
"Apa kalian mencari harta itu?" tanya Moly.
Han langsung kaget saat Moly tiba-tiba menanyakan tentang harta itu.
"Memang nya ada apa Nyonya?" tanya kembali Han membuat Moly terdiam.
■■■
Hye Son pergi menemui ajudannya yang sudah berhasil membawa kabur harta itu, saat di perjalan Hye Son tiba-tiba notification ponsel miliknya berbunyi. Membuat Hye Son langsung melihatnya, bibirnya tersenyum licik saat menatap ponsel itu.
Hye Son berjalan masuk ke dalam rumah kosong yang sangat minimalis, terlihat seperti Villa. Langkah kakinya membuat pria yang sudah menunggu Hye Son langsung berdiri memberi hormat kepadanya.
Terlihat seluruh harta yang telah di dapatkan begitu banyak, emas berkilauan di atas meja membuat Hye Son menatap satu persatu ajudannya.
"Cek semua emas itu," perintah Hye Son.
Saat emas itu di cek secara detail ternyata emasnya palsu, membuat Hye Son yang mendengar semua yang di ucapkan oleh ajudannya langsung memeriksa emas itu sendiri.
"Apa-apaan ini! Sialan!" seru Hye Son melempar satu batang emas kesembarang arah.
Semua ajudan yang ada di dalam ruangan itu hanya terdiam, Hye Son marah besar semua barang yang ada di dalam ruangan itu hancur berantakan.
"Kalian semua bodoh! Kenapa tidak teliti!" marah Hye Son membuat mereka hanya terdiam, tidak ada yang berani menjawab.
"Bisa-bisanya kita di tipu oleh Yojin! Ini tidak bisa di biarkan! Segera tangkap Yojin dan habisi dia!" perintah Hye Son.
Amarah Hye Son sangat tak terkendali, karena keserakahannya terhadap harta yang memang bukan menjadi miliknya. Membuat dirinya lupa jika Park Yojin adalah anak semata wayangnya dengan Meri, Mungkin pepatah itu benar, penyesalan selalu ada di akhir cerita.
Sebagian ajudan itu datang ke rumah Yojin dan akan menyekap semua orang yang ada di dalam rumah itu, ajudan itu tidak melihat adanya Yojin. Moly yang melihat ada seseorang masuk tanpa permisi dan membawa senjata tajam, membuat Moly langsung mengamankan Bunga dan Eji untuk bersembunyi.
"Kalian harus diam di sini, jaga Eji. Biar aku yang hadapi mereka," lirih Moly membuat Bunga menganggukan kepalanya.
"Tapi mbak, apa mbak Moly bisa menghadapi mereka? Mbak harus hati-hati ya," ucap Bunga dengan khawatir.
"Kau tenang saja, jangan khawatirkan aku," kata Moly meyakinkan Bunga.
Moly pun keluar seolah tidak tahu jika ada tamu yang tak di undang, "permisi, mohon maaf anda semua siapa ya?" tanya Moly dengan begitu lembut.
"Katakan di mana Yojin?" tanya ajudan.
Belom sempat menjawab, dari kejauhan ajudan itu menyerang Moly, tetapi dengan cepat Moly melawan dengan sekuat tenaga, ilmu bela diri yang pernah Ia pelajari cukup melindunginya dari serangan orang yang tak di kenal. Perkelahian itu pun terjadi, satu persatu Moly menghajarnya.
Bunga yang berada di dalam ruangan itu merasa sangat panik mengingat Moly melawan begitu banyak orang, membuat Bunga hanya bisa mondar-mandir di dalam.
"Semoga mbak Moly baik-baik aja," gumam Bunga.
Saat Moly berhasil menghabisi pria yang ada di hadapannya, tiba-tiba dari belakang ada yang ingin menghantam Moly menggunakan kayu, tetapi langsung di tangkis oleh tangan yang besar dan kekar. Tangan itu langsung menghajar pria yang memegang kayu, dengan sekali pukulan membuatnya langsung pinsan.
__ADS_1
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Yojin.
Moly pun menoleh ke arah Yojin, menatap Yojin dengan rasa senang.
"Sayang, aku baik-baik saja. Kita harus menghabisi semua pria berandalan ini!" seru Moly dengan penuh semangat.
Semua pria suruhan Hye Son itu sangat bengis membuat Yojin, Han dan Moly melawan dengan penuh semangat. Perkelahian itu masih terus berlanjut sampai semua orang suruhan Hye Son terkapar di lantai tak berdaya, tarikan napaa yang begitu kasar membuat mereka harus duduk karena kelelahan.
Moly yang memeriksa semua pria itu, menoleh saat mendengar suara mobil mewah masuk ke dalam rumahnya, Ia langsung berdiri dan melihat dari jendela ruang tamu.
"Papa mertua," lirih Moly langsung menutup hordeng itu, dan segera menemui Yojin.
"Ada papa mertua," kata Moly.
Yojin langsung berdiri menatap Moly, "dari mana kau tahu?" tanya Yojin dengan begitu heran.
"Aku melihat mobilnya memasuki halaman rumah kita," jawab Moly.
Yojin melihat Hye Son berjalan mendekati dirinya.
"Senang melihat mu, apa kau sudah sehat?" tanya Hye Son.
Yojin hanya terdiam tidak mengatakan apapun, Hye Son melihat orang suruhannya terkapar tak berdaya membuatnya sangat terkejut dan memuji kemapuan Yojin.
"Rupanya kau hebat juga," kata Hye Son.
"Kau ini harus sedikit sopan dengan yang lebih tua, aku ini ayah mu!" seru Hye Son.
"Apa itu benar? Kenapa seorang ayah tega mencelakakan anaknya sendiri sampai hampir mati. Apa itu peran ayah?" tanya Yojin.
"Jaga ucapan mu,Yojin!" seru Hye Son menampar pipi Yojin.
Suara tamparan itu terdengar sangat keras, membuat Moly akan menolong Yojin tetapi di cegah oleh Han. Han menggelengkan kepalanya untuk tidak ikut campur.
"Tapi ... ini sudah kelewatan Han," lirih Moly menatap tajam Han.
Han pun tetap menggelengkan kepalanya membuat Moly sangat kesal.
"Katakan! Di mana kau menyimpan semua harta itu? Kau sudah mempermainkan kami," tanya Hye Son.
"Itu artinya kau pelaku di balik ledakan itu," jawab Yojin.
"Beraninya kau ...!" seru Hye Son menganggkat tangannya, akan menampar Yojin. Tetapi tamparan itu mendarat mulut di pipi Moly sampai hindungnya mengeluarkan setetes darah.
Yojin melebarkan matanya menatap Moly yang melindungi dirinya dari tamparan Hye Son. Mata Moly menatap Yojin untuk tidak mengatakan di mana harta itu, "ku mohon jangan katakan apapun, kau harus menyelamatkan harta itu demi amanah dari kakek Je," suara itu terdengar lirih.
Hye Son semakin marah saat Yojin tidak kunjung memberitahu di mana harta itu, dengan enteng tangannya memegang pistol yang sudah berisi peluru. Berjalan mondar mandir sedikit menjauh dari Moly dan Yojin, Hye Son menatap sekitar ruangan itu.
__ADS_1
"Aku tanya di mana harta itu, kau tau! Aku bersusah payah merancang untuk membangun pusat perbelanjaan terbesar di negara ini, itu akan menghasilkan uang yang banyak. Tapi kau menghancurkan mimpi ku yang sudah bertahun-tahun aku pendam," ocehan Hye Son membuat Yojin tetap kekeh pada pendiriannya.
"Sepertinya aku harus segera melenyapkan mu," lirih Hye Son mengayunkan pistolnya ke arah Yojin.
"Lakukan lah, jika membunuhku membuat mu bahagia," sahut Yojin.
Moly menatap mata Yojin, seolah tidak rela jika Yojin mengatakan hal itu.
"Hentikan ucapan mu itu, kau tidak boleh mati," kata Moly.
"Rupanya kalian saling mencintai, aku pikir Yojin menikahi mu karena ingin mendapatkan harta itu. Nyatanya kau terjerat cinta seorang gadis miskin," ucap Hye Son membuat Moly meneteskan air matanya.
Cukup lama Hye Son menunggu jawaban dari Yojin dan akhirnya anak peluru itu terbang menembus punggung Moly. Darah pun keluar menyiprati wajah Yojin.
"TIDAK...!"
Teriakan Yojin membuat Moly langsung ambruk ke pelukannya, wajahnya tersenyum saat peluru itu berhasil menusuk punggung nya.
"Aku memang wanita miskin, tapi percayalah. Cintak ku dan kasih sayang ku tulus dengan mu," ucapan terakhir Moly.
"Sayang kamu harus bertahan, ku mohon. Kau tidak boleh meninggalkan ku dan Eji, bertahan lah," sahut Yojin mulai panik.
Tiba-tiba Hye Son terjatuh dengan mengeluarkan darah dari mulutnya, membuat Yojin dan Han sangat terkejut. Hye Son tergeletak penuh darah di perut bagian samping. Han segera memeriksa kondisi Hye Son dan melihat ada tanjapan pisau tajam di bagian perutnya.
Han langsung melihat sekitaran halaman rumah Yojin, untuk memastikan siapa pelaku yang membunuh Hye Son. Tak menemukan jejak, Han langsung membawa Moly dan Hye Son ke rumah sakit tetapi sayangnya nyawa Moly tidak tertolong, akibatnya peluru itu menembus tepat di jantungnya.
Hembusan napas terakhir Moly membuat Yojin menangis sesenggukan, "aku sudah mendonorkan seluruh organ ku untuk mereka yang membutuhkan, jadi biarkan mereka melakukan semuanya," pesan itu membuat Yojin terus memeluk Moly dengan berderai air mata.
Hye Son yang mendapat mendonor ginjal oleh menantunya sendiri, telah melewati masa kritisnya.
Saat di pemakaman semua orang hadir untuk berbela sungkawa atas kepergian Moly, jasadnya di kuburkan dekat dengan makam Airin dan Ayah kandung Moly. Hye Son yang mengetahui pengorbanan menantunya merasa menyesal dan meminta maaf atas kehilafannya.
Terlihat penyesalan di matanya, membuat Yojin mulai memaafkan perbuatan sang ayah. Yojin pun akhirnya membagikan seluruh harta kakek Je kepada mereka yang membutuhkan, dan membangun pusat belajar bagi mereka yang kesulitan mengenyam pendidikan, dan mendirikan panti asuhan untuk mereka yang kehilangan orang tuanya.
Perbuatan Yojin mendapat perhatian dunia karena kedermawanannya memajukan negara.
AKHIR CERITA...
Yojin menatap indahnya gedung cakrawala yang hampir menembus awan, terlihat bayangan senyum Moly membuat nya melambaikan tangan.
"Sampai kapan pun kau tetap di hatiku, dan kau tahu. Anak kita sudah tumbuh menjadi pria yang sangat tampan," gumam Yojin.
" Senyuman mama sangat mirip dengan ku," celetuk Eji.
Yojin menoleh ke arah sumber suara, melihat putranya sudah tumbuh dewasa.
TAMAT.
__ADS_1