
Avyn bingung dengan Rayan dia terlihat melamun. Avyn melambaikan tangannya di depan wajah Rayan. "Lu kenapa kek gak kayak biasanya?" tanya Avyn, di samping meja Cellyn hanya duduk menunggu Avyn karena dia sudah ingin pulang.
Rayan tersadar dari lamunannya, "Gua gak kenapa-kenapa" jawabnya.
Kelas sudah sepi hanya ada mereka bertiga, Cellyn melihat bosan Rayan dan Avyn dia sudah tau ada apa dengan Rayan. Cellyn tau tentang Rayan dari Zergan karena dulu dia sering diajak Zergan ke tempat nongkrong mereka, waktu itu dia tidak pernah bercerita maupun mengajak Avyn bertemu dengan pacarnya. Avyn mengira Cellyn tidak punya kekasih. Memang mereka berdua Avyn dan Cellyn sangat dekat tapi tidak sekali pun mereka membahas tentang percintaan, aneh bukan? mungkin saja.
Avyn sudah siap pergi dari kelas. "Dah ya gua balik dulu sama Cellyn besok gua ajarin materi yang tadi gua udah tebak lu gak paham kan?" ucap Avyn menjelaskan.
Cellyn di belakangnya Avyn menyeringkai melihat wajahnya Rayan yang terlihat pucat dan matanya merah.
"Ngantuk berat lu? makan yang banyak Ray ntar lu tambah kurus, gua duluan" pamit Avyn dia bisa menebak Rayan sangat lapar terdengar dari suara perutnya.
Avyn dan Cellyn sudah pergi meninggalkan kelas. Sebelum Cellyn keluar kelas dia sempat senyum menyeringkai kepada Rayan.
Rayan menatap tajam kearah Cellyn dia seperti meledeknya. "Awas ae lu dasar licik" ucap Rayan pelan.
Sekarang hanya ada dia sendiri di kelas walau perutnya sudah meraung-raung minta diisi tapi dia enggan pergi dari kelas padahal kantin sudah buka semua.
Rayan kembali terdiam di meja paling depan, tampak berfikir apa dia akan pulang atau tidur saja di kelas atau main ke rumah temen. "Enaknya ngapain ya" tanya Rayan kepada dirinya sendiri.
"Ohh... pulang aja dah enak tidur" ucapnya finally lalu segera meninggalkan kelas.
Tapi sebelum dia benar-benar meninggalkan kampus dia belok dulu ke arah kantin merasa kasian kepada perutnya.
Dia sudah duduk di kantin tinggal menunggu makanan yang dia pesan datang. Dia hanya duduk sendirian biasanya bareng temen-temennya kayaknya udah pada ngilang.
"Hallo Kak Rayan tumben sendirian aja nih" sapa cewek culun berponi yang tampak membawa buku tebal ditangannya.
"Hooh udah pada ngilang" jawab Rayan santai, lalu mengembalikan fokusnya ke hp nya.
Terdengar suara yang tidak asing di telinga Rayan iya itu suaranya Avyn yang sedang memanggil cewek tadi kayaknya, karena kantinnya masih sepi.
"Naya sini!" teriak Avyn kepada temannya yang sudah ada di kantin dia yang menyuruh temannya untuk menemaninya Rayan ikut menolehkan kepalanya ke arah Avyn padahal dia tidak dipanggil
"Hai Avynka" jawab ramah Naya lalu menyusul duduk bersama Avyn.
Avyn tidak bersama Cellyn dia pergi duluan menolak ajakan Avyn yang katanya ingin pergi ke perpustakaan bersama teman sefrekuensinya katanya.
Naya adalah cewek pintar dia cantik tapi sering dibully karena penampilannya tidak ada yang mau berteman dengannya hampir senasib dengan Avynka jadi Avyn memutuskan untuk mengajak Naya berteman dan dia senang sekali bisa punya teman. Cellyn tak masalah jika dia harus berteman dengan Naya lagian Cellyn tidak pernah pilih-pilih teman.
Avyn dan Naya dulu sempat diejek sama anak-anak fakultasnya katanya serasi soalnya sama-sama norak gitu kata mereka untung saja Avyn tidak peduli ada Cellyn sang cewek dingin yang siap membela Avyn dan Naya.
Naya sama seperti Avyn dia juga sama-sama mendapat beasiswa di sini. Dia juga bukan dari kalangan orang kaya di sini karena itu dia juga sempat dibully tapi karena dia berteman dengan Avyn dan Cellyn dia tidak lagi dibully.
"Maaf ya Vyn pasti kamu nunggu lama ya?" ucap Naya yang sudah duduk di sampingnya Avyn dengan ekspresi wajah yang sepertinya merasa bersalah.
Avyn tersenyum melihat kelakuan temannya yang kelewat polos. "Enggak juga baru datang ini" jawab Avyn masih sambil senyum Naya bernafas lega mendengar jawaban Avyn.
Rayan masih setia memperhatikan mereka berdua kapan lagi dia bisa melihatnya? jarang sekali dia melihat Avyn bersama teman lainnya biasanya kan hanya Cellyn.
Avyn yang merasa diperhatikan Rayan langsung menatap Rayan dengan tatapan curiga. "Ngapain liat-liat?" tanya Avyn yang membuyarkan lamunan Rayan.
__ADS_1
"Suka-suka gua kan gua punya mata Vyn" jawab Rayan santai.
Avyn hanya mengangguk saja. "Akhirnya makan juga kan lu" ucapnya.
"Suka-suka gua lah" jawab Rayan singkat, Avyn mengabaikannya dan kembali memakan sarapannya.
"Naya gak makan juga kamu?" tanya Avyn saat melihat Naya yang sedang membaca buku yang dia bawa tadi.
"Udah sarapan tadi Vyn gak lapar" jawab Naya.
Hening karena yang berada di kantin sibuk dengan urusan mereka masing-masing.
Avyn pergi duluan bersama Naya setelah menghabiskan makanannya. Rayan masih menikmati makanannya.
Selesai makan dia langsung pergi meninggalkan kantin sekarang tujuannya pulang dan tidur. Jarang sekali dia langsung pulang ke rumah biasanya juga mampir dulu ke cafe bareng temennya.
…
Di kantor Jesslyn tidak fokus dengan pekerjaannya dia hanya melamun saja dari tadi. Arga yang mengawasinya dari cctv merasa khawatir dengan keadaan istrinya. Arga memutuskan untuk memanggil Jesslyn ke ruangannya.
Sekertaris Arga menghampiri Jesslyn. "Permisi Bu Jesslyn" sapanya.
"Maaf Jika mengganggu waktunya".
"Iya kenapa? ada yang bisa saya bantu?" tanya Jesslyn.
"Anda di suruh menemui Pak Arga di ruangannya sekarang" ucap Sekertaris itu dengan sopan.
"Maaf kok tumben sekali ya?" tanya Jesslyn ke sekertaris itu.
"Saya kurang tau Bu hanya disuruh saja, kalau begitu saya permisi ya" jawabnya yang kemudian meninggalkan Jesslyn.
Karena dia dipanggil jadi Jesslyn langsung berjalan ke ruangan Arga. "Mungkin urusan kantor kalaupun urusan pribadi biasanya dibicarakan saat istirahat kalau enggak ya di rumah" batin Jesslyn sambil berjalan.
Sekarang dia sudah berada di depan ruangannya Arga. Jesslyn mengetuk pintunya terlebih dahulu. "Permisi Pak saya sudah di depan" ucap Jesslyn.
Jesslyn hanya takut mengganggu waktunya Arga karena ini masih jam kerja, positif thinking mungkin saja sekarang Arga sedang membutuhkan bantuannya.
Arga membukakan pintu kemudian mempersilahkan Jesslyn masuk ke ruangannya. "Silahkan" Arga menyuruhnya masuk Jesslyn tersenyum kemudian jalan di belakang Arga.
Mereka jadi canggung kalau sedang berada di kantor apalagi jam kerja. Jesslyn jadi lebih sopan disuasana seperti ini beda lagi nanti kalau sudah di rumah.
Arga mempersilahkan Jesslyn duduk di sofa yang ada di ruangannya.
"Ada apa Pak memanggil saya?" tanya Jesslyn to the point.
"Kamu niat kerja apa tidak hari ini?" tanya balik Arga.
Jesslyn menaikan alisnya bingung."Tentu saja saya niat Pak" jawab Jesslyn sambil tersenyum.
"Yakin kamu? apa kamu tidak merasa melakukan kesalahan, hm?" tanya Arga lagi.
__ADS_1
Jesslyn menautkan alisnya bingung lagi
"Maaf sebelumnya memang saya salah apa ya Pak?" tanya Jesslyn bingung karena dia merasa tidak melakukan kesalahan.
Arga tampak tersenyum mengarahkan pandangan ke arah jendela. "Apa anda tidak merasa sama sekali?" tanya Arga agak tertawa membuat Jesslyn bingung.
"Memang saya salah apa pak! jan bikin emosi lu ya gedeg gua lama-lama tinggal bilang susah amat Pak Arga Dirgantara!" ucap Jesslyn ngegas ke suaminya, keadaan Jesslyn emang kayaknya lagi pingin marah-marah.
Arga mencoba menahan tawanya melihat Jesslyn yang sudah mulai emosi."Loh kok ngamok mohon tenang dulu Ibu Jesslyn yang terhormat" suruh Arga yang kemudian memfokuskan dirinya pada Jesslyn.
Arga mencoba memasang wajah seriusnya kembali. "Kesalahan anda adalah anda tidak profesional dalam bekerja" jelas Arga.
Jesslyn terkejut bagaimana bisa suaminya bilang seperti itu padanya dia sudah bekerja dengannya lama sekali baru kali ini dia begini. "Maksud Bapak bagaimana ya? saya sudah lama loh pak bekerja sama Bapak Arga terhormat" tanya Jesslyn.
"Dan ya satu lagi kesalahan anda" ucap Arga, dia membuat Jesslyn terkejut lagi.
"Hah? apalagi ya pak?" tanya Jesslyn langsung.
"Anda sudah tidak sopan kepada saya barusan apa anda lupa ini masih jam kerja" jelas Arga lagi.
Jesslyn melongo mendengarnya. "Ya Bapak bikin saya emosi jadi wajar kalau saya marah pak kebablasan" ucap Jesslyn.
Arga menyeringai melihat Jesslyn yang membuatnya salah tingkah."Apa anda siap menerima hukumanya?" tawar Arga.
Jesslyn terkejut lagi. "Boleh saja asal jangan yang berat, kalau berat nanti gak ada yang jadi babu di rumahnya bapak Arga terhormat" jawabnya.
"Mana mungkin saya tega memberikan hukuman yang berat kepada perempuan apalagi perempuannya istri saya sendiri" ucap Arga.
"Nah itu anda tau, jadi?" tanya Jesslyn.
"Ikut saya saja bagaimana sebagai hukumannya?" tawar Arga.
"Kalau boleh tau kemana ya Pak?" tanya Jesslyn penasaran.
Arga tersenyum lagi melihat ke arah Jesslyn dengan tatapan yang ingin menerkamnya."Ikut saya ke hotel gimana, hm" jawab Arga.
Jesslyn masih tidak paham apa yang dimaksud Arga. "Ohh mau ada pertemuan dengan klien di hotel ya? eh tapi Pak kan saya dikasih hukuman tapi kok menemani Bapak ya" balas Jesslyn bingung.
"Enggak ada jadwal pertemuan di hotel dengan klien anda hanya tinggal ikut saja dengan saya berdua" jelas Arga.
Jesslyn mengerti apa yang dimaksud suaminya pipinya memanas mendengarnya. Jesslyn mencoba menetralkan detak jantungnya.
"Astaghfirullah tidak boleh pelecehan pak istighfar" ucap Jesslyn menghindar.
Arga tersenyum, "I didn't do it gak dosa tapi dapat pahala" Jawabnya.
Jesslyn menghindarinya suaminya memang tidak tau waktu dan tempat. "Saya izin dulu Pak pekerjaan masih belum selesai" pamitnya bangun dari duduknya.
Reflek Arga menahan Jesslyn yang ingin pergi dari ruangannya, mengurung Jesslyn dengan kedua tangannya nafas Jesslyn menyentuh wajahnya.
"Mau kemana, hm" ucapnya jaraknya sangat dekat sekarang.
__ADS_1
Jesslyn terdiam tidak tau harus berbuat apa mau menghindarnya pun percuma sudah tidak bisa.