Istri Bayaran

Istri Bayaran
Bertemu Masalalu


__ADS_3

Rayan membuka pintu rumahnya ketika mendengar ada orang yang menekan bel rumah. Kebetulan dia sedang berada di ruang tamu bersama Ayah dan Adiknya.


"Tumben ada tamu" ucap Arga sang Ayah yang mendengar bel berbunyi.


"Sebentar Rayan yang buka aja Yah" balas Rayan.


Rayan berjalan untuk membukakan pintu saat sudah dia bukakan Rayan sangat terkejut melihat siapa yang datang. Rayan pikir itu Avyn jadi dia semangat membukakan pintu, ternyata bukan dia.


"Hai Rayan selamat malam" sapa Mama Leandra.


"Malam juga" balas Rayan ramah.


"Gak nyuruh kita masuk?" suara Zergan yang membuat Rayan melototkan matanya pasalnya dia masih kesal sama Zergan.


"Silahkan masuk kalian" Rayan mempersilahkan keluarga Alderick masuk kedalam rumahnya.


Arga sangat terkejut saat melihat siapa yang datang kerumahnya, tumben sekali sahabat sekaligus rekan kerjanya datang kesini. Dia saja lupa kapan terakhir mereka datang berkunjung ke rumahnya.


"Wah sangat mendadak sekali" ucap Arga sambil menjabat tangan Rajendra.


"Tidak tumben kebetulan saja" balas Rajendra.


"Selamat malam Pak Arga" sapa Leandra.


"Walah anjir berasa tua saja kalau dipanggil bapak, santai saja ini sedang tidak berada di kantor" jelas Arga.


"Haha iya Arga, ngomong-ngomong Jesslyn di mana ya?" tanya Leandra.


"Dia sedang ada di dapur" jawab Arga.


"Izin menemui Jesslyn ya" balas Leandra yang kemudian berjalan menuju dapur.


Rere kemudian menyapa Rajendra mencium telapak tangannya.


"Selamat malam Om, bagaimana kabarnya?" tanya Rere menyapa.


"Hai Rere sudah besar saja kamu, sangat baik" balas Rajendra.


Di sofa lainnya Zergan dan Rayan sedang duduk. Agaknya Rayan masih kesal, Zergan mencoba menjahili Rayan yang sedang tidak mood.


Zergan menyenggol lengan Rayan mengkode kalau dia ingin pergi dari ruang tamu.


"Hoy Ray" bisik Zergan.

__ADS_1


"Hah?" jawab Rayan singkat.


"Ray hoy" bisik Zergan lagi mendorong Rayan sehingga Rayan yang tak siap pun terdorong jatuh ke bawah.


"Kalian kenapa?" tanya Rere.


"Untung ada karpetnya empuk" ucap Rayan yang kemudian bangun.


"Lu di panggil diem ae" ucap Zergan tapi tidak terlalu keras agar bapak-bapak didekat mereka tidak mendengar.


"Diem mata lu oy! gua udah nyaut" balas Rayan.


"Oh iya, biasa" kode Zergan.


"Mau ghibahin sapa lu?" tanya Rayan.


"Gua kagak ngajak lu ghibah ngawur" jawab Zergan menoyor kepalanya Rayan.


"Anjir lu!" balas Rayan tak terima.


Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk pergi ke kamarnya Rayan. Daripada ribut terus tidak akan selesai-selesai.


Di sisi lain rumah itu ibu-ibu sedang berbincang di dapur. Wajar lama tidak bertemu jadi ada banyak hal yang ingin diceritakan.


"Gak enak aja sama Rayan terus Rajendra ngajak ke sini ya udah" jelas Leandra.


"Kirain ada apa ternyata itu toh, emang sih tadi Rayan cerita haha kasihan juga tapi gakpapa" balas Jesslyn.


Sebenarnya Jesslyn tau Zergan sedang tidak baik-baik saja. Leandra merasa ada yang kurang enak ingin mengatakan kepada Jesslyn tapi dia sendiri tidak tau apa.


"Aku juga gaktau kenapa Jes" keluh Leandra.


"Yaudah gak usah dipaksa kalau memang udah siap cerita aja tenang kalau ada apa-apa jangan dipendam sendiri" jelas Jesslyn.


Setelah perbincangan itu Jesslyn harus menyiapkan makan untuk makan malam. Dengan sigap Leandra membantu menata makanannya di meja makan. Untung saja dia memasak cukup banyak malam ini jadi cukup untuk dimakan bersama keluarga Alderick dan Avyn.


"Udah lama aku gak nyentuh peralatan dapur" ucap Leandra di sela-sela kegiatannya.


"Sesibuk itu ya?" tanya Jesslyn.


"Haha iya gak bisa ditinggalin, aku gaktau masakanku masih enak apa enggak" balas Leandra.


"Mau nyoba masak gak? mungkin ada makanan penutup yang bisa kamu buat" tawar Jesslyn.

__ADS_1


"Hm boleh tuh yaudah ayok" dengan senang hati Leandra menjawab.


Kemudian mereka berdua kembali ke dapur setelah beberapa hidangan mereka tata.


Di kamar Rayan terlihat mereka sedang berdiam saja, lebih tepatnya Rayan yang sedang menunggu Zergan mengatakan sesuatu. Terdiam menatap layar komputer mati di depan mereka. Terdengar sangat sunyi hanya suara jam yang terdengar.


Beberapa saat kemudian Zergan membuka suara tapi kalimatnya dia gantung.


"Lama nunggu lu gua jadi ngantuk" ucap Rayan.


"Gak tau apa Ray, gua capek sama hidup gua" keluh Zergan.


"Lu kira hidup enak? kagak Zer hidup juga butuh perjuangan gak semulus itu! hidup makin lama makin gak jelas isinya orang munafik semua capek wajar tapi lu harus bisa bangkit lagi! nangis? it's ok gakpapa kalau itu bisa ngurangin sakitnya jadi diri lu Zer! tapi tetep inget kita gak boleh nyerah" jelas Rayan menyemangati Zergan.


"Iya lu bener cuma gua aja yang kurang bersyukur" balas Zergan.


"Iya itu! mangkanya lu harus bersyukur, iduplu udah enak semua ada di depan mata lu! banyak di luar sana yang masih serba kekurangan dan lu harus bersyukur akan hal ini" nasehat Rayan sambil mengguncang bahu Zergan.


Zergan menangis sejadi-jadinya menumpahkan penderitaannya yang dia tahan selama ini. Dia hanya ingin kehidupan normal seperti Rayan. Yang disibukan dengan pusingnya tugas bukan seperti dia yang sudah harus berkerja. Dia juga ingin kasih sayang penuh oleh orangtuanya. Rayan benar dia harus bersyukur karena hidupnya tidak kekurangan harta kekayaan tahta ada di depannya.


Rayan reflek memeluk tubuh rapuh sahabatnya mencoba menenangkan Zergan.


Pintu kamar Rayan terbuka menampilkan gadis cantik, iya dia Avyn. Dia memang sudah terbiasa masuk ke kamarnya Rayan.


Avyn terkejut saat melihat Rayan sedang memeluk seseorang yang sedang menangis, sepertinya Avyn masuk di waktu yang kurang tepat di belakangnya Cellyn ingin masuk tapi ditahan oleh Avyn.


Rayan menoleh ke arah pintu, dia seketika lupa kalau Avyn dia suruh datang kerumahnya malam ini.


"Eh tunggu Vyn mau kemana" cegah Rayan saat melihat Avyn yang ingin menutup pintu kamarnya lagi.


"Hehe takut ganggu waktu lu aja kurang tepat kayaknya" jawab Avyn.


"Masuk aja gakpapa" suruh Rayan.


Saat mendengar ada orang yang masuk ke kamar Rayan, segera Zergan berhenti menangis dan melepaskan pelukannya Rayan. Sadar dia masih normal.


Rayan terkejut saat Avyn tidak datang dengan sendirian dia mengajak Cellyn yang berjalan di belakang Avyn.


Zergan ikut menolehkan kepalanya melihat siapa yang datang. Zergan ikut terkejut melihat siapa yang datang. Dia memalingkan wajahnya ke arah lain.


Bagaimana bisa Cellyn ada di sini? Zergan susah payah melupakannya dengan seenaknya dia muncul lagi dihadapannya.


Ini alasan Rayan kenapa dia tidak terlalu suka dengan Cellyn karena dia orang yang melukai perasaan Zergan.

__ADS_1


__ADS_2