
Wajah Arga perlahan mendekat ke arah bibir ranum Istrinya kali ini Jesslyn tidak bisa mengontrol detak jantungnya, ada apa denganya biasanya juga tidak begini. Oh apa karena dia sudah jarang melakukan hal yang romantis karena mereka sibuk dengan urusannya masing-masing, bisa saja begitu.
Jesslyn memalingkan wajahnya namun Arga masih bisa membuat Jesslyn hanya memfokuskan pada dirinya. Alhasil Jesslyn menatap lekat bola mata coklat Arga. "Sial bagaimana dia makin terlihat tampan" batin Jesslyn dalam hati. Arga hanya memfokuskan pada wanita cantik di depannya yang sedang berada dalam kurungannya.
Mendekatkan wajahnya lebih dekat Jesslyn bersiap dengan menutup matanya Arga berbisik kepada Jesslyn. "Apa kau akan terus memikirkannya? usaha dong hm jangan dibuat overthingking gak baik" bisik Arga dekat sekali dengan Jesslyn nafasnya menyapa lehernya membuat Jesslyn merasa geli.
Jesslyn tersenyum paksa mencoba mendorong Arga menjauh darinya dengan tenaganya, namun sia-sia dia sudah tidak mengizinkan Jesslyn beranjak darinya. Apa benar hal yang dibicarakan Arga barusan? dia tidak seperti ini biasanya.
"Ah mungkin hanya becanda" batin Jesslyn mencoba berfikir positif.
Arga kembali menatap wajah Jesslyn menunggu jawabannya, wajah Jesslyn masih tampak berfikir.
"Apa kau tidak tau harus berbuat apa? please jangan egois sayang" ucap Arga dengan tatapan melasnya Jesslyn bingung maksud suaminya.
Kebiasaan suaminya memang susah ditebak kadang dia jail kadang maksa bahkan Jesslyn suka dibuat bingung. Pribadinya aneh Arga bisa bersikap polos didepan orangtuanya. Bersikap memaksa, sering sekali dan sikapnya kepada anak-anak sangat beda sekali saat dia sedang bersama Jesslyn.
Jesslyn tampak mengambil nafas kemudian tersenyum mengelus pipi Arga. Dia sudah mengerti maksud Arga dari kata egois tadi.
"Kemarin hanya emosi saja memang tak sepantasnya saya mengatakan hal seperti itu kepada Rayan i will finish" jawab Jesslyn, Arga mengangguk tersenyum karena Jesslyn paham apa yang dia maksud.
Posisi mereka masih sama seperti tadi masih saling menatap. Tidak menyadari dari luar ada yang mengetuk pintu sambil salam berkali-kali tapi sama sekali tidak ada jawaban.
"Anjir mana dah kok kagak dibuka-bukain" ucap Rayan kesal melipat kedua tangannya di dada.
Masih setia menunggu dibukakan pintu mencoba mengetuk pintunya lagi masih belum ada jawaban dan respon. Rayan akhirnya merogoh kantongnya untuk mengambil hp nya untuk menelfon Ayahnya. Mau langsung masuk juga gak enak takutnya ganggu padahal dulu juga dia langsung nyeludur langsung masuk.
Sayangnya Ayahnya masih tidak menjawab telfonnya. Rayan berpikir apa dia langsung masuk aja ya daripada hanya berdiri di sini saja. "Enggak boleh gitu gak sopan njir" ucap Rayan, ide muncul dia tanya dulu sama sekertaris Ayahnya. Agak ribet sih sebenarnya tapi mau gimana lagi.
Rayan jalan ke samping mengetuk pintu yang bertuliskan Ruangan Sekertaris. Tidak lama orangnya langsung membukakan pintunya. Menunduk hormat saat tau siapa yang mengetuk pintunya. "Taun muda Rayan ada perlu apa ya?" tanya sekertaris ramah.
Rayan balik menunduk dan tersenyum. "Ayah ada di ruangannya gak? kok dari tadi gak ada yang respon" tanya Rayan langsung.
Sekertaris itu mengangguk paham."Oh Bapak Arga ada di ruangannya" jawabnya.
Rayan mengangguk paham. "Oh baik terimakasih" pamit Rayan kemudian langsung pergi dari situ dan kembali ke depan ruangan Ayahnya.
Dia masih memikirkan apa dia langsung masuk apa nunggu lagi. "Daripada gua di sini terus mending masuk aja dah gak bersuara gak ganggu juga kan" ucap Rayan finally.
Mengetuk pintunya lagi masih sama gak ada jawaban akhirnya dia langsung saja membuka pintunya.
Rayan masuk dengan pelan kemudian menutup lagi pintunya dengan pelan. Saat dia menolehkan kepalanya dia terkejut melihat apa yang sedang terjadi di depan matanya langsung. "Astaghfirullah ... maaf-maaf gak tau" ucap Rayan mengagetkan Ayah dan Bundanya yang sedang berciuman mesra itu.
"Aduh ini bocah datengnya gak tepat banget anjir" ucap Arga dalam hati.
Arga dengan paksa menoleh ke arah anaknya yang nyengir di dekat pintu. Jesslyn melotot ke arah Arga wajah Jesslyn merah karena dia merasa malu sekarang.
"Hehe gak sengaja kalau mau lanjut silahkan saya keluar dulu" ucap Rayan menggaruk kepalanya sambil nyengir.
Rayan segera meninggalkan ruang Ayahnya. "Tau gitu gua kagak usah datang ke sini Arga Dirgantara emang ya! ngapain nyuruh gua ke sini apa mau nunjukin hal tadi" ucap Rayan di sepanjang jalannya.
Di ruangannya Arga, "Arga goblok kenapa gak dikunci njir tanggung jawab lu" ucap Jesslyn tak terima memukul lengan suaminya.
Yang dipukul hanya nyengir tak berdosa. "Ya kirain Rayan lama datangnya kalau mau ke sini" jawab Arga.
"Hah? kamu nyuruh Rayan ke sini ngapain?" tanya Jesslyn penasaran.
"Gakpapa cuma gak suka aja liat kalian gak saling sapa selesain di sini sekarang gak ada penolakan" jelas Arga yang mulai memaksa.
Arga segera berlari untuk menyusul anaknya yang tidak jadi menemuinya. Karena sudah terburu-buru Arga tidak menggunakan lift karena masih dipakai pegawainya. Ruangannya berada di lantai yang tidak terlalu bawah juga tidak terlalu di atas, pertengahan.
__ADS_1
Pegawainya speechless melihat bosnya yang sedang menuruni tangga dengan tergesa-gesa.
"RAYAN BERHENTI WOU!" panggil Arga saat sudah melihat Rayan yang baru keluar dari lift.
"Ada apa Bapak" tanya Rayan santai.
"Ayok ikut ngapain turun lagi" ajak Arga masih ngos-ngosan menggandeng tangan Rayan. "Oh kirain masih mau lanjut pak" jawab Rayan menggoda Ayahnya dengan menyenggol-nyenggol lengan Ayahnya.
Mereka berdua sekarang jadi pusat perhatian, Bapak dan anaknya tampan-tampan jadi sayang kalau mau dilewatkan.
"Kan bisa telfon aja Yah daripada capek-capek nurinin tangga padahal ada lift" jelas Rayan yang kini sudah di lift bersama Ayahnya.
Reflek Arga menepuk jidatnya. "Oh iya ya buang-buang tenaga" ucap Arga.
Di ruangannya suaminya Jesslyn sedang resah memikirkan bagaimana dia minta maaf kepada anaknya. Jesslyn berjalan bolak-balik sampai suami dan anaknya sudah berada di situ. Sekarang dia sangat malu melihat Rayan wajahnya terasa panas sekarang.
"Siang Bun" sapa Rayan yang sudah duduk di sofa sedangkan Jesslyn masih berdiri. Arga kembali dengan pekerjaannya yang sempat dia tinggalkan.
Jesslyn terlalu larut dengan pikirannya sampai tidak menjawab sapaan anaknya. Rayan jadi menyimpulkan kalau Bundanya masih marah kepadanya.
Jesslyn berjalan ke meja Arga. "Sudah waktunya makan siang saya izin pamit dulu" ucap Jesslyn yang kemudian meninggalkan ruangan Arga.
Rayan kembali memasang wajah sedihnya, Bundanya seperti tidak menggapnya ada padahal dia ada di sini.
Arga berjalan ke arah Rayan, "Tenang dia hanya sedang gengsi" ucap Arga. Rayan dibuat bingung apa maksud dari gengsi, apa ada hubungannya.
Ayahnya memang kalau bicara tidak langsung pada intinya susah dimengerti.
Rayan tampak berfikir keras memikirkan ucapan Ayahnya. "Bunda gengsi? karena tadi ya" tanya Rayan lagi.
"Ngawur kamu bukan yang itu" jawab Arga.
Rayan meletakkan tangannya di dada. "Rayan gak sengaja emang tadi sumpah lagian ini salah Ayah dong!" ucap Rayan
"What! kok saya?" ucap Arga tak terima dituduh anaknya, Rayan melotot ke arah Ayahnya. "Emang iyakan? kalo Ayah gak nyuruh Rayan kesini gak bakal kayak gini ohh ya — Ayah cuma mau pamer aja kan" ucap Rayan menuduh Ayahnya lagi.
"Njer mana ada kayak gitu itu hanya ketidaksengajaan jadi gak usah dibahas lagi, lagian kamu juga udah 18 tahun jadi gak masalah" ucap Arga.
"Tapi Ayah barusan bilang Bunda gengsi kan, berarti ya itu!" ucap Rayan.
"Bunda kemarin gak sengaja bilang itu sama kamu karena lagi kebawa emosi jadi sekarang gengsi mau ngomong maaf sama kamu, karena di sini saya simpulkan kalian berdua sama-sama salah" jelas Arga.
Arga sengaja mengatakan itu agar Rayan tidak merasa sakit hati lagi. Arga yakin Rayan paham apa yang dia maksud. "Jadi jangan saling menghindari kalau gitu terus nanti gak akan selesai-selesai, mengerti?" ucap Arga sebagai kepala keluarga, Rayan hanya mengangguk. Setelahnya Arga keluar dari ruangannya karena ini sudah waktunya istirahat.
Rayan memutuskan untuk merebahkan dirinya di sofa itu. Harusnya sekarang ini dia sudah berada di kasur empuk kesayangan.
Tidak bisa menahan ngantuknya Rayan akhirnya memejamkan mata sambil menunggu Ayahnya kembali. Bahkan Ayahnya tidak mengajaknya untuk makan siang sekedar menawari walau pasti akan ditolak Rayan, karena dia masih kenyang.
"Nyuruh-nyuruh ke sini gua kagak di kasih makan, uang doang banyak tapi sama anaknya—" ucap Rayan menggerutu sambil memejamkan matanya.
Ayahnya kembali masuk ke ruangannya. "Salah sendiri gak minta" ucap Arga yang menggambil hp nya di meja. Dia kembali karena lupa membawa hp nya, saat masuk ternyata anaknya sedang membicarakan dia.
Rayan terlonjak kaget, "Becanda doang tadi iseng-iseng aja" ucap Rayan sambil menggaruk kepalanya.
"I know, semua bisa dilakukan jika mempunyai banyak uang that's right? ucap Arga.
"Kebahagiaan bukan berasal dari uang" ucap Rayan menasehati Ayahnya. Arga menjawab balik omongan anaknya. "Itu kamu bukan saya" ucap Arga yang setelah itu segera pergi dari ruangannya. Rayan sih bodoamat karena Ayahnya hanya bercanda dia memilih melanjutkan tidur siangnya, kapan lagi bisa tidur siang kayak gini.
Arga menyusul Jesslyn di restoran dekat kantornya. Tidak terlalu mewah karena Jesslyn bukan orang yang suka kemewahan dia cenderung sederhana.
__ADS_1
Padahal Jesslyn tidak mengajak suaminya untuk makan bersama Arga saja yang datang menemuinya karena Arga sudah tau pasti Jesslyn akan pergi ke sini.
Mengganggu Jesslyn yang sedang asik bergosip bersama sahabatnya. Dengan seenaknya dia menyuruh sahabat Jesslyn pergi dari mejanya.
Jesslyn mendelik tidak suka menatap suaminya rasanya ingin menyakar wajahnya tapi sayang nanti kalau gak ganteng lagi gimana. "Loh kok disuruh pergi ganggu aja, mentang-mentang bosnya tapi ya jangan seenaknya sendiri" ucap Jesslyn tidak suka Arga hanya tersenyum melihat wajah istrinya ini.
Jesslyn memalingkan wajahnya ke arah lain Arga yang melihat Jesslyn yang sedang ngambek jadi merasa gemas sendiri. "Ghibahnya lancar ya Bun" ucap Arga mencubit pipinya Jesslyn.
Jesslyn yang tidak suka menatap tajam suaminya. "Ih gak usah pegang-pegang ya kamu" Jesslyn yang tidak terima karena digoda suaminya, dia sedang kesal.
"Cepet makannya jangan gosip terus udah ditunggu Rayan tuh" ucap Arga lembut.
"Iya ini mau makan" jawab Jesslyn sambil memasukkan satu sendok penuh makanan.
Arga yang melihatnya menahan tawanya wajah Jesslyn jadi terlihat imut kalau sedang marah.
Jesslyn yang merasa dirinya ditertawakan melihat ke arah suaminya. "Kenapa? gak ada yang lucu ya" ucap Jesslyn, Arga hanya tertawa melihatnya.
"Gak makan juga? apa gak doyan aja?" tanya Jesslyn kepada Arga karena dia tidak memasan makan.
"Kesini apa cuma mau liat saya makan aja?" tanya Jesslyn lagi.
Arga mengubah ekspresi wajah menjadi serius. "Bukan begitu cuma lagi gak lapar ah tepatnya saya gak mau makan kalau kamu sama Rayan gak baikan". jawab Arga sambil merapikan jas kerjanya.
Jesslyn tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban suaminya karena itu dia jadi tersedak makanannya. Arga dengan cepat memberikan air ke Jesslyn.
"Adoh capek ngakak gua alay banget lu" ucap Jesslyn masih dengan tertawa memegang perutnya capek tertawa. Arga tidak menanggapi dengan serius dia masih berusaha mempertahankan ekspresi seriusnya walau aslinya dia juga ingin ikut ngakak bersama Jesslyn.
"Ya sudah kalau begitu saya duluan jangan lupa saya tunggu anda di ruangan saya" pamit Arga yang kemudian segera meninggalkan tempat itu.
Arga kembali ke kantor dia akan memesan makanan sekalian untuk Rayan juga.
Arga membuka pintu ruangannya dilihat Rayan sudah tidur terlelap di sofa. Dia hanya bisa tersenyum melihat wajah anaknya yang bisa dibilang mirip dengannya banyak orang yang bilang seperti itu. Tidak seratus persen mirip dengannya, hidungnya sangat mirip sekali dengan Jesslyn kalau sifat nakalnya memang udah turunan dari Bapaknya.
Sambil menunggu makanan dan Jesslyn dia kembali mengerjakan pekerjaan yang sempat tertunda. Saat sudah memfokuskan dirinya pada laptop tiba-tiba hp nya berdering.
"Tumben nelfon kenapa sayang?" tanya Arga langsung.
"Lupa tadi gak nawarin makan, udah makan?" tanya Jesslyn.
"Cie masih peduli" jawab Arga menggoda istrinya.
"Udah makan belum??" tanya Jesslyn lagi.
"Belum tapi udah pesen, oh ya saya tunggu kamu sebelum makanan saya datang kamu sudah harus di sini". setelah mengucapkan itu Arga langsung mematikan telfonnya.
10 menit berlalu Jesslyn masih belum datang. Pintunya di ketuk dan ternyata makannya sudah datang duluan.
Arga kembali melanjutkan pekerjaan tidak ada niatan untuk makan.
Tidak lama Jesslyn sudah datang ke ruangannya, karena Arga terlalu fokus dengan pekerjaannya dia tidak menyadari kehadiran Jesslyn. Dia masuk tanpa mengetuk pintu.
Jesslyn berjalan mengendap-endap tujuannya mengagetkan Arga yang sedang fokus.
"DOR" Jesslyn mengagetkan Arga dengan menepuk pundaknya dari belakang.
"SETAN!" ucap Arga terkejut. Jesslyn bisa tertawa lagi melihat suaminya.
Rayan sama sekali tidak merasa terganggu dengan teriakan Ayahnya dan suaranya Bundanya yang sedang tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
Aslinya Arga juga ingin ikut ketawa tapi dia harus profesional. "Kok lama? kamu gak tau disiplin waktu ya?"