Istri Bayaran

Istri Bayaran
Zergan Alderick


__ADS_3

Diusianya yang masih muda Zergan hanya memfokuskan dirinya dengan pekerjaannya. Menjadi CEO muda tampan banyak di luar sana yang terkagum-kagum dengan Zergan.


Awalnya Zergan sama sekali tidak minat dengan pekerjaan seperti ini. Karena dia hanya satu-satunya anak tunggal dan pewaris dikeluarga Alderick terpaksa dia harus menerimanya.


Kedua orangtuanya sangat gila kerja mereka sama-sama CEO dari perusahaan sang Papa yang menjadi CEO di Alderick Crop dan Mamanya yang menjadi CEO di Zevalo Crop.


Pernikahan orangtuanya Zergan sangat mengejutkan masyarakat waktu itu. Bagaimana bisa? yah dulu dua perusahaan ini sangat bersaing untuk mendapatkan peringkat bagus di dunia. Karena dua perusahaan ini sama-sama terkenal.


Bagaimana bisa musuh jadi cinta? yah begitulah kisah cinta kedua orangtua Zergan. Awalnya kedua pihak tidak menyetujuinya. Tentu saja tidak direstui karena mereka bersaing bukan untuk menjadi cinta. Tapi apalah daya takdirnya sudah begini.


Rajendra Alderick pria tampan dengan postur tubuh gagahnya berhasil menaklukkan musuhnya Leandra Zevalo CEO dari perusahaan yang bersaing ketat dengan Alderick Crop.


Memutuskan menikah di usia muda, waktu itu Rajendra masih berusia 24 tahun sedangkan Leandra sendiri masih berusia 22 tahun. Mereka hanya terpaut usia dua tahun.


Setelah beberapa bulan pernikahan kabar gembira muncul menggemparkan dunia. Leandra sedang mengandung dari pernikahannya dengan Rajendra. Kedua orangtua Rajendra dan Leandra turut senang mendengar berita gembira tersebut.


Lahirlah anak laki-laki tampan perpaduan kedua orangtuanya yang terlihat sempurna, yah dia Zergan Alderick. Anak dari orangtua penggila kerja dan tentunya sangat sibuk.


Dari kecil Zergan sudah ditinggal orangtuanya bekerja dia hanya berada di rumah mewahnya dengan beberapa maid dan baby sitternya. Orangtuanya membatasi Zergan untuk pergi keluar bersama teman-temannya. Zergan kecil dulu sering merasa kesepian.



Pagi hari telah tiba terbukti dari suara merdu burung yang bertengger manis di pohon besar yang ada dikediaman mewah keluarga Alderick.


Tampak ada pria muda yang tampaknya masih bergelut dengan mimpinya. Sinar matahari menyelinap melalui jendela kamar Zergan, mengenai wajah tampanya yang berhasil membuatnya tak nyaman.


"Akh sial"


Bukannya malah bangun Zergan menarik selimut hitamnya menutupi wajahnya agar tidak terkena sinar matahari. Baru saja terlelap alarm yang berada di nakas sebelah kanan ranjangnya berbunyi.


"Sial gua mau tidur susah amat anjir"


Dengan malas Zergan membuka matanya lalu bangun sebentar hanya untuk mematikan alarm sialan itu. Padahal hari ini bukan hari libur, Zergan sepertinya malas bekerja.


Dia seharusnya tidak disibukan dengan pekerjaannya di kantor Papanya, di usianya yang baru menginjak 18 tahun dia sudah di suruh bekerja di perusahaan Papanya. Sambil belajar karena sebentar lagi dia yang akan menggantikan posisi Papanya.


Awalnya Zergan menolah mentah-mentah ajakan kedua orangtuanya. Dia sama sekali tidak minat dengan pekerjaan yang seperti itu.


Harusnya Zergan masih menikmati masa-masa mudanya dengan padahal Papanya masih cukup muda untuk menjadi CEO dan kenapa orangtuanya tidak mengizinkan dia untuk pergi kuliah? ini terlalu cepat pikir Zergan.


Zergan hari ini merasa sangat malas untuk pergi bekerja.Ide bagus tiba-tiba muncul diotaknya pagi gini otaknya lancar kalau disuruh mikir. Dia akan berpura-pura sakit, ini kebiasaannya sejak kecil.Walau Papa Mamanya tau bahwa Zergan hanya berpura-pura sakit.


Suara ketukan pintu terdengar jelas di telinga Zergan sudah bisa ditebak itu siapa. Dengan gontai Zergan berjalan dengan mukanya yang dibuat semelas mungkin agar Mamanya percaya bahwa dia sakit.Aktingnya harus berjalan lancar.


"Tok tok tok"


"Morning baby boy! wake up don't be late today!"


Zergan membukakan pintu kamarnya dan menampilkan wanita cantik dengan setelan jas kantornya terlihat tersenyum kepadanya. Mamanya masih terlihat cantik dan muda padahal sebentar lagi sudah berkepala empat.


"Why?" tanya Mama Leandra saat melihat wajah anaknya yang terlihat sedih.


"I'm fine Mom" jawab Zergan.


"Sakit hm?" tanya Mama Leandra dengan raut wajah bingungnya.


"Iya Ma pusing agak demam juga" jawab Zergan melas.


"Mau libur aja?" Akhirnya pertanyaan yang ditunggu-tunggu terucap.

__ADS_1


"Emang gak papa kalau libur?" tanya Zergan.


"Hahaha tentu saja sayang Zergan kan sedang sakit" jawab Mamanya sambil tersenyum.


"Oh iya, ya sudah Zergan mau istirahat dulu" Pamit Zergan saat sudah mendapat izin kalau hari ini dia tidak pergi ke kantor.


"Sebentar lagi Mama suruh Bu Ani untuk membawakan sarapan dan obat untuk Zergan, cepat sembuh" Jawab Mamanya sambil mengelus rambut anaknya.


Pintu kamar Zergan tertutup dan sang Mama menarik nafas panjang melihat kelakuan anaknya yang masih belum berubah.


"Dia sudah besar haha tapi masih lucu".


"Eh enggak dia akan terlihat kecil dimataku".


Pria tampan berjalan menghampiri istrinya yang berada di depan kamar anaknya. Terlihat sedang tertawa namun tidak sampai terdengar suaranya.


"Pagi sayang" sapa sang suami sambil memeluk dan mencium bibirnya sekilas.


"Pagi juga" balas Leandra sambil membalas pelukan suaminya.


"Kenapa kok ketawa-ketawa sendiri? kayak orang gila" tanya Rajendra saat melihat wajah istrinya yang terlihat bahagia.


Reflek Leandra memukul lengan suaminya dan melepas paksa pelukannya.Yang hanya dibalas cengiran oleh suaminya.


"Biasa anakmu itu tidak pernah berubah tidak apa terlihat imut" jelas Leandra dengan wajah gemasnya.


"Hah?" Rajendra tidak paham apa yang dimaksud Leandra.


"Hah? itu Zergan libur hari ini, biarin jangan dipaksa semua butuh proses dan waktu" jelas panjang Leandra.


"Hm baiklah aku tidak memaksanya lagian aku juga gak pernah maksa dia kan?" ucap Rajendra meyakinkan istrinya.


"Tapi ... sudahlah kau tak akan pernah paham" jawab Leandra malas.


"Ceo gak suka sama yang namanya bolos" kata Rajendra meledek.


"Dih siapa juga yang pemalas".


"Hah? siapa juga yang ngatain kamu pemalas".


"Lah itu?! masih pagi jan ngajak ribut lu ya!?" ucap Leandra tak terima.


"Hah? siapa yang ngajak ribut?" tanya Rajendra bingung.


"Masih ada CEO yang hobi ngebug kayak lu hah-hah mulu" Balas Leandra mengejek.


"Hah? gua pinter ganteng kayak gini banyak di luar sana yang ngejar-ngejar gua ya, lu tuh harusnya bersyukur bisa jadi istri gua" jawab Rajendra dengan percaya diri.


"DIH PEDE AMAT LU JADI ORANG" Balas Leandra dengan nada tingginya.


"Lah emang iya gitukan? jangan ngelak hm" ucap Rajendra dengan smirknya.


Tiba-tiba pintu kamar anaknya terbuka menampilkan wajah bantalnya.Reflek Rajendra dan Leandra menoleh ke arahnya.


"Wah kalau mau pdkt jangan di depan anaknya gak boleh kurang baik guys" tutur Zergan kepada kedua orangtuanya.


"Kdrt bukan pdkt" Rajendra membenarkan kata-kata anaknya yang salah.


"ohh iya itu maksudnya".

__ADS_1


"Mana ada kdrt gak ngapain-ngapain kok hehe" jawab Mama Leandra dengan senyum paksanya.


Zergan hanya diam saja bingung harus gimana salah masuk kayaknya. Papa Mamanya hanya diam memperhatikan Zergan.


"Gaktau mau ngapain nangis ajalah" ucap Zergan memecah suasana.


"Eh kok nangis" suara Mama Leandra yang khawatir saat melihat mata Zergan berkaca-kaca.


"Hah? kok nangis?" Papa Rajendra akhirnya bersuara.


Leandra mendekati Zergan yang sudah mau nangis dia jadi bingung kenapa dia tiba-tiba menangis.


"Zergan kenapa hm? kok nangis?" tanya Leandra lembut.


Bukannya membalas pertanyaan Mamanya Zergan malah menangis seperti anak kecil, reflek Leandra langsung menenangkan anaknya dengan memeluk dan mengusap punggung anaknya yang masih terisak.


Di sisi lain Papanya merasa bersalah karena sering meninggalkan anaknya sendirian di rumah. Apakah dia egois? tidak membiarkan anaknya merasakan bahagia.


"Zergan kenapa? kok tiba-tiba nangis?" tanya Mama Leandra lagi.


"Pusing Ma" jawabnya sesenggukan.


Leandra lupa kalau anaknya sedang sakit, dia salah telah menuduh anaknya berpura-pura sakit. Tapi kenapa kok sampai nangis. Apa dia tidak tau kalau anaknya sedang sakit akan menangis? karena dia terlalu sibuk bekerja.


"Zergan masuk kamar ya biar Papa panggil Bu Ani" ucap Leandra sambil menuntun Zergan menuju kamarnya.


Setelah mendengar ucapan Leandra, Rajendra bergegas memanggil Bu Ani.


Rajendra mencari Bu Ani di dapur seperti biasa dia sedang menyiapkan sarapan.


"Permisi" ucap Rajendra yang berhasil mengagetkan Bu Ani


"Eh ada apa Pak? kenapa sampai kedapur mencari saya?" tanya Bu Ani saat melihat Rajendra di dapur.


"Zergan sedang sakit jadi saya mau minta Bu Ani buat bawakan obat juga sarapan" jelas Rajendra kepada Bu Ani.


"Oh baik Pak akan saya siapkan" balas Bu Ani dengan raut wajah yang terlihat khawatir.


"Apa Zergan akan menangis jika sedang sakit?" tanya Rajendra penasaran.


"Biasanya begitu Pak tapi itu waktu masih kecil dulu" jawab Bu Ani.


Rajendra tampak diam tak membalas perkataan Bu ani, sekali lagi dia merasa bersalah. Rajendra tampak menundukkan kepalanya yang membuat Bu Ani bingung.


"Kenapa Pak?" suara Bu Ani yang berhasil membubarkan lamunannya.


"Tidak, segera lakukan tugasmu saya permisi dulu" ucap Rajendra yang kemudian berlalu meninggalkan dapur.


Rajendra sedang berdiri di depan kamar anaknya ragu melangkahkan kakinya. Istrinya yang tau itu menunjukkan raut wajah bingungnya. Tidak lama kemudian Bu Ani sudah membawakan obat dan sarapan untuk Zergan.


"Bapak kenapa hanya berdiri saja disini?" tanya Bu Ani.


"Mari masuk Pak" ajak Bu Ani yang kemudian dibalas dengan anggukan Rajendra.


Zergan diam dipelukan Leandra hati Rajendra menghangatkan melihatnya.


"Ini Bu silahkan" ucap Bu Ani sambil meletakkan nampan di nakas sebelah ranjangnya Zergan.


"Kalau butuh apa-apa bisa langsung telfon saja tidak perlu repot memanggil saya langsung, saya pergi dulu" jelas Bu Ani yang kemudian meninggalkan kamar Zergan.

__ADS_1


Rajendra menepuk jidatnya pelan menatap sinis istrinya yang sedang nyengir. Disituasi yang seperti ini masih sempat-sempatnya mengerjainya. Dia juga kenapa tidak langsung telfon saja capek-capek turun ke bawah terus balik lagi ke atas.


Apa tadi dia benar-benar khawatir? Rajendra memperhatikan Zergan yang tampak Nyaman dipelukan Mamanya senyumnya mengembang melihat hal itu.


__ADS_2