
Salah satu kurir yang tak di kenal mengetuk kamar hotel tempat Moly tinggal, Bunga yang dari dalam merasa ada yang mengetuk pintu langsung bergegas membuka pintuk kamar itu.
Saat Bunga membuka pintu itu, ia terkejut dengan kurir yang langsung memberikan paperbag besar kepada Bunga, dan berlalu pergi meninggalkan Bunga begitu saja.
Bunga langsung masuk dan menutup pintu, "apa ini, kurir yang sangat aneh?" gerutu Bunga membuat Moly menoleh menatap Bunga, "ada apa Bunga? Apa yang kau pegang?" Moly menatap paperbag di tangan Bunga.
"Entah mbak, aku menerima paperbag ini tapi aku tidak mengetahuinya ini dari siapa? Kurir itu sepertinya sangat terburu-buru sampai lupa mengatakan apapun?" celoteh Bunga.
"Coba buka isi paperbag itu?" ucap Moly.
Bunga membuka paperbag itu dan ia terkejut melihat gaun yang sangat indah di hadapannya, "mbak, kau harus melihat ini," Bunga menunjukan gaun cantik berwarna merah kepada Moly.
Moly yang melihat gaun itu langsung mendekat ke arah Bunga, Moly memegang gaun itu dan menempelkan di tubuhnya sambil menatap ke arah cermin. Moly tersenyum saat menatap dirinya di depan cermin, "bagaimana kalo kita eksekusi sekarang," mata Moly menatap Bunga memberi isyarat untuk segera merias nya.
Bunga langsung menyuruh Moly duduk manis, dengan keahlian yang Bunga miliki. Bunga memoles setiap bagian wajah Moly dengan alat seadanya, membuat Moly sedikit meragukan kemampuan Bunga.
Selesai merias.
Moly langsung menatap cermin, ia sangat terkagum-kagum melihat dirinya yang berubah menjadi sangat cantik dan anggun dengan balutan gaun merah melekat di tubuhnya.
"Apa ini diriku? Bunga, kau memang sangat hebat," ucap Moly merasa senang dengan hasil riasan Bunga.
Moly langsung berjalan keluar hotel itu, melihat Dokter Zek sudah menunggu. Dokter Zek melihat wanita cantik yang sangat anggun berjalan mendekati dokter Zek, Dokter Zek terpukau melihat wanita di hadapannya itu adalah Moly.
"Apa kau Moly?" tanya Dokter Zek dengan wajah bingungnya, Moly yang melihat Dokter Zek tertawa dan mengatakan, " kalo aku bukan Moly, lalu aku siapa?" Dokter Zek langsung menganggukan kepalanya.
Mereka langsung masuk ke dalam mobil menuju acara Grand Opening Hotel Wilton. Di dalam perjalanan Dokter Zek merasa sangat gugup duduk di samping Moly, Moly yang melihat tingkah aneh Dokter Zek langsung berkata, "Zek, kau kenapa? Aku perhatikan kau terlihat tidak nyaman? Apa penampilan ku membuat mu kurang nyaman?" Moly menatap Zek dengan ragu.
__ADS_1
Sampai di hotel Wilton, Moly dan Zek keluar dari mobil dan berjalan bersama masuk ke dalam hotel itu, mobil Yojin pun terparkir tepat di samling mobil Zek, Yojin langsung masuk ke dalam hotel itu.
Acara pembukaan hotel Wilton berjalan lancar, dan saat ini memasuki acara makan bersama, Moly langsung berjalan menuju prasmanan yang sudah di sediakan, Moly melihat Yojin berdiri tepat di hadapannya.
Deg....
"Yojin," suara lirih Moly menatap Yojin.
Tanpa basa basi Yojin langsung meraih tangan Moly dan membawa Moly keluar dari acara itu, dengan tangan masih di pegang dengan erat, Yojin terus berjalan membawa Moly menaiki lift.
Moly merasa bingung dengan tindakan Yojin yang membawanya ke lantai atas hotel itu, Pintu lift terbuka dan langkah Yojin terhenti saat Moly berusaha melepaskan genggaman Yojin.
"Lepaskan aku, aku mau turun," kata Moly.
Tak memperdulikan Moly, Yojin tetap membawa Moly dengan paksa masuk ke dalam salah satu hotel yang sejaga sudah di pesan oleh Yojin.
Moly di peluk dengan erat oleh Yojin, Moly hanya terdiam tidak membalas pelukan Yojin. cukup lama mereka berpelukan membuat Moly susah bernapas dan ingin melepaskan pelukan itu.
"Lepaskan aku, apa kau tidak dengar!" triak Moly.
Yojin langsung melepaskan pelukan itu, "sayang maafkan aku, apa kau tidak merindukan ku?" tanya Yojin memegang wajah Moly. Moly yang juga merindukan Yojin hanya bisa menangis, tak sanggup bibirnya mengatakan apapun.
"Jangan menangis," ucap Yojin membasuh air mata Moly.
Moly pun tanpa ragu memeluk Yojin dan menangis semakin keras, Moly memukul dada Yojin dan mengatakan, "kau jahat, kau jahat dengan ku," tangisan itu semakin kuat. Yojin hanya bisa berdiam diri saat Moly terus memukulnya.
Yojin langsung memegang tangan Moly, "maafkan aku telah meninggalkan mu, tapi percayalah aku melakukan semua ini demi keselamatan mu sayang," suara Yojin terdengar gemetar menahan air mata itu jatuh ke pipinya, tapi tak kuasa untuk di bendung air mata itu menetes.
Mereka pun kembali berpelukan, "katakan padaku Yojin, katakan yang sejujurnya," suara lirih Moly terdengar sangat menyedihkan.
__ADS_1
Yojin pun menceritakan tentang sertifikat BM yang selama ini masih menjadi misteri yang belom terpecahkan, membuat Yojin harus mengamankan Moly dan bayinya saat itu. Moly yang mendengar penjelasan Yojin merasa bersalah, karena selama ini ia hanya menganggap Yojin pria yang jahat dan tega meninggalkan dirinya seperti itu tanpa alasan yang jelas.
Saat ini Moly sudah mengetahui alasan yang sesungguhnya, mereka berdua pun berciuman untuk melepaskan kerinduan yang hampir 2 tahun terpendam tanpa saling menyapa.
"Bagaimana dengan anak kita?" tanya Yojin memeluk Moly yang duduk di sofa menatap jendela itu.
"Dia anak yang kuat, dan juga tampan seperti dirimu," jawab Moly membuat Yojin tersenyum.
"Benarkah? Aku ingin memeluknya," kata Yojin.
"Apa sekarang kita bisa tinggal bersama?" tanya Moly menatap Yojin.
"Situasinya masih sangat rumit," ucap Yojin.
"Apa kau akan terus meninggalkan ku dan Eji? Aku hanya ingin bersama mu apapun yang terjadi? Ku mohon biarkan aku tetap bersama mu, aku tak sanggup jika terus berpisah seperti ini, jika memang takdir kematian yang memisahkan kita aku ikhlas melakukan itu, ku mohon jangan tinggalkan aku," jelas Moly meneteskan air mata nya.
Mendengar penjelasan Moly hati Yojin tergerak dan langsung memeluk Moly dengan begitu erat.
"Aku tidak bisa melihat mu terluka jika kau terus dekat dengan ku," ucap Yojin.
"Aku akan lebih terluka jika jauh dari mu, kita lewatkan semua ini bersama, ku mohon jangan tinggalkan aku, aku sangat mencintai mu," ucapa Moly membuat Yojin meneteskan air matanya.
Moly yang melihat Yojin menangis langsung mengusap air mata Yojin dengan lembut, "bawa aku dan Eji bersama mu, kita lewatkan semua ini bersama, jangan pendam kesedihan mu sendirian, aku memang bukan bagian dari hidup mu, aku berawal menjadi istri bayaran mu tapi aku tulus mencintai mu, aku bahkan rela untuk menukar nyawa ku demi kebahagiaan mu tapi ku mohon jangan tinggalkan aku, apapun alasannya aku akan tetap bersama mu," jelas Moly kepada Yojin.
Dokter Zek menyadari Moly tidak ada di acara itu, dirinya mulai panik dan segera menelpon Bunga untuk menanyakan apakah Moly ada bersamanya di dalam mobil atau tidak, mendapat jawaban dari Bunga tidak. Dokter Zek langsung mencari setiap tempat yang ada di dalam acara itu.
"Kemana perginya Moly?" tanya Zeki mengusap wajahnya dengan kasar.
BERSAMBUNG.
__ADS_1