bisa bebas walau sekalipun nyawa taruhannya, benar-benar kisah menyedihkan.


"Setelah beberapa lama, anda membeli tanah dan mansion-nya setelah itu dirubuhkan dan membangun ulang lagi," ucapku


"Iya, soal gudang bawah tanahnya aku tidak apa-apakan menurutku itu akan menghemat penyimpanan makanan karena suhu di sana sangat pas , apa Tuan Wolfa, sudah menelusuri di mana ujung dari lubang itu?" Tanya Adithya.


"Tidak, mungkin lebih tepatnya tidak bisa, sebab ukurannya sebesar Siti atau Iwan yang lebih kecil darinya," jawabku. "Tapi, setelah memerhatikan denah villa ini dan sekitarnya mungkin lubang ini mengarah di belakang villa, sebab di belakang sana ada hutan mengelilingi. Aku belum menelusuri bagian sana mungkin saja bisa sekarang, tapi lain kali saja karena keadaan hujan dan gelap apa lagi ada bahaya mengintai."


"Kalau begitu apa masih ada yang lain?" Tanya Tina.


Semuanya terkejut mendengar pernyataan ku ini sekaligus bingung.


"Dendam ya... mungkin ini sangat berkaitan erat deh," ucap Miranda.


"Iya, menurutku ini ada kaitannya seseorang atau lebih orang yang punya dendam dengan orang yang dibunuh barusan," terang-ku. "Apa Tuan Bagaskoro, tahu orang-orang ini? Apalagi orang-orang yang mati ini bisa dibilang posisinya sangatlah penting di sini."


"Kalo berdasarkan hal itu, mungkin pelayan-pelayan yang pernah bekerja di sini paling dekat dengan para korban," ucap Fu.

__ADS_1


"Kalo soal pelayan, bahkan aku sekalipun hampir memarahi setiap hari dari mereka, tapi aku tidak merasa adanya dendam dari mereka," ucap Adithya.


"Sebenarnya ada satu sih, setiap hari kena semprot (omelan) dari mereka (korban) karena kecerobohannya setiap dia diperintah. Tapi, dalam pandanganku dia tidak seceroboh itu, kalau gak salah namanya Desi," ucap Tina


"Desi ya... aku lupa soal dia, aku pernah memarahinya satu atau dua kali setelah itu aku tidak pernah memarahinya sebab dia sangat akrab dengan anak-anak," ucap Adithya.


"Sebenarnya dia 'pelayan mungil' di sini," kata Miranda.


"Hah, Mungil?"


"Iya, sebenarnya tinggi dia sedikit lebih tinggi dari Siti dan Tina selalu memperlakukannya seperti anak kecil pada umumnya, padahal Desi jauh lebih tua darinya, hehe~" terang Miranda.


Aku langsung menatap Tina, dia langsung menghindari tatapanku mungkin karena malu kali ya.


"Saat aku tanya, Dokter, katanya penculik itu tingginya tidak jauh dari Siti," ucap Fu. "Bisa diasumsikan bahwa dia pelakunya."


"Aku rasa itu mustahil deh, karena pembunuh itu lincah dan kuat lalu menurutku Desi tidak sekuat itu, melainkan ia terlihat seperti gadis biasa pada umumnya," ucap Tina.


"Aku rasa kamu salah paham mengenai Desi, Tina sayang~. Asal kamu tahu diantara seluruh pelayan Adithya, cuma dua orang yang pandai memainkan dan menarikan kedua tangan dan kakinya (beladiri) yaitu Rama dan Desi," jelas Miranda.


Tampak raut wajah kaget dan bingung dari Tina dan Edik mereka tak menyangka gadis yang terlihat normal bagi mereka ternyata menyimpang kejutan tak terduga.


"Kalau soal Rama aku sudah tahu mengapa ia kuat, karena dulunya ia tentara bayaran dan untuk Desi, dia tidak mau menceritakan masa lalunya, tapi dia pernah bilang bahwa dulunya tinggal di daerah yang mengharuskan menyakiti orang-orang agar bisa hidup," ucap Adithya.

__ADS_1


Aku rasa semua misterinya mulai terungkap sekarang tinggal yang terakhir:


"Kalau begitu yang terakhir mengenai pesan yang ditinggalkan oleh pembunuhnya. Ini ada kaitannya dengan 'the seven deadly sins', hal ini aku baru sadari saat menyelidiki perpustakaan."


__ADS_2