
Mereka semua keluar dari cafe nongkrong favorit mereka. Kebetulan juga mereka bertujuh membawa motor sportnya jadi bisa mengambil kesempatan ini.
Setiap malam di dekat cafe itu banyak anak-anak muda berkumpul setiap hari pasti akan mengadakan balapan dengan taruhan uang bahkan ada yang taruhan cewek. Zergan cukup terkenal di sini karena dia dulu sering memenangkan balapan tersebut.
Segerombolan gengnya Zergan tiba di area balapan yang membuat orang-orang di sana terkejut. Bagaimana tidak terkejut sudah lama sekali dia tidak ke sini ditambah lagi dia dan gengnya kembali.
"Masih punya nyali lu?" tanya cowok di situ.
"Why? suka-suka gua lah" jawab Zergan percaya diri sambil menghisap rokoknya.
"Berani berapa lu?" ajak cowok yang baru datang dari arah belakang, dia cowok yang tidak berhenti mengajak gengnya Zergan untuk balapan walau sering kalah tapi dia masih kokoh dengan pendiriannya.
"Weh masih berani ae lu" ejek Sean.
"Udah kagak usah banyak bacod gas sekarang" ucap Rayan, dia ingin ini cepat berakhir agar dia bisa cepat pulang.
"5 juta gimana?" tanya Arkan cowok tadi.
"No problem lebih dari itu gua juga berani" jawab Zergan sambil menyeringai menatap remeh pada Arkan.
"Cih pede bad lu njir" balas Arkan dengan tatapan tajamnya.
Zergan dan Arkan sudah siap di garis startnya di tengahnya ada cewek yang akan memulai startnya.
Mereka saling menatap remeh, Zergan yakin dia akan menang lagipula dia sedang tidak butuh uang.
Menancapkan gas ketika bendera sudah diangkat, Zergan mengendarai motornya dengan kecepatan yang sangat cepat dia sedang ditutup oleh rasa emosi dan sedihnya, tidak memikirkan apa yang bisa terjadi jika dia tidak memikirkan kondisi tubuhnya. Di belakang Arkan sedang berusaha menyelip Zergan yang sudah jauh di depannya.
Sebentar lagi garis finish sudah terlihat Zergan memelankan lajunya. Di depan sana banyak yang meneriaki namanya Zergan tersenyum menyeringkai.
Arkan tiba di sebelah Zergan tersenyum remeh kepada Zergan yang di balas Zergan dengan senyumnya.
Tinggal sedikit lagi tapi Zergan memberhentikan motornya membiarkan Arkan duluan yang melewati garis finish di depannya baru dia menyusul di belakang.
"Padahal bentar lagi dah lu yang menang" ucap Riki menepuk pundaknya Zergan.
"Udah liat apa yang akan gua lakuin" jawab Zergan yang kemudian turun dari motor menuju Arkan yang sedang dikerumuni pendukungnya mungkin, karena dia bisa mengalahkan Zergan.
"Gua tau lu lagi butuh uangkan? butuh berapa gua transfer sekarang" ucap Zergan enteng.
"Apaan dah lu ngerendahin gua terus, mentang-mentang semua bisa dilakuin dengan uang bukan berarti lu bisa seenaknya" nasehat Arkan yang membuat Zergan langsung terdiam, ada benarnya juga dia berkata seperti itu.
"Lagian kalaupun gua lagi butuh uang gua bisa nyari dengan cara yang lebih halal selagi bisa kenapa enggak" ucap Arkan lagi.
Zergan diterpa dengan kenyataan yang begitu menyakitkan dia selama ini hanya mengandalkan kekuasaan orangtuanya.
"Yah lu emang bener" jawab Zergan tersenyum.
"Gua duluan, thanks" pamit Arkan meninggalkan tempat itu.
Zergan bersama temannya masih di tempat itu, mereka menepi di tempat yang tidak terlalu ramai.
"Gimana Zer? lu udah tau kan maksud hidup?" tanya Haris yang mengerti apa yang sedang dipikirkan Zergan.
"Yah gua paham betul" jawab singkat Zergan.
Pandangan Zergan teralihkan oleh mobil sport mewah berwarna putih tidak asing bagi Zergan, matanya Zergan menatap plat mobil tersebut bisa ditebak itu mobil siapa.
"Wih keren juga ya nyalinya si mbak ex nya Zergan" ucap Jake yang dari tadi hanya menyimak saja.
__ADS_1
"Lu gakpapa Zer? apa mau cabut aja?" tanya Rayan khawatir dengan kondisi Zergan.
Mereka juga tau mobil siapa itu, karena bisa dilihat dari ekspresi wajah Zergan yang terkejut.
Mobil putih tersebut adalah mobil milik Cellyn dia paham betul kebiasaan Zergan jika sedang bermasalah dia dulu juga sering diajak kesini oleh Zergan. Cellyn tadi sempat melihat Zergan yang sedang menangis ketika dia sedang berada di kamarnya Rayan. Cellyn jadi merasa bersalah karena menambah masalahnya Zergan langsung bisa dia tebak Zergan pasti akan pergi ke tempat ini.
Mobil Cellyn berhenti tepat di tempat mereka berada, membuka kaca mobilnya menampilkan wajah cantiknya.
"Gua gak ganggu kan?" tanya Cellyn.
"Gak, mau apa?" jawab Zergan dengan muka datarnya menatap Cellyn.
Zergan bisa disebut sosok yang tidak terlalu tertarik dengan cewek-cewek, walaupun banyak yang menyukainya tapi dia hanya mau dengan Cellyn. Zergan sendiri hanya berpacaran dengan Cellyn dia fikir hubungan akan bertahan sampai nanti maut memisahkan ternyata tidak hubungan mereka di pisahkan saat Zergan dan Cellyn sudah lulus SMA.
"Gua bisa ngomong berdua sama Zergan?" tanya Cellyn menatap mereka bertujuh, meminta persetujuan kepada teman-temannya Zergan.
"Bisa" jawab Zergan singkat.
Zergan menyalahkan motornya berjalan duluan yang kemudian disusul mobilnya Cellyn di belakangnya.
"Walah anjir padahal gua mau pulang" keluh Rayan yang semakin khawatir.
"Hayoloh Kak Ray tiati Buna nya marah-marah" ejek Riki yang makin memperburuk suasana saja, Reflek Rayan menutupi mulutnya Riki.
"Gemes pen gua buang" ucap Rayan masih dengan menutup mulutnya Riki yang merontah minta dilepaskan.
Zergan memberhentikan motornya di sebuah taman yang sepi tidak jauh dari tempat tadi.
Zergan membuka helmnya rambutnya acak-acakan dengan wajah lelahnya. Duduk di bangku taman menghembus udara malam itu. Tak lama Cellyn datang setelah memarkirkan mobilnya.
Cellyn duduk di sebelah Zergan, karena merasa terlalu dekat Zergan menggeserkan tubuhnya menjauh dari Cellyn.
"Zer gak kangen Cellyn?" tanyanya memecahkan suasana.
Cellyn cukup terkejut dengan bahasa yang menurutnya kasar. Dia tidak pernah berbicara dengan Lu Gua.
"Gakpapa cuma nanya aja" jawab Cellyn tersenyum.
Hening sejenak tidak ada yang memulai pembicaraan, mereka berdua terlalu gengsi untuk mengungkapkan bahwa mereka sama-sama saling merindukan. Ego adalah hal yang paling susah untuk dikalahkan.
"Lu temennya Rayan?" tanya Zergan memecah suasana.
"Iya satu kelas cuma gak terlalu deket, dia kayaknya emang gak suka ya sama gua" jawab Cellyn, tatapannya hanya memandang kosong kedepan tidak berani menatap wajah Zergan sosok yang dia rindukan berada di sampingnya dengan perasaan yang mungkin sudah beda.
"Lu gak pernah nanya soal gua ke dia?" tanya Zergan lagi.
"Enggak kok cuma..." jawab Cellyn menggantungkan kalimatnya.
"Kenapa?" tanya Zergan.
"Gak ada gakpapa" jawab Cellyn ragu.
Sebenarnya Zergan ingin bertanya kenapa Cellyn tiba-tiba memutuskannya, tapi karena ego dia tidak berani bertanya.
"Udah malam pulang aja ntar lu dimarahin" suruh Zergan.
"Gak masalah, gimana apa semua berjalan baik?" tanya Cellyn.
"Baik" jawab Zergan singkat, dalam hati dia ingin memaki-maki dirinya sendiri padahal dia ingin mengatakan dia sempat tidak nafsu hidup karena ditinggal Cellyn secara tiba-tiba.
__ADS_1
"Btw ... enggak kuliah kenapa Zer?" tanya Cellyn ragu takut menyinggung perasaan Zergan.
"Gakpapa capek mikir" jawab Zergan.
"Haha lucu ya padahal seru" ucap Cellyn dengan tawa garingnya.
"Tadi gak sengaja banget ya kita ketemu, gua gak mikir dulu kalau mau kerumahnya Rayan" ucap Cellyn.
"Why?" tanya Zergan.
"Ya gua tadi cuma mengiyakan ajakannya Avyn, tanpa mikir-mikir dulu, takut ketemu k-kamu eh lu dan yah kita ketemu" jelas Cellyn.
Zergan bisa menyimpulkan apa maksud dari perkataan Cellyn. Dia mencoba menjauh darinya tapi dia juga mengetahui apa yang terjadi dengan Zergan. Zergan yakin Cellyn menyembunyikan sesuatu padanya.
"Lu ngehindar dari gua?" tanya Zergan tersenyum kecut.
"Haha enggak selama ini sibuk sama kuliah aja" jawab bohong Cellyn jantungnya berdegup dengan kencang.
"Lu sengaja ambil jurusan sama dengan Rayan? biar bisa tau kabar gua?" tanya Zergan.
"A-ah bukan gitu, cuma ngikut Avynka kita udah sering satu kelas jadi ya udah... eh" jelas terbata-bata.
"Serius? Lu ngengindar dari gua? tapi lu masih peduli sama gua" tanya Zergan penasaran nada bicaranya mulai meninggi.
"Lu tau kan gua..." kalimat Zergan menggantung.
"G-gak kok" wajah Cellyn tampak bingung, pasti pertanyaan ini akan Zergan tanyakan dia sendiri tidak tau harus menjawab apa.
"Apa maksudnya semua ini?" tanya Zergan menatap tepat di bola mata Cellyn dengan tatapan tajamnya.
"Maaf gua gak bisa jelasin" jawab Cellyn menunduk, Zergan tersenyum miris melihat Cellyn.
"Kita kenal udah lama banget kan" ucap Zergan.
"I-iya Zer udah lama" jawab Cellyn.
Zergan mengangkat wajah Cellyn yang tidak berani menatapnya.
"so lu gak bisa sembunyin sesuatu sama gua, maksudnya apa hah?" tanya Zergan masih dengan tatapan tajamnya.
"Maaf gua gak bisa jelasin sekarang Zer..." jawab Cellyn takut.
"Hah Zergan kok jadi kasar gini" ucap Cellyn dalam hati.
"Terserah gua udah capek!" bentak Zergan tepat dihadapan Cellyn.
"Sorry banget Zer" balas Cellyn yang mulai berani menatap wajah Zergan.
Zergan hanya terdiam entahlah dia bingung harus bagaimana. Cellyn tidak kuat menahan tangisnya akhirnya dia menangis, dia tidak pernah dibentak Zergan jadi Cellyn terkejut hatinya sakit.
Reflek Zergan memeluk Cellyn yang menangis. Dia jadi merasa bersalah karena sudah membentak dan kasar dia sebelumnya tidak pernah seperti ini kepada Cellyn hanya saja kondisinya sedang kacau.
"Sorry Lyn gak ada maksud bentak lu" ucap Zergan menenangkan Cellyn yang berada di pelukannya.
Sudah lama sekali Cellyn tidak merasakan pelukan hangat Zergan, rasanya tidak rela melepasnya tapi dia tidak boleh jatuh lagi hanya karena cinta. Jujur saja Cellyn masih menyimpan perasaan untuk Zergan.
"Haha suka sama Rayan cuma buat gua pelampiasan ternyata, gua masih belum selesai dengan masalalu gua" batin Cellyn.
Melepaskan pelukannya, Cellyn menghapus air matanya tersenyum paksa.
__ADS_1
"Gua pergi dulu Zer udah malam" pamit Cellyn, sebenarnya dia masih ingin menghabiskan waktu bersama Zergan lebih lama lagi tapi ini tidak mungkin untuk sekarang.
"Hati-hati di jalan" ucap Zergan.