
Arga sengaja merengkuh pinggang istrinya, Jesslyn masih setia menunggu. "Semua gak gratis sayang" Ucap Arga kembali membuat Jesslyn bingung.
Arga tersenyum menyeringai menatap lekat wajah Jesslyn mengangkat dagunya Jesslyn. "Yang tadi masih ingat kan hm?" tawar Arga yang langsung dimengerti Jesslyn.
Jesslyn tampak berfikir lama untuk hal ini, Arga emang benar-benar nyari kesempatan didalam kesempitan.
"Jadi?" tanya Arga. Tapi Jesslyn masih belum bisa menjawab dia saja masih bingung dengan Rayan ini suaminya malah begini.
Jesslyn kembali membuka suara menatap wajah Arga. "Tapi Pak saya masih belum selesai dengan anak saya kan Bapak sendiri yang bilang kan saya gak boleh gengsi maka dari itu tolong lepaskan saya" minta Jesslyn kepada Arga.
Yang dikatakan Jesslyn memang benar ini bukan waktu yang tepat, Arga sendiri yang menyuruhnya dia tidak boleh egois. "Baik kalau begitu silahkan" jawab Arga melepas Jesslyn dari pelukannya lalu tersenyum ke arah Jesslyn.
Jesslyn berjalan menuju sofa yang di tiduri anaknya. Meletakkan pelan tas kerjanya di meja kecil dekat sofa.
Jesslyn berjongkok melihat wajah manis anaknya, di sisi lain Arga melihat interaksi keduanya yang sangat manis. Jesslyn mengelus pipi anaknya sambil tersenyum.
"Kalau kangen ya kangen aja gak usah gengi" ucap Arga di mejanya.
Jesslyn mendongakkan kepalanya, "Kalau gak ikhlas gak usah sok-sokan nawarin" ucap Jesslyn julid. Fokusnya dia arahkan lagi ke Rayan yang masih asik bergelut dengan mimpinya.
Anaknya terlihat tampan seperti Ayahnya garis wajahnya postur dan tatapan elangnya bisa memikat hati cewek-cewek. Perpaduan keduanya terpampang indah dihidup pasangan Arga dan Jesslyn.
"Haha why are you so cute" ucap Jesslyn memandangi wajah anaknya. Jesslyn mencium pipi lembut anaknya. "Bunda minta maaf ya nak gak sengaja bilang hal itu sama kamu" ucap Jesslyn mengelus rambut coklat anaknya.
Dulu waktu kecil banyak yang mengira Rayan seperti bule karena terlalu tampan. Bola mata coklat dan rambut coklat, sebenarnya memang mirip dengan Ayahnya. Jesslyn saja pernah mewarnai rambut anaknya menjadi pirang biar sekalian kayak bule. Kulitnya yang putih mirip dengan Jesslyn dan hidungnya sangat mirip sekali.
"Rayan anak baik kok" ucap Jesslyn dengan mata yang berkaca-kaca.
"Apa akan seperti ini terus kerjaan kamu gak dilanjut?" ucap Arga memecah suasana haru itu.
Jesslyn kembali berdiri, "Baik Pak siap" balas Jesslyn mengeluarkan laptop dan berkas-berkas.
__ADS_1
"Saya duduk di mana ya Pak?" tanya Jesslyn.
"Di kursi depan saya ini kosong, oh apa mau duduk dipangkuan saya boleh sekali" goda Arga, Jesslyn menatap datar kearah Arga.
Akhirnya Jesslyn duduk di depan Arga aslinya dia ingin duduk dekat Rayan tapi karena tidak ada tempat terpaksa harus duduk di depan Arga.
Mereka berdua kembali fokus ke pekerjaan masing-masing. Diam-diam saling memperhatikan Arga yang sedikit-sedikit melihat wajah cantik Jesslyn sebaliknya juga begitu. Kalau begini Arga jadi semangat ada Jesslyn di dekatnya.
"Kok Rayan gak bangun-bangun" ucap Arga tiba-tiba.
Jesslyn melihat ke arah Rayan lalu menatap Arga. "Memangnya kenapa?" tanya Jesslyn.
"Gak kenapa-kenapa cuma nanya aja kali aja dia lapar" jawab Arga.
Jesslyn menepuk jidatnya, "Mas kenapa gak makan dulu heh" ucap Jesslyn khawatir. Dia lupa tidak menyuruhnya tadi pagi dia tidak makan banyak.
"Nanti saja sekalian sama Rayan" jawab Arga enteng mengelus rambut Jesslyn.
Arga tersenyum lembut, "Nanti saja gampang lanjutin dulu kerjaan kamu" balas Arga, Jesslyn mengangguk.
Arga hanya menatap intens istrinya yang tampak serius dengan pekerjaannya. Merasa diperhatikan Jesslyn menatap ke arah suaminya. "Kenapa natap saya seperti itu udah selesai ya Pak?" tanya Jesslyn.
Arga tersenyum lagi, "Kamu lupa? kan kemarin setengahnya udah kamu selesain sekarang udah selesai jadi gak ada pekerjaan lain ya saya lihatin bidadari cantik didepan saya" jelas Arga yang membuat pipi Jesslyn memerah.
Saat sedang asik tatapan tiba-tiba ada suaranya jatuh. Reflek Arga dan Jesslyn menoleh ke arah Rayan yang ternyata jatuh dari sofa mencium lantai.
"Aku di mana? aku siapa? siapa?" ucap Rayan masih setengah sadar.
Jesslyn membantu Rayan bangkit dan mendudukkan Rayan yang masih membuka satu matanya. Untung saja Jesslyn kuat Arga hanya diam saja memperhatikan tanpa ada niat membantu.
"Kamu lupa emang ini di mana? ini bukan di kasurnya Rayan jadi kalau tidur posisinya jangan aneh-aneh" ucap Jesslyn mengelus wajah anaknya, seperti sudah tidak gengsi. Rasa itu telah dikalahkan dengan rindunya kepada anaknya.
__ADS_1
Jesslyn tau betul kalau Rayan tidak bisa tidur dengan posisi yang benar. Sering sekali saat dia membangunkan anaknya kepalanya udah enggak berada di bantal. Oleh karena itu Jesslyn memberikan kasur over size agar Rayan tidak jatuh saat sedang tidur.
"Oh iya lupa" jawab Rayan kembali menutup matanya masih mengantuk. Jesslyn memeluk gemas tubuh Rayan, menepuk pundaknya pelan agar anaknya kembali tertidur.
Dia akan cepat tertidur jika sudah mencium aroma Bundanya. Dia mencari tempat yang nyaman, menelusupkan kepalanya di perut sang Bunda.
Jelas saja Arga langsung melotot melihatnya. "Gua aja kalau mau gitu harus nyogok tas branded lah ini" ucap Arga cemburu.
Jesslyn tertawa pelan, "Cemburu kok sama anak sendiri" ucap Jesslyn.
"Yah masalahnya anaknya udah besar 18 tahun loh" balas Arga mengingatkan.
"Yeah i know tapi mas udah tau kan kalau Rayan emang suka gini sejak kecil" jelas Jesslyn, Arga menggangguk pasrah.
"Si Rayan pasti kalau gini susah bangunnya" ucap Arga lagi. Jesslyn masih setia mengelus rambut anaknya.
"Terus apa masalahnya?" tanya Jesslyn penasaran.
Arga berdehem, "Kerjaan kamu?" Arga mengingatkan lagi.
"Eh tolong bawakan ke sini hehe" ucap Jesslyn, kapan lagi bisa menyuruh bosnya.
Arga menurut saja daripada Jesslyn tidak menyelesaikan pekerjaan. Lagian dia juga sering di suruh-suruh Jesslyn tapi saat di rumah, beda lagi saat sedang di kantor jarang sekali Jesslyn berani menyuruh suaminya. Siapa saja bisa menjadi leader pada waktunya.
"Thank you very much" ucap Jesslyn.
Sekarang Arga bingung harus bagaimana tidak ada hal yang dikerjakan. Hari ini juga tidak ada jadwal rapot, kalau dia tidur itu bukan tipe dirinya.
Akhirnya dia menemukan ide baru harus bagaimana. "Kalau begitu saya mau jemput Rere" pamit Arga yang tampak merapikan jasnya.
"Hah tumben sekali biasanya dia juga pulang di antar temannya kalau gak naik angkutan umum" ucap Jesslyn. Rere masih belum di kasih kendaraan dulu sempat dibolehkan membawa motor, kejadian yang tidak diinginkan terjadi.
__ADS_1