
Moly terlihat sangat bersemangat menatap majalah melalui ponsel milik Bunga, tawanya menggema di ruangan itu, membuat Eji yang tertidur di samping nya langsung terbangun dan menangis.
Moly langsung terdiam dan menggendong Eji, Moly meminta maaf kepada Eji yang terus menangis karena kaget, "sayang maafkan mama sudah mengagetkan mu," ucap Moly menggendong Eji sambil berjalan mendekati balkon menuju taman samping rumah.
Tangisan Eji pun berhenti, Eji merasa tenang sambil tangannya memegang rambut Moly, ia tertidur kembali dengan lelap. Moly setelah melihat Ejin tertidur kembali langsung menidurkannya di kamar, "anak yang pinter, " Moly menepuk paha Eji saat meletakan di kasur.
"Mbak, si Eji udah tidur lagi?" tanya Bunga.
"Iya, dia tadi kaget mendengar suara ku," jawab Moly duduk di samping Bunga.
"Jadi mau beli yang mana? Ini semuanya bagus semua mbak, aku jadi ingin membelinya juga," ucap Bunga merasa bingung.
"Kau mau yang mana? Aku ingin yang baju berwarna merah sepertinya itu terlihat bagus," ucap Moly sudah memilih baju untul di beli.
Mereka sudah memesan baju yang akan di pakai ke acara minggu depan, Moly pun langsung ke dapur membuat ramen, saat akan memakan ramen itu tiba-tiba Bunga tanpa sengaja meminta ramen itu dan langsung mengambil dengan sumpitnya, tingkah Bunga sama persis seperti Yojin yang kalau makan ramen selalu meminta milik Moly.
Deg.
Jantungnya berdegub tak menentu, membuatnya terdiam menatap ramen itu, Bunga yang melihat Moly hanya terdiam langsung merasa tidak enak hati, " mbak maafin aku sudah lancang, tapi aku suka dengan ramen ini," sahut Bunga.
Wajah Moly seketika berubah menjadi pilu matanya mulai berkaca-kaca saat menatap ramen itu, Bunga semakin bingung melihat kondisi Moly.
"Mbak, maafkan aku, ku mohon?" rengek Bunga merasa sangat khawatir.
Moly langsung memeluk Bunga dan menangis, Bunga terkejut dengan perlakuan Moly.
"Apa kau merindukan seseorang?" tanya Bunga merasa Moly mengingat seseorang yang sangat dia sayangi.
Moly langsung melepaskan pelukan itu dan mengusap air matanya menggunakan kedua tangan, "tidak, aku hanya..." ucapan Moly pun terhenti membuat Bunga langsung mengatakan, " menangislah, jika kau merindukan suami mu, kamu tidak salah mbak, jangan menahan rindu di dalam hati, katakan saja jika kau merindukannya."
"Apa yang harus aku lakukan? Aku masih sangat membencinya, tapi rindu ini terlalu besar untuk ku tahan," sahut Moly dengan tangisan.
Bunga yang melihat Moly menangis merasakan jika cintanya begitu besar kepada Yojin, hanya saja terhalang oleh ke egoisan seseorang. Bunga menatap Moly dengan sendu dan menepuk punggung Moly dengan pelan, agar Moly merasa lebih baik.
__ADS_1
"Aku tidur dulu ya," ucap Moly tersenyum menatap Bunga dengan sendu.
Saat Moly melangkah kan kakinya ke kamar, langkahnya terhenti karena mendengar suara Bunga, "jangan bersedih, jika besok kau bertemu dengannya peluk lah dia dan katakan kau merindukannya."
"Dia sudah melupakan ku dan Eji, dia tak pernah mencari ku atau mengunjungi ku, sudah lah lupakan saja," tegas Moly akan melangkahkan kakinya kembali tapi langkah itu terhenti lagi.
"Kau yang mengenalnya, aku rasa dia sedang melindungi mu dari seseorang yang jahat, kau harus percaya! Dia juga pasti sangat merindukan mu," jelas Bunga.
Moly langsung melangkah masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu dengan rapat. Bunga melihat pintu itu tertutup hanya memandangi pintu kamar itu.
■■■
Persidangan itu sudah di hadiri para saksi, Yojin berjalan dengan gagah memasuki persidangan itu, tak lama Olive di dampingi petugas lapas memasuki ruang persidangan dengan tangan di borgol saat persidangan akan di mulai, terdengar suara langkah kaki helss memasukin ruang persidangan itu, sebagian hadirin terkejut dengan wanita misterius itu.
Wanita itu duduk tepat di deretan Yojin duduk, tiba-tiba jantung Yojin berdetak tak menentu membuatnya langsung memegang dadanya.
"Kenapa jantung ini berdetak seperti ini?" gumam Yojin menatap ke arah dadanya.
"Akhirnya aku terbebas dari penjara ini," gumam hati Olive tersenyum licik.
Olive langsung menatap Yojin dengan senyuman, para hadirin mulai meninggalkan ruang persidangan itu, Yojin berdiri melangkah ke arah Olive tapi dirinya merasa agak sedikit berbeda saat melewati wanita yang duduk menggunakan kaca mata itu.
Matanya pun melirik ke arah Moly yang masih duduk angun di kursi itu, Yojin merasa seperti mengenal wanita itu, jantungnya terus berdetak tak menentu. Olive langsung mendekati Yojin dengan menggandeng tangan Yojin, Moly yang melihat itu sontak terkejut.
Berusaha menahan diri, Moly bangkit dari tempat duduk dan berjalan keluar ruang sidang itu, bibirnya terlihat gemetar menahan sakit di hatinya seperti tersayat benda tajam. Matanya mulai berkaca-kaca, Moly merasa ada yang memegang tangannya, seketika langkahnya terhenti sejenak, dirinya menoleh ke arah belakang.
Pria itu memeluk Moly dengan hangat, Moly yang kaget langsung terdiam tak merespon pelukan itu.
"Aku tau itu kau," suara itu terdengar lirih.
"Maaf tuan, mungkin anda salah orang," ucap Moly berusaha melepaskan pelukan itu.
__ADS_1
Yojin langsung melepaskan pelukan itu dan meminta maaf, " maafkan saya nyonya, saya pikir anda orang yang saya cintai," sahut Yojin membuat jantung Molg berdetak sangat kencang, mendengar ucapan itu Moly langsung bergegas pergi meninggalkan Yojin.
Setiap langkah kakinya Moly terus mengingat pelukan yang sangat ia rindukan. Yojin terus menatapnya dengan tatapan sendu, Yojin sangat Yakin jika wanita itu adalah Moly, orang yang sangat dia rindukan.
Moly langsung masuk kamar mandi menatap cermin, Moly meneteskan air matannya, " aku sangat merindukan mu," air matanya mengalir semakin deras, membuat suara tangisan itu terdengar sangat menyedihkan.
Asisten Han Melihat Yojin masih berdiri di dekat ruang persidangan langsung mendekatinya, " tuan, apa kau melihat sesuatu?" Asisten Han melihat ke sana kemari.
"Aku melihat Moly, aku yakin dia Moly," ucap Yojin menatap asisten Han.
"Aku tidak melihat siapapun? Mungkin anda salah orang tuan," kata asisten Han.
"Aku sangat yakin Han, dia Moly, dia istri ku," ucap Yojin sekali lagi meyakin kan asisten Han, lagi-lagi asisten Han mengelak karena memang dirinya tidak melihat ada Moly di tempat itu.
Yojin pun langsung menarik napasnya merasa lebih baik. Akhirnya mereka langsung pergi meninggalkan persidangan itu.
Moly membersihkan makeup nya yang luntur karena ia menangis, Moly keluar dari kamar mandi itu dan pergi meninggalkan persidangan itu. Moly terus berjalan menuju mobil Alpard berwarna putih yang sudah menunggunya.
"Bagaimana persidangan Olive?" tanya Bunga kepada Moly.
"Persidangan berjalan lancar," jawab Moly.
Dokter Zek melihat wajah Moly yang sembab seperti orang abis menangis, hanya terdiam tidak berbicara apapun, mobil itu melaju menuju restauran untuk makan siang bersama.
Moly menatap kejendela, masih membayangkan pelukan dari Yojin, seketika matanya langsung terpejam berusahan membuayarkan ingatan itu.
"Kita makan siang di sini, nanti malam kita ber malam di sini juga." ucap Dokter Zek.
Mereka pun keluar mobil dan masuk kedalam resto untuk makan siang, Moly menyuapi Eji terlebih dahulu sebelum dirinya makan.
"Kau harus coba ini Moly, ini rasanya sangat enak," ucap Dokter Zek menyuapi kerang balado.
"Aku tidak bisa makan kerang Zek, aku alergi dengan seafood," jawab Moly.
__ADS_1
"Benar kah? Jika kau alergi, makan yang ini saja," kata Dokter Zek menyuapkan steak menggunakan garpu.
BERSAMBUNG.