
Arga masih setia menunggu bersama Istrinya di ruang tamu sedikit mengecek pekerjaannya yang dikerjakan oleh Jesslyn, jujur saja dia sudah sangat mengantuk.
Menyadarkan kepalanya di bahu istrinya, ingin beranjak dari situ Arga merasa tidak enak. Melihat jam yang sudah sangat larut masih belum ada tanda-tanda kepulangan anaknya. Mereka khawatir karena sudah lama Rayan tidak pulang seperti ini. Dulu sering tapi dia sudah berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Menghubunginya pun percuma tidak ada balasan sama sekali.
"Apa nanti kamu akan memarahinya?" tanya Arga tiba-tiba.
Jesslyn masih fokus dengan pekerjaannya jadi tidak terlalu memperhatikan suaminya yang bersender di bahunya nyaman.
"Kalau ngantuk tidur aja" jawaban yang diberikan Jesslyn mengalihkan pertanyaannya tadi.
"Kenapa tidak dijawab, hm?" tanya Arga sekali lagi.
"Entahlah aku enggak tau, semisal aku gak marahin dia bakal ngulangin lagi" jawab Jesslyn, Arga mengangguk mencoba berpikir mencerna perkataan Jesslyn.
"Tapi saya masih ada keyakinan Rayan tidak mengulanginya lagi karena dia tipe anak yang penurut sekarang, menurut saya" balas Arga menggunakan bahasa formalnya yang artinya dia sedang serius membahas hal ini.
"Mungkin tapi dia juga butuh nasehat tidak saya tidak akan memarahinya tapi apa itu mungkin saya lakukan? saya seorang Ibu ya wajar jika suka memarahi anaknya" jelas Jesslyn.
"Apa salah jika saya seperti ini?" tanya Jesslyn.
Arga memanggang kedua bahu istrinya mengarahkan wajahnya untuk menatapnya.
"Memang wajar seorang Ibu memiliki rasa sayang yang melebihi seorang Ayah kan? lagi pula saya dulu juga pernah seperti Rayan dan itu wajar" jelas Arga, Jesslyn mengangguk.
"Kalau soal memarahi itu bukan hal besar asal kamu jangan berlebihan? takutnya malah jadi over thinking nya Rayan sewajarnya saja. Dan ingat kita gak boleh banding-bandingin Rayan sama Rere mereka jelas berbeda" jelas Arga lagi.
"Yah memang beda, tapi kita tidak boleh pilih kasih dengan mereka walau Rere terlihat lebih baik dan penurut Rayan juga bisa seperti Rere dia bisa membuktikan" ucap Jesslyn masih dengan menatap wajah tegas Arga.
"Apalagi sampai membandingkan mereka berdua haha sangat tidak pantas bukan? jadi jangan sampai hal itu terjadi walau Rere terlihat lebih baik dari Rayan" ucap Jesslyn lagi, Arga tersenyum melihat wajah Jesslyn.
"Memang saya jarang memarahi Rere dan Rayan mengerti hal ini, saya lebih sering memarahi Rayan bentar-bentar..." jelas Jesslyn.
"Kenapa hm?" tanya Arga karena Jesslyn menggantungkan kalimatnya.
Di lantai atas ada Rere yang sedang mencoba mendengar pembicaraan orangtuanya, tidak sengaja. Dia tadi ingin menemani Bundanya tapi karena sudah ada Ayahnya jadi dia mengurungkan niatnya.
Rere terharu mendengar perkataan Ayah dan Ibunya, mereka sosok yang sempurna di mata dan hidupnya Rere, merasa sangat bangga kepada orangtuanya.
Rere masih belum beranjak dari tempat itu masih penasaran dengan pembicaraan Ayah dan Bundanya.
"Salah gak sih? enggak deh kayaknya" batin Rere.
Sebelum Jesslyn melanjutkan perkataannya bel rumah berbunyi. Bisa ditebak itu Rayan karena terdengar dari suara motornya.
Arga menahan Jesslyn yang ingin membukakan pintu. Jika Jesslyn yang membukakan Arga takut dia tidak bisa mengontrol emosinya jadi dia yang akan membukakan pintunya.
Sebelum beranjak dari duduknya Arga mengatakan sesuatu kepada Jesslyn.
"Ingat jangan berlebihan" ucap Arga kepada Jesslyn, dia mengangguk sebagai jawaban dia menyetujuinya.
Arga kemudian berdiri berjalan mebukakan pintu. Di luar Rayan hanya bisa pasrah dengan keadaan dia akui dia telah membuat kesalahan telah mengingkari janjinya sendiri.
Rayan bernafas lega saat melihat Ayahnya yang membukakan pintu. Bisa dilihat wajah Rayan terlihat sangat ketakutan.
Reflek Rayan memeluk Ayahnya dia sangat ketakutan sekarang.
"Its ok no problem, you said yourself this is not a big problem" ucap Arga mengelus pundak anaknya.
"No just kidding" jawab Rayan dipelukan Ayahnya.
"Ayah gak bisa bantu kamu, kamu salah soalnya" ucap Arga kepada Rayan.
"Yeah i know ya udah pasrah aja" jawab Rayan.
Mereka berdua masuk ke dalam rumah, Rayan menatap Bundanya yang kembali menyibukkan diri dengan laptopnya. Arga menghampiri Jesslyn berbisik kepadanya.
"Ingat jangan berlebihan dia tau kalau dia salah" bisik Arga, Jesslyn mengangguk mengerti.
Arga tidak akan ikut campur dia akan memutuskan pergi ke kamarnya karena besok dia harus kerja. Mengecup kening Jesslyn sebelum dia pergi ke kamarnya.
Rere yang mengetahui Ayahnya akan naik ke atas segera dia masuk ke kamarnya sebelum Ayahnya tau.
Di bawah Rayan masih menunggu Jesslyn bicara, berdiri sambil menundukan kepalanya. Bundanya masih fokus dengan laptopnya. Tidak lama Jesslyn bertanya kepada Rayan dan mulai melihat ke arah Rayan.
__ADS_1
"Jam berapa sekarang?" tanya Jesslyn.
"Mau jam 3 pagi Bun" jawab Rayan menunduk takut.
"Hp nya kamu mati apa gimana? gak ada kuota?" tanya Jesslyn, karena dari tadi Rayan sama sekali tidak membalas pesannya maupun menjawab telfonnya.
"Enggak mati kuota ada kok Bun" jawab Rayan.
"Ohh gitu, apa saking serunya sampai gak mau buka hp sebentar aja gitu" ucap Jesslyn.
Rayan tidak tau harus menjawab apa tidak berani menatap ke arah Bundanya.
"Masa gak liat waktu kamu? seru ya" ucap Jesslyn.
"Haha katanya gak mau ngulangin lagi kok dilakuin sih harusnya kamu bisa mikir kan" ucap Jesslyn, kata-katanya mulai nyelekit Rayan rasanya ingin menangis sekarang.
"Kalau gak bisa janji lebih baik sih gak usah sok janji gitu" ucap Jesslyn, dia berdiri dari duduknya mendekati Rayan yang menunduk tidak berani menatap dia.
"Sekarang maunya gimana? mau gak dipeduliin lagi kayak dulu enak ya" ucap Jesslyn.
Rayan sungguh terkejut mendengar perkataan Bundanya yang benar-benar membuatnya sakit hati. Bagaimana bisa Bundanya mengatakan hal itu, Rayan berpikir ini berlebihan dia tidak melakukan kesalahan yang besar. Lagian dia tadi tidak ikut balapan hanya melihat saja.
"L-loh kok Bunda g-gtu" jawab Rayan, air matanya sudah mulai keluar tubuhnya bergetar menahan isaknya.
"Ya mau gimana lagi ya, oh apa di ambil lagi motornya gimana true?" tanya Jesslyn lagi.
"Aku udah besar Bun kenapa ini terlalu berlebihan" Rayan memberanikan diri menatap Bundanya.
Sebenarnya Jesslyn benar-benar tidak bisa harus mengatakan hal yang membuat anaknya sakit hati. Apalagi sampai membuat anaknya menangis. Dia hanya sedang tidak bisa mengontrol emosinya.
"Ohh udah berani jawab ya" ucap Jesslyn, mencoba baik-baik saja walau aslinya dia ingin memeluk Rayan sekarang.
"Tapi memang betul seperti itu kan" jawab Rayan lagi.
Jesslyn terkejut melihat jawaban Rayan yang sudah berani.
"Rayan sekarang masuk kamar aja deh Bunda gak dihargai percuma juga kan" suruh Jesslyn kepada Rayan.
Rayan bingung kenapa jadi seperti ini, apa dia membuat keadaannya menjadi memburuk. Padahal dia sendiri tidak pernah menjawab jika sedang dimarahin maupun saat sedang dinasehati.
"Kenapa? memang begitukan sekarang mau apa lagi? emang Rayan udah enggak butuh lagi?" tanya Jesslyn, Rayan bingung harus berbuat apa sekarang.
"I'm only human Mom, sorry" jawab Rayan yang kemudian berlari menuju kamarnya.
Memang benar Rayan sudah besar dan pasti sudah tau bagaimana membedakan yang salah dan yang benar. Apa selama ini Jesslyn terlalu mengekang kebebasan anaknya, apa dia yang terlalu menyayangi anaknya.
Jesslyn memutuskan pergi ke kamarnya, kepala pusing dia sendiri tidak tau kenapa malah menjadi seperti ini.
Rayan menangis di kamarnya dia benar-benar hancur, dia tidak berfikir Bundanya tega mengatakan hal yang kejam kepadanya. Padahal Rayan yakin Bundanya tidak akan bisa dan tak akan pernah tega mengatakan hal seperti itu.
"Mungkin hanya ingin melatih mental ku saja, it's ok" ucap Rayan menenangkan dirinya sendiri.
Di kamarnya Jesslyn mulai terisak Arga yang sudah tidur terbangun karena mendengar suara Jesslyn yang menangis, dia hanya bisa memeluk menenangkan istrinya. Dia masih belum bisa bertanya apa yang terjadi tadi. Arga paham betul Jesslyn sosok yang lembut dia juga sebenarnya tidak segalak Ibu-ibu pada umumnya.
Sampai akhirnya Jesslyn terlelap dipeluknya, perlahan Arga menidurkan Jesslyn. Setelah itu dia keluar kamar ingin melihat keadaan Rayan.
"Rayan belum tidur nak?" tanya Ayahnya di luar kamarnya.
Mendengar ada suara Ayahnya dia mengusap air matanya, membukakan pintu kamarnya.
"Belum ini mau tidur" jawab Rayan mencoba baik-baik saja.
"Besok ada kelas pagi yakin bisa bangun pagi? apa sekalian gak tidur nanggung soalnya" ucap Arga mencoba menghibur Rayan.
"Bisa tidur sebentar aja kebetulan besok cuma ada kelas dikit bisa dilanjut tidurnya gampang" jawab Rayan.
"Oke tidur sebentar, jangan lupa sholat subuh nanti tidur lagi terus bangun lagi" balas Arga mengelus rambut anaknya.
"Oke bye good morning" pamit Arga pergi dari depan kamar Rayan.
Rayan hanya bisa tersenyum menanggapinya, sebelum dia menutup kembali pintu kamarnya adiknya tiba-tiba datang menahan dirinya.
"Ngapain lu gak tidur?" tanya Rayan melihat kehadiran Rere.
__ADS_1
"Mau tahajud sih cuma liat Kakak nangis tadi" jawab Rere, padahal dari tadi dia mendengar percakapan Bunda dan Kakaknya.
"Ohh kirain" jawab singkat Rayan.
"Kok lu kayaknya santai padahal pulang telat" tanya Rere, dia sedang berusaha agar Kakaknya tidak menggap serius omongan Bundanya tadi.
"Ya emang kenapa?" tanya Rayan.
"Nanya aja, ya udah bye" jawab Rere, yang kemudian melangkah kakinya untuk kembali ke kamarnya namun tangannya ditahan Kakaknya.
"Heh anjir lu Ray! gua udah wudhu napa lu pegang" ucap Rere tidak terima.
"Sorry gak tau gua" ucap Rayan enteng.
"Ada apa?" tanya Rere to the point.
"Avyn tadi gimana?" tanya Rayan penasaran.
"Emm Kak Avyn ya... tadi" jawaban yang sengaja dia gantung.
"Kenapa?" tanya Rayan lagi.
"Yah dia kecewa sih soalnya lu egois dia merasa gak dihargai padahal dia tadi udah rela dandan pakek baju cantik eh gak Kakak tinggal pergi" jelas Rere, padahal aslinya tidak seperti itu sengaja saja mengerjai Kakaknya.
Sengaja saja Rere bilang seperti itu ke Kakaknya, agar dia merasa bersalah karena sudah tidak menghargai kedatangan Avynka.
"Gak boong kan lu?" tanya Rayan curiga.
Belum menjawab pertanyaan Kakaknya Avyn segera masuk ke dalam kamarnya, daripada ditanya-tanyai sama Kakaknya mending menghindar saja.
Rayan kembali masuk kedalam kamarnya dia bingung harus bagaimana dia merasa resah. Tidak bisa tenang karena masih merasa bersalah kepada Bundanya. Tidak ada niatan untuk mencuci muka maupun mengganti baju. Diam terduduk di karpet kamarnya sambil melamun padahal masih ada waktu yang digunakan untuk tidur namun Rayan tidak melakukan hal itu. Dia tidak akan mengantuk sebelum meminta maaf kepada Bundanya dia tidak akan tentang sebelum semua baik-baik saja.
"Ahkh sial! padahal gak kenapa-kenapa kok sekarang jadi gini" ucap Rayan frustasi menjambak rambutnya.
"Gua harus gimana anjir!" ucap Rayan kembali meneteskan air matanya.
"Yah gua belum jelasin".
"Wait... emang Bunda masih mau dengerin?".
Melamun terus sampai dia mendengar suara adzan shubuh. Rayan beranjak dari duduknya menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu dengan itu mungkin bisa lebih menjadi tenang.
Biasanya orangtuanya akan bangun untuk sholat subuh bersama, tapi Rayan jarang ikut sholat subuh berjamaah. Dia bingung sekarang jika dia ikut sholat bersama orangtuanya pasti Bundanya akan menghindarinya.
"Gak dulu deh ntar Bunda jadi gak mood ketemu gua". Rayan mengurungkan niatnya ketika melihat Ayah dan Bundanya sudah berada di tempat yang dipakai untuk sholat.
"Oy!" sapa Rere mengagetkan Rayan.
"Apaandah bikin kaget!" balas Rayan tak terima mengeplak wajah Rere dengan sajadah yang dipegang.
"Ayok sholat jangan diliatin! tumben banget lu" ajak Rere.
"Duluan aja sana lu gua sholat sendiri aja" tolak Rayan.
"Wah kampret pahalanya banyakan kalo sholat jamaah tolol!" ejek Rere.
"Dih suka-suka gua lah kok ngatur" jawab Rayan dengan wajah julidnya.
"RAYAN ANJING LU!" ucap Rere ngegas sehingga suaranya bisa didengar orangtuanya yang menunggu anak-anak untuk sholat.
Jesslyn dan Arga hanya bisa mengambil nafas panjang melihat kelakuan anak mereka.
"MASIH PAGI!" ucap Arga berteriak.
Rayan dan Rere saling menatap sengit Rere kemudian meninggalkan Rayan. Dan Rayan memutuskan untuk kembali ke kamarnya lagi.
"Lah Kakak mana Rey?" tanya Arga saat tau Rere datang sendirian.
"Katanya gak sholat bareng kita" jawab Rere, Arga dan Jesslyn hanya ber oh riah mendengar itu.
Setelah sholat Jesslyn memutuskan untuk kembali tidur dia merasa mengantuk karena habis begadang Arga ikut menyusul. Biasanya Jesslyn tidak akan tidur karena harus mengerjakan pekerjaan rumah sebelum berangkat kerja. Rere kembali ke kamarnya untuk bermain game kalau dia tidur lagi nanti di sekolah dia suka mengantuk aneh emang.
Rayan akhirnya tertidur di atas sajadahnya, dia sepertinya kembali menangis. Memang katanya jika kita habis menangis biasanya akan merasa mengantuk karena mata kita lelah.
__ADS_1
Dua jam kemudian Jesslyn bangun duluan dia telat hari ini. Untuk masalah pekerjaan dia tidak masalah kalau telat toh bosnya kan suaminya. Dia tidak bisa memasak untuk sarapan jadi terpaksa harus memakan sereal, keluarganya bukan tipe yang suka makan sereal.
Seperti biasa dia akan membangun anak-anak. Jesslyn selalu masuk ke kamar Rere walau dia tau anaknya sudah bangun dan sudah siap.